Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 — Suami yang Mulai Terganggu
Malam itu rumah Syahrezan terasa lebih sunyi dari biasanya.
Bukan karena tidak ada orang di dalamnya, tetapi karena setiap orang berada di ruangnya masing-masing, tenggelam dalam jarak yang tidak pernah benar-benar dijembatani.
Di lantai bawah, Jifan baru saja selesai makan malam yang terlambat sendirian. Seperti biasa, makanan sudah disiapkan oleh asisten rumah tangga, disajikan rapi di meja panjang yang terlalu besar untuk satu orang.
Ia makan tanpa terburu-buru.
Tanpa gangguan.
Tanpa percakapan.
Hanya suara sendok yang sesekali menyentuh piring porselen mahal itu.
Setelah selesai, ia berdiri, membereskan gelas airnya, lalu berjalan pelan keluar dari ruang makan.
Langkahnya stabil seperti biasa.
Namun malam ini, sesuatu yang kecil—hampir tidak signifikan—akan mengubah cara ia melihat rumah itu.
Ia melewati lorong menuju tangga.
Lampu-lampu sensor menyala satu per satu mengikuti gerakannya.
Semuanya seperti biasa.
Sampai ia melewati sisi ruang keluarga kecil yang terhubung dengan koridor lantai bawah.
Di sana, ia melihat sesuatu.
Seseorang.
Diara.
Ia duduk di meja kecil dekat jendela di kamarnya, dalam posisi yang tidak ia duga.
Tanpa jilbab.
Rambut coklatnya yang sebahu terlihat jelas, jatuh alami tanpa ikatan. Wajahnya tidak ditutupi seperti biasanya ketika berada di luar ruang pribadinya. Ia mengenakan pakaian rumah sederhana, jauh dari formalitas yang selalu Jifan lihat selama ini.
Tangannya memegang sebuah buku kecil desain interior, tapi matanya tidak benar-benar fokus pada halaman itu.
Ia terlihat… lelah.
Bukan lelah fisik.
Tapi lelah yang tidak terlihat di permukaan.
Jifan berhenti.
Hanya sepersekian detik.
Namun cukup untuk membuat langkahnya terhenti tanpa alasan jelas.
Ia tidak masuk.
Tidak juga langsung pergi.
Ia hanya berdiri di balik sudut lorong, memandang.
Ini pertama kalinya ia melihat Diara seperti itu.
Bukan sebagai istri yang selalu rapi dengan jilbab syar’i dan sikap formal.
Bukan sebagai bagian dari kesepakatan yang ia setujui secara logis.
Tapi sebagai manusia yang berada di ruang pribadinya sendiri.
Tanpa lapisan formalitas.
Tanpa jarak sosial.
Dan untuk alasan yang tidak ia pahami, pandangannya tidak langsung berpindah.
Diara tidak menyadari kehadirannya.
Ia menghela napas pelan, lalu menutup buku di depannya.
“Capek banget…” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.
Tangannya merapikan rambutnya sebentar.
Gerakan kecil yang sangat manusiawi.
Sederhana.
Tanpa sadar.
Dan di titik itu, sesuatu di dalam diri Jifan bergerak sedikit—bukan emosi yang jelas, tapi semacam ketidaksesuaian antara gambaran yang ia miliki tentang Diara dan realitas yang ia lihat sekarang.
Beberapa detik kemudian, ia melangkah maju.
Tanpa rencana.
Tanpa alasan yang jelas.
Hanya… bergerak.
Pintu ruangan itu setengah terbuka.
Jifan mengetuk pelan bingkai pintu, bukan pintu itu sendiri.
Tok.
Diara langsung menoleh.
Dan seketika itu juga, ekspresinya berubah.
Kaget.
Jelas.
Matanya melebar sedikit, refleks tubuh yang tidak bisa ia kontrol.
“Jifan?” suaranya pelan, sedikit terkejut.
Jifan berdiri di ambang pintu.
Untuk pertama kalinya, ia terlihat sedikit tidak seimbang dalam pikirannya sendiri.
Bukan karena Diara melakukan sesuatu yang salah.
Tapi karena situasinya terasa… berbeda dari biasanya.
“Aku…,” Jifan berhenti sepersekian detik.
Ia tidak punya alasan yang jelas.
Tidak ada agenda.
Tidak ada keperluan.
Namun ia tetap berbicara.
“Aku mau ambil dokumen di ruang kerja bawah.”
Hening.
Alasan itu tidak masuk akal bahkan untuk dirinya sendiri.
Karena ruang kerja ada di lantai atas.
Dan ia baru saja turun dari lantai bawah.
Diara menatapnya beberapa detik.
Bukan curiga.
Lebih ke bingung.
“Dokumen?” ulangnya pelan.
Jifan mengangguk singkat.
“Terjatuh tadi.”
Kalimat kedua itu bahkan lebih tidak perlu dari yang pertama.
Dan di dalam dirinya sendiri, Jifan menyadari itu.
Namun ia tidak mundur.
Diara perlahan berdiri.
Ia mengambil jilbab yang ada di kursi di sebelahnya.
Gerakan itu membuat Jifan tanpa sadar mengalihkan pandangan sejenak.
Bukan karena tidak sopan.
Tapi karena ada sesuatu yang terasa… baru.
Dan itu membuatnya tidak siap.
Diara mengenakan jilbabnya kembali dengan cepat.
“Sudah ketemu dokumennya?” tanyanya datar, mencoba kembali ke suasana normal.
Jifan tidak langsung menjawab.
Beberapa detik.
“Belum,” jawabnya akhirnya.
Hening lagi.
Tidak ada dokumen.
Tidak ada alasan nyata.
Tidak ada kebutuhan.
Hanya dua orang dalam satu ruangan yang tidak tahu kenapa percakapan ini sedang terjadi.
Diara duduk kembali, sedikit menjaga jarak.
“Aku pikir kamu sedang sibuk,” katanya.
“Aku selesai kerja,” jawab Jifan.
Singkat.
Namun kali ini nadanya sedikit berbeda.
Tidak sedingin biasanya.
Hanya… lebih pelan.
Lebih manusiawi.
Dan itu membuat Diara sedikit menoleh.
Ia tidak mengatakan apa pun.
Tapi tatapannya menangkap sesuatu yang tidak biasa.
Jifan tidak pergi.
Biasanya, setelah beberapa detik, ia akan langsung berbalik dan menghilang seperti biasa.
Namun malam ini ia masih berdiri di sana.
Seolah tidak tahu harus pergi atau tetap tinggal.
“Aku akan ke atas,” akhirnya Jifan berkata.
Seolah itu kalimat yang harus diucapkan agar situasi kembali normal.
Diara mengangguk kecil.
“Baik.”
Namun sebelum benar-benar berbalik, Jifan berhenti lagi sepersekian detik.
Dan untuk alasan yang bahkan ia sendiri tidak pahami, ia menambahkan:
“Jangan terlalu lama di sini malam-malam.”
Kalimat itu keluar tanpa rencana.
Tanpa konteks.
Diara menatapnya sedikit bingung.
“Kenapa?”
Jifan tidak langsung menjawab.
Ia sendiri tidak punya jawaban yang logis.
“…rumah ini besar,” katanya akhirnya.
Itu bukan jawaban yang menjelaskan apa pun.
Namun cukup untuk mengakhiri percakapan.
Ia pergi.
Langkahnya naik tangga.
Stabil seperti biasa.
Namun pikirannya tidak.
Di kamarnya, Jifan berdiri cukup lama di dekat jendela.
Lampu kota terlihat jauh di luar.
Namun yang ada di pikirannya bukan itu.
Wajah Diara tadi muncul berulang kali.
Bukan dalam cara yang ia harapkan atau pahami.
Tapi dalam bentuk yang sederhana:
natural.
tanpa lapisan formal.
tanpa jarak.
Dan itu membuat sesuatu yang sebelumnya stabil di dalam dirinya menjadi sedikit terganggu.
Ia tidak tahu kenapa.
Dan itu yang paling mengganggu.
Ia duduk di kursi kerjanya.
Laptop menyala.
Dokumen terbuka.
Namun ia tidak benar-benar membaca.
Tangannya diam.
Pikirannya tidak.
“Kenapa aku tadi ke sana?” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.
Tidak ada jawaban.
Tentu saja tidak ada.
Keesokan harinya, sesuatu berubah.
Tidak drastis.
Tidak terlihat jelas.
Tapi terasa.
🪻🪻🪻🪻
Saat Diara turun ke lantai bawah pagi itu, ia menemukan Jifan sudah duduk di ruang makan.
Seperti biasa.
Namun kali ini, ia tidak langsung pergi setelah melihatnya.
Ia menatap sekilas.
Lalu berkata:
“Selamat pagi.”
Diara terdiam sepersekian detik.
Ini bukan pertama kalinya Jifan menyapanya.
Tapi cara itu…
lebih ringan.
lebih… hadir.
“Pagi,” jawab Diara pelan.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, percakapan kecil itu tidak langsung berakhir di tempat yang sama seperti biasanya.
Jifan tidak langsung berdiri.
Ia masih duduk.
Beberapa detik lebih lama dari biasanya.
Seolah… tidak terburu-buru untuk menghilang.
Diara memperhatikan itu.
Dan tanpa ia sadari, pikirannya mulai bertanya:
“Kenapa dia berbeda hari ini?”
Sementara Jifan sendiri, untuk pertama kalinya, tidak punya jawaban logis untuk dirinya sendiri.
Yang ia tahu hanya satu hal:
Ada sesuatu tentang Diara yang tadi malam… tidak lagi terasa seperti “bagian dari kesepakatan”.
Tapi sesuatu yang lebih sulit ia definisikan.
Dan itu mulai mengganggu ketenangan yang selama ini ia anggap stabil.