NovelToon NovelToon
Istri SAH Yang Disia-siakan

Istri SAH Yang Disia-siakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cerai / Identitas Tersembunyi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Irmayani Mursid

Aku bertahan di rumah ini karena aku mencintaimu, Ardi. Tapi mulai malam ini, demi harga diriku, jangan harap aku akan diam saja saat keluargamu menginjak-injakku lagi."

​Selama lima tahun, Sarah adalah menantu yang tak dianggap. Dia penurut, pendiam, dan selalu mengalah. Namun, ketika cinta dibalas dengan pengkhianatan ego, Sarah memutuskan untuk melawan. Ini bukan cerita tentang istri lemah yang menangis meratapi nasib, melainkan kisah Sarah yang mulai menuntut balik harga dirinya di dalam rumah tangga yang penuh tekanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmayani Mursid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Teror yang berpindah Alamat

​Suasana di teras rumah mendadak membeku. Sarah masih berdiri kokoh di ambang pintu, menatap tiga pria berbadan kekar di hadapannya tanpa kedipan ketakutan sedikit pun. Di belakangnya, suara jeritan histeris Ibu Widya dan Rika langsung memecah keheningan pagi. Kedua wanita itu berlari mundur, bersembunyi di balik pilar pembatas ruang tamu dengan wajah pucat pasi.

​Pria berjaket kulit hitam yang memimpin gerombolan itu mendengkus sinis melihat reaksi dari dalam rumah. Dia kembali mengacungkan kertas tebal bertuliskan rincian utang ke depan wajah Sarah.

​"Bagaimana, Nona? Suruh dua orang di dalam itu keluar. Jangan jadi pengecut dengan bersembunyi di rumah orang lain," gertak pria itu, suaranya sengaja dikeraskan agar terdengar sampai ke dalam.

​Sarah melirik kertas tersebut, lalu menatap mata sang penagih utang dengan sangat tenang. "Mas, kalau mau menagih utang, silakan datang ke orang yang bersangkutan. Tapi maaf, ini rumah suami saya. Dan setahu saya, nama yang tertera di sertifikat rumah ini tidak ada hubungannya dengan surat utang yang Mas bawa."

​Pria itu selangkah maju, mencoba mengintimidasi Sarah dengan memamerkan badannya yang besar. "Kami tidak peduli! Di mana ada Widya dan Rika, di situ utang harus dibayar. Kalau mereka tinggal di sini, berarti rumah ini juga bisa kami jadikan jaminan!"

​"Oh, ya?" Sarah memiringkan kepalanya, senyum tipis—hampir tak terlihat—muncul di sudut bibirnya. "Silakan coba saja kalau Mas mau berurusan dengan hukum pidana atas pasal memasuki pekarangan orang lain tanpa izin dan melakukan pengancaman. Kompleks ini punya penjagaan ketat, dan di atas pintu ini ada tiga kamera CCTV yang merekam wajah Mas sekalian dari tadi. Kalau Mas tidak pergi dalam hitungan ketiga, saya tinggal tekan tombol darurat ke pos satpam dan polisi."

​Mendengar kata 'CCTV' dan 'polisi', dua pria di belakang sang pimpinan langsung saling lirik. Mereka tahu, meski tugas mereka menagih utang, berurusan dengan hukum di kompleks perumahan elite seperti ini bisa menyulitkan bos mereka.

​Pria berjaket kulit itu mengepalkan tangannya, menahan geram karena gertakannya sama sekali tidak mempan pada wanita di depannya. "Oke. Hari ini kami pergi. Tapi ingat, beri tahu suami kamu, waktu kalian cuma tiga hari! Kalau tidak ada kejelasan, kami akan datang dengan jumlah massa yang lebih banyak!"

​Setelah meludahi lantai teras dengan kasar, ketiga pria itu berbalik dan berjalan cepat meninggalkan halaman rumah.

​Sarah mengembuskan napas panjang, lalu menutup pintu jati tersebut dan menguncinya rapat-rapat. Begitu berbalik, dia langsung disambut oleh tatapan horor sekaligus kesal dari Ibu Widya dan Rika yang baru berani keluar dari tempat persembunyian mereka.

​"Sarah! Kamu gila, ya?! Kenapa kamu malah menantang mereka?!" jerit Rika dengan suara melengking, tubuhnya masih sedikit gemetar. "Bagaimana kalau mereka benar-benar datang lagi membawa massa dan menghancurkan rumah ini? Kamu mau kita semua mati?!"

​"Kalau Mbak Rika takut mati, kenapa tidak dari dulu melarang Papa judi?" balas Sarah santai sambil berjalan melewati mereka menuju dapur.

​"Sarah! Jaga bicaramu!" Ibu Widya berteriak, air matanya kembali mengalir karena stres yang menumpuk. "Kamu itu tidak tahu apa-apa! Kami ini sedang terancam, bukannya dilindungi, kamu malah memprovokasi mereka! Benar-benar menantu tidak tahu diri!"

​Sarah menghentikan langkahnya. Dia berbalik, menatap ibu mertuanya lekat-lekat. Rasa cinta pada Ardi membuat dia menahan diri untuk tidak mengusir mereka detik ini juga, tapi harga dirinya melarangnya untuk kembali diinjak-injak.

​"Ma, kalau bukan karena aku yang berdiri di depan pintu tadi, mungkin mereka sudah mendobrak masuk dan menyeret Mama keluar," ucap Sarah, suaranya rendah namun bergetar penuh penekanan. "Aku melindungi rumah ini karena ini rumah suamiku. Kalau Mama dan Mbak Rika merasa tidak aman di sini, silakan cari tempat pengungsian lain. Aku tidak pernah meminta kalian tinggal di sini."

​"Kamu—"

​Sebelum Ibu Widya sempat menyelesaikan makiannya, Sarah sudah berjalan cepat menaiki anak tangga menuju lantai dua, meninggalkan kedua wanita itu dalam kemarahan dan ketakutan yang bercampur aduk.

​Sore harinya, Ardi pulang dengan terburu-buru setelah menerima telepon histeris dari ibunya saat jam kantor. Begitu masuk ke dalam rumah, Ardi langsung mendapati ibunya sedang menangis di sofa ditemani Rika yang sibuk mengompori situasi.

​"Ardi! Kita harus pindah dari sini, Nak! Atau kamu harus cepat-cepat bayar utang itu! Sarah tadi pagi hampir membuat kami celaka karena menantang para debt collector!" adu Rika begitu melihat adiknya datang.

​Ardi mengacak rambutnya frustrasi. Masalah di kantornya belum selesai, dan sekarang masalah domestik di rumahnya semakin menggulung seperti bola salju. Dia melihat Sarah yang baru saja turun dari tangga dengan pakaian santai.

​"Sarah, sini kamu!" panggil Ardi dengan nada membentak.

​Sarah berjalan mendekat, memilih duduk di single sofa yang berseberangan dengan Ardi. "Ada apa, Mas?"

​"Kamu sengaja ya mau mencelakai Mama dan Rika?" tanya Ardi, matanya merah menahan amarah. "Kenapa kamu harus memancing emosi orang-orang itu? Kalau terjadi apa-apa sama Mama bagaimana?! Kenapa kamu tidak bisa sekali saja bersikap lembut dan mengalah demi ketenangan keluarga ini?!"

​Sarah menatap suaminya. Laki-laki yang dulu berjanji akan menjadi pelindungnya, kini justru menjadi orang pertama yang selalu menuduhnya bersalah tanpa mau mendengar penjelasannya terlebih dahulu. Rasa perih kembali menusuk ulu hatinya, mengikis perlahan sisa-sisa cinta yang mati-matian dia pertahankan.

​"Mengalah yang seperti apa lagi, Mas?" tanya Sarah, suaranya bergetar menahan emosi yang mulai memuncak. "Orang-orang itu mau menyita rumah ini. Rumah yang kita tempati. Apa aku harus diam saja saat mereka mengancam akan mengambil asetmu juga? Aku mempertahankan hak kita, Ardi!"

​"Tapi caranya tidak begitu! Kamu egois, Sarah! Kamu cuma memikirkan harga dirimu tanpa peduli keselamatan ibuku!" bentak Ardi, egonya sebagai laki-laki yang merasa gagal mengatasi masalah membuat amarahnya meledak tak terkendali.

​"Aku yang egois... atau keluargamu yang tidak tahu diri?!" balas Sarah, akhirnya air matanya jatuh satu tetes, bukan karena takut, tapi karena kecewa yang teramat dalam pada suaminya.

​"Cukup, Sarah! Masuk ke kamar!" perintah Ardi dingin, memalingkan wajahnya karena tidak sanggup menatap mata istrinya yang berkaca-kaca.

​Sarah bangkit berdiri. Dia mengusap air matanya dengan kasar. "Aku akan masuk ke kamar. Tapi ingat kata-kataku, Ardi. Tiga hari lagi mereka akan kembali. Dan saat hari itu tiba, jangan pernah mengemis meminta bantuan dariku lagi."

​Sarah berjalan cepat menuju kamar utama di lantai bawah dan mengunci pintunya dari dalam. Di dalam keheningan kamar, dia terduduk di tepi ranjang. Dadanya naik turun menahan sesak. Di tengah rasa sakitnya, ponsel di dalam tasnya bergetar.

​Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang sangat dia kenal—nomor sekretaris pribadi keluarganya di Mega Group.

​"Nona Muda, kami mendeteksi ada pergerakan mencurigakan dari keuangan perusahaan suami Anda, Pak Ardi. Ada aliran dana besar yang tidak wajar ke sebuah rekening pihak ketiga atas nama seorang wanita bernama Tyas. Apakah Anda ingin kami menyelidikinya lebih lanjut?"

1
stela aza
lanjut thor lagi nanggung tau bacanya 🤭
aku
lah dalaaaaahhh semaput dia 😂😂
Alodiee: Kebayang gak kalau kamu yang di posisi dia? Pasti ikut semaput juga kan? 😂
total 1 replies
stela aza
mantap kali kau dapat kejutan bertubi-tubi,,, untung g jantungan trs kena stroke 🤭
Alodiee: Wkwkwk bener banget! Makasih ya udah setia ngikutin petualangan mereka sampai bab ini. ❤️
total 1 replies
stela aza
lanjut thor dikit bgt up-nya
Alodiee
wkwkwk sabar yahh Kak..Komentar kakak bener-bener bikin aku makin semangat buat lanjut nulis bab berikutnya. Ditunggu kelanjutannya ya!" 🥰
stela aza
lanjut thor up-nya double y
stela aza
aduh Thor ceritamu bikin gregetan udh g sabar pingin liat s kutukupret Ardi jantungngan 🤭🙏
Alodiee: Sama dong! Rahasia plot ke depan bakal bikin si kutukupret makin pusing. Stay tuned ya! ❤️
total 1 replies
stela aza
lanjut thor
stela aza
keren bgt istrinya ❤️❤️❤️
Alodiee
Kalau suka dengan ketegasan istri sah kita, jangan lupa klik bintangnya ya! Sampai jumpa di bab besok!"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!