Dayuh sigadis Indigo atau supranatural, dia memiliki kelebihan itu semenjak umur batita, Yang diturunkan oleh kedua orang tuanya. Terutama Ibu Dayuh yang memiliki kelebihan yang cukup istimewa itu dari keturunan sebelumnya. Jika Ibunya memiliki anak atau keturunan, dengan berjalannya waktu dan bertambahnya umur anak tersebut maka kelebihan Ibunya akan berkurang. Maka tugas selanjutnya adalah anaknya yang melanjutkan. Jika tidak memiliki penerusnya maka kelebihan tersebut akan terus dimilikinya dan berkembang.
.
Ibu ingin menceritakan pengalaman yang Ibunya alami selama ini. Mungkin nanti Ibunya akan menceritakan secara pelan-pelan.
Akan kah Dayuh menerima semua kelebihan nya atau sebaliknya melepaskannya?
Yuk simak cerita nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12 Membeli Makan
Setelah semuanya kembali ke penginapan dengan aman, suasana di kamar terasa berbeda. Tegang masih ada, tapi kini bercampur dengan rasa lega yang pelan-pelan menyusup. Dayuh dan Sitara duduk di lantai, membuka laptop dan tablet untuk mengecek ulang rekaman CCTV yang baru saja dipasang. Wajah mereka serius, mata tak lepas dari layar.
Leo berdiri di dekat jendela, mengamati jalanan. Saga menutup tas peralatannya, menarik napas panjang.
Leo menoleh ke Saga.
“Saga… ikut aku bentar.”
Saga mengangkat alis. “Ke mana?”
“Beli makan. Sama cemilan. Kalau kita terus di sini tanpa isi perut, otak kita bakal error duluan sebelum Noah ketahuan.”
Saga tersenyum kecil. “Itu baru Leo yang aku kenal.”
Leo melirik Dayuh dan Sitara. “Kalian fokus di rekaman aja. Kita nggak lama.”
Dayuh mengangguk tanpa menoleh. “Hati-hati. Jangan kelihatan mencurigakan.”
Sitara menambahkan pelan, “Kalau ada apa-apa, langsung kabarin.”
Leo mengacungkan jempol. “Siap.”
Mereka keluar penginapan dengan langkah santai, seolah hanya dua pria biasa yang hendak membeli makan malam. Jalanan sore itu tidak terlalu ramai. Lampu-lampu toko mulai menyala satu per satu, menciptakan suasana yang tampak normal—terlalu normal, mengingat apa yang sebenarnya sedang mereka hadapi.
Saga berjalan di samping Leo, tangannya masuk ke saku jaket.
“Aku masih nggak nyangka,” ucapnya pelan, “kita beneran masuk ke ruang bawah tanah rumah orang yang… kayak gitu.”
Leo tertawa kecil, tapi tidak ada humor di matanya.
“Aku juga. Kalau ini film, aku pasti udah mikir ini terlalu nekat.”
Saga menoleh. “Tapi kamu tetep lakuin.”
Leo mengangguk. “Karena kalau nggak ada yang nekat, orang kayak Noah bakal terus hidup nyaman.”
Mereka berhenti di lampu merah. Suara klakson dan motor berlalu-lalang mengisi jeda.
Saga menatap ke depan. “kamu tahu nggak, dulu waktu kita masih nongkrong bareng, aku kira hidup aku bakal biasa-biasa aja. Kerja, nikah, pensiun. Jadi polisi juga awalnya cuma… pilihan aman.”
Leo meliriknya. “Tapi sekarang?”
Saga tersenyum pahit. “Sekarang gue berdiri di tengah kasus paling gelap yang pernah aku lihat. Dan pelakunya… hidup kayak raja.”
Leo menghela napas. “Itu yang bikin aku muak, Sa. Dunia sering kali baik sama orang yang salah.”
Mereka kembali berjalan. Di kejauhan, terlihat minimarket yang masih buka.
Saga tertawa kecil. “Lucu ya. Kita habis masuk ruang bawah tanah pembunuh berantai, sekarang mikirin beli keripik sama minuman.”
Leo menyeringai. “Justru itu penting. Normalitas kecil kayak gini bikin kita inget kenapa kita berjuang.”
Mereka masuk ke minimarket. Lampu putih terang menyambut, suara pendingin udara berdengung halus. Seorang kasir muda melirik mereka sebentar, lalu kembali ke ponselnya.
Leo mengambil keranjang. “Oke, kebutuhan tim. Air minum, kopi sachet, snack asin, snack manis.”
Saga mengambil mie instan. “Ini. Dayuh pasti lupa makan kalau nggak diingetin.”
Leo tertawa kecil. “Sitara juga. Fokusnya kebangetan.”
Mereka berjalan menyusuri rak. Suasana tampak ringan, tapi percakapan mereka tetap berat.
Saga mengambil biskuit. “Leo… jujur. Kamu nggak takut?”
Leo berhenti sejenak. “Takut.”
Saga menoleh. “Tapi?”
“Tapi aku lebih takut kalau kita berhenti,” jawab Leo pelan. “Aku udah lihat terlalu banyak orang pura-pura nggak tahu, demi hidup tenang.”
Saga mengangguk. “Noah itu… rapi banget. Hidupnya kayak template orang sukses.”
Leo memasukkan kopi ke keranjang. “Dan justru itu yang bikin dia berbahaya. Orang percaya tampilan.”
Saga bersandar ke rak sebentar. “Aku sadar nggak… kalau kasus ini meledak, dampaknya gede. Tunangannya, bisnisnya, orang-orang yang nggak tahu apa-apa.”
Leo menatapnya lurus. “Kebenaran emang jarang rapi, Sa.”
Saga terdiam beberapa detik. “Aku polisi. Aku harus mikir soal prosedur, dampak, hukum.”
Leo mengangguk. “Dan aku sahabat. Aku mikir soal korban yang udah nggak punya suara.”
Saga tersenyum tipis. “Makanya kita masih bisa kerja bareng.”
Mereka menuju bagian minuman. Leo mengambil beberapa botol air.
Saga berkata pelan, “Aku tahu nggak… kalau Noah bener-bener tertangkap, ini bakal jadi kasus nasional.”
Leo mengangkat bahu. “Yang penting, satu anak aja dapat keadilan, itu udah cukup buat aku.”
Saga menatapnya lama. “Kamu berubah, Leo.”
Leo tersenyum kecil. “Atau mungkin aku baru nemuin arah.”
Di kasir, mereka menaruh barang-barang di meja. Kasir menghitung dengan cepat, tanpa curiga sedikit pun.
Saat menunggu struk, Saga berkata lirih,
“Kadang gue mikir… gimana orang bisa hidup dengan dua wajah.”
Leo menjawab tanpa ragu,
“Karena dunia sering lebih percaya senyum daripada kebenaran.”
Mereka keluar minimarket, kantong plastik di tangan, matahari hampir tenggelam sepenuhnya.
Di luar, angin sore berhembus pelan. Mereka berjalan kembali ke arah penginapan.
Saga membuka pembicaraan lagi. “Leo… kalau nanti Noah sadar ada yang nggak beres, siapa target pertamanya menurut kamu?”
Leo langsung menjawab, “Dayuh.”
Saga terkejut. “Kenapa?”
“Karena dia yang paling detail. Orang kayak Noah takut sama orang yang teliti.”
Saga mengangguk pelan. “Makanya kita harus lindungi mereka.”
Leo berhenti berjalan, menatap Saga serius.
“Sa. Aku minta satu hal.”
Saga ikut berhenti. “Apa?”
“Kalau situasi kacau… dan harus ada yang narik perhatian Noah…”
Saga langsung paham. “Kamu.”
Leo mengangguk. “Iya.”
Saga menghela napas panjang. “Aku nggak setuju.”
Leo tersenyum tipis. “Aku nggak minta persetujuan. Aku minta lo jaga mereka.”
Saga menatapnya lama, lalu berkata tegas,
“Kita semua keluar hidup-hidup. Itu satu-satunya skenario.”
Leo tertawa kecil. “Aku suka optimisme kamu.”
Mereka melanjutkan langkah.
Saga berkata pelan, “Kamu tahu nggak kenapa aku tetep ikut?”
Leo menoleh. “Kenapa?”
“Karena aku capek ngeliat kejahatan cuma jadi angka statistik,” jawab Saga. “Dan di sini… aku lihat wajah korbannya.”
Leo menepuk bahu Saga. “Itu alasan yang tepat.”
Penginapan sudah terlihat. Lampunya menyala temaram.
Saga menatap jendela lantai dua. “Mereka pasti masih fokus di layar.”
Leo tersenyum. “Dan lupa makan.”
Mereka tertawa kecil bersama—tawa singkat, tapi jujur.
Saat mereka masuk kembali ke kamar penginapan, Dayuh langsung menoleh.
“Kalian lama,” katanya.
Leo mengangkat kantong plastik. “Karena kami pahlawan penyelamat perut kosong.”
Sitara tersenyum tipis. “Terima kasih.”
Saga meletakkan makanan di meja. “Rekaman gimana?”
Dayuh menatap layar. “Tenang… terlalu tenang.”
Leo duduk, membuka minuman. “Tenang sebelum badai.”
Saga menatap semua orang di ruangan itu—Dayuh, Sitara, Leo, dan dirinya sendiri.
Tim kecil. Tanpa seragam. Tanpa sorotan. Tapi membawa beban kebenaran besar.
Saga berkata pelan, hampir seperti janji,
“Kita sudah sejauh ini. Kita nggak mundur.”
Leo mengangguk. “Dan kita nggak sendiri.”
Di luar, malam perlahan turun.
Dan di kota B, Noah masih tersenyum di antara lampu peresmian tokonya—tanpa tahu bahwa satu per satu, dinding perlindungannya mulai retak.