NovelToon NovelToon
Wa'Alaikumsalam Mantan Imam

Wa'Alaikumsalam Mantan Imam

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Pernikahan Kilat / Konflik etika / Tamat
Popularitas:244.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.

Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.

Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.

Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.

Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Ketika Hormat Runtuh

Langkah Fahri menjadi pelan dan semakin berat. Seolah setiap langkah menyeret kemarahan yang tak sempat ia susun.

Mobil bergoyang. Lampu dalam mobil redup, siluet dua tubuh terlihat dari kaca yang berembun. Terlalu dekat dan terlalu intim untuk disalahartikan.

Tangan Fahri mengepal. Ia tidak mendekat lagi, karena gerakan di dalam mobil itu sudah cukup jelas, bahkan terlalu jelas.

Dada Fahri terasa sesak bukan karena kaget, melainkan karena sesuatu di dalam dirinya yang sebelumnya retak, kini runtuh dengan suara yang nyaris tak terdengar.

“Jadi ini batas yang lo maksud?” gumamnya pelan, hampir tak bersuara, ditelan angin laut dan debur ombak yang memecah karang.

“Ini contoh yang lo kasih?”

Bayangan Ayza yang diam, menunduk, tak banyak bicara kembali muncul.

Fahri menutup mata sejenak. Saat mata itu terbuka kembali, sorot matanya tak lagi marah, tak lagi berkobar, melainkan dingin yang membeku.

Ia berbalik, melangkah menjauh dari pantai, menjauhi mobil itu, menjauh dari kakaknya.

"Malam ini, lo resmi kehilangan satu hal dari gue. Rasa hormat. Dan rasa itu, gak akan pernah bisa lo tuntut kembali."

Fahri memacu motornya menembus gelapnya malam. Melesat di antara dinginnya angin yang menampar wajah. Tapi yang membuatnya kaku bukan suhu udara, melainkan hatinya yang sudah kehilangan hangat.

TIIINNN...!

BRAK!

Suara klakson disusul benturan keras meledak hanya beberapa meter di depan Fahri.

Sebuah mobil pribadi menghantam truk dari samping. Fahri refleks mengerem mendadak, membanting setir ke kiri.

“Akh—!”

Ia memekik saat serpihan kaca spion beterbangan. Salah satunya menancap di punggung tangannya.

Motor oleng, tapi Fahri berhasil menahannya. Ia menepi dengan napas memburu. Dadanya naik turun cepat.

“Sial…” gumamnya.

Fahri menurunkan sarung tangan kulitnya. Darah merembes dari punggung tangan. Tidak terlalu dalam, tapi cukup perih.

“Untung pakai sarung tangan,” desisnya. “Kalau nggak…”

Ia melepas helm, meraih bandana di kepalanya, menekan luka sebentar sampai aliran darah melambat, lalu membalutnya seadanya.

Tak lama kemudian suara orang berteriak terdengar. Kendaraan mulai berhenti. Lampu-lampu menyorot lokasi tabrakan.

Fahri menatap sekilas ke arah mobil dan truk yang ringsek.

"Bukan urusan gue."

Ia menyalakan kembali motornya, memutar gas perlahan. Nyeri menjalar setiap kali tangannya bergerak, tapi ia tetap melaju, meninggalkan kerumunan yang makin ramai di belakangnya.

 

Setengah jam kemudian, Fahri sudah tiba di rumah.

Ia melangkah menuju kamarnya ketika pintu kamar tamu terbuka. Fahri berhenti. Pandangannya tertumbuk pada Ayza yang keluar sambil membawa teko air.

“Lo ngapain di kamar tamu?” tanyanya. Tatapannya sekilas melirik ke dalam kamar yang pintunya setengah terbuka.

“Kakak tidur di kamar ini,” jawab Ayza jujur. “Sejak pertama kali masuk ke rumah ini.”

Mata Fahri melebar sepersekian detik. “Kalian… pisah kamar?”

Ayza mengangguk pelan. “Iya. Kata kakakmu, kami belum saling mengenal terlalu jauh. Jadi masih canggung kalau tidur sekamar.”

Fahri tertawa. Tawa kering. Tanpa humor.

Wanita yang sah menjadi istri kakaknya justru tidur di kamar tamu. Sementara kakaknya sendiri melewati batas dengan perempuan lain.

"Ironis," batinnya getir.

Fahri menatap Ayza lebih lama. Rahangnya mengeras. “Gue mau nanya satu hal,” katanya akhirnya, suaranya lebih rendah, lebih serius. “Jujur.”

Ayza menunggu, tak memotong.

“Kenapa lo mau nikah sama kakak gue?”

Ayza menghela napas pelan. “Karena waktu itu Kakak berpikir… orang tua kalian orang baik,” katanya jujur. “Jadi mungkin anaknya juga orang baik.”

Fahri tersenyum kecut. Kalimat itu menamparnya lebih keras daripada tangan. “Hanya itu?”

Ayza menggeleng pelan. Tatapannya tetap tenang. “Karena Kakak percaya pada janji,” jawabnya lirih.

Fahri mengernyit.

“Janji nikah itu bukan cuma soal cinta,” lanjut Ayza. “Tapi tanggung jawab. Kakak menikah bukan karena Kakak yakin dia sempurna… tapi karena Kakak yakin Kakak siap menjalani pernikahan.”

Fahri tertawa kecil. Getir. “Dan lo gak kepikiran bakal jadi kayak gini?”

Ayza menggeleng lagi. “Kakak kepikiran. Tapi Kakak juga tahu, menikah itu bukan tentang selalu dimengerti. Kadang hanya tentang bertahan… tanpa kehilangan diri sendiri.”

Fahri menghembuskan napas kasar. “Dia bahkan gak nganggep lo,” katanya tajam. “Lo cuma dijadiin pembantu di rumah ini.” Tatapannya mengunci Ayza. “Lo gak kepikiran pisah sama dia?”

Ayza tersenyum tipis. Senyum yang tak sampai ke mata. “Kakak pernah minta cerai dari kakakmu,” ujarnya jujur. “Tapi dia menolak. Alasannya orang tua. Terutama bunda.”

Ia terdiam sejenak, seolah menimbang ulang keputusannya sendiri.

“Setelah itu Kakak berpikir lagi,” lanjutnya pelan. “Kami baru menikah. Bunda masih dalam masa pengobatan.” Napasnya tertahan sesaat. “Kalau kami berpisah sekarang… Kakak takut, kondisi bunda akan memburuk.”

Lagi-lagi Fahri merasa ditampar. Perempuan di hadapannya ini orang luar, tapi justru memikirkan ibunya. Mendahulukan orang lain sebelum dirinya sendiri.

“Lo yakin bisa bertahan sama dia?” tanya Fahri, suaranya lebih pelan.

Ayza tersenyum di balik cadarnya. Namun Fahri bisa melihat kerut halus di sudut matanya.

“Kakak tidak tahu,” jawabnya jujur. “Tapi Kakak akan berusaha… setidaknya sampai bunda sembuh.”

Fahri menghela napas panjang. “Kalau lo bertahan karena orang tua,” katanya akhirnya, “jaga hati lo baik-baik. Jangan sampai lo jatuh cinta sama kakak gue.”

Ia menoleh sekilas. “Dia gak pantas buat elu.”

Tanpa menunggu jawaban, Fahri berbalik pergi.

“Tunggu!”

Fahri menghentikan langkahnya, lalu menoleh.

“Tanganmu berdarah,” ujar Ayza, menunjuk tangan Fahri.

Fahri mengangkat tangannya. Lilitan bandana tampak tembus darah. “Cuma luka kecil.”

“Biar Kakak obati,” kata Ayza lembut.

“Gak perlu.”

“Jangan menyepelekan hal kecil,” balas Ayza. “Hal besar sering bermula dari hal kecil. Meski lukamu kecil, itu tetap bisa memengaruhi aktivitasmu.”

Ia menatap Fahri dengan tenang. “Biarkan Kakak menjalankan tanggung jawab dan amanah dari ayah dan bunda.”

Fahri memejamkan mata sesaat. "Apa gue salah menilai dia?" batinnya.

“Kakak tunggu di ruang tengah,” ujar Ayza pelan.

Fahri akhirnya berbalik, mengikuti Ayza ke ruang tengah.

Ayza duduk di hadapannya, lalu membuka lilitan bandana di tangan Fahri. Darah sudah mengering di beberapa bagian.

“Fahri,” katanya pelan, sebelum mulai membersihkan luka. “Mungkin kamu merasa Kakak terlalu mengatur.”

Fahri tidak menjawab.

“Tapi percayalah,” lanjut Ayza sambil menuang cairan antiseptik, “hidup bakal kacau tanpa aturan. Aturan itu bukan buat mengekang. Tapi buat menjaga kita tetap di dalam batas.”

Fahri meringis kecil saat cairan menyentuh lukanya, tapi ia tidak menarik tangannya.

“Dan selama kita tetap di dalam batas,” sambung Ayza, suaranya tetap tenang, “hidup akan lebih tenang. Lebih fokus. Kita tahu ke mana tujuan kita melangkah.”

Fahri diam. Namun tanpa sadar, setiap kata itu ia cerna.

“Kakak bukan cari muka,” ucap Ayza lagi. “Kakak hanya berusaha bertanggung jawab atas kepercayaan yang ayah dan bunda titipkan.”

Tangannya bergerak cekatan, membersihkan sisa darah.

“Karena bagi Kakak,” lanjutnya, “kepercayaan itu mahal. Tidak bisa dibeli dengan apa pun. Ia dibangun pelan-pelan, dari dasar. Tapi sekali dikhianati…” Ayza berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih dalam, “…sulit untuk membangunnya kembali.”

Kata-kata itu menghantam dada Fahri lebih keras dari bogeman. Ia tahu persis rasanya.

Kepercayaannya pada kakaknya mulai retak saat ia melihat Reza memeluk perempuan lain di depan umum. Dan malam ini, retakan itu runtuh sepenuhnya. Ia menyaksikannya sendiri. Dengan mata dan kepalanya. Kakaknya melewati batas.

“Dan satu lagi.”

Fahri tersentak dari lamunannya.

Ayza mulai mengobati luka yang sudah dibersihkan. Fahri sedikit meringis menahan perih.

“Orang lain akan memperlakukanmu sebagaimana kamu memperlakukan mereka,” katanya. “Mungkin tidak semuanya. Tapi kebanyakan.”

Ayza menatap Fahri. Tatapan yang tidak menghakimi.

“Cobalah bicara lebih sopan,” lanjutnya. “Bukan untuk pencitraan. Tapi sebagai bentuk hormat.”

Fahri tetap diam.

Ayza melilitkan perban pada luka Fahri dengan hati-hati, tapi cekatan.

Ruangan itu sejenak sunyi. Hingga sebuah suara memecahnya.

“Sedang apa kalian?”

 

...🔸🔸🔸...

...“Ada luka yang tak berdarah,...

...tapi membuat seseorang berhenti percaya.”...

...“Kepercayaan itu mahal. Dibangun pelan-pelan....

...Sekali dikhianati, ia tak pernah kembali utuh.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Mazree Gati
uda ga minat baca,,,unsub,.
YuWie
memang kejahatan zahra siapa rekanan nya..kok sèsumbar tak mau jatuh sendiri.
YuWie
Luar biasa
꧁꒰✨N̊ån̊å K̊i̊år̊å✨ ꒱꧂: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Agus Tina
Itu Ayza binti Aini, apajah Ayza gafis tanpa nasab thor, atau bagaimana?
Kyky ANi
jadi penasaran ni kak Nana,, apa yang terjadi pada Kaisyaf dan Ayza,,
Kyky ANi
sekarang setelah Reza tahu kejahatanmu, apakah kamu masih bisa tersenyum Zahra,,,
Kyky ANi
semoga Zahra tidak tahu ya, kalau Ayza lah yang menyelamatkan Kaisyaf,,
Kyky ANi
apakah Reza, akan membiarkan Zahra masuk penjara,, karna gara2 Zahra akhirnya Reza menjatuhkan talak pada Ayza,,
Surati
bagus ceritanya 👍🙏🏻 semangat thor 💪👍
꧁꒰✨N̊ån̊å K̊i̊år̊å✨ ꒱꧂: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
far~Hidayu❤️😘🇵🇸
memang.. sekarang di cerita lain kau ingin berpisah dengan Ayza hanya kerana seorang perempuan 😌
Siti Jumiati
dah tamat Kak nana...
kenapa kaisyaf minta cerai...
Siti Jumiati
reza bener banget ngomong gitu sama zahra...
lanjut kak nana dalem💪💪💪
far~Hidayu❤️😘🇵🇸
dan 4 tahu menunggu 10 tahun berumah tangga belum bisa membuat mu menjadi suami yg berani menceritakan masalah mu..tapi alasan punya perempuan lain... sudah di tawarkan berpoligami tetapi kau.. 😣 sudah lah Kaisyaf 🤣
far~Hidayu❤️😘🇵🇸
di cerita yg lain kau gigih mau menceraikan Ayza.. padahal boleh berterus-terang Agar Ayza bisa susah senang bersama..dan menghadapi susah nya kamu.. tetapi kamu memilih menceraikan Ayza...
far~Hidayu❤️😘🇵🇸
dan sekarang...si khaisaf sudah mau melepaskan Ayza..apa Ayza bersama dengan Reza kembali di cerita sana🤔🤔🤔.. penasaran
far~Hidayu❤️😘🇵🇸
Kasihan situ dan pak Rahman 😌.. Reza terus dengan pasangan zina nya
Kyky ANi
pasti Reza tidak akan membela Zahra, karna dia sudah tahu tentang kejahatan istrinya,,,
Kyky ANi
teryata kamu itu sangat licik ya Zahra,, dan pandai merayu laki2,, untuk mendapatkan keinginanmu,,,
far~Hidayu❤️😘🇵🇸
perempuan juga yg menghancurkan seorang perempuan yg solehah
Kyky ANi
siap-siap kamu Zahra, menerima kehancuranmu,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!