Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.
Aku nggak sengaja di sini.
Klik.
"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"
Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.
Jantungku berhenti.
Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.
Kraaak.
"Menangkap."
Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sup jamur terakhir
Pagi jam 07.00. Demamku masih 38.8°C. Kain kompres di dahi udah kering sejak jam 4 pagi.
Klek. Pintu kebuka. Bukan Pak Bara tapi Axel.
Tangannya bawa nampan. Di atasnya mangkok keramik putih, sendok perak Uapnya naik pelan Baunya... bau jamur dan kaldu sesuatu yang anget dari masa kecil.
Aku muter badan ke jendela. "Saya bilang saya kenyang."
Axel ga jawab. Dia taruh nampan di meja. Jarak 2 meter.
Tapi kali ini dia ga pergi. Dia duduk di kursi seberang. Diem. Natap mangkok itu.
"Resep Elena," katanya pelan 4 kata tapi ngancurin benteng esku.
Aku nengok setengah. "Apa?"
Axel dorong mangkok ke arahku pake buku. Jaga jarak 1 meter. "Pak Bara ga bisa masak kayak dia. Jadi aku yang masak semalaman. Nyoba 4 kali. Gosong 3 kali. "
Dia angkat sendok. Tangannya masih ada luka kecil kena pisau, merah.
"Ini," Axel aduk supnya pelan. "Dia ajarin aku umur 7 tahun. Katanya, naga kecil kalau sedih, makan sup jamur. Angetnya nyampe ke hati'."
Aku merem. Dada sesek. Mama Elena meninggal 13 tahun lalu. Tapi resepnya masih hidup di tangan orang yang paling benci Papa.
Axel nyuapin sendok pertama. Dia berhenti di tengah jalan. Tangannya gemetar.
"Kau... mau suapin sendiri?" bisiknya. Suaranya rendah. Malu. "Aku ga maksa. Kau tahanan tanpa nama. Bukan aset."
Aku liat luka di tangannya. Luka karena motong jamur buat aku.
Aku ambil sendok dari tangannya. Pelan. Jari kita bersentuhan 1 detik. Dingin anget.
Axel kaku. Tapi ga narik tangannya.
Aku suapin diriku sendiri. Seteguk pertama. Pahit. Asin. Tapi angetnya... angetnya beneran nyampe ke dada.
Air mata jatuh ke mangkok. Tetes.
Axel liat itu. Rahangnya ngeras. "Ga enak ya? Aku gagal."
Aku geleng. Air mata makin deras. "Enak, Tuan. Rasanya... rasa rumah. Rumah yang saya ga pernah punya."
Axel diem 5 detik. Lalu dia bisik, pelan banget: "Rumah kau di sini. Walau kau benci aku."
Aku ketawa kecil. Ketawa sambil nangis. "Tuan benci Papa saya. Tapi masakin resep Mama saya. Tuan gila."
Axel. "Iya. Gila. Gila karena 13 tahun aku hafal cara dia masak. Gila karena tiap aku makan sup ini... aku keinget dia bilang jangan benci Axeliano. Dia naga kecil yang kesepian'."
Dia nyebut nama lengkapnya sendiri. Axeliano. Pertama kalinya tanpa gelar Tuan.
Aku berhenti makan. Natap dia. "Kenapa Tuan cerita ini ke saya? Bukankah saya musuh?"
Axel merem. Lama. Pas buka mata, matanya merah semua. Tapi ga ada benci. Cuma capek.
"Karena kau mirip dia," jawabnya jujur. Sakit. "Cara kau ngerut kening pas mikir. Cara kau gigit bibir pas nahan marah. Cara kau... bilang 'enggak' pas aku suruh tanda tangan."
Dia nunjuk dahiku. Jarak 20cm. Tapi ga nyentuh. "Kau keras kepala kayak dia. Dan aku benci itu. Tapi aku juga... kangen."
JLEB. Aku nahan napas.
Axel berdiri. Mau pergi. Tapi sebelum keluar dia balik badan.
"Supnya habisin," katanya datar. "Kau demam. Kalo mati... dendamku ga lunas."
Bohong. Aku tau itu bohong. Karena matanya bilang: "Kalo kau mati... aku yang mati."
Pintu ketutup. Klek.
Aku abisin supnya. Sendok terakhir. Panas. Tapi aku telan.
Malamnya jam 2 pagi demamku turun jadi 37.5 C. Keringat dingin keluar semua.
Klek. Pintu kebuka dikit. Axel lagi.
Kali ini dia ga taruh jauh. Dia gelar di kursi, duduk. Jarak 1 meter dari kasurku.
"Kau tidur," katanya. "Aku jagain. Biar kalo demam naik lagi... aku tau."
Aku muter badan ke jendela. Tapi kali ini ga nolak. "Tuan ga perlu."
"Perlu," jawabnya singkat. "Karena aku janji ke Elena. Jagain anaknya. Walau anaknya benci aku."
Aku merem. Air mata netes ke bantal.
Aku bisik pelan, suaranya kayak angin. "Tuan Axeliano... terima kasih untuk supnya."
Di kursi, Axel kaku. 3 detik dia ga napas.
Lalu dia jawab, pelan banget. Kayak takut aku denger: "Sama-sama... Aira."
Nama. Dia nyebut Aira pertama kalinya Bukan kau. Bukan aset.
"Aira."
Aku ga nengok. Tapi senyumku kecil banget di balik selimut.
Tahanan tanpa nama... mulai punya nama lagi.
Mangkok udah kosong. Tinggal sisa kaldu di pinggir keramik. Tanganku masih megang sendok, tapi tenagaku habis. Demam bikin pandanganku kabur.
Axel dari kursi ga beranjak. Dia liat aku kayak orang nunggu hukuman mati. Rahangnya kenceng. Matanya ga kedip.
Aku taruh sendok pelan. "Tuan... kenapa masak ini sendiri? Pak Bara bisa."
Axel diem lama. Terlalu lama sampe aku kira dia ga akan jawab.
"Karena dia ga pernah masakin aku," jawabnya akhirnya. Suaranya datar, tapi ada retak kecil. "13 tahun lalu dia masak ini buat aku pas aku demam. Terus besoknya... dia pergi. Ga pernah balik."
Jari Axel ngeremas ujung kursi. Buku-buku jarinya putih. "Aku kira kalo aku masak ulang, rasanya bakal sama. Ternyata enggak. Kurang angetnya dia."
Aku nahan napas. Jadi selama ini dia bukan cuma dendam ke Papa. Dia kangen ke Mama. Kangen yang dia kubur pake benci 13 tahun.
"Kenapa Tuan ga cari dia?" bisikku. Bodoh. Aku tau jawabannya. Mama Elena udah di tanah 13 tahun.
Axel ketawa. Ketawa pendek. Pahit. "Cari? Aku gali setengah kota. Yang ketemu... cuma kuburannya. Sama kau. Bayi di gendongan perawat."
Dia nunjuk aku. Jari telunjuknya gemetar. "Kau bawa wajahnya. Suaranya pas bilang enggak Caranya kau merem pas bohong. Semua sama."
Aku mundur dikit. Rantai di kaki bunyi klitik. "Jadi saya cuma pengganti?"
"Enggak!" Axel bentak. Keras. Tapi langsung nyesel. Dia nutup mata, napasnya berat. "Kau bukan pengganti. Kau... kau anaknya. Dan itu masalahnya."
Dia berdiri. Jalan ke jendela. Punggungnya lebar. Bahunya nurun kayak orang kalah perang.
"Aku mau benci kau," katanya ke kaca jendela. Bayangannya ketimpa bayanganku. "Tiap liat kau, aku harusnya inget Papa kau bunuh keluargaku. Tapi yang aku ingat... dia nyuapin aku sup ini sambil bilang naga kecil harus kuat."
Axel ngepal tinju. Kaca jendela berembun karena napasnya. "Aku gila, Aira. Gila karena dendamku kalah sama rinduku."
Namaku dia sebut lagi. Aira. Pelan. Kayak nyoba di lidahnya. Takut tapi mau.
Aku merem. Air mata netes lagi. Kali ini bukan karena demam. "Kalau Tuan gila... saya ikut gila ya. Karena sup ini... bikin saya inget Mama, walau saya cuma umur 3 tahun waktu dia pergi."
Suara langkah. Axel balik badan. Jarak kita sekarang 50cm doang. Dia jongkok. Sejajar sama mataku.
Tangannya naik. Mau nyentuh pipiku. Berhenti di udara 2cm. Dia liat mataku. Aku ga merem. Aku ga nolak.
Tapi dia tetep ga jadi nyentuh. Tangannya kepal, ditarik ke dada.
"Maaf," bisiknya lagi. Kedua kalinya malam ini. "Aku ga bisa. Kalau aku sentuh kau... aku takut aku ga bisa berhenti. Aku takut aku manggil kau Elena."
Aku angguk kecil. Ngerti. Sakitnya dia, sakitnya aku.
Axel berdiri. Ambil mangkok kosong. Sebelum keluar dia berhenti di pintu.
"Besok kalau demam naik lagi... bilang," katanya tanpa nengok. "Jangan diam. Jangan jadi keras kepala kayak... kayak dia."
Klek. Pintu ketutup.
Aku meluk selimut wol. Anget. Wangi kayu dan asap di tambah sup jamur.
Di luar pintu, aku denger suara gesekan. Axel duduk di lantai. Punggungnya nempel pintu. Sama kayak aku. Kita sama-sama jaga jarak, tapi sama-sama ga sanggup pergi jauh.
Aku bisik ke pintu: "Tuan Axeliano... makasih udah ga manggil saya aset malam ini."
Malam itu aku tidur tanpa mimpi buruk. Pertama kalinya sejak ditahan.
Karena naga juga capek jadi monster. Dan tahanan juga capek jadi es.
kalo berkenan mmpir juga thor😉