Selama lima tahun, Arka Pradana hidup sebagai suami miskin yang dianggap gagal. Ia bekerja siang malam demi membayar utang keluarga istrinya, Hana. Namun semuanya hancur ketika Arka menemukan kenyataan pahit: Hana dan selingkuhannya diam-diam meracuninya selama bertahun-tahun.
Saat pernikahannya runtuh, sebuah liontin tua justru membangkitkan Warisan Hantala dalam tubuh Arka. Ilmu pengobatan, feng shui, tenaga dalam, dan kemampuan melihat rahasia manusia mengalir ke dalam dirinya.
Dari pelayan klub malam yang diremehkan, Arka berubah menjadi pria berbahaya yang ditakuti dunia bawah Jakarta. Di sisinya muncul Maya Santoso, wanita matang pemilik klub malam; Bianca Lestari, CEO cantik yang dingin dan penuh rahasia; serta wanita-wanita lain yang terseret oleh kekuatan dan pesonanya.
Dulu ia diinjak. Sekarang, siapa pun yang berani mengkhianati, menghina, atau menyentuh orang-orangnya harus siap berlutut di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15
Di ruang tamu, Bima masih berlutut.
Ia semakin lama semakin kesal, tetapi tidak berani bangun sebelum Jaya mengizinkan. Setelah beberapa saat, ia akhirnya bertanya dengan suara rendah, "Kak Jaya, kenapa harus memberi dia waktu? Kalau barang itu penting, kita bisa langsung menangkap Mahendra dan Yulia."
Jaya menatap pintu dapur sambil mengisap cerutu. "Kamu bisa mengalahkan Bardan?"
Bima membeku.
Bardan adalah pria bekas luka yang dikirim ke apartemen Yulia. Di antara anak buah Jaya, ia termasuk orang yang benar-benar bisa bertarung, bukan hanya menggertak dengan tongkat dan nama besar.
"Bardan dilempar seperti karung beras," kata Jaya. "Oleh Arka."
Wajah Bima berubah. "Tidak mungkin."
"Kamu sering bilang begitu sebelum dipukul."
Bima menunduk.
Jaya menyipitkan mata. "Anak itu berubah terlalu cepat. Dulu ia bisa kalian tipu bertahun-tahun. Sekarang ia bisa mengobati pasien, membaca formasi, menjatuhkan Bardan, dan membuat Bianca membayarnya mahal. Aku ingin tahu apakah dia benar-benar punya kemampuan, atau ada orang lain di belakangnya."
"Jadi kita biarkan dia mencari barang itu?"
"Orang yang bergerak akan meninggalkan jejak." Jaya tersenyum tipis. "Kalau dia berguna, aku pakai. Kalau dia berbahaya, aku kubur."
Dari dapur terdengar bunyi mangkuk bergeser, lalu sesuatu jatuh ke lantai.
Bima langsung mengangkat kepala. "Aku cek sebentar?"
Jaya meliriknya. "Maya tidak suka diganggu saat memasak."
Bima menggertakkan gigi dan diam.
Di dalam dapur, Arka tertahan di depan meja marmer. Mangkuk tepung sudah miring, sebagian isinya tumpah ke lantai. Maya melepaskan ciuman sebentar, napasnya sedikit kacau, tetapi matanya masih penuh permainan.
"Kamu benar-benar tidak takut Jaya mendengar?" bisik Arka.
"Kalau takut, tidak menarik."
"Kamu menjadikan aku hadiah?"
"Bisa juga hukuman." Jari Maya menyusuri dada Arka dan berhenti di kancing kemejanya. "Kamu terlalu cepat membuat Bianca memperhatikanmu. Aku tidak suka semuanya lepas dari tanganku."
"Sekarang kamu sedang mengendalikanku?"
"Menurutmu?"
Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Ia memegang pinggang Maya dan mengangkatnya ke tepi meja. Maya tertawa rendah, kedua lengannya melingkar di leher Arka. Ia tidak seperti Yulia yang mudah malu, juga tidak sedingin Bianca. Maya selalu membawa bahaya dalam sentuhannya, seolah makin dekat dengan api, makin ia ingin melihat siapa yang terbakar duluan.
Namun saat Arka membalas lebih tegas, tawa Maya tetap patah sesaat.
"Sopir kecil," bisiknya di dekat telinga Arka, "di luar ada orang."
"Kamu yang mengunci pintu."
"Maka jangan buat aku terlalu berisik."
Ia sendiri yang menggigit bibir setelah berkata begitu.
Langkah kaki terdengar di luar. Bima tetap tidak tahan dan mendekati pintu dapur.
"Bu Maya? Tadi ada suara. Anda baik-baik saja?"
Maya menahan wajah Arka di bahunya. Ia mengatur napas dua kali sebelum menjawab dengan suara malas, "Tepung jatuh. Arka bantu bersihkan."
Bima menempel lebih dekat. "Perlu saya bantu?"
"Tidak." Suara Maya mendadak dingin. "Kamu mau mengajari aku memasak?"
Di luar langsung sunyi. Langkah Bima akhirnya menjauh.
Maya mengangkat wajah dan tersenyum. "Lihat? Aman."
"Definisimu tentang aman sangat aneh."
"Untukku cukup."
Setelah itu, jarak terakhir di antara mereka kembali runtuh. Arka menahan pinggang Maya, membuat tubuh wanita itu benar-benar melewati batas di atas meja dapur yang masih berantakan oleh tepung. Maya memeluk bahunya lebih kuat. Tidak ada kepanikan, tidak ada kepolosan palsu; hanya napas yang tertahan, senyum yang retak, dan tubuh matang yang mencoba tetap anggun meski ritme Arka berkali-kali membuatnya kehilangan kendali.
Sendok jatuh dari meja dan berdenting di lantai.
Maya segera menggigit bahu Arka, menahan suara lain agar tidak keluar.
Lama setelah itu, pintu dapur terbuka. Maya keluar membawa sepiring pangsit rebus. Wajahnya sedikit lebih merah dari biasa, tetapi langkahnya tetap rapi. Arka menyusul beberapa detik kemudian dengan kerah yang sudah dibetulkan, hanya ujung lengan kemejanya masih terkena sedikit tepung.
Jaya menatap mereka sekilas. "Lama sekali."
Maya meletakkan piring di meja dan tersenyum. "Adonan susah diatur."
Arka hampir tersedak air.
Makan malam berlangsung seperti drama keluarga yang salah panggung. Jaya membicarakan bisnis, Bima menunduk menyimpan dendam, Maya sesekali menatap Arka dari balik gelas, dan Arka menjaga wajahnya tetap kosong meski dapur di belakang mereka masih menyimpan terlalu banyak bukti.
Setelah meninggalkan vila, Arka baru bisa bernapas lebih lega. Namun baru beberapa menit mobil berjalan, ponselnya berbunyi.
Pesan dari Maya masuk.
`Seru, kan?`
Arka tidak membalas.
Pesan kedua menyusul dengan foto pakaian ungu tipis yang jelas bukan pakaian untuk keluar rumah.
`Kalau kamu membuat Bianca lebih dekat lagi, hadiah berikutnya aku pakai ini. Bang Jaya belum pernah lihat.`
Arka menggenggam setir lebih erat. "Wanita ini benar-benar gila."
Belum sempat ia tenang, panggilan masuk muncul di layar.
Bianca Lestari.
Arka menerima lewat bluetooth. "Ya, Bu Bianca?"
"Masalah Mira sudah diproses. Legal menemukan bukti lain, dan formasi di ruang koleksi sudah dibongkar seperti saranmu."
"Bagus."
"Besok jam tiga sore, antar aku ke pameran batu mulia privat di Kemayoran. Kamu yang mengemudi."
"Saya jemput di kantor?"
"Tidak."
"Di mana?"
"Rumahku."
Arka langsung teringat ucapan Pak Mahendra. Rumah Bianca berarti kemungkinan melihat barang masa kecilnya.
"Baik. Besok jam tiga."
Pagi berikutnya, Arka membawa Yulia dan Pak Mahendra mencari tempat baru. Dengan uang di rekeningnya, ia tidak lagi perlu memilih tempat murah yang membuat keselamatan dipertaruhkan. Setelah melihat beberapa apartemen, ia memilih Aruna Residence, kompleks dengan keamanan ketat, lift akses kartu, dan jarak yang masih masuk akal dari rumah sakit.
Yulia berdiri di ruang tamu yang terang. "Ini terlalu mahal."
"Keamanan lebih murah daripada penyesalan."
Arka membayar enam bulan sewa sekaligus, lalu menyewa perawat pendamping bernama Sari. Wanita itu berusia empat puluhan, cekatan, dan punya referensi bagus untuk merawat pasien pemulihan. Pak Mahendra tidak bisa terus bergantung pada Yulia seorang diri.
Setelah semua beres, Yulia mengantar Arka ke pintu.
"Hati-hati dengan Bianca," katanya pelan.
"Kenapa?"
"Kalau dia benar anak rekan ayahku, dia mungkin lebih berbahaya dari yang dia tahu."
"Aku akan memastikan."
Yulia menatapnya, lalu tiba-tiba berjinjit dan mencium pipi Arka. Gerakannya cepat, tetapi wajahnya langsung merah.
"Itu untuk apa?" goda Arka.
"Agar kamu ingat pulang."
Sore itu, Arka mengendarai Cullinan milik Bianca menuju Menteng Heights. Tidak ada pesta kolam seperti sebelumnya, tidak ada Liana yang berisik, hanya vila putih yang sunyi dengan pintu utama terbuka.
Pelayan mempersilakannya menunggu di ruang tamu.
Arka duduk, matanya bergerak memeriksa dinding. Ada penghargaan, foto majalah, dan potret Bianca saat masih menjadi penyanyi. Tidak ada foto keluarga.
Berarti petunjuk itu mungkin ada di tempat yang lebih pribadi.
Langkah kaki terdengar dari tangga. Bianca turun dengan gaun hitam dan blazer putih, rambutnya digulung rapi, wajahnya tetap dingin.
"Kamu tepat waktu."
"Sopir tidak boleh membuat bos menunggu."
Bianca menatapnya dua detik. "Sebelum berangkat, ikut aku ke ruang kerja."
Arka mengangkat wajah.
Kesempatan datang lebih cepat dari perkiraannya.