NovelToon NovelToon
Tumbal Tujuh Perawan

Tumbal Tujuh Perawan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Tumbal
Popularitas:50.9k
Nilai: 5
Nama Author: novita jungkook

Setiap tahun selalu saja para pembantu yang masih perawan akan meninggal dunia, namun mereka tidak ada yang sadar dengan hal itu

Hingga akhir nya Dila datang ke rumah itu untuk mencari tahu tentang keberadaan sang adik yang hilang entah ke mana, dan tempat terakhir dia kerja adalah rumah keluarga Susanto.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Hilang lagi

''Ternyata cari tumbal di desa ini sangat gampang sekali karena para warga sangat bodoh!'' Susanto berkata penuh semangat kepada Dina ketika mereka tiba di rumah.

''Selagi kau mendengar apa yang aku katakan dan jangan temui Purnama maka semua akan baik-baik saja.'' Dina Berkata sambil menyeduh air panas.

''Kau ku lihat sangat marah sekali dengan Purnama sehingga kelihatan membenci dia." Susanto menatap Dina dengan curiga.

''Aku bukan cemburu tapi aku marah kepada dia yang sudah terlalu ikut campur dalam urusan ini.'' Dina berkata dengan tegas.

''Nah justru karena itu aku sangat penasaran dengan Purnama itu sehingga dia bisa melakukan apa saja.'' Susanto berkata dengan penuh penasaran.

Dina menarik nafas panjang ketika Susanto tetap ngeyel saja seperti itu dan seolah dia begitu ingin berteman dengan Purnama, padahal Dina tahu sendiri bahwa Purnama adalah manusia yang sangat angkuh tidak karuan sehingga tidak mungkin mau berteman dengan Susanto yang sudah memiliki pesugihan.

Namun pria itu sama sekali tidak bisa diberi nasehat dan justru terobsesi ingin berteman dengan Purnama karena dia juga penasaran Bagaimana bentuk Purnama ini, terlebih lagi nanti bila sudah melihat sendiri bahwa Purnama adalah wanita yang sangat cantik menawan sehingga pasti Susanto akan tergila-gila dan tidak akan pernah bisa lepas dari wanita itu.

Dina sama sekali tidak keberatan Kalau Susanto mau mendekati Purnama dengan alasan jatuh cinta karena menurutnya rumah tangga ini juga sudah tidak ada perasaan, yang membuat Dina merasa kesal adalah bila nanti Purnama kembali merusak pesugihan yang sudah mereka ambil itu sehingga hidup mereka berdua menjadi melarat lagi.

Kemaren sudah cukup rasanya Dia menderita dengan berbagai macam siksaan gaib ketika ayah mereka ketahuan memiliki pesugihan juga, ini sekarang malah berlaku lagi ketika Susanto memang memiliki pesugihan dan dia justru ingin bertemu dengan Purnama sehingga membuat Dina semakin merasa tidak senang dengan kelakuan Susanto ini.

''Aku sudah memberikan kau peringatan dan para warga tadi juga sudah menyebut nama Purnama untuk mencari jasad Ana.'' Dina menatap Susanto.

''Kau tenang saja karena semua ini pasti tidak akan ketahuan kok.'' Susanto berkata dengan penuh percaya diri.

''Baik lah, karena kau tetap keras kepala seperti itu maka aku tidak akan ikut campur lagi.'' Dina tersenyum.

Senyum yang selama ini sangat jarang dia Perlihatkan kepada semua orang dan bahkan Susanto saja hampir tidak pernah melihat sang istri tersenyum seperti itu sehingga terkadang dia juga merasa heran dengan Dina, entah apa yang ada di dalam pikiran wanita ini sehingga dia terlihat begitu kaku sekali.

''Kau tunggu saja nanti ketika aku sudah berteman dengan Purnama itu.'' Susanto berkata dengan penuh percaya diri.

''Hahahaaaaa Aku rasa semua keluarga akan heboh ketika tahu bahwa aku dan Purnama menjadi teman nanti.'' ujar Susanto kembali.

''Hahhhh.'' Dina hanya menarik nafas panjang dan dia sama sekali tidak ada niat untuk berdebat.

Biar saja bila Susanto memang keras kepala dan ingin berteman dengan Purnama karena itu sama saja seperti Menghadang maut, padahal rasanya lebih baik menghindari tapi ini Susanto malah dengan penuh percaya diri ingin menghampiri Purnama sehingga membuat Dina sendiri merasa kebingungan dengan sikap sang suami itu, sudah dicegah juga tidak bisa sehingga lebih baik bila dibiarkan saja.

...****************...

''Kemana Vita pergi?'' Aura bertanya pada Helen saat sudah siang.

''Em saya tidak tau, Nona. apa Vita tidak ada di kamar?'' Helen juga bingung.

''Tidak ada, padahal dia bilang mau mengantar aku tukang jahit.'' keluh Aura.

''Mungkin Dia sedang pergi ke pasar jadi tidak ada di dalam kamar.'' Helen tetap berpikir positif.

Sebab selama ini Gadis itu sangat pendiam karena bisa dikatakan bahwa dirinya agak kurang bisa berbicara alias gagu, Jadi kurang bisa berbaur dengan yang lain dan hanya melakukan aktivitas seperlunya saja bersama dengan mereka dan selebihnya dia sibuk bekerja di rumah tersebut.

''Ya sudah bila memang begitu maka tolong kabari aku kalau dia sudah pulang dari pasar.'' Aura berkata pelan.

''Kalau dia pergi ke pasar Lalu kenapa tidak berpamitan dan dia ada kebutuhan apa?'' Mila bertanya dengan nada bingung.

''Emang Vita yang mana?'' tanya Rahma karena dia belum tau sekarang.

''Itu yang kamar paling ujung sana.'' Mila menunjuk kamar paling ujung.

''Oh gadis itu, tadi malam aku sempat melihat dia sih keluar dari dalam kamar memakai jaket warna putih.'' Rahma memang tidak bisa tidur dan dia sempat melihat.

''Kemana dia pergi? Apa kau sempat mengajak dia berbicara!'' Aura langsung mendekat karena dia penasaran juga.

''Tidak Nona.'' Rahma menggeleng karena dia tidak mengajak Vita berbicara.

Aura menarik nafas panjang Karena sejujurnya pikiran dia saat ini sedang begitu resah memikirkan semua permasalahan yang telah terjadi, tadi malam juga ada hal yang tidak lazim menurut dia di dalam kamar Dina itu dan sekarang malah Vita yang menghilang mendadak di dalam rumah.

''Atau dia mendadak pulang kampung dan pamitan sama Mang Ujang?'' tebak Helen.

''Masa semua pulang kampung secara mendadak seperti itu, Lisa saja masih belum kita ketahui apa dia pulang kampung atau tidak!'' Mila berkata agak sengit.

''Hei santai saja dong kenapa kau jadi marah sama aku seperti itu.'' Helen bingung dengan reaksi Mila.

''Kalian Tolong cari Vita secepat mungkin agar aku bisa tahu juga apa dia pergi ke pasar atau minggat dari rumah ini.'' Aura memberikan perintah kepada para pembantu.

''Vita pulang kampung karena Ibu Dia sedang sakit, tadi malam sempat menemui saya dan subuh tadi sudah pulang naik bis.'' Mang Ujang datang dan memberitahu Aura.

Aura melangkah mendekati pembantu pria itu karena selama ini dia juga tahu bahwa Mang Ujang telah mengetahui banyak rahasia dalam keluarga mereka, dia adalah kepercayaan untuk Dina sehingga pasti akan melakukan apa saja agar keinginan Dina itu bisa tercapai.

''Oh berarti pas malam dia keluar itu menemui Mang Ujang untuk berpamitan ya?'' tanya Rahma.

''Benar, ibunya Vita sedang sakit Jadi dia harus pulang kampung dan merawat di sana.'' Mang Ujang mengangguk.

''Di mana kampung halaman Vita dan apa ada yang menyimpan nomor ponsel ibu Vita?'' tanya Aura.

Mang Ujang langsung menggeleng sehingga rasa curiga Aura semakin besar saja kepada pria tua itu, mau sejauh apa saja Mang Ujang menutupi rahasia tersebut namun tetap Aura akan tahu dan dia berusaha keras untuk menyelidiki apa yang telah terjadi di rumah ini sekarang, tentang sikap Dina dan juga Susanto yang semakin tidak karuan itu membuat mereka semua semakin yakin bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Meski butuh perjuangan juga namun setidaknya Aura akan mengupas satu demi satu agar semua permasalahan bisa segera selesai, yang dia takutkan adalah Dina bisa terjebak seperti ayah mereka dulu akibat pesugihan yang semakin menggerogoti jiwa.

''Jadi Mamang juga tidak memiliki nomor ponsel orang tua Vita?'' Aura bertanya sembari tersenyum.

''Vita hanya datang untuk memberikan laporan itu dan saya juga tidak menghubungi orang tua dia.'' Mang Ujang memberikan alasan.

''Lalu di mana kampung halaman Vita sekarang?'' Aura Kian mendesak.

Mang Ujang menarik nafas panjang Karena dia begitu kesulitan untuk menghadapi si bungsu ini, meski terlihat lemah namun bungsu itu akan melakukan berbagai macam cara untuk mencari tahu apa yang telah terjadi di dalam rumah sang kakak.

Selamat siang, jangan lupa like dan komentar nya ya.

1
Yeyet Rohaeti
kok Vita hilang, masa jadi tumbal kan susanto di kampung .
Nindiana Anasya
siang KK
putri wahyu
siang jg Bess...
FiaNasa
mulut Bu Yuni minta digampar peke parutan kelapa tuh muncungnya..ntar klau dah terbukti Rudy tak salah ngesot² minta maaf
Ayuk Witanto
mantab....bikin emosi juga Bu yuni
Ayuk Witanto
ih gemes banget sama Susanto...pingin tak bakar tuh mulut
Eli Rahma
lanjuut
Nengsih Irawati
Semangat 🥰 lanjut
Raffaza Direzky87
itu kenapa congornya susanto ikut² an ngebacot, nglempar keslahan pada orang lain, panggil mba pur aja... biar ada titik terang nya
putri wahyu
pagi menjelang siang Bess..
knp Bu Yuni asal tuduh aja padahal ga ada bukti😒 jln satu2nya datangkan purnama sang ratu ular👍
putri wahyu
segitu banyaknya orang ga ada yg kepikiran buat cari di hutan😒
Raffaza Direzky87
jadi kasian sama rudi, gak tau apa² malah kena tuduh, Sania juga ngapain ikut² an ngomong ikut campur sama perdebatan orangtua
Raffaza Direzky87
eehh takutnya malah rudi yg di jadikan tersangka sama bu yuni nanti
Apriyanti
andai saja mayat nya ana purnamayg menemukan pasti purnama tau tangan siapa yg telah membunuh ana
Sri Devi
kasihan Ana baru muncul langsung jadi tumbal
Ayuk Witanto
jadi saling tuduh
FiaNasa
malah gak karuan
Heni Mulyani
lanjut
Eli Rahma
ihhh malah pada saling tuduh..ruwettt...
Heni Mulyani
lanjut author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!