THE LAW FIRM FIRM Series adalah series yang mengupas kehidupan para pengacara di sebuah firma hukum, kasus-kasus hukum dan tentu saja romansa diantara mereka.
Kayla Riyani, membenci Ayahnya yang tak pernah hadir dalam kehidupannya. Sama seperti profesinya sebagai pengacara perceraian dia tak mempercayai lembaga perkawinan. Baginya cinta hanya kegilaan sesaat, dan perkawinan adalah perjudian yang kadang berakhir tak baik.
Ironis, seseorang dari masa lalu menawan hatinya begitu lama dengan kisah cinta tanpa status, saat orang itu muncul kembali didepannya apa yang akan dia lakukan, hatinya masih tergerak dan raut wajah pria itu masih menimbulkan rasa yang tak bisa dia tepikan.
Disisi lain seorang teman dekat, telah lama begitu memperhatikannya. Tapi Kayla telah terlanjur memasang tembok begitu tinggi dihatinya.Kepada siapa Kayla menyerahkan hatinya
Season 1. Love Intrigue
Season 2. The Soulmate Secre
Season 3. The Day We Meet Again
Season 4. My Heart Belongs To You
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Margaret R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LOVE INTRIGUE Part 24. Aku Akan Berusaha
Penerbangan Jakarta Surabaya ini terasa berbeda, untuk pertama kalinya aku bisa mengobrol dengan seseorang disampingku. Penerbanganku yang sebelumnya diisi dengan satu buku yang kuhabiskan dalam sekali perjalanan, dan sebenarnya aku membawa buku baru yang belum kubuka sampulnya itu.
“Jujur padaku sayang, kamu masih memikirkan Herman.” Ken memainkan jemari tanganku sementara aku menatap matanya saat pertanyaan itu diajukan.
“Ken, aku minta waktu.” Entah bagaimana rasanya aku tak bisa mengenyahkan seluruh pengaruh Herman, walaupun aku mencoba begitu keras tak memikirkan dia lagi.
“Coba kamu jangan bohong sama aku dulu, ngaku aja kamu desperate dan single. Kamu gak akan desperate beneran kaya gini.” Perkataannya membuatku tertawa kecil.
“Seperti yang aku bilang, aku lebih tertarik pada pekerjaan daripada pacaran. Aku tak percaya dengan cinta, Papaku meninggalkan Mama demi wanita lain, aku dibesarkan Mama sendiri, jadi kupikir buat apa hidup dengan pria dengan segala kerumitannya. Kalau aku bisa melakukannya seorang diri seperti Mama. Tapi iya, aku tak menyangka saat Herman muncul lagi, setelah bertahun-tahun aku masih ... desperate ...seperti yang kau bilang.”
“Kamu pernah bilang Mamamu punya toko kue?”
“Iya. Dia menyukai baking, membuat kue, tangannya terampil dan dia senang belajar. Begitu-begitu mamaku hi-tech. Dia follow semua akun soal kue, makanya desain kue dia up to date semua. Plus IGnya juga diikuti ratusan ribu orang. Dia terkenal lho di Surabaya, wanita hebat bagiku.Tapi dia gak mau aku ngikutin jejaknya, dia bilang kamu keluar dapur, jadi wanita karier, Mama akan kuliahin kamu ke bidang yang kamu mau, kamu gak sabaran kalo bikin kue, walaupun karena sering liat dia dan bantuin aku tahu dasar baking. Dulu aku terpesona banget ama Ally Mc Beal, serial pengacara jaman dulu, menurut aku dia keren banget dan jadilah aku pengen jadi pengacara.”
“Ohh... Ally McBeal, ya ya aku tahu...”
“Dia pasti bangga pada kamu yang sering wira-wiri di tv sekarang.” Ken menyindir dan aku meringis lebar. “Menang mana follower IGnya?”
“Menang aku lah...” Aku ketawa.“Ohh iya dia sering pamer ke orang-orang kalau aku masuk TV. Makanya kubilang ke kamu, aku hidup bahagia-bahagia aja tanpa cowo. Lebih simple malah , walaupun kadang ya memang iri dikit...”
Ken menghela napas mendengarku bicara.
“Aku akan berusaha Kay, untuk membuatmu bahagia, dan tidak menyesali apapun. Tapi rumah tangga memang ada ketidakcocokan ,bagaimanapun kita dua orang berbeda, pasti ada perbedaan pendapat. Papa dan Mama juga bukan tidak bertengkar, tapi mereka tidak pernah meninggalkan satu sama lain.”
“Aku tahu, aku sudah menghadapi puluhan drama Ken. Saat satu sama lain sudah berenti mempercayai satu sama lain, sudah tidak menghormati perasaan satu sama lain, itu selesai. Makanya kadang aku takut melewati itu.”
“Kita tak akan seperti itu karena kita tahu kita keluarga. Jika satu saat kita sudah bosan satu sama lain, anggap saja aku kakakmu yang memang harus ada disitu. Aku tak akan kemana-mana, ada disampingmu.”
“Kau tidak terlalu cepat Ken? Kau bersikap semuanya sudah pasti... Kita baru seminggu?” Dia membuatku takut, apa dia tak takut menemukan aku bukan orang yang sempurna. “Aku punya kelemahanku sendiri, mungkin aku egois, mungkin aku keras kepala. Kau tak takut kecewa.”
“Kita sudah kenal dari kuliah Key. Dan enam tahun sebagai teman bukan sesuatu yang singkat. Kuberitahu jelekku, aku ngorok, kalo liburan sebenernya aku tuh cape cuap-cuap pengen dirumah hibernasi, aku gak bisa masak bahkan goreng telor pun takut, gak bisa benerin barang rusak. Apalagi yaa... Sebel kalo gak rapi, bisa bikin mood jelek kalo barangku diacak-acak...” Aku meringis lebar mendengar dia melanjutkan menyebutkan semua sisi jeleknya ada sebagian yang udah aku tahu, dia benar enam tahun memang bukan sesuatu yang sebentar.
“Banyak bener jelek lu yaa.”
“Tapi aku setia dan sayang kamu, sayang ama keluarga kita nanti.” Dia nampaknya sangat berusaha mendapat kepercayaanku, atau mungkin di sisi lain dia takut aku akan kembali ke Herman? Dan merasa punya seseorang yang membayanginya.
“Bakat salesnya keluar. Kenapa lu gak jadi marketing aja sih Ken, kayanya beneran lu tuh ngomomg pinter banget.”
“Dipaksa kesini Ayang. Udah dipatok ama bokap. Kalo gak gak dikuliahin, hopeless..., tadinya mau jadi astronot tapi dibilang jadi astronot tinggal sendiri di Mars, jadi takut. Jadi sekarang bakat pinter ngomongnya buat cari klien korporasi aja, sama kan masih berhubungan dengan marketing.” Emang nih laki beneran pinter ngomong dan doyan ngomong plus pinter ngebanyol juga. Hidup sama dia kayanya puas dengerin dia ngebanyol karena sense of humornya overdosis. Orang bilang kadang hidup itu perlu menertawakan diri sendiri kan.
“Ohh gitu, emang bener sih kayanya lu gak cocok jadi astronot. Bener kata Bapak lu ntar lu ngomong sama siapa kalo ke Mars. Bunuh diri karena depresi gak ada temen lu...” Gue ngakak asal ngomong sama Ken. Dia paling bisa bikin suasana cair.
“Baru gue sadar bokap gue bener sekarang. Lu tahu kan dulu gue kuliah males-malesan, malah lebih aktif di Senat. Lu yang gue tahu pinter banget. Makanya pas papa cari assisten associate baru gue ingetnya lu.”
“Iya yang suruh gue aktif di Senat juga Mama, dia bilang pergaulan itu perlu dimanapun, asal lingkup pergaulannya bener, bukan sesuatu yang negatif. Mama gak pernah marah walaupun gue ikutan gilanya kalian sampe kadang pulang malem-malem.” Merasa kembali terlempar ke masa-masa kuliah dulu. “Ternyata orang tua kita tahu yang terbaik buat anaknya ya. Walaupun aku gak punya Bapak yang baik, aku selalu bersyukur aku punya Ibu yang luar biasa.”
“Dan kita berdua nanti akan jadi orang tua yang luar biasa...”
Aku tersenyum mendengar doa dan harapannya. Entahlah, semoga. Semog semuanya berjalan dengan baik didepan.