Langit Janet Mathida seakan runtuh ketika dijadikan alat pembayaran Papanya yang terlilit hutang judi dan pinjol. Dia terpaksa tinggal bersama Devan Gevaro yang tidak menginginkannya.
》Setelah sari masa muda dinikmati dan hamil, dia diminta pergi dari kehidupan Devan. Seketika Janet seperti tebu, habis manis sepah dibuang.
》Apakah Janet terima dan berjuang untuk membalas perlakuan Devan?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Serupa Beda Rasa"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 07. SBR
...~•Happy Reading•~...
Bu Litta yang hendak memeriksa hasil kerja anak buahnya, terkejut melihat koridor di aula pertemuan basah dan boss baru sedang melihat anak buahnya dengan wajah keras. Dia berjalan cepat mendekati Janet . "Berdiri." Perintah Bu Litta.
Janet berdiri tapi tetap menunduk. "Segera bantu dia bersihkan ini." Perintah Bu Litta kepada Reni dan Hanun. Reni mendekati Janet yang masih menunduk dengan wajah pucat dan tangan mengepal.
"Maaf, Pak Gevaro, tidak akan terulang lagi." Bu Litta minta maaf sambil menunduk hormat.
"Maaf, Bu Valeri, tidak akan terulang lagi." Bu Litta coba meredahkan suhu amarah Valeri, karena dia tahu sifat dan tindakan Valeri selama bersama pimpinan lama.
"Cepat bersihkan sepatu Pak Gevaro." Perintah Valeri kepada Janet, tanpa peduli pada maaf Bu Litta.
Reni terkejut mendengar nama Pak Gevaro. "Cepat bersihkan sepatunya, Jan. Itu Pak Gevaro, boss baru. Aku keringkan air ini." Bisik Reni yang melihat Janet gemetar.
"Tidak perlu. Carikan sepatu lain." Ucap Gevaro sambil melepaskan sepatunya begitu saja. Sontak Janet mengangkat wajah melihat Gevaro dengan tatapan marah dan dada bergemuruh.
Gevaro terkejut melihat kilatan marah di mata Janet. "Kau berani menantang saya?" Bentak Gevaro dengan suara menggelegar. Sehingga Reni mencubit betis Janet, agar tidak melawan.
'Dia pura-pura tidak mengenalku?' Bisik hati Janet yang terasa panas. Dia menunduk dan duduk mengusap betisnya yang sakit dicubit Reni. 'Dia seharusnya jadi aktor.' Bisik hatinya lagi.
"Ayo, minta maaf, Jan. Jangan persulit kerjaan kita di sini." Bisik Reni.
Janet berjalan mendekati sepatu Gevaro sambil tetap menunduk. "Maaf, Pak. Saya akan bawa untuk bersihkan." Janet berusaha meredam amarah di hatinya dengan melihat kaki Gevaro yang mengenakan kaos kaki.
Kemudian dia mengambil sepatu Gevaro, lalu berjalan kembali mendekati Reni. Masa lalu kembali menyeruak, mengusik hatinya. Dia teringat yang pernah dilakukan saat masih bersama Devan. Mengambil sepatu dan membawa untuknya sebelum keluar dari apartemen.
"Sudah, kalian berdua ke belakang. Aku yang bersihkan." Bisik Hanun yang melihat kondisi Janet tidak seperti biasanya.
Bu Litta jadi perhatikan Janet. "Reni, bawa Janet ke pantry. Kasih dia minuman hangat." Bu Litta mengira Janet sedang syok, karena melakukan kesalahan di hari pertama kerja boss baru.
"Ayo, Jan. Mari kita pergi dari sini." Reni mengajak Janet ke pantry. Janet mengikuti Reni dalam diam sambil menjinjing sepatu. Dia tidak menengok ke belakang untuk mengetahui reaksi Gevaro atau Valeri.
Setelah tiba di pantry, Janet meletakan sepatu di lantai. "Jangan bersihkan dulu. Ini minum, supaya kuat bersihkan sepatu boss." Reni meletakan cangkir teh di tangan Janet.
"Makasih, Ren." Janet minum sedikit teh. "Jadi yang tadi pimpinan baru kita?" Janet memastikan sambil melihat Reni.
"Iya, itu pimpinan baru kita, Pak Gevaro. Aku tahu, karena namanya yang tidak umum..." Reni menjelaskan yang dia tahu.
"Astaghfirullah... Jan, jangan bilang kau tersandung tadi karna melihatnya tidak sesuai prediksimu. Tua dan buncit." Reni meniru gaya Janet menggambarkan perut buncit dengan tangan di depan perut.
"Ah, kau masih ingat aja. Mana aku tahu itu boss baru. Kan kau yang bilang." Janet berusaha menyamarkan dan menyembunyikan suasana hatinya dan detak jantungnya yang jadi berdetak kuat.
"Oh, iya. Berarti tadi kau kaget karna melihat pria tampan akan melewatimu? Wajar, sih. Kalau aku lihat duluan, mungkin tulang dengkulku berubah jadi ongol-ongol." Reni bercanda untuk menghibur Janet.
"Ah, kau, Ren. Kalau didengar Hanum, dia akan patah hati." Janet balik meledek Reni, setelah menghabiskan minuman. Dia tahu, Harun tertarik pada Reni, karena sering diam-diam memperhatikan Reni.
"Jangan bikin gosip. Sana bersihkan sepatu boss." Bisik Reni sambil mendorong bahu Janet.
"Nanti saja, Ren. Lagian tadi bilang tidak perlu. Aku mau pijit dengkulku sebelum jadi ongol-ongol." Ucap Janet berusaha mengalihkan. Dia ingat Gavaro melepaskan sepatu tanpa berpikir. Padahal hanya sedikit kena cipratan air.
"Gak usah tunggu. Bilangnya tidak perlu, tapi siapa tahu, tiba-tiba perlu." Reni kembali mendorong bahu Janet agar segera membersihkan sepatu boss mereka.
~▪︎▪︎
Di ruang kerja CEO ; Gevaro duduk di kursi kebesaran dan Valeri berdiri di depannya. "Kau sekretaris saya di sini?" Tanya Gevaro.
"Saya, Pak." Valeri menjawab dengan hati berbunga. Sebab dia tetap menjadi sekretaris CEO baru.
"Baik. Itu pertama dan terakhir kau membentak seseorang di depan saya." Gevaro serius mengingatkan Valeri.
Hati Valeri langsung menciut. "Iya, Pak. Saya mohon maaf." Valeri merasa udara ruang kerja makin dingin oleh nada suara dan sikap boss barunya.
"Mulai sekarang, kau kerja di belakang meja. Tunggu perintah dari saya dan jangan mengikuti saya." Gevaro mengingatkan lagi.
Valeri tercengang dan tidak berani protes. Dia tersadar, lain boss, lain kebijakan. Karena pimpinan lama selalu minta dia mengikuti, bahkan saat acara yang tidak berhubungan dengan pekerjaan.
'Apa kekuasaanku sedang dipreteli?' Bisik hati Valeri yang sudah was-was. Jabatannya sebagai sekretaris CEO tidak memiliki pengaruh lagi.
"Saya punya asisten. Kau akan berhubungan dengannya." Gevaro mengatakan dengan nada datar.
"Baik, Pak." Ucap Valeri tetap berdiri, menunggu perintah.
Gevaro mengotak-atik telpon. "Jensen, kau sudah di mana?"
"Masih di jalan, Pak. Saya sepertinya terlambat..."
"Terlambat? Sebentar lagi saya harus ke aula. Saya butuh sepatu." Jawaban Jensen membuat Gevaro gusar dan langsung mematikan telpon.
"Valeri, ambil lagi sepatu saya yang tadi sebelum dibuang ke tempat sampah."
"Baik, Pak." Valeri segera keluar dari ruangan.
Setelah ditinggal sendiri, Gevaro menghembuskan nafas panjang. Dia ingat tatapan marah wanita yang menumpahkan air kotor. 'Apa dia mengenalku? Apa dia pernah bertemu denganku sebelumnya?' Gevaro bertanya dalam hati.
Tidak lama kemudian, Valeri masuk ke ruangan sambil membawa sepatu Gevaro. "Ini sudah dibersihkan, Pak." Valeri hendak meletakan dekat kaki Gevaro.
"Letakan di situ. Siapkan yang diperlukan untuk pertemuan." Ucap Gevaro sambil berdiri.
~▪︎▪︎
Janet terduduk lemas di pantry setelah ditinggal Valeri. "Ren, untung aku dengar saranmu untuk bersihkan sepatu. Begini aku abis dinyanyiin Nonya tadi."
"Aku tadi nebak aja. Mungkin boss tiba-tiba butuh sepatunya ke aula. Masa mau pakai kaos kaki doang?" Ucap Reni sambil tersenyum.
"Iya benar. Walau bisa beli baru, jalanan lagi padat merayap. Mana bisa tiba tepat waktu."
"Benar. Mari kita siap-siap." Bisik Reni.
Janet mengangguk. 'Fokus kerja Janet. Devan tidak akan berani mengganggumu lagi. Kau sudah menikah dengan Mas Andri.' Janet membatin untuk menguatkan hatinya.
~▪︎▪︎
Menjelang sore, setelah usai pertemuan dan acara perkenalan, Gevaro berjalan keluar dari lobby bersama asistennya, Jensen.
Dia melihat seorang anak laki-laki kecil sedang melambai dengan kedua tangan dari dalam mobil, seakan ke arahnya. Hatinya mendesir melihat wajah mungil yang tampan dan menggemaskan.
Gevaro makin terkejut mendengar dia memanggil 'Mamaaa' sambil terus melambai dengan kedua tangan dan wajah sangat riang.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~▪︎○¤○▪︎~...