NovelToon NovelToon
Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Slice of Life / Rumah Tangga
Popularitas:701
Nilai: 5
Nama Author: PqxxyZ

Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.

Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.

Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...

Benarkah rumah itu membawa kutukan?

Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 - Tanggung Jawab

Brak!

Tongkat kayu kembali menghantam punggung Arkana. Bunyinya menggema di ruang tengah rumah sederhana itu. Lelaki berusia dua puluh empat tahun tersebut meringis pelan, tetapi tetap bertahan dalam posisi berlutut.

Napasnya memburu. Rasa sakit menjalar hingga ke pinggangnya. Namun ia merasa itu masih belum sebanding dengan kesalahan yang telah diperbuatnya.

"Ayah!" teriak seorang perempuan paruh baya sambil berlari menahan lengan suaminya. "Sudah, Yah! Nanti Arkana terluka."

Ayah Arkana menepis tangan istrinya.

"Terluka?" suaranya meninggi. "Kalau cuma terluka begini, itu belum ada apa-apanya dibanding luka yang dia berikan kepada anak gadis orang!"

Arkana tetap menundukkan kepala. Ia tidak membantah. Tidak juga mencoba menghindari hukuman dari ayahnya.

"Ayah sangat yakin," lanjut ayahnya dengan napas memburu dan wajah memerah, "saat ini orang tua Hanifah pasti sedang menangis. Mungkin ayahnya juga sedang memarahinya."

Nama itu membuat Arkana mengepalkan kedua tangannya. Bayangan wajah Hanifah langsung memenuhi pikirannya. Ia tahu gadis itu pasti sedang menghadapi keluarganya seorang diri.

"Arkana!" bentak Sang Ayah.

"Iya, Yah," sahut Arkana lirih.

"Lihat Ayah!"

Arkana perlahan mengangkat kepalanya. Matanya memerah. Ia tidak menangis, tetapi rasa bersalah yang memenuhi dadanya membuatnya sulit menatap langsung ayahnya.

"Apa yang ada di pikiranmu sampai berani melakukan itu?" tanya ayahnya, menuntut penjelasan.

Arkana menarik napas pelan, mencoba menata suaranya yang tercekat.

"Arkana salah."

"Itu Ayah juga tahu!" sergah Ayahnya cepat.

"Aku tidak akan lari dari tanggung jawab." tegas Arkana.

Ayahnya tertawa sinis mendengar ucapan itu.

"Tanggung jawab?"

"Iya."

"Semudah itu kamu mengucapkannya?"

Arkana kembali menunduk.

"Aku mencintai Hanifah, Yah."

Kalimat itu membuat suasana mendadak hening.

Ibunya menoleh kepada Arkana. Wajahnya dipenuhi rasa kecewa.

"Kalau memang mencintainya," ucap sang ayah dengan suara yang lebih pelan, namun sarat akan penekanan, "kenapa tidak datang melamar baik-baik?"

Arkana tidak mampu menjawab. Ia sadar tidak ada jawaban yang bisa membenarkan perbuatannya.

Ayahnya kembali mengangkat tongkat. Namun, kali ini tidak langsung memukul. Beliau menatap putranya dengan napas tertahan.

"Ayah membesarkanmu bukan untuk menjadi laki-laki yang merusak masa depan anak orang." Suara beliau mulai bergetar. "Ayah selalu mengajarimu menjaga perempuan. Menghormati perempuan."

Tongkat itu akhirnya jatuh ke lantai dengan bunyi berdentang cukup keras. Bukan karena amarahnya hilang, melainkan karena tenaganya seolah ikut habis bersama rasa kecewa.

Ibu Arkana mengusap air mata yang sejak tadi mengalir.

"Arkana..." panggilnya dengan suara parau.

"Iya, Bu."

"Ibu sangat kecewa padamu kali ini."

Hanya dengan kalimat itu. Namun rasanya jauh lebih menyakitkan daripada pukulan tongkat.

Arkana menutup matanya, mencoba menahan sesak di dada. "Maafkan Arkana."

"Maaf tidak akan mengembalikan nama baik keluarga Hanifah," jawab ibunya lirih.

Ucapan itu membuat dada Arkana semakin sesak. Ia tahu permintaan maaf saja memang tidak cukup.

Suasana rumah kembali sunyi. Tidak ada lagi suara bentakan. Hanya terdengar embusan napas berat dari ayah Arkana yang masih berusaha mengendalikan emosinya.

Ia duduk perlahan di kursi kayu yang berada di sudut ruang tamu. Kedua tangannya menutupi wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak kemarahan itu meledak, ia terlihat begitu lelah.

"Ayah..." panggil ibu Arkana pelan.

Lelaki paruh baya itu menggeleng.

"Bukan cuma Arkana yang salah." Suaranya mulai melemah. "Sebagai ayah, mungkin aku juga gagal mendidiknya."

"Jangan berkata begitu, Yah."

"Kalau aku berhasil mendidiknya, dia tidak akan berani menyentuh anak perempuan orang sebelum menikah."

Ibu Arkana ikut menundukkan kepala. Air matanya kembali menetes. Ia tidak pernah membayangkan keluarganya akan berada di keadaan seperti ini.

"Arkana..." panggilnya.

"Iya, Bu."

"Selama ini Ibu selalu percaya sama kamu."

Arkana menutup matanya rapat.

"Tapi hari ini... kepercayaan itu hancur dalam waktu cepat."

Arkana masih berlutut. Punggungnya terasa nyeri akibat pukulan tongkat tadi. Namun ia tidak sedikit pun berniat menghindar. Baginya, rasa sakit itu adalah konsekuensi dari kesalahannya sendiri.

Ayahnya menarik napas panjang. Amarahnya mulai mereda, berganti dengan rasa cemas.

"Orang tua Hanifah sudah tahu?" tanya Ayahnya kemudian.

Arkana mengangguk pelan.

"Sudah, Yah."

"Kapan?"

"Pagi ini."

Ayah Arkana langsung memejamkan mata. Dadanya terasa sesak membayangkan keadaan keluarga Hanifah.

"Kasihan ayahnya..." gumamnya pelan. "Kalau Ayah ada di posisi dia, mungkin Ayah juga akan melakukan hal yang sama."

Arkana menggenggam kedua tangannya erat.

"Hanifah pasti sedang dimarahi sekarang."

"Lalu kamu di sini hanya diam?" tanya ayahnya tajam, menatap Arkana tajam.

"Aku ingin ke sana, Yah."

"Datang untuk apa?"

"Meminta maaf."

Ayah Arkana menatap putranya cukup lama, seolah sedang menguji kesungguhan di mata itu.

"Kamu yakin mau bertanggung jawab?"

Arkana mengangguk mantap.

"Saya yakin."

"Bukan karena kasihan?"

"Bukan."

"Bukan karena terpaksa?"

"Bukan."

"Lalu karena apa?"

Arkana mengangkat kepalanya, menatap lurus ke arah sang ayah.

"Karena saya mencintai Hanifah."

Ruangan kembali hening.

Ibu Arkana menatap putranya dengan mata berkaca-kaca.

"Kalau memang begitu..." ucapnya lirih, "jangan pernah tinggalkan dia."

Arkana mengangguk.

"Saya tidak akan lari."

Ayah Arkana berjalan menuju jendela. Ia memandangi halaman rumah beberapa saat sebelum akhirnya berbicara.

"Kamu sudah bekerja."

"Iya, Yah."

"Tabunganmu ada berapa?" tanya ayahnya, memecah keheningan.

Arkana terdiam beberapa detik sebelum menjawab.

"Tidak banyak, Yah."

"Cukup untuk biaya menikah?"

Arkana menggeleng pelan.

"Belum."

Ayahnya mengembuskan napas panjang.

"Lalu setelah menikah, kamu mau menghidupi istri dan anakmu dengan apa?"

Arkana menggenggam kedua tangannya, untuk memantapkan niatnya.

"Aku akan bekerja lebih keras."

"Jangan hanya bicara."

"Saya akan buktikan, Yah."

Ayahnya menatap Arkana cukup lama. Ia masih kecewa. Namun di balik rasa kecewa itu, ia melihat kesungguhan dalam mata putranya.

Arkana hanya diam. "Tapi seorang laki-laki tidak dinilai dari seberapa banyak uangnya."

Ayahnya berbalik menatap Arkana.

"Melainkan dari seberapa besar tanggung jawabnya."

Kalimat itu membuat Arkana menundukkan kepala. "Ayah..." lirihnya.

"Besok pagi."

Arkana mengangkat wajahnya.

"Kita ke rumah Hanifah."

Arkana tampak terkejut.

"Kita?"

"Iya."

Ayah Arkana menatap putranya dengan wajah tegas.

"Ayah tidak akan membiarkan kamu datang sendirian."

Ibu Arkana mengangguk pelan, ikut menyetujui omongan suaminya.

"Kita datang sebagai orang tua."

Ayah Arkana melanjutkan, "Kita meminta maaf kepada keluarga Hanifah. Kalau mereka masih mau menerima keluarga kita..."

Ia menarik napas panjang.

"...Ayah sendiri yang akan melamar Hanifah untukmu."

Arkana langsung menitikkan air mata. Bukan karena rasa sakit di punggungnya. Melainkan karena untuk pertama kalinya sejak pengakuan itu, ia merasa tidak lagi memikul semuanya sendirian.

Ibu Arkana berdiri lalu mengambil segelas air putih untuk suaminya.

"Minumlah dulu, Yah."

Ayah Arkana menerimanya tanpa banyak bicara. Setelah meneguk air itu, ia kembali menatap Arkana.

"Ingat satu hal."

"Iya, Yah."

"Besok kita datang bukan untuk meminta mereka memaafkan kita."

Arkana terdiam.

"Kita datang untuk mengakui kesalahan. Kalau akhirnya mereka menolak..."

Ayahnya menarik napas panjang.

"...kita tetap harus menerimanya."

Arkana mengangguk mantap.

"Saya mengerti."

1
Anime aikō-kā
4
Ris Ris.25
wah menantang sekali nih
Mustafa
resmi rumah sendiri
Putri Ayu/PqxxyZ: iya, beli rumah demi Hanifah nih
total 1 replies
Mustafa
Mitos pasti sihn
Putri Ayu/PqxxyZ: betul banget nih kak
total 1 replies
Mustafa
yeaay udah sah
Putri Ayu/PqxxyZ: iya nih... syukur banget🤭
total 1 replies
Ris Ris.25
syukurlah diterima dengan baik😊
Putri Ayu/PqxxyZ: betul sekali😊
total 1 replies
Mustafa
Ayo kamu pasti bisa Arkana
Putri Ayu/PqxxyZ: yuk bisa yuk
total 1 replies
Mustafa
Berani melakukan, berani bertanggungjawab💪
Putri Ayu/PqxxyZ: wajib sih itu
total 1 replies
Ris Ris.25
cerita baru🤭😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: Iya nih.. mampir ya dan dukung kek kemarin lagi ya🙏😊🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!