Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?
Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?
"Dia selalu serius ketika menyimak penjelasan dari guru saat jam pelajaran di kelas," batin seorang gadis yang bernama Lyra, sedang memandangi seorang cowo yang terlihat keren saat pelajaran, namun terlihat kesal dengan kesombongannya.
____
"Kenapa harus dia?!" teriak Lyra, tidak menyukai perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.
Sedangkan di sisi lain, cowo itu menatapnya dingin dan tajam, sesekali menyetujui ucapan Lyra, tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.
____
"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.
"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.
-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --
Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Cerita Lelah Lyra bersama keluarganya tentang Ujian Minggu Depan
Matahari masih bersinar cukup terik ketika Lyra membuka pintu rumahnya perlahan.
Kliik...
Tap-tap..
Langkah kakinya terasa berat, menggambarkan betapa penatnya ia setelah seharian penuh berkutat dengan jadwal sekolah yang padat.
Tas ransel yang menggantung di bahunya seakan berbobot berkali-kali lipat, menarik tubuhnya untuk segera mencari tempat bersandar.
Dengan sisa tenaga yang ada, gadis remaja itu melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga.
_________________
Suasana rumah terasa sangat sejuk dan menenangkan, kontras dengan terik di luar sana.
Dari arah dapur, aroma harum masakan sayur asem berpadu dengan wangi khas kue bolu langsung menyapa indra penciumannya.
Lyra tahu, aroma itu pasti berasal dari dapur ibunya yang selalu siap menyajikan kenyamanan setelah ia lelah beraktivitas.
Di tengah langkahnya yang gontai, pandangan Lyra tertuju pada sofa panjang berwarna abu-abu yang ada di sudut ruang tamu.
Sofa itu terlihat begitu empuk dan mengundang.
Niat awalnya untuk langsung pergi ke dapur mencari ibunya mendadak pudar.
Lyra pun membelokkan langkahnya menuju sofa tersebut.
Bruk
Ia merebahkan tubuhnya, melepas tas punggungnya dan membiarkannya tergeletak begitu saja di lantai.
Hanya dalam hitungan detik, rasa kantuk yang luar biasa langsung menyerangnya.
Kelopak matanya terasa terlalu berat untuk ditahan, dan ia pun akhirnya terlelap dalam tidur yang nyenyak.
________________
Di dapur, sang ibu baru saja selesai menuangkan air panas ke dalam cangkir keramik bermotif bunga.
Hari ini, ia berniat membuatkan secangkir teh manis hangat kesukaan Lyra, sebagai pelepas lelah setelah seharian penuh belajar di sekolah.
Ia tahu benar rutinitas putri sulungnya itu selalu menguras banyak energi, baik fisik maupun pikiran.
Dengan secangkir teh manis di nampan, ibu pun berjalan keluar dari dapur menuju ruang tengah.
Tap.. tap--
Langkah ibu terhenti tepat di mulut ruangan.
Senyum hangat di bibirnya perlahan memudar, berganti dengan tatapan penuh kelembutan dan rasa empati melihat pemandangan di depannya.
Di atas sofa, Lyra tampak tertidur sangat pulas.
Tubuhnya sedikit meringkuk, dan napasnya terdengar teratur.
Wajah lelahnya terlihat begitu polos dan damai dalam lelap.
klik (Suara terdengar lembut)
Ibu meletakkan nampan berisi teh manis itu di atas meja kecil di dekatnya dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara yang bisa mengganggu tidur putrinya.
Ia membatalkan niatnya untuk membangunkan Lyra.
Baginya, membiarkan putrinya beristirahat dengan tenang adalah hal terbaik yang bisa ia berikan saat ini.
____________
Tap.. tap.. tap...
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki kecil yang berlari dari arah lantai atas.
Itu adalah Ciara, adik perempuan Lyra yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
Ciara muncul dengan wajah yang ceria, membawa sebuah mainan boneka baru di tangannya.
Ia berlari dengan penuh semangat, bermaksud untuk segera menemui kakaknya dan menceritakan keseruannya hari itu.
Ciara nyaris saja bersorak memanggil nama Lyra saat ia melihat kakaknya itu terbaring di sofa ruang tamu.
Ia pun segera berlari ke arah sofa sambil mengangkat bonekanya tinggi-tinggi.
"Kak Lyra! Lihat, boneka baruku bisa—" ucap Ciara dengan suara yang cukup nyaring, terpotong seketika saat ia merasakan sebuah tangan hangat menyentuh pundaknya.
Ibu dengan sigap namun lembut menarik Ciara mundur beberapa langkah dari sofa.
Jari telunjuk ibu diletakkan tepat di depan bibirnya, memberikan isyarat agar Ciara mengecilkan suaranya.
"Ssstt... Jangan berisik, Sayang," bisik ibu pelan, menatap Ciara dengan pandangan lembut.
Ciara menatap ibunya dengan raut wajah bingung, namun ia menurunkan tangannya dan mengecilkan volume suaranya.
"Loh, Ibu? Kak Lyra kenapa? Kok tidur di situ?" tanya Ciara berbisik, rasa ingin tahunya mulai muncul.
Ibu berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan Ciara, lalu membelai rambut putrinya itu dengan penuh kasih sayang.
"Kakakmu sedang tidur. Dia sangat lelah karena seharian belajar di sekolah dan mengikuti banyak kegiatan," jelas ibu dengan suara berbisik yang menenangkan.
"Kasihan kalau dibangunkan sekarang. Biarkan kakak tidur dulu sebentar untuk memulihkan tenaganya."
Ciara sedikit mengerucutkan bibirnya, tanda ia sebenarnya ingin segera bermain dengan kakaknya.
Namun, bocah itu adalah anak yang penurut.
Ia kembali menatap Lyra yang masih tertidur pulas tanpa sedikit pun terusik oleh percakapan mereka.
Ciara mengangguk perlahan mengerti. Ia berjalan menjauh dari sofa dengan langkah yang diinjak pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara.
"Kalau begitu, ayo kita ke dapur sama Ibu. Bantu Ibu menyiapkan camilan untuk nanti sore," ajak ibu sambil menggandeng tangan Ciara.
Ciara tersenyum dan mengangguk setuju.
Tap.. tap...
Mereka berdua pun berlalu menuju dapur, meninggalkan Lyra yang masih terlelap dalam buaian mimpi di ruang tamu.
______________
Suasana rumah kembali hening, diselimuti oleh kehangatan dan rasa saling pengertian di antara anggota keluarga yang saling menyayangi satu sama lain.
Lyra terbangun saat matahari sudah mulai tenggelam.
Ruang tamu tampak temaram oleh cahaya senja yang masuk dari sela-sela jendela. Ia meregangkan otot-ototnya yang kaku.
Rasa lelah yang mendera sejak siang tadi kini telah menguap, berganti dengan kesegaran baru.
________________
Di atas meja di dekat sofa, ia melihat secangkir teh manis yang sudah mendingin, diletakkan berdampingan dengan sepiring kue bolu buatan ibunya.
Dari arah dapur, terdengar suara tawa renyah Ciara dan denting sendok yang beradu dengan piring.
Lyra tersenyum kecil.
Ia segera beranjak dari sofa, meminum beberapa teguk teh manisnya, lalu melangkah menuju dapur untuk bergabung dengan kehangatan keluarganya yang sudah menanti sejak tadi.
___________________
Aroma tumis kangkung, sayur asem wangi khas bolu dan ikan goreng garing memenuhi ruang makan yang sederhana itu.
Di atas meja, sebuah lampu gantung kekuningan menerangi tiga piring yang sudah terisi nasi hangat.
Namun, suasana malam itu terasa lebih hening dari biasanya.
Hanya terdengar denting pelan sendok yang beradu dengan piring porselen.
Lyra duduk menyandar pada kursi kayu, tangannya perlahan mengaduk nasi tanpa benar-benar menyuapnya.
Tatapannya kosong, memandang lurus ke arah mangkuk sayur di tengah meja.
Lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa disembunyikan, mempertegas gurat-gurat kelelahan di wajahnya.
Ibu, yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik putri sulungnya, meletakkan sendoknya perlahan.
Beliau menghela napas panjang, menatap Lyra dengan tatapan penuh rasa khawatir seorang ibu.
"Kenapa letih sekali, Nak?" tanya Ibu lembut, memecah keheningan malam itu.
Suaranya terdengar seperti usapan hangat di kepala.
Lyra tersentak sedikit, lalu memaksakan sebuah senyuman tipis agar Ibunya tidak terlalu cemas.
Ia menegakkan posisi duduknya, lalu mengembuskan napas berat.
"Ujian minggu depan, Bu," jawab Lyra lirih.
"Materi Ujian untuk SMA kelas sepuluh terlalu banyak, bu. Rasanya waktu dua puluh empat jam sehari tidak pernah cukup untuk membaca ulang ratusan halaman materinya, bu."
Mendengar hal itu, sang adik yang duduk di sebelah Lyra berhenti mengunyah.
Ia menelan makannya cepat-cepat, lalu menyenggol lengan kakaknya dengan akrab.
"Pantas saja dua hari ini aku lihat lampu kamar Kak Lyra menyala terus sampai subuh," timpal sang adik, mencoba mencairkan suasana.
"Aku sampai takut mau ke kamar mandi malam-malam. Kakak sudah seperti hantu penunggu meja belajar, serius sekali."
Lyra tertawa kecil, rasa penatnya sedikit berkurang mendengar celotehan adiknya.
"Kalau tidak begitu, Kakak tidak bisa mendapatkan nilai paling bagus dong untuk ujian nanti, Dek."
Ibu tersenyum mendengar interaksi kedua anaknya, namun gurat cemas belum sepenuhnya hilang dari wajah beliau.
Ibu mengambil sepotong ikan goreng bagian tengah yang paling tebal, lalu meletakkannya di atas piring Lyra.
"Ibu tahu kamu anak yang rajin dan punya tanggung jawab besar, Lyra," kata Ibu dengan nada yang sangat teduh.
"Tapi tubuhmu juga punya hak untuk istirahat. Belajar itu wajib, tapi menjaga kesehatan itu jauh lebih utama. Kalau kamu sakit saat hari ujian tiba, semua kerja kerasmu beberapa minggu ini justru akan sia-sia."
Ibu kemudian menoleh ke arah anak bungsunya.
"Mulai besok, Dek, bantu Kakakmu ya. Semua tugas menyapu rumah dan mencuci piring bagian Kak Lyra, kamu yang ambil alih dulu sampai ujiannya selesai. Biar Kakakmu bisa lebih fokus dan punya waktu untuk tidur."
Sang adik langsung memberikan gestur hormat dengan tangannya.
"Siap, Kapten! Demi kelulusan Kak Lyra, aku siap jadi asisten rumah tangga dadakan seminggu ini. Tapi nanti kalau nilainya bagus, traktir aku es krim di kedai depan ya, Kak!"
Lyra merasakan matanya sedikit menghangat.
Rasa lelah yang menggelayuti pundaknya seolah terangkat sebagian oleh dukungan hangat dari keluarganya di meja makan ini.
Ia memandang Ibu dan adiknya dengan rasa syukur yang mendalam.
"Terima kasih banyak, Bu, Dek," ujar Lyra, kali ini dengan senyuman yang jauh lebih lepas dan tulus.
"Lyra janji akan jaga kesehatan dan belajar dengan efisien. Es krim ukuran besar buat kamu kalau Kakak dapat nilai A nanti, Dek."
"Sip, mantap! Sekarang habiskan nasinya, Kak, biar otaknya punya bahan bakar buat mikir," kata adiknya riang, kembali menyuap makanannya.
Suasana meja makan yang tadinya sunyi dan tegang kini berubah menjadi hangat penuh tawa kecil.
Lyra pun mulai menyantap makan malamnya dengan lahap, membawa semangat baru untuk menghadapi ujian di minggu depan.
Bersambung~~~
Yuhu!!! Semoga suka cerita nya ya!! 🤗
Jangan lupa follow akun ini, like, komen dan share cerita nya ya!! 😉
Instagram: @dinndaayu_64
Wattpad: @dinda.glow
See you~~