NovelToon NovelToon
Tomboy Insyaf

Tomboy Insyaf

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Teen School/College / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Chicklit / Tamat
Popularitas:58.8k
Nilai: 5
Nama Author: diahps94

Bosan dengan gaya hidup ugal-ugalan, mencoba menyelami jati diri yang mungkin terpendam dalam palung jiwa, merubah penampilan dan tabiat. Dari yang mulanya di tuduh sebagai salah satu ciri tanda kiamat, menjadi seorang ukhti. Baru terjun dalam hal baik langsung ditempa dengan cobaan hidup masa sekolah. Dirundung karena terlalu berbakat, dan penuh cinta, lantas timbul iri dengki teman sebangku yang menjelma bagai dewi nyatanya seorang munafik. Menghasut orang lain untuk membenci Aluna.

Bisakah Aluna mempertahankan kehidupan SMA nya tanpa kembali menjadi tomboy?
Mari ikuti kisahnya. :)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diahps94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Dan Terluka Lagi

"Aku memang masih duduk disampingnya, bukan berarti aku tak ingin pindah, kau tahu sendiri tak ada tempat untukku selain disamping Tina." Tatapan memandang kosong ke langit kamar.

"Tak ada rolling karena semua sudah saling nyaman, andai aku bisa bertukar denganmu." Harap Eva.

"Ku rasa tak perlu, justru semakin menjauh darinya aku terlihat takut, biar ku hadapi." Aluna enggan merepotkan orang lain dalam masalahnya.

"Tidak, kau terlalu naif. Rasa ibamu lebih besar padanya hingga untuk berbalas buruk kau tak sanggup." Eva melihat semuanya setelah kejadian dua hari lalu.

"Maaf, bagiku Tina masihlah mencari jati diri, dia labil karena tak punya pakem." Inginnya Aluna mereka tetap baik-baik saja seperti dua bulan terakhir.

"Hah, dan merelakan kita di skorsing oleh sekolah sedang dia asik-asik di sekolah. Jangan begitu, kau terlihat bodoh!" Gerutu Eva.

"Kau ini, sudah bisa mengomeli ku ya sekarang." Merubah posisi jadi duduk.

"Makan yok, laper!" Ajak Aluna.

Lima hari mereka di skorsing, Eva memilih tinggal di rumah Aluna. Orangtua Eva lebih percaya jika anaknya bersama Mawar dan keluarga daripada harus di rumah sendirian. Layaknya orang diusir, Eva membawa satu koper penuh bekal menginap. Jadilah mereka satu langkah lebih dekat, lagi-lagi karena sebuah musibah. Kali ini orangtua Eva tak murka, dia bangga anaknya di skorsing sebab menolong Aluna. Ayahnya tak lagi main tangan, dan lebih mendengarkan ucapan putrinya. Keluarga Eva berangsur membaik, karena mulai sadar dari semua pihak dalam keluarga itu.

Gerimis tak begitu deras, godaan mie instan kuah tetap menjadi pilihan sarapan menjelang makan siang dua gadis. Cekikikan sembari memasak mie, mereka nakal melawan Mawar diam-diam. Nasihat sang ibu haruslah makan nasi dan lauk yang ada di meja makan sedari tiga jam lalu. Namanya bocah, semakin dilarang semakin tertantang.

"Pckkk, banyak amat cabenya, nanti mencret." Komentar Aluna.

"Cerewet, buat sendiri sana, apa-apa di protes." Eva sibuk memotong cabai untuk pelengkap mie instan.

"Sudah terlanjur, kalau aku masak lagi nanti kau makan dua sekaligus, kriting ususmu." Aluna mengambil wadah cabai agar kegiatan mari memotong cabai banyak-banyak oleh Eva usai.

"Dih kaya orang tua zaman dulu aja, mie gak bakal bikin usus kriting, bikin rambut kriting dan lainnya, hayal. Sudah masak sendiri sana, biar ususku kriting sendirian tak masalah." Seru Eva.

"Yeuh, tak perlu makan mie memang dasarnya usus sudah kriting, mana ada usus lurus." Gumam Aluna.

"Nah, itu tahu. Sana ambil mangkok, sudah matang ini." Perintah Eva.

"Kenapa jadi terdengar kau yang punya rumah, aku yang numpang ya?" Meletakkan jari telunjuk di dagu, Aluna menimbang.

"Ah itu hanya perasaan mu saja, cepat nanti keburu mekar ini." Desak Eva.

Tepat pukul sebelas, mereka memutuskan untuk mandi bergantian. Sebenarnya malas mandi, tapi demi tak dikatai saat ke kedai nanti jadilah mereka bertemu air. Melirik tempat penampungan air di kamar mandinya, Aluna berpikir kenapa dia akrab sekali dengan ember kamar mandi sekolah. Apa Aluna donasi ember kecil saja, supaya tak dicelupkan ke ember lagi. Belum genap setahun, sudah dua kali tragedi seperti itu, belum lagi di kunci di kamar mandi. Yang belakangan ini dia tahu kalau pelakunya adalah Eva, tentu saja semua berkat dorongan Tina. Selama ini Aluna telah salah membenci orang. Meski begitu tak ada celah kebencian untuk Tina, masih teringat akan kehancuran Tina saat ibunya meninggal.

"Heh sinting, apa mau mu?"

"Jangan masuk, stres rupanya!"

"Apa kau tuli, JANGAN MASUK!"

Baju ditangan Aluna nyaris jatuh mendengar teriakan Eva dari luar. Buru-buru berpakaian lengkap, keluar kamar mandi. "Apa masalah mu Tina?"

"Masalah, masalahku adalah kau masih hidup." Tina dengan seragam lengkap, dan pisau di tangan kanannya menodong Aluna.

"Jangan gila, kau pikir ini sinetron televisi semua takut kau ancam dengan pisau, Aluna bukan pemeran utama yang bisa kau sakiti, lihat kemampuan, jangan sampai kau yang terluka!" Eva kalap semua kata dituangkan.

"Diam, jangan mengajariku dengan mulut pengkhianat mu!" Amuk Tina, melempar celengan kelinci milik Aluna.

Menarik jilbab di dekat pintu kamar mandi, segera di pakai, Aluna siap menghadapi kemungkinan terburuk. "Tina, tenang semua bisa dibicarakan baik-baik, ayo selesaikan bersama."

"Semua tak akan selesai kalau kau masih hidup, kau sumber masalah, dari awal kenal sampai sekarang kau merebut semuanya, kebahagiaan hidupku berakhir olehmu." Membentak dengan tangis, Tina cukup keluar kontrol.

"Apa yang aku rebut? Apa kau tak tahu, aku selalu mengalah untukmu, apa itu tak cukup bagimu?" Ada yang salah dengan pola pikir Tina.

"Kau merebut Bondan, merebut Niki, kau merebut Eva, kau merebut perhatian anak-anak kelas, dan beberapa guru yang mulanya sangat dekat denganku. Kau perusak semuanya!" Beber Tina.

Luapan emosi mengiringi langkahnya, memojokkan Aluna di pintu kamar mandi. Bisa saja Aluna mengurung diri di kamar mandi, tapi dia memikirkan Eva. Bagaimana jika salah sasaran, dan justru Eva yang terluka. Pisau dapur itu terlihat tak begitu tajam. Aluna yang akrab dengan sejumlah jenis pisau tahu dari ketebalan dan kilapnya. Beruntung sering membantu ibunya menyiapkan bahan dagangan, pisau bukan hambatan. Tak menyepelekan, karena meski tumpul jika kena alat vital lain cerita.

"Mari menderita bersama." Tina mengarahkan pisau itu ke leher Aluna yang tertutup jilbab.

Adegan sinetron ini menyebalkan, Aluna ini meninju Tina, tapi kalau bonyok kasihan, mau sok kuat kaya pemeran film India dia tak sehebat itu. Dalam kebimbangan, Aluna menginjak kaki Tina. Korban injakan refleks mengaduh, lantas mengangkat kakinya yang terasa panas perih.

Brukkkk, Tina mendorong Aluna yang coba kabur ke arah Eva. "Kau pikir bisa kabur dariku?"

Aluna menjegal kaki Tina hingga tersungkur. "Maaf, aku harus membela diri."

"Arghhhhh, berani kau padaku!" Tina menancapkan pisau itu ke kasur.

"Hei, jangan sembarangan tusuk, aish bisa kena amuk ibu ku." Sempat memikirkan murka ibunya dalam kondisi genting.

"Kau seperti bermain-main denganku, jangan sepelekan aku!" Tina semakin marah dengan tanggapan Aluna.

Melempar bantal ke wajah Aluna, Tina menerjang tubuh Aluna dan berhasil naik di atas perut Aluna. Wajah terbekab bantal, Aluna menggelengkan kepala, tak bisa lepas karena ditahan Tina sepenuh tenaga. Eva datang membantu, mendorong Tina hingga menggelinding ke bawah ranjang. Kejadiannya begitu cepat, tahu-tahu Tina mengambil pisau, dan berhasil menggores kaki Aluna yang masih berbaring di lantai.

"Akhhhhh....." Rintih Aluna.

Eva menjejak Tina guna memberi ruang kabur untuk mereka. Berhasil membantu Aluna berdiri, Eva bergegas mengambil ponselnya yang sedari tadi melakukan siaran langsung. Mengarahkan kamera ke kaki Aluna, kemudian ke arah Tina. Meski tak sempat membaca komentar, Eva melakukan selangkah lebih maju agar tak jadi kambing hitam oleh Tina seperti kejadian di kamar mandi yang mengharuskan korban dan penolong di skorsing.

"Kau merekamnya?" Tanya Aluna.

"Aku live, penontonnya ribuan. Aku juga sudah menghubungi pak RT setempat, belum datang entah kenapa." Bisik Eva.

"Ayo keluar dari rumah!" Aluna menyeret kakinya yang luka untuk berlari bersama Eva.

Berhasil keluar dengan selamat, namun kejanggalan mulai terjadi. Tina tak ikut mengejar mereka, setalah dijejak Eva. Aluna khawatir Tina terluka parah, berniat menyusul namun kobaran api dari korden kamarnya membuat Aluna teriak kalap.

"Yakkk, jangan bakar rumahku!" Aluna masuk ke dalam rumah lagi.

"Astagfirullah, ada apa ini anak-anak, jangan maen yang aneh-aneh." RT datang seorang diri.

"Ada orang gila lepas pak, tolong tangkap dia bawa senjata dan membakar rumah." Beber Eva.

"Kau cari bantuan, di pengkolan anak-anak bujang sedang nongkrong, cepat!" RT masuk rumah menyusul Aluna.

Aluna mengambil air dengan ember di kamar mandi kamarnya, memadamkan sesegera mungkin. Setelah tiga kali siram, api padam. Aluna menampar Tina yang duduk cengengesan menyaksikan tragedi itu. Seperti gadis sakit jiwa.

Plakkkkk. "Puas kau?"

"Belum, tapi lumayanlah." Sahutnya tanpa rasa bersalah.

Mata mereka saling tatap, ada luka dalam bola mata Tina. Aluna hanyut dalam pandangan itu, tak sadar Tina menghunuskan pisau ke arah perut Aluna. Untung pak RT datang, langsung menendang tangan Tina agar pisau terjatuh.

Klinting, pisau terhempas ke lantai. Tina gelagapan langsung turun dari kursi belajar Aluna, memperebutkan pisau dengan pak RT. Kalah cepat, Tina tak punya senjata saat ini.

"Mana pak orang gila ngamuknya?"

"Oh itu-itu!"

"Buset cantik geh setres."

"Jangan bacot, tangkap."

"Karungin, terus buang dimana ini?"

Bujang desa seenaknya berucap namun mampu membantu menyelesaikan masalah. Ketegangan hilang, Aluna yang tadi bisa berdiri tegap kini merosot ambruk.

"Astagfirullah, kau tak apa?" RT berjongkok di depan Aluna.

"Lemas pak, kakiku seperti tak punya tulang." Masalah selesai sakitnya baru terasa.

"Kaki.... astagfirullah pak kaki Aluna kena pisau tadi." Heboh Eva, lantas mengangkat rok Aluna hingga tersingkap dan memperlihatkan luka yang dimaksud.

"Ayo ke puskesmas."

Bersambung

1
Oma yeni*🦋
keren novel nya
Oma yeni*🦋
semangat untuk Alena 💪 like, komen, subscribe plus ⭐⭐⭐⭐⭐ +🌹 slm perkenalan 😘
Oma yeni*🦋
Hm teman laknat 😤
Oma yeni*🦋
emang bisa y, mati latihan dulu 🤭
Oma yeni*🦋
aku mampir, slm knl 🤗
⍣⃝ꉣꉣ❤️⃟Wᵃf◌ᷟ⑅⃝ͩ●diahps94●⑅⃝ᷟ◌ͩ: salam kenal kembali kak
total 1 replies
Ney Maniez
bahagia sll restu aluna 🤗🤗🤗🤗
Ney Maniez
udah tamat yaa,,,
mksih author cerita ny sngt menghibur 🙏🙏🥰😍😘🤗
Ney Maniez
nyidammm
Ney Maniez
sama kyk aku ank pertama, paksu jg ank pertama, ankku yg gede cucu pertama dari dua belah pihak,,
udah kayak rajaaa😂😂
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
nah kan 🤣🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semoga do' a mu di dengar 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Tenang Aluna udah hamil tuh 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
🤣🤣🤣
Ney Maniez
mudah2n Aluna hamil y🤲
Ney Maniez
mama apa mana🤔🤔😂😂
Ney Maniez
pkoknya riwehhhhh😂😂😂😂
Ney Maniez
gercep y bondan😂😂💪💪
Ney Maniez
asikkkk bondan,,, tak jd ma kknya ya adik nya ajj 😂😂😂
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
kelakuanmu
Ney Maniez
mudah2n bener Aluna hamil🤗🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!