NovelToon NovelToon
Sistem Ayah Level Dewa

Sistem Ayah Level Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Kaya Raya / Bapak rumah tangga
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.

Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.

Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.

Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 002 - Aku Tidak Akan Lari

"Tapi, Arya... Mama akan membunuhku kalau dia tahu."

Kirana mengucapkan kalimat itu tepat di depan pintu ruang pemeriksaan.

Arya tidak langsung menjawab. Ia melihat tangan Kirana yang masih menggenggam ujung cardigan. Buku jarinya pucat.

Ia meraih tangan itu.

"Kita dengar dokter dulu," katanya. "Setelah itu, aku yang bicara denganmu. Satu per satu."

Perawat di dalam ruangan menunggu. Kirana menarik napas, lalu masuk bersama Arya.

Dokter jaga pagi itu perempuan berusia sekitar empat puluh tahun. Di papan namanya tertulis Dokter Maya. Wajahnya tenang, suaranya lembut, gerakannya rapi.

"Silakan duduk. Keluhannya apa?"

Kirana menunduk. Arya mengambil alih.

"Dok, test pack dua kali positif. Dia telat haid. Kami ingin memastikan."

Dokter Maya menatap Kirana, lalu mengangguk. Ia tidak menghakimi. Sikap itu membuat bahu Kirana sedikit turun.

"Kita periksa urine dulu, lalu kalau perlu USG awal. Usia kehamilan masih sangat muda biasanya belum terlalu jelas, tapi tanda awal bisa kita lihat."

Arya mengangguk. "Baik, Dok."

Sambil menunggu hasil tes urine, Kirana duduk di kursi panjang kecil dekat dinding. Matanya kosong menatap lantai.

Arya duduk di sampingnya.

"Kalau hasilnya positif..." Kirana berhenti.

"Aku tetap di sini."

"Kamu sudah bilang itu."

"Aku akan bilang lagi sampai kamu percaya."

Kirana menoleh. Matanya basah, tapi napasnya mulai teratur.

"Arya, hidupmu bisa hancur."

"Hidupku sudah berubah sejak tadi." Arya menatap pintu ruang laboratorium kecil. "Sekarang tinggal pilih berubah jadi pengecut atau jadi laki-laki yang bertanggung jawab."

Kirana menggigit bibir.

Pintu terbuka. Perawat menyerahkan kertas kecil kepada Dokter Maya.

Dokter membaca, lalu memandang mereka berdua.

"Hasilnya positif."

Kirana memejamkan mata.

Arya merasakan tangannya diremas kuat.

Dokter Maya melanjutkan, "Dari riwayat telat haid, kemungkinan sekitar enam minggu. Kita lakukan USG transvaginal atau jadwalkan ulang untuk kontrol lebih jelas. Karena ini masih awal, yang penting sekarang istirahat, makan teratur, asam folat, dan jangan stres berat."

Kata "enam minggu" membuat ruangan terasa hening.

Enam minggu.

Di kepala Arya, angka itu langsung diikuti informasi dari sistem. Trimester pertama. Janin sangat rapuh. Stres berat bisa memperburuk mual, tidur, tekanan darah. Asam folat perlu segera dimulai.

"Dok, untuk asam folat dosis hariannya berapa?" tanya Arya.

Dokter Maya sedikit terkejut. "Biasanya 400 mikrogram per hari untuk awal. Nanti saya tuliskan resep. Ada riwayat anemia?"

Kirana menggeleng pelan. "Saya tidak tahu, Dok."

"Kita bisa cek darah di kunjungan berikutnya. Untuk hari ini, tenangkan diri dulu."

Arya mengeluarkan ponsel. "Dok, kapan kontrol berikutnya?"

"Satu sampai dua minggu. Kalau ada flek, nyeri perut hebat, muntah parah, atau pusing berat, langsung kembali ke IGD."

"Baik. Saya catat."

Dokter Maya memandang Arya lebih lama. "Kamu suaminya?"

Kirana kaku.

Arya menjawab tanpa ragu, "Saya ayah dari anak ini, Dok. Untuk urusan resmi keluarga, kami akan selesaikan secepatnya."

Kirana menoleh cepat.

Dokter Maya tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya menulis resep dan memberi mereka map kecil berisi hasil pemeriksaan.

"Jaga dia. Kehamilan awal perlu pendampingan. Jangan biarkan dia menghadapi ini sendirian."

"Saya paham."

Arya menerima map itu dengan dua tangan.

Di luar ruang pemeriksaan, Kirana berhenti di koridor. Ia menatap map di tangan Arya seolah benda itu lebih berat dari batu.

"Jadi... benar."

"Benar."

Kirana tertawa kecil. Suaranya patah. "Aku hamil."

Arya menyimpan map ke dalam tasnya. "Kita beli obat dulu. Setelah itu makan."

"Aku tidak lapar."

"Kamu harus makan. Dokter bilang jangan telat makan."

"Kamu mendadak cerewet."

"Mulai hari ini, aku punya alasan."

Kirana menatapnya. Untuk pertama kalinya pagi itu, sudut bibirnya bergerak sedikit.

Mereka turun ke apotek rumah sakit. Arya membayar resep tanpa menghitung ulang uang di dompet. Notifikasi saldo tadi masih menempel di kepalanya seperti angka yang menyala.

Rp 200.000.000.

Uang itu tidak menghapus ketakutan Kirana. Tidak membuat Ibu Ratna langsung menerima. Tidak menyelesaikan kampus, keluarga, dan gosip.

Namun uang itu memberi Arya ruang bernapas.

Ruang untuk bertindak.

Setelah obat dibungkus, Arya membawa Kirana keluar dari rumah sakit.

"Kita ke mana?" tanya Kirana.

"Warung Nasi Campur Pak De."

Kirana berkedip. "Sekarang?"

"Kamu pernah bilang kalau panik, nasi campur Pak De bisa bikin dunia sedikit masuk akal."

Kirana terdiam.

Warung itu hanya sepuluh menit dari RS Darmo. Tempatnya sederhana, meja plastik, kipas dinding, kaca etalase penuh ayam suwir, telur pindang, sambal, tahu, dan serundeng. Pak De yang menjaga warung mengenali Kirana.

"Lho, Mbak Kirana. Pagi-pagi sudah datang? Sama Mas Arya?"

Kirana cepat mengusap mata. "Iya, Pak De."

Arya memesan dua porsi. Untuk Kirana, ia minta nasi setengah, ayam, telur, sayur, dan sambal dipisah. Ia juga mengambil air mineral sebagai pengganti es teh manis yang biasa Kirana pesan.

Kirana memperhatikannya.

"Kamu kok tahu aku harus mengurangi pedas?"

Arya hampir tersedak napas sendiri. Sistem di kepalanya terlalu berguna sampai ia lupa terlihat aneh.

"Tadi dokter bilang jangan bikin perutmu kaget," jawabnya cepat.

Kirana menerima alasan itu.

Mereka duduk di sudut warung.

Beberapa menit pertama, hanya suara sendok dan piring yang terdengar. Kirana makan sedikit demi sedikit. Arya tidak memaksa. Ia hanya mendorong gelas air mineral lebih dekat.

Setelah tiga suap, Kirana meletakkan sendok.

"Arya, aku takut Mama kecewa."

"Dia pasti kecewa."

Kirana menatapnya, terluka.

Arya menatapnya lurus. "Dia pasti butuh waktu. Aku akan datang ke Malang, minta maaf langsung, lalu jelaskan rencanaku."

"Rencana apa?"

Arya membuka catatan di ponselnya. Dalam perjalanan dari rumah sakit ke warung, ia sudah menulis cepat.

"Pertama, kontrol kehamilan rutin. Aku yang antar. Kedua, vitamin dan makanan. Ketiga, tempat tinggal yang lebih aman. Kosmu terlalu sempit dan orang mudah bertanya. Keempat, aku bicara dengan orang tuaku. Setelah itu kita bicara dengan Ibu Ratna."

Kirana menatap daftar itu.

"Kamu membuat rencana?"

"Kalau aku hanya bilang bertanggung jawab tanpa rencana, kamu boleh marah."

Kirana menunduk. Air matanya jatuh lagi, kali ini pelan.

"Aku kira kamu akan panik lalu menghilang."

"Aku memang panik."

"Tapi kamu masih di sini."

"Aku masih di sini."

Kirana menggenggam sendok sampai gemetar. "Anak ini..."

Arya menunggu.

"Anak ini benar-benar anak kita."

Arya merasakan dadanya sesak. Ia mengangguk.

"Iya. Anak kita."

Pada saat itu, panel sistem muncul.

【Tindakan terdeteksi: menerima kehamilan dan menyusun rencana tanggung jawab.】

【Evaluasi: komitmen nyata tahap awal.】

【Hadiah diberikan: Toyota GR Supra.】

【Lokasi kendaraan: Area parkir B, RS Darmo Surabaya.】

Arya berhenti mengunyah.

Sendoknya menggantung di udara.

"Arya?" Kirana mengernyit. "Kamu kenapa lagi?"

"Aku..." Arya menelan nasi dengan susah payah. "Aku perlu ke toilet sebentar."

Kirana menatapnya curiga.

"Sebentar saja."

Arya berdiri, membayar makanan di kasir, lalu keluar dari warung. Begitu di luar, ia hampir berlari kembali ke RS Darmo.

Area parkir B ada di sisi belakang gedung.

Di sana, di antara mobil keluarga dan beberapa sedan dokter, sebuah Toyota GR Supra warna abu-abu metalik terparkir dengan tenang.

Plat nomor sudah terpasang.

Kunci mobil ada di saku jaket Arya.

Ia merogoh saku dengan tangan kaku. Benar. Sebuah smart key hitam dengan logo Toyota berada di sana.

Arya menekan tombol.

Lampu mobil berkedip.

"Ya Allah..."

Ia berdiri beberapa detik, memandang mobil itu. Tadi pagi ia datang dengan Honda Beat tua yang suara mesinnya memalukan. Sekarang sistem memberinya mobil yang bahkan Denny Hartono pun akan lirik dua kali.

Panel kecil muncul lagi.

【Catatan: gunakan hadiah untuk melindungi keluarga. Hindari pamer kosong.】

Arya menarik napas.

Pesan itu jelas.

Mobil ini alat.

Ia kembali ke warung dengan langkah yang dipaksa normal.

Kirana sudah berdiri di depan warung, memegang kantong obat dan tas kecilnya.

"Toiletnya jauh sekali?"

"Agak."

"Kamu pucat."

"Nanti aku jelaskan." Arya mengambil kantong obat dari tangannya. "Ayo, aku antar pulang."

"Naik motor?"

Arya diam sebentar.

"Ada kendaraan lain."

Kirana menyipitkan mata.

Mereka berjalan kembali ke RS Darmo. Ketika tiba di Area parkir B, langkah Kirana melambat.

Matanya tertuju pada GR Supra abu-abu itu.

Arya menekan tombol kunci.

Lampu mobil berkedip.

Kirana berhenti total.

"Arya..."

Arya membuka pintu penumpang untuknya.

Kirana tidak langsung masuk. Ia menatap mobil itu, lalu menatap Arya.

"Mobil ini dari mana?"

1
Ria Gazali Dapson
kirana bnyak tanya ya, udh untung arya mo tanggung jawab, dg fasilitas wow , ga da rasa syukur nya ,cuma penasaran⁹ doang , liatin ja dulu , bersama dg waktu akn mnjawab semua , karena suatu anugerah, sedang tercurah k arya
Maulana Sejati
buruk
Maulana Sejati
ni yg nggak masuk akal, punya sistem,sdh tau ada ancaman tpi trnyata msh dbuat cerita yg bgini...prettt
penggemar_Uangkecil?!
👍👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
sitanggang
gak seru, kok system org Lain ad yg tau🤣🤣🤣🤣🤣
σяιмσтσ (^• . •^)
.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!