Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kaiven Si Obat Nyamuk
Sinar matahari pagi yang hangat menyusup malu-malu melalui jendela berukuran raksasa di ruang keluarga utama mansion Salvatore.
Ruangan bernuansa elegan itu, di penuhi oleh dinding marmer putih, pilar-pilar neoklasik, dan deretan sofa beludru mewah warna abu abu.
Biasanya, ruangan ini memancarkan aura dingin yang mencekam, namun pagi ini, suasana di sana terasa sedikit berbeda. Lebih tenang, bahkan cenderung hangat.
Alice duduk di salah satu sudut sofa panjang, mengenakan gaun kasual sutra berwarna lavender yang lembut.
Sepasang mata hazelnya menatap ragu ke arah sebuah kotak beludru hitam kecil yang terbuka di atas meja kaca di depannya.
Di dalam kotak itu, sebuah kalung emas putih dengan liontin berlian berbentuk tetesan air mata berkilau dengan sangat indah.
Nilainya jelas tidak main-main, sebuah perhiasan langka yang mungkin setara dengan harga satu unit apartemen mewah di pusat Jakarta.
Di sampingnya, Elvano duduk dengan postur tubuh yang tegak namun santai.
Kemeja linen putihnya yang longgar digulung hingga ke siku, menampilkan lengan kekar yang dipenuhi urat-urat tegas.
Perlahan, Elvano mengambil kalung itu dari kotaknya.
"Berbaliklah," perintah Elvano.
Suaranya bariton, rendah, dan memiliki kelembutan yang sangat langka, berbeda dengan reputasinya sebagai Bos mafia yang ditakuti dunia bawah.
Alice menelan ludah dengan gugup.
Getaran aneh efek dari kedekatan mereka yang kian hangat setelah insiden di taman beberapa hari lalu membuat jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Dengan gerakan lambat, ia berbalik membelakangi Elvano, menyibakkan rambut ikal cokelat mudanya ke samping untuk mengekspos leher yang jenjang dan halus.
Elvano memajukan tubuhnya.
Aroma maskulin bercampur tembakau mahal yang samar kembali menguar ke indra penciuman Alice.
Jemari besar Elvano yang biasanya memegang senjata api kini bergerak dengan sangat hati-hati, melingkarkan kalung emas putih itu di leher Alice.
Kulit jari Elvano yang kasar bergesekan dengan kulit lembut Alice, mengirimkan sengatan listrik yang membuat bahu gadis itu sedikit menegang.
"Ini milikmu. Jangan pernah melepasnya," bisik Elvano posesif, tepat di dekat telinga Alice.
Nafas hangatnya membuat bulu kuduk Alice meremang.
Pria itu baru saja hendak mendaratkan sebuah kecupan di pundak Alice untuk menyempurnakan momen romantis yang langka itu, ketika tiba-tiba...
BRAK!
Pintu kayu ruang keluarga yang terbuat dari kayu jati mahal didorong terbuka dengan hentakan yang terlampau berisik.
"Yuhuuu! Selamat pagi, wahai sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara!" sebuah suara cempreng dan riang memecah keheningan romantis itu.
Elvano seketika membeku.Gerakannya terhenti di udara.
Rahang tegasnya langsung mengeras, dan jika pandangan mata bisa membunuh, sesosok pria yang baru saja melangkah masuk ke dalam ruangan itu pasti sudah hancur menjadi abu dalam waktu satu detik.
Kaiven melangkah masuk dengan gaya berjalan yang terlampau santai, seolah-olah tempat itu adalah rumah neneknya sendiri.
Yang membuat penampilannya luar biasa konyol adalah fakta bahwa ia memakai kacamata hitam berbingkai besar di dalam rumah, padahal ruangan itu sudah sangat terang dan tangannya menenteng sebuah kantong plastik transparan berukuran besar yang penuh dengan... jajanan pasar tradisional.
Alice dengan cepat berbalik, wajahnya memerah karena malu sekaligus kaget, sementara ia buru-buru membetulkan kerah gaunnya.
Tanpa merasa bersalah sedikit pun, Kaiven berjalan mendekati sofa.
Ia melepaskan kacamata hitamnya dengan satu gerakan yang begitu dramatis, menyampirkannya di kerah kaus polo putihnya, lalu dengan sangat tidak tahu diri, ia menghempaskan tubuhnya tepat di tengah-tengah sofa menyempit di antara Elvano dan Alice.
"Ah, pas sekali! Aku datang di waktu yang tepat," cetus Kaiven riang.
Ia menaruh kantong plastiknya di atas meja kaca, tepat di samping kotak beludru berlian seharga miliaran rupiah milik Elvano.
"Kalian harus coba ini. Ini namanya kue cucur dan onde-onde dari pasar subuh dekat pelabuhan. Rasanya luar biasa, jauh lebih enak daripada kaviar Prancis yang sering kau makan itu, El."
Elvano memutar tubuhnya perlahan, menatap Kaiven dengan sepasang mata cokelat gelap yang kini telah berubah menjadi sedingin es kutub utara.
Aura membunuh yang sangat pekat menguar dari tubuh sang Bos.
"Kaiven," desis Elvano, suaranya sangat rendah dan berbahaya hingga membuat bulu kuduk para pengawal di luar pintu merinding.
"Berikan aku satu alasan masuk akal kenapa aku tidak boleh melempar tubuhmu dari balkon lantai dua ini sekarang juga."
Kaiven mengibaskan tangannya dengan santai, mengabaikan tatapan membunuh dari bosnya yang siap mengeksekusinya.
Ia justru mengambil sebuah kue cucur yang berminyak dan menggigitnya dengan lahap.
"Aduh, Bos, jangan galak-galak begitu sepagi ini. Nanti kerutan di wajahmu bertambah, apa kau ingin kelinci kecilmu itu kabur ketakutan melihatmu," gurau Kaiven sembari mengedipkan sebelah matanya ke arah Alice.
Kaiven kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan, memandangi kalung berlian yang baru saja terpasang di leher Alice, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya secara dramatis.
"Wah, wah... lihat ini. Singa Mafia kita benar-benar sudah jinak. Kemajuan hubungannya pesat sekali! Kemarin mengamuk sampai menghancurkan wajah orang di taman, sekarang sudah mulai memberikan berlian di pagi hari. El, kau romantis sekali, aku sampai ingin muntah mendengarnya."
"Kaiven. Axel. Moretti," Elvano menyebut nama lengkap asistennya dengan penekanan di setiap kata, tangannya yang berada di atas lutut perlahan mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.
"Keluar. Sekarang."
"Sebentar, sebentar, aku ke sini membawa laporan penting dari bea cukai, Bos," sahut Kaiven tanpa beban.
Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar kertas yang sudah agak lecek karena terhimpit bungkus makanan, lalu meletakkannya di atas meja.
Namun, setelah itu, ia kembali fokus pada misinya mengacaukan suasana.
Kaiven menoleh ke arah Alice yang sejak tadi hanya diam membeku dengan wajah merona.
"Nona Alice, bagaimana rasanya tinggal bersama pria kaku ini? Jika dia terlalu membosankan atau terlalu sering mengancammu dengan pistol, katakan saja padaku. Aku bisa membantumu memesankan tiket liburan ke Bali. Biarkan si kakek-kakek ini pusing sendirian dengan dokumen-dokumen bisnisnya."
Alice tidak bisa menahan diri lagi.
Mendengar celotehan konyol Kaiven yang sangat berani mengejek seorang Bos mafia legendaris, sebuah senyum tipis untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di mansion ini terukir di bibir ranumnya.
Ia menutupi mulutnya dengan tangan, mencoba menahan tawa kecil yang geli.
Melihat Alice tersenyum, kilatan amarah di mata Elvano mendadak mereda secara ajaib.
Rasa kesal karena momen romantisnya diganggu tergantikan oleh rasa takjub yang asing saat melihat binar kebahagiaan kembali muncul di sepasang mata hazel milik gadis itu.
Namun tentu saja, harga diri sang Bos tidak membiarkan Kaiven menang begitu saja.
Elvano berdiri dari sofa dengan pesona seorang Mafia. Ia meraih kerah belakang kaus polo Kaiven, mengangkat pria blasteran itu dengan paksa dari sofa seperti sedang mengangkat seekor anak kucing yang nakal.
"Hei! Hei! El, santai, Kawan! Onde-ondeku belum habis!" protes Kaiven konyol saat tubuhnya diseret menjauh dari sofa oleh Elvano.
"Urus dokumen bea cukai itu di ruang kerja, Kaiven. Dan jangan pernah berani menampakkan wajahmu di lantai ini lagi sampai matahari terbenam," perintah Elvano dingin, mendorong tubuh Kaiven keluar dari pintu ruang keluarga dengan sentakan tegas.
"Oke, oke, aku pergi! Dasar obat nyamuk tidak dihargai sepeser pun di rumah ini!" teriak Kaiven dari koridor luar, sebelum pintu ganda itu akhirnya ditutup rapat oleh pengawal dengan suara Klek yang memutus kegaduhan tersebut.
Ruangan kembali diliputi oleh keheningan, namun sisa-sisa suasana komedi yang dibawa Kaiven masih tertinggal di udara.
Elvano berbalik, merapikan kemejanya yang sedikit kusut, lalu melangkah kembali mendekati Alice.
Alice mendongak, menatap Elvano yang kini tampak mengembuskan napas panjang dengan raut wajah yang masam namun terlihat sangat manusiawi.
Rasa takut yang biasanya menghantui hati Alice saat berhadapan dengan Elvano, pagi ini sedikit terkikis, digantikan oleh rasa baru yang membingungkan perasaannnya.