NovelToon NovelToon
Tuan Muda, Pengasuhmu Galak Lagi!

Tuan Muda, Pengasuhmu Galak Lagi!

Status: tamat
Genre:Asmara / CEO / Healing / Orang Disabilitas / Tamat
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14

Polaroid Pertama

Sekar tidak langsung berdiri.

Ia takut kalau ia bergerak terlalu cepat, keberanian kecil yang baru saja keluar dari mulut Ardian akan mundur lagi ke tempat persembunyiannya.

Jadi ia hanya mengangguk pelan. "Oke. Kita coba pelan-pelan."

Ardian menatap carousel itu lagi. Musiknya masih ceria, terlalu ceria untuk dada yang baru saja sesak. Kuda-kuda kayu naik turun seperti tidak tahu bahwa seorang pria dua puluh tujuh tahun di depannya sedang bernegosiasi dengan masa kecilnya sendiri.

Petugas wahana mendekat setelah melihat mereka berdiri cukup lama di jalur akses.

"Bapak mau naik? Ada kursi khusus di sisi dalam. Kursi roda bisa diparkir di dekat pintu keluar. Kami bantu pelan-pelan."

Sekar langsung menatap Ardian, bukan petugas. "Mau kursi khusus saja? Tidak harus kuda."

Ardian mengangguk kecil.

Itu cukup.

Petugas menghentikan mereka di dekat pagar sampai satu putaran selesai. Saat rombongan sebelumnya turun, beberapa anak TK berseragam olahraga kuning berjalan beriringan. Mereka membawa topi kecil, botol minum, dan rasa ingin tahu yang tidak punya rem.

Seorang anak perempuan menunjuk kursi roda Ardian. "Kak, itu mobil?"

Gurunya langsung panik. "Aduh, jangan tunjuk begitu. Maaf, Pak."

Ardian menatap anak itu. Wajahnya datar.

Sekar sudah siap menjelaskan dengan lembut, tetapi Ardian lebih dulu berkata, "Bukan mobil. Kursi roda."

Anak itu mengangguk serius. "Bisa bunyi klakson?"

Sekar menutup mulut.

Ardian diam dua detik. "Tidak."

"Bisa cepat?"

"Bisa."

Mata anak-anak lain langsung berbinar.

Guru mereka hampir pingsan karena malu. "Anak-anak, ayo antre masuk. Jangan ganggu Om."

Ardian mengangkat alis. "Om?"

Sekar batuk kecil. "Secara usia, masih aman."

"Kamu senang sekali."

"Sedikit."

Salah satu anak laki-laki menatap kursi roda itu seperti melihat kendaraan luar angkasa. "Kak, boleh duduk sebentar?"

Petugas wahana ragu. Guru itu juga ragu. Sekar lebih ragu lagi karena kursi roda elektrik itu harganya mungkin bisa membeli satu kios bakso beserta waralabanya.

Namun Ardian menekan tombol mati pada panel kursi rodanya, lalu melepas kunci kecil dari sisi pegangan.

"Boleh duduk. Tidak boleh menyentuh tombol."

Anak-anak langsung membentuk antrean kecil tanpa disuruh.

Sekar menatap Ardian dengan mata membulat. "Pak Tan serius?"

"Mereka lebih sopan daripada beberapa orang dewasa."

Guru TK mengucapkan terima kasih berkali-kali. Anak pertama duduk di kursi roda yang sudah terkunci, kedua tangannya menggenggam sandaran seperti raja kecil. Teman-temannya bertepuk tangan. Yang kedua duduk sambil berkata, "Aku jadi bos!" Yang ketiga minta difoto oleh gurunya.

Sekar berdiri di samping kursi roda, menjaga agar tidak ada yang menekan panel. Ia beberapa kali tertawa pelan. Ardian memperhatikan dari kursi carousel khusus yang sudah dibantu petugas. Tubuhnya masih tegang, tetapi matanya tidak sekeras tadi.

Saat putaran dimulai, Sekar cepat-cepat naik ke kursi biasa di sampingnya.

"Kalau pusing, bilang," katanya.

"Ini lebih pelan dari lift rumah."

"Tapi lebih bersejarah."

Ardian menatap depan, tidak membantah.

Carousel bergerak. Lampu-lampu kecil berputar melewati wajahnya. Musik ceria mengalir di antara suara anak-anak yang tertawa. Sekar melihat tangan Ardian di pegangan kursi khusus itu, awalnya kaku, lalu perlahan tidak mencengkeram sekeras tadi.

Putaran pertama, ia hanya diam.

Putaran kedua, bahunya turun sedikit.

Putaran ketiga, seorang anak di kuda putih sebelah mereka melambai. "Kak kursi roda!"

Sekar hampir tertawa.

Ardian menoleh. Anak itu melambai lagi dengan penuh harap.

Setelah jeda pendek, Ardian mengangkat tangan sedikit.

Anak itu langsung bersorak seperti baru disapa presiden.

Sekar melihatnya saat itu.

Senyum Ardian.

Tidak lebar. Tidak jelas. Mungkin kalau orang lain melihat, mereka akan menyebutnya hanya gerakan kecil di sudut bibir. Tetapi bagi Sekar, yang sudah melihat wajah pria itu saat marah, lapar, malu, dan pura-pura tidak butuh siapa pun, senyum itu terasa seperti lampu kecil yang menyala di ruangan gelap.

Ia cepat membuka ransel.

Ardian menoleh. "Apa lagi?"

"Diam."

"Budiman Sekar."

"Sebentar saja."

Sekar mengangkat kamera instan kecil yang ia pinjam dari Tante Nana. Klik.

Cahaya sore jatuh di rambut Ardian. Lampu carousel memantul di matanya. Di belakangnya, anak-anak tertawa dan kuda kayu berputar. Foto keluar perlahan dari kamera, putih dan kosong pada awalnya.

Ardian menatap benda itu. "Kamu memotretku tanpa izin?"

"Saya memotret momen bersejarah."

"Hapus."

"Ini Polaroid, Pak. Tidak bisa dihapus. Teknologi lama kadang menang dari Tuan Muda."

Sekar menggoyangkan foto itu pelan, lalu berhenti karena teringat Tante Nana pernah bilang jangan digoyang terlalu kuat.

Gambar mulai muncul.

Senyum tipis itu ada di sana.

Ardian melihatnya, lalu memalingkan wajah.

Telinganya merah.

Setelah turun dari carousel, anak-anak TK masih mengantre untuk duduk sebentar di kursi rodanya. Ardian membiarkan tiga anak terakhir mencoba, lalu meminta kunci kembali dengan suara datar.

"Waktu kunjungan selesai."

Seorang anak laki-laki bertanya, "Kak besok ke sini lagi?"

Ardian hendak menjawab tidak. Sekar melihat mulutnya sudah siap.

Tetapi ia berhenti.

"Belum tahu," katanya.

Sekar menunduk, pura-pura merapikan ransel agar senyumnya tidak terlalu jelas.

Dalam perjalanan pulang, mobil terasa lebih tenang daripada saat berangkat. Sekar duduk di kursi depan samping sopir, foto Polaroid ia selipkan di buku kecil agar tidak tertekuk. Dari kaca spion, ia melihat Ardian beberapa kali melirik ke arah tasnya.

Akhirnya pria itu bertanya, "Foto itu... akan kamu taruh di mana?"

Sekar menoleh ke belakang. "Di tempat yang semua orang bisa lihat."

Wajah Ardian langsung waspada. "Jangan."

"Di kulkas."

"Itu lebih buruk."

"Tidak. Kulkas itu pusat kehidupan rumah. Sticky note makan ada di sana. Makanan ada di sana. Orang lapar juga pasti ke sana. Foto pertama harus di sana."

Ardian menatap keluar jendela. "Terserah."

Sekar tersenyum. "Nanti pintu kulkas itu akan penuh. Foto Dufan, foto bunga, foto Pak Tan tidak galak, foto Pak Tan pura-pura galak."

"Tidak akan ada foto seperti itu."

"Akan ada banyak."

Ardian tidak menjawab lagi.

Tetapi di kaca jendela mobil, Sekar melihat bayangan sudut bibirnya naik sangat tipis.

1
sunaryati jarum
Beruntungnya kamu Sekar dicintai Tan Ardian dengan ugal-ugalan
sunaryati jarum
Itu juga emak nanti, Tante Nana yang ikut bulan madu sudah ada isi orok rahimnya
sunaryati jarum
Akhirnya kembali
sunaryati jarum
Tiga puluh negara berapa bulan tuh
sunaryati jarum
Itu aturan kamu lho mengganti kata maai😃😃
sunaryati jarum
Bulan madunya keliling dunia
sunaryati jarum
Sepertinya mau berbaikan dan balikan
sunaryati jarum
Semoga mereka . balikin lagi jadi suami istri dan kepulangan dari bulan madu ada kabar gembira dari Budiman Sekar, kecebong Tan Ardian ada yang tumbuh di rahim Sekar
sunaryati jarum
Perjuangan keluarga untuk mendapatkan pendengaran Ibu Melina berhasil
sunaryati jarum
Selamat akhirnya menikah cepat
sunaryati jarum
Nah gitu ,jika sudah menikah dimana pun tinggal bisa tidur bersama
sunaryati jarum
Maka segera nikahin Sekar, Setelah semua urusan hukum Kevin, Yenni,dan Felicia selesai
sunaryati jarum
Ternyata kau mempelajari bahasa dengan sungguh sungguh
sunaryati jarum
Bravo Ardian ,calon menantu idaman
sunaryati jarum
Dalam tidur saja kalau sudah bucin , yang teringat hanya Ardian
sunaryati jarum
Tan Hendrawan hanya bisa menyesal dan meratapi kebodohannya
sunaryati jarum
Nah Kevin dan Violeta yang merasa aman,akan diminta pertanggungjawabannya
sunaryati jarum
Ardian sudah mengumumkan pacarnya siapa
sunaryati jarum
Ingin merebut milik Tan Ardian,Kevin.Yang ada kehancuran kamu
sunaryati jarum
Dengan cinta semangat bangkit kembali ,Tan Ardian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!