NovelToon NovelToon
Merebut Kembali Takdirku

Merebut Kembali Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23

Hadi Wiratama memanggil Alya pulang dua hari kemudian.

Pesannya singkat.

`Datang makan malam. Ada hal yang perlu dibicarakan. Bawa Arga jika kondisinya memungkinkan.`

Alya menunjukkan pesan itu kepada Arga.

Arga membaca, lalu berkata, "Kamu ingin pergi?"

"Tidak."

"Tapi akan pergi."

"Iya."

"Kenapa?"

"Karena kalau tidak, Sinta akan membuat cerita bahwa aku melupakan keluarga setelah masuk Pradipta. Kalau datang, setidaknya aku bisa memilih kalimatku sendiri."

Arga mengangguk. "Aku ikut."

"Kondisimu?"

"Cukup untuk duduk dan membuat orang tidak nyaman."

"Itu kemampuan penting."

"Aku belajar dari istriku."

Alya menatapnya sekilas. "Jangan terlalu banyak bicara."

"Aku akan bicara saat perlu."

"Itu biasanya berarti terlalu banyak."

Arga tersenyum.

Malam itu mereka datang ke rumah Wiratama. Suasananya berbeda dari makan siang sebelumnya. Lebih kaku. Di meja makan sudah ada Hadi, Sinta, Nabila, Rafi, dan dua kakak laki-laki Nabila: Rangga dan Bagas. Mereka jarang muncul di rumah, tetapi malam ini lengkap.

Terlalu lengkap untuk sekadar makan malam.

Sinta langsung berdiri. "Alya, Arga. Akhirnya datang."

Alya mencium tangan Hadi, lalu Sinta. Gesturnya sopan, tidak hangat.

Arga menyalami mereka. Rangga dan Bagas menatapnya dengan rasa ingin tahu yang sulit disembunyikan. Dulu mereka mungkin hanya mendengar Arga sebagai pria sakit. Melihatnya berdiri, meski dengan tongkat, membuat mereka menilai ulang.

Makan malam dimulai dengan basa-basi.

Tidak lama.

Sinta membuka percakapan saat sup baru dihidangkan.

"Alya, Mama dengar semalam kamu terlibat masalah lagi di acara yayasan."

Alya mengambil sendok. "Aku menyelamatkan Karina Hartono dari kamera tersembunyi."

Bagas hampir tersedak.

Rangga menatap Hadi.

Sinta tampak tidak suka jawaban itu. "Mama tidak bilang kamu salah. Tapi namamu semakin sering disebut. Keluarga Wiratama juga ikut terbawa."

"Dalam hal menyelamatkan orang?"

"Dalam keributan."

Arga meletakkan sendok pelan.

Hadi memperhatikan gerakan itu, tetapi tidak bicara.

Rafi menyela, "Mungkin maksud Mama, kita harus berhati-hati. Keluarga besar seperti Pradipta punya cara sendiri menyelesaikan masalah."

Alya menatapnya. "Kamera tersembunyi juga diselesaikan dengan cara keluarga?"

Rafi terdiam.

Nabila cepat berkata, "Mas Rafi hanya mencoba menenangkan."

"Dia perlu belajar bahwa tidak semua hal harus ditenangkan."

Wajah Nabila memerah.

Rangga, kakak tertua, akhirnya bicara. "Alya, terlepas dari benar salah, gaya bicaramu sekarang terlalu keras. Mama khawatir."

"Khawatir pada siapa?"

"Pada keluarga."

"Keluarga yang mana?"

Rangga mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

Alya meletakkan sendok. "Kalau yang dikhawatirkan keluarga Wiratama, aku belum melakukan apa pun yang merugikan nama Wiratama. Kalau yang dikhawatirkan keluarga Pradipta, biarkan mereka bicara langsung. Kalau yang dikhawatirkan Nabila dan Rafi, katakan saja."

Sinta membentak pelan, "Alya."

"Aku hanya meminta topik diperjelas."

Bagas berkata, "Kamu berubah sekali sejak menikah."

Arga tersenyum tipis. "Itu sering dikatakan orang yang kehilangan kendali."

Semua orang menoleh kepadanya.

Sinta tampak tersinggung. "Arga, ini urusan keluarga kami."

"Alya istri saya. Kalau keluarga ini membicarakan cara dia bersikap setelah menikah dengan saya, saya terlibat."

Hening.

Nabila menatap Arga dengan mata sulit dibaca.

Dalam mimpinya, Arga tidak pernah seperti ini. Ia sakit, dingin, jauh, lalu mati terlalu cepat. Ia tidak duduk di meja Wiratama dan membela Alya dengan suara tenang.

Kenapa semua berubah?

Hadi akhirnya berkata, "Sinta, biarkan Alya bicara."

Sinta menatap suaminya. "Mas selalu begitu sekarang. Apa pun yang dikatakan Alya, Mas membiarkan."

"Karena kali ini dia punya alasan."

"Jadi dulu dia tidak?"

Hadi diam.

Kalimat Sinta membuka pintu yang selama ini ditutup.

Alya menatap ayah angkatnya.

Hadi terlihat lelah. "Sinta, cukup."

"Tidak, Mas. Aku juga lelah. Sejak menikah, Alya bicara seolah kami semua musuh. Padahal kami yang membesarkannya. Kami memberinya nama, pendidikan, rumah. Apa salah kalau kami berharap dia menjaga nama keluarga?"

Alya menjawab sebelum Hadi, "Tidak salah."

Sinta terkejut.

"Yang salah adalah ketika Mama memakai semua itu sebagai alasan agar aku diam saat orang lain berbuat salah."

"Mama tidak pernah meminta kamu diam terhadap kejahatan."

"Mama meminta aku memikirkan perasaan Ratna sebelum memikirkan obat Arga."

Sinta terdiam.

Rangga menatap ibunya.

Bagas juga.

Nabila memegang sendok terlalu erat.

Alya melanjutkan, "Mama meminta aku tidak membuat keributan saat ada kamera tersembunyi di ruang VIP karena nama keluarga bisa terbawa. Mama tidak bertanya apakah Karina baik-baik saja. Mama bertanya apakah aku membuat masalah."

Wajah Sinta pucat.

"Aku hanya--"

"Khawatir. Aku tahu. Mama selalu khawatir. Tapi kekhawatiran Mama selalu jatuh ke tempat yang nyaman bagi Nabila dan tidak nyaman bagiku."

Nabila berdiri. "Mbak, kenapa harus menyeret aku?"

"Karena kamu selalu berdiri di balik kalimat Mama."

"Aku tidak!"

"Kamu datang ke rumahku membawa pertanyaan Ratna."

Rangga menoleh cepat. "Apa?"

Rafi ikut berdiri. "Nabila?"

Nabila pucat. "Aku... aku hanya diminta bertanya. Aku tidak--"

"Oleh Ratna?" tanya Bagas.

Nabila diam.

Rafi menatap istrinya. "Kamu tidak bilang."

"Aku takut," bisik Nabila.

Alya tidak menolongnya.

Sinta langsung memeluk Nabila. "Dia baru menikah. Dia ditekan keluarga Pradipta. Jangan menyalahkannya."

Arga berkata, "Menarik. Ketika Nabila ditekan, semua orang memahami. Ketika Alya ditekan, semua orang memintanya menjaga nama keluarga."

Kalimat itu memukul meja lebih keras daripada bentakan.

Hadi menutup mata.

Rangga dan Bagas tidak bicara lagi.

Untuk pertama kalinya, mereka melihat pola itu terlalu jelas untuk dibantah.

Sinta menangis. "Jadi sekarang aku ibu yang buruk?"

Alya berdiri.

"Tidak. Mama ibu yang sangat baik untuk Nabila."

Sinta terdiam.

Alya menatap Hadi. "Pa, kalau Papa memanggilku hanya untuk menasihati agar aku lebih patuh, aku sudah dengar. Kalau ada hal lain, kirim pesan."

Hadi tampak ingin menahan, tetapi tidak menemukan kalimat yang tepat.

Arga berdiri pelan. "Kami pamit."

Rafi tiba-tiba berkata, "Alya."

Alya menoleh.

Rafi terlihat ragu. "Proyek yayasan yang akan aku ikuti... apakah ada masalah?"

Nabila menatapnya panik. "Mas!"

Alya menatap Rafi.

Lelaki itu masih sama. Ingin maju, tetapi menunggu orang lain memberi peta.

"Kalau kamu harus bertanya padaku, berarti kamu sudah merasa ada masalah."

Rafi pucat.

"Jangan tanda tangan apa pun tanpa membaca. Jangan membawa laporan yang tidak kamu periksa. Dan jangan percaya Daren hanya karena dia memberimu kursi."

Rafi tidak menjawab.

Alya pergi bersama Arga.

Di mobil, Arga berkata, "Kamu masih memperingatkannya."

"Aku memperingatkan Nabila juga. Dia tidak mendengar."

"Kalau Rafi tidak mendengar?"

Alya melihat keluar jendela.

"Maka kali ini, aku tidak akan membayar kesalahannya."

Arga tidak langsung menjawab.

Mobil melaju melewati jalan besar yang basah setelah gerimis. Cahaya lampu toko memantul di kaca, membuat wajah Alya tampak sebentar terang, sebentar gelap.

"Dulu kamu membayar kesalahan siapa?" tanya Arga akhirnya.

Alya tersenyum samar tanpa menoleh. "Kamu semakin berani bertanya."

"Kamu semakin sering hampir menjawab."

"Hampir bukan berarti iya."

"Tapi bukan tidak."

Alya diam.

Arga tidak mendesak. Ia hanya berkata, "Malam ini keluargamu menyakitimu."

"Mereka melakukan yang biasa mereka lakukan."

"Itu bukan jawaban."

"Itu cara bertahan."

Arga memandang tangannya sendiri di atas lutut. "Kalau suatu hari kamu lelah bertahan, kamu boleh marah di depanku."

Alya menoleh.

Kalimat itu sederhana. Tidak ada janji besar. Tidak ada kata cinta. Tapi justru karena itu sulit ditertawakan.

"Kamu sebaiknya fokus pada napasmu," kata Alya.

Arga tersenyum kecil. "Aku anggap itu berarti kamu mendengar."

Mobil berhenti di lampu merah. Penjual tisu mengetuk kaca, lalu pergi sebelum Alya sempat menolak.

Arga melihat ke luar. "Dulu, kalau aku bangun setelah obat, semua orang sudah selesai memutuskan sesuatu."

Alya tidak memotong.

"Rumah, saham, dokter, jadwal tamu. Bahkan kapan aku boleh marah."

"Kamu boleh marah kapan saja."

"Sekarang aku tahu. Dulu aku tidak."

Lampu berubah hijau. Mobil bergerak lagi.

Arga menatap Alya. "Di meja makan tadi, kamu bicara seperti orang yang tidak takut kehilangan tempat."

"Aku sudah pernah kehilangan tempat."

"Di rumah Rafi?"

"Di banyak tempat."

Arga tidak bertanya lebih jauh. Justru itu membuat Alya menoleh.

"Biasanya orang kaya suka menggali luka orang lain."

"Aku sedang belajar tidak menjadi keluargaku."

Alya tertawa pendek.

Suara itu kecil, tetapi cukup membuat Arga merasa malam yang berat tadi tidak seluruhnya sia-sia.

1
Aisyah Suyuti
menarik
Rossy Annabelle
next thor 💪,alurnya menarik sih thor ada bab ambisius gitu .tentang orang² besar yah🤔tp seru sih
Irsyad layla
kapan lanjut lagi thor
Irsyad layla
tapi tadi dia bawa mobil sendiri
Rossy Annabelle
bayi tabung GX tuh yg Segede gaban/Facepalm/
Rossy Annabelle
next ,doble up-nya thor/Chuckle/
Rossy Annabelle
next💪
Rossy Annabelle
sampe sini bagus thor ceritamu ada vote buat author 😁
Rossy Annabelle
apakah Maya kartu as Ratna y thor
Dewi Sartika
lanjutt Thor
Dewi Sartika
bagus ceritanya.,ga bertele² ,gass thor
ririn nurima
cerita nya seru ...aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!