"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Azel berjalan di lorong Fakultas Ekonomi dan Bisnis dengan langkah cepat. Rok berwarna krem dan blouse cokelat mahogany yang dikenakannya berayun mengikuti langkahnya yang penuh semangat. Hijab senada menutupi dadanya dengan rapi, membuat penampilannya terlihat anggun sekaligus sederhana.
Senyumnya hampir tak pernah lepas dari wajah. Sikapnya yang ramah membuat banyak mahasiswa mengenalnya. Tak sedikit pula yang diam-diam tertarik padanya. Namun kebanyakan memilih mengurungkan niat.
Status Azel sebagai seorang Ning, putri pemimpin pondok pesantren, membuat banyak mahasiswa merasa minder untuk mendekatinya.
"Zel!"
Seorang mahasiswa tingkat atas menghampirinya sambil membawa beberapa berkas.
"Kak Rafka."
"Udah nerima proposal dari Delia belum?" tanya Rafka, ketua pelaksana kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat BEM.
"Kita harus dapetin tanda tangan Pak Ibra hari ini."
Azel yang kini menjadi pengurus Humas BEM sejak semester dua itu langsung menerima setumpuk proposal yang disodorkan kepadanya.
Begitu membaca nama dosen yang harus ditemui, iIa langsung mengembuskan napas panjang.
"Pak Ibra..." gumamnya lirih.
Nama itu saja sudah cukup membuat kepalanya pening. Ia masih mengingat jelas bagaimana pertemuan pertama mereka dimulai dengan insiden mobil yang mencipratkan air lumpur kepadanya.
Sejak saat itu, entah mengapa, setiap kali bertemu di kelas, dosen itu selalu saja menjadikannya sasaran pertanyaan. Bahkan berkali-kali mereka berdebat sampai seluruh kelas hanya bisa menjadi penonton.
"Ya iyalah harus Pak Ibra," ujar Rafka sambil tersenyum tipis.
"Beliau kan dosen pembina BEM. Proposal pengajuan kegiatan dan pencairan dana wajib dapat persetujuan beliau dulu."
Azel memijat pelipisnya pelan. "Kenapa harus aku, sih?"
"Kan kamu humas. Lagian kamu yang paling sering komunikasi sama dosen."
Azel langsung mendelik. "Itu bukan komunikasi, Kak. Itu namanya interogasi."
Rafka justru tertawa. "Lebay."
"Serius. Setiap ketemu beliau rasanya aku mau sidang skripsi."
Di samping Rafka, Delia yang menjadi sekretaris kegiatan menyerahkan proposal yang sudah dicetak rapi dan dimasukkan ke dalam map bening.
"Nih, semuanya sudah lengkap. Tinggal minta tanda tangan Pak Ibra."
Azel menerima map itu dengan wajah pasrah. Delia berusaha menyemangatinya.
"Semoga lancar ya, Zel. Nggak usah mikir yang aneh-aneh. Siapa tau hari ini Pak Ibra lagi baik."
Azel menatap Delia dengan ekspresi datar. "Baik?"
"Iya."
"Pak Ibra?"
Delia tersenyum kaku. "Iya..."
Azel menggeleng pelan. "Setiap ketemu aku, beliau rasanya selalu nyecar pakai pertanyaan. Kalau bukan soal pajak ya soal aturan. Terus itu menurut kakak baik?"
Delia langsung kehilangan kata-kata. "Ya kalau dipikir-pikir enggak juga, sih."
Rafka kembali tertawa. "Justru kamu yang paling kuat menghadapi beliau. Mahasiswa lain ditanya dua kali aja udah gemeter nah kamu malah debat."
Azel langsung mengangkat kedua tangannya. "Itu bukan debat. Itu mempertahankan harga diri."
"Halah. Toh akhirnya kamu tetap kalah."
Azel mengembuskan napas pasrah. "Itu dia masalahnya. Kalau sama beliau, ujung-ujungnya selalu kena skakmat."
Delia terkekeh kecil. "Makanya kamu aja yang paling cocok ketemu beliau."
Azel menunjuk Rafka dan Delia bergantian. "Kalian ini lagi numbalin aku, ya?"
Delia hanya menyeringai. Sementara Rafka menggaruk tengkuknya sambil tersenyum bersalah.
"Sedikit."
"Cuma sedikit."
Azel menggeleng pelan sambil meraih map proposal itu. "Kalau aku kena semprot kalian tanggung jawab."
"Siap!" jawab Rafka mantap.
"Kalau dimarahin, nanti aku traktir bakso."
Azel langsung meliriknya. "Janji?"
"Janji."
"Kalau gitu semoga aku dimarahin agak lama."
"Hah?"
"Biar traktiran baksonya nambah es teh."
Ketiganya pun tertawa. Meski sebenarnya di balik candaan itu, Azel tetap merasa gugup. Ia menatap map proposal di tangannya, lalu mengalihkan pandangan ke arah koridor yang menuju ruang dosen.
"Ya Allah... Semoga hari ini Dosen Kaku Kutub Utara itu lagi mencair."
Setelah mengucapkan basmalah pelan, Azel pun melangkah menuju ruang dosen dengan membawa proposal kegiatan yang harus mendapat persetujuan dari dosen pembina BEM itu.
Bella dan Sekar, dua sahabat Azel yang sebagai anggota BEM, ikut menemani langkahnya menuju ruang dosen.
"Eh, Zel... serius lo berani masuk sendirian?" bisik Bella pelan.
Azel melirik sahabatnya itu. "Berani gimana? Kalian berdua kan ikut nganterin gue."
Sekar langsung terkekeh. "Iya... nganterin sampai depan ruang dosen doang. Kalau disuruh masuk, gue mundur."
"Lho, kenapa?" tanya Azel.
"Soalnya yang di dalam Pak Ibra."
Bella langsung mengangguk cepat. "Benar. Gue juga nggak berani."
Azel menyenggol lengan Bella. "Ck. Lah, Bel. Lo kan katanya ngefans sama Pak Ibra. Kenapa nggak sekalian masuk? Lumayan bisa lihat wajahnya dari dekat."
Bella langsung menggeleng keras. "Gue sukanya dari kejauhan aja. Kalau deket gue takut."
"Takut apa?"
"Takut dicecar pertanyaan."
Sekar langsung tertawa. "Belum lagi kalau disuruh jelasin materi perpajakan."
Bella memegangi dadanya dramatis. "Bisa pingsan gue."
Azel memutar bola matanya. "Ck. Dasar."
Ketiganya kembali berjalan hingga akhirnya tiba di depan ruang dosen.
Sekar dan Bella otomatis berhenti melangkah. Mereka saling berpandangan, lalu menoleh kepada Azel dengan ekspresi penuh simpati.
"Selamat berjuang, Ning Humas kita." Sekar mengacungkan kedua jempolnya.
Bella ikut menepuk pelan bahu Azel. "Semoga pulang dengan nilai kehidupan."
Azel mendengus kecil. "Iya, iya. Kalian mah nganterin cuma setengah jalan."
Meski begitu, senyum tipis tetap terukir di wajahnya.
Ia menarik napas panjang. "Bismillah..."
Kemudian mengetuk pintu ruang dosen.
Tok. Tok. Tok.
Tidak ada jawaban.
Azel kembali mengetuk sedikit lebih keras. Masih hening. Perlahan ia memutar gagang pintu. Ternyata tidak dikunci.
Pintu terbuka. Di dalam ruangan itu, Ibrahim Rabbani Mahendra duduk di balik meja kerjanya. Tatapannya tertuju pada layar laptop. Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard, seolah sedang menyelesaikan sesuatu yang penting.
Bahkan saat Azel masuk, laki-laki itu sama sekali tidak mengangkat kepala. Azel menelan ludah. Entah kenapa suasana ruang dosen terasa jauh lebih mencekam dibanding ruang kelas. Meski begitu, ia tetap memberanikan diri melangkah mendekat.
"Pak, Saya mau menyerahkan proposal kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dari BEM. Ini perlu tanda tangan Bapak."
Ia meletakkan map proposal di atas meja.
Namun, Ibra tetap diam. Beberapa detik berlalu. Barulah suara keyboard berhenti.
Tanpa menoleh, Ibra berkata datar, "Kamu lupa sesuatu."
Azel mengernyit. "Lupa apa, Pak?"
Kini Ibra mengangkat kepalanya. Tatapannya lurus menatap Azel.
"Assalamu'alaikum."
Hanya satu kalimat. Namun cukup membuat Azel membeku. Matanya langsung membulat.
"Ya Allah..." Ia menepuk pelan dahinya sendiri. "Maaf, Pak. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
Ibra menutup laptopnya perlahan. "Kamu sudah berpakaian sesuai syariat. Hijabmu sudah menutup dada. Pakaianmu longgar. Tapi adab memberi salam sebelum masuk ruangan justru kamu lupakan."
Nada suaranya tetap tenang. Tidak membentak. Namun justru membuat Azel merasa semakin malu.
"Maaf, Pak. Tadi saya terlalu fokus sama proposal ini."
Ibra menatap map yang ada di atas mejanya. "Lain kali biasakan mengucapkan salam sebelum berbicara. Bukan karena saya dosen tetapi karena itu adab seorang muslim."
Azel menundukkan kepala. "Iya, Pak. Saya minta maaf."
Pak Ibra kembali memperhatikan proposal yang baru saja Azel letakkan di atas mejanya. Jemarinya membalik beberapa halaman dengan teliti.
"Ini proposal kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat?" tanyanya tenang.
"Iya, Pak," jawab Azel singkat. "Saya cuma perlu tanda tangan Bapak untuk proses pengajuan dana ke Dirmawa."
Ibra mengangkat sebelah alis. "Hanya tanda tangan?"
"Iya, Pak. Cuma tanda tangan Bapak."
Namun, alih-alih mengambil pena, Ibra justru menutup proposal itu kembali.
"Kamu tau, Azel. Menyusun sebuah kegiatan bukan sekadar memenuhi administrasi. Apalagi membawa nama universitas. Setiap program harus memiliki tujuan yang jelas."
Tatapannya beralih kepada Azel. "Coba jelaskan kepada saya. Apa tujuan utama kegiatan ini?"
Azel mengembuskan napas pelan. "Nah kan... mulai lagi." batinnya.
Ia berusaha tetap sabar. "Lah, Pak, kan semuanya sudah tertulis di proposal. Bapak tinggal baca saja. Kenapa harus saya jelaskan lagi?"
Ibra tidak tampak tersinggung. "Kamu Humas kegiatan ini. Kalau nanti pihak fakultas, sponsor, atau mitra bertanya mengenai program kerja kalian, apa kamu juga akan menyuruh mereka membaca proposal?"
Pertanyaan itu membuat Azel terdiam sesaat.
"Tapi yang menyusun proposal ini bukan saya, Pak. Kak Delia yang menyusun. Saya cuma diminta menyerahkan proposal ini supaya Bapak tanda tangani. Setelah itu kami ajukan ke Dirmawa."
Ibra menyandarkan punggungnya ke kursi. "Jadi... Kamu tidak mengetahui isi kegiatan yang kamu bawa?"
Azel langsung menggeleng. "Bukan begitu, Pak. Saya tahu garis besarnya. Saya juga ikut rapat. Tapi kalau menjelaskan teknis acara secara detail, seharusnya divisi acara yang lebih tepat."
"Kenapa?"
"Karena itu memang bidang mereka."
Dalam hati Azel mulai menyesal. "Harusnya tadi maksa Sekar masuk. Dia anak divisi acara. Ini malah gue sendirian."
Ibra kembali bertanya. "Tapi kenyataannya yang berdiri di depan saya sekarang adalah kamu. Bukan divisi acara. Bukan sekretaris. Kalau memang merasa tidak mampu menjelaskan, seharusnya sejak awal kamu membawa orang yang lebih menguasai isi proposal."
Nada suaranya tetap datar. Namun entah mengapa, Azel merasa seperti sedang diremehkan.
Ia mengangkat dagunya sedikit. "Oke, Pak. Saya jelaskan."
"Silakan."
Azel menarik napas sejenak sebelum mulai berbicara. Kali ini suaranya terdengar mantap dan terstruktur.
"Program Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat desa, Pak. Jadi kegiatannya bukan sekadar datang, mengajar sehari, atau kerja bakti lalu selesai. Setiap program disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat di desa yang menjadi lokasi pengabdian."
Ibra mengangguk pelan, memberi isyarat agar Azel melanjutkan.
"Misalnya, ada penyuluhan mengenai sanitasi dan perilaku hidup bersih, membantu pembangunan atau perbaikan fasilitas MCK, mengajar anak-anak di sekolah maupun TPA, pendampingan UMKM, edukasi literasi keuangan, penyuluhan perpajakan sederhana, sosialisasi kesehatan, pelatihan pengelolaan sampah, penanaman pohon, pemberdayaan karang taruna, sampai membantu administrasi desa atau digitalisasi pelayanan desa."
Azel berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Karena kegiatan ini melibatkan mahasiswa dari berbagai program studi, pembagian tugasnya juga disesuaikan dengan bidang keilmuan masing-masing. Mahasiswa dari bidang kesehatan akan fokus pada penyuluhan kesehatan dan pemeriksaan dasar. Mahasiswa teknik membantu pembangunan atau perbaikan fasilitas yang dibutuhkan masyarakat. Mahasiswa ekonomi mendampingi pelaku UMKM dalam pengelolaan usaha, pencatatan keuangan, dan literasi perpajakan. Mahasiswa pendidikan mengajar anak-anak. Mahasiswa hukum memberikan penyuluhan mengenai kesadaran hukum. Sementara program studi lainnya juga berkontribusi sesuai kompetensi masing-masing."
"Jadi tujuan akhirnya bukan hanya menyelesaikan program kerja BEM atau memenuhi kewajiban akademik, tetapi bagaimana ilmu yang kami pelajari di kampus benar-benar bisa memberikan manfaat dan solusi bagi masyarakat."
Ruangan mendadak hening. Ibra masih menatap Azel tanpa memotong sedikit pun penjelasannya.
Beberapa detik kemudian, ia menutup proposal di hadapannya.
"Bagus."
Satu kata itu membuat Azel sedikit terkejut.
Ibra kembali berucap. "Kalau memang kamu memahami isi proposal seperti ini, kenapa tadi mengatakan tidak bisa menjelaskan?"
Azel mengembuskan napas pelan. "Saya bukan tidak bisa menjelaskan, Pak. Saya hanya merasa akan lebih tepat jika divisi acara yang menjelaskan karena mereka yang menyusun konsep kegiatan secara rinci. Tapi sebagai Humas, saya memang harus memahami garis besar dan tujuan kegiatan agar bisa menjelaskannya kepada pihak mana pun yang membutuhkan."
Kali ini, Ibra mengangguk pelan. "Nah itu jawaban yang saya harapkan. Bukan untuk menguji kamu. Tapi untuk memastikan bahwa orang yang membawa proposal benar-benar memahami apa yang sedang diajukan, bukan sekadar menjadi kurir berkas."
Ucapan itu membuat Azel akhirnya mengerti alasan Ibra terus bertanya. Meski caranya sering membuat kesal, ia mulai memahami bahwa dosennya itu memang ingin setiap mahasiswa bertanggung jawab terhadap amanah yang diembannya.
Ibra mengangguk pelan. "Baik."
Ia membuka laci meja, mengambil sebuah pena, lalu membubuhkan tanda tangannya pada lembar pengesahan proposal.
Sret...
Selesai menandatangani, ia menutup map itu dan menggesernya ke arah Azel.
"Silakan."
Azel langsung mengambil map tersebut. "Terima kasih, Pak."
Nada suaranya terdengar datar. Raut wajahnya jelas menunjukkan kekesalan yang sejak tadi berusaha ia tahan.
Ibra memperhatikannya beberapa saat. "Kamu kesal dengan saya?"
Azel langsung tersenyum tipis. "Nggak kok, Pak."
"Kamu bohong."
"Hah?"
"Raut wajah kamu mengatakan sebaliknya."
Azel mengembuskan napas panjang. "Ya... sedikit."
"Sedikit?"
"Iya."
"Apa alasannya?"
Azel menatap dosennya beberapa detik. "Jujur ya, Pak?"
"Silakan."
"Menurut saya bapak itu terlalu kaku."
Ruangan seketika hening. Ibra hanya menatapnya tanpa berkedip.
Azel yang sudah terlanjur bicara akhirnya sekalian melanjutkan. "Padahal tadi Bapak tinggal tanda tangan aja. Eh malah saya disuruh presentasi. Saya sampai mikir jangan-jangan mau sidang proposal."
Ibra menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kalau saya langsung tanda tangan tanpa memastikan isinya, bagaimana kalau ternyata proposal itu bermasalah?"
"Kan ada divisi lain yang bikin, Pak."
"Tapi yang datang kepada saya adalah kamu."
Azel mendengus pelan. "Nah itu, kenapa sih harus saya terus? Di kelas saya dicecar. Di luar kelas juga dicecar. Kayaknya hidup saya kurang tenang sejak kenal Bapak."
Sudut bibir Ibra nyaris terangkat. "Kamu tahu kenapa saya sering bertanya kepada kamu?"
"Nggak."
"Karena kamu selalu menjawab."
Azel langsung mengernyit. "Itu pujian apa sindiran?"
"Terserah kamu menafsirkannya."
"Ck, tuh kan. Jawabannya selalu begitu."
Ibra melipat kedua tangannya. "Kalau kamu tidak mampu menjawab, saya tidak akan bertanya sebanyak itu. Justru karena saya tau kamu berpikir."
Azel terdiam sejenak. "Tapi tetap aja, Pak. Bapak itu dosen paling kaku yang pernah saya kenal."
"Kaku?"
"Iya."
"Ekspresinya datar. Ngomongnya datar. Bercandanya nggak ada. Kalau senyum mungkin setahun sekali."
Ibra menatapnya datar. "Berlebihan."
"Nggak kok. Mahasiswa satu kampus juga bilang begitu. Julukan Bapak aja Pak Kutub Utara."
Alis Ibra langsung terangkat. "Pak Kutub Utara?"
Azel refleks menepuk mulutnya sendiri. "Ya Allah...Keceplosan."
Ibra menatapnya penuh arti. "Jadi itu memang julukan yang kamu buat?"
Azel meringis canggung. "Itu... Cuma bercanda, Pak. Tapi ya cocok juga."
"Cocok?"
"Iya. Soalnya Bapak dingin. Kalau lewat rasanya suhu ruangan turun dua derajat."
Untuk pertama kalinya, Ibra benar-benar tersenyum tipis. Sangat tipis. Hampir tidak terlihat.
Namun cukup membuat Azel membeku. "Lho.. Bapak bisa senyum juga?"
Ibra kembali memasang wajah datarnya. "Saya memang bisa. Cuma tidak sesering kamu."
Azel terkekeh pelan. "Nah, gitu kan enak, Pak. Sesekali senyum, nggak serem."
Ibra mengambil kembali laptopnya. "Kalau urusanmu sudah selesai kamu boleh kembali."
Azel mengangguk. "Iya, Pak."
Ia baru melangkah dua langkah menuju pintu ketika suara Ibra kembali menghentikannya.
"Oh ya, Azel."
"Iya, Pak?"
"Lain kali masuk ruangan jangan lupa salam."
Azel memejamkan mata sesaat sambil tersenyum pasrah. "Siap, Pak. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Begitu keluar dari ruang dosen, Azel langsung mengembuskan napas panjang. "Ya Allah... Dasar dosen kaku..." gumamnya lirih sambil memeluk map proposal di dadanya.
Di balik pintu yang belum tertutup sempurna, Ibra yang masih mendengar gumaman itu hanya menggeleng pelan.
"Mahasiswi itu selalu saja ada yang diperdebatkan."
Ibra kembali menatap layar laptopnya. Namun pikirannya justru tidak lagi tertuju pada proposal yang baru saja ia tandatangani.
Bayangan Azel kembali terlintas. Mahasiswi itu memang keras kepala. Kalau merasa benar, ia akan mempertahankan pendapatnya sampai akhir. Bahkan tak segan berdebat dengan dosennya sendiri. Akan tetapi... Di balik sikapnya yang cerewet dan sering membantah, Ibra mengakui satu hal.
Gadis itu memiliki hati yang hangat. Buktinya... Arjun. Sejak mengenal Azel dua bulan lalu, putranya berubah cukup banyak. Anak yang dulu selalu murung sepulang sekolah kini selalu pulang dengan wajah ceria.
Di meja makan yang dibicarakan Arjun selalu sama.
"Kak Azel hari ini ngajarin Arjun gambar."
"Kak Azel tadi bacain cerita nabi."
"Kak Azel bilang Arjun anak saleh."
"Kak Azel ngajarin Arjun doa sebelum makan."
"Kak Azel tadi gendong Arjun."
"Kak Azel ketawa lucu, Yah."
Bahkan setiap pagi sebelum berangkat sekolah, pertanyaan pertama yang keluar dari mulut putranya selalu sama.
"Hari ini Kak Azel datang, kan?"
Kalau sore hari Azel tidak datang ke daycare, Arjun akan pulang dengan wajah kecewa. Awalnya Ibra mengira itu hanya kekaguman seorang anak kecil.
Namun semakin hari ia sadar kedekatan mereka bukan sesuatu yang dibuat-buat. Arjun benar-benar merasa nyaman bersama Azel. Sesuatu yang bahkan belum pernah ia lihat pada putranya terhadap orang lain. Bahkan kepada para pengasuh daycare.
Mereka memang menyayangi Arjun. Tetapi Arjun tetap menjaga jarak. Sedangkan kepada Azel, ocah itu tanpa ragu meminta digendong, bercerita, tertawa, bahkan menangis.
Ibra mengembuskan napas pelan. "Entah bagaimana caranya alam waktu yang begitu singkat. Dia berhasil mengambil hati Arjun."
Ia masih ingat bagaimana putranya berkali-kali memujinya.
"Ayah, Kak Azel baik."
"Ayah, Kak Azel sabar."
"Ayah, Kak Azel cantik."
"Ayah, nanti Arjun mau ketemu Kak Azel lagi."
Bahkan... Kalimat yang paling membuat hati Ibra terasa sesak masih terus terngiang.
"Ayah... Arjun mau punya mama seperti Kak Azel."
Ibra memejamkan mata sejenak. Ucapan polos seorang anak itu terus menghantui pikirannya.
Ia tau yang dirindukan Arjun bukan sekadar sosok perempuan. Melainkan kehangatan. Kasih sayang. Pelukan yang selama ini tidak pernah bisa ia berikan dengan utuh sebagai seorang ayah.
Perlahan ia mengembuskan napas panjang. "Jangan berpikir terlalu jauh, Ibrahim..." gumamnya pelan kepada dirinya sendiri.
"Itu hanya ucapan seorang anak kecil."
Meski begitu jauh di lubuk hatinya, ia tidak bisa memungkiri satu kenyataan. Jika ada seseorang yang mampu membuat Arjun tersenyum dengan tulus. Orang itu adalah Azel.
biarkan apa yg oma arsyila ucapkan mnjadi kenyataan amiin
jjr slalu ada /Sob/kadang luka yg berujung trauma blm tentu bisa stiap org hadapi apalagi smpai berujung ke hal yg merugikan dan negatif
amiiiin
bnyak hikmah dlm stiap critamu
sejak kemunculan arjun bawaan stiap bc pasti sedih,menangis
ya allah