Jatuh cinta pasti dirasakan setiap manusia
Dan banyak sekali rintangan didalamnya
baik suka maupun duka
mau tidak mau kita harus melewatinya
Setiap hubungan juga tidak akan berjalan
dengan mulus layaknya jalan tol
akan ada waktunya jalan itu berlubang
Akibat kesalahpahaman dan keegoisan kita
Jadi, mau happy atau sad endingnya
kitalah yang tentukan sendiri
dan mungkin ada hati yang akan dikorbankan
atau tidak sama sekali diantara kita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourdream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Budayakan vote + comment.
[[]]
"Yuan, lo pulang sendiri kan?" tanya Irine. Yuan menemani Irine di uks sampai bel pulang sekolah. Yuan juga lah yang mengambil tasnya di kelas.
"Kenapa?"
"Gue nebeng ya?"
"Gak. Biasanya kan lo naik bis. Kenapa lo gak naik bus aja?"
Irine mendesis.
"Gue naik bis dalam keadaan gue yang kayak gini? Tega banget sih lo sama gue."
"Bodo amat." Yuan menaruh tas Irine di atas nakas. "Nih, tas lo. Gue pulang duluan ya. Bye."
"Yuan, gue nebeng."
Yuan tidak mendengarkan ucapan Irine. Ia melangkah keluar.
"Yaudah lah kalau lo gak mau ditebengin sama gue. Gue minta anterin sama Sastra aja," ucap Irine sendiri.
Yuan berbalik lagi.
"Ayo buruan kalau mau nebeng!" bentaknya.
Irine memutarkan bola matanya.
"Katanya gak mau nebengin gue."
"Udah ayo, mau nggak?"
"Iya-iya. Dasar plin-plan," cibir Irine.
Kemudian cewek itu turun dari bangkarnya dan menyambar tasnya lalu ia gendong.
"Yuan," panggil Irine.
"Apaan lagi?"
Irine membelakangi Yuan.
"Kelihatan gak kalau gue tembus?"
Yuan melotot. Ia lihat bukan hanya sedikit, melainkan sudah semakin banyak.
"Tunggu sini dulu. Gue balik lagi nanti." Yuan segera keluar. Sementara Irine mengernyit.
Ia menjadi penasaran mengapa tingkah Yuan seperti itu. Irine mendekat ke kaca besar. Ia memiringkan agar bagian belakangnya bisa terlihat olehnya.
Irine melotot.
"Gila! Banyak banget gue tembusnya!" pekik Irine.
Yuan sudah kembali lagi. Ia membawa jaket, pasti tadi ia pergi mengambilnya.
"Nih, buat nutupin belakang lo," ucap Yuan sambil memberikan jaketnya.
"Eh, tapi itu kan jaket kesayangan lo. Ntar kalau kotor gimana?" tanya Irine.
"Ya lo cuci lah! Biar wangi dan gak kotor lagi," balas Yuan.
Irine mendecak. Kemudian ia mengambil jaket itu dengan kesal. Kemudian ia tutupkan jaket itu dibagian yang terkena darah itu.
"Udah ayo."
"Ish, gue malu."
"Malu apaan lagi sih? Kan udah ditutupin!"
"Tetep aja gue malu."
Yuan mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Terus sekarang gimana?"
"Lo jalan dibelakang gue ya? Biar nutupin gue."
"Iya. Terserah lo. Udah cepet! Gue mau pulang!" Yuan mengiyakan saja karena ia sudah benar-benar capek sekarang.
"Yaudah sih! Dari tadi ngegas mulu! Kalau gak ikhlas mending gak usah!" sentak Irine.
Yuan menghela nafas sambil mengelus dadanya.
"Maklum, Yuan. Cewek kalau lagi PMS begitu. Berubah jadi singa ngamuk," ucap dirinya sendiri.
Yuan berjalan dibelakang Irine sesuai dengan permintaan cewek itu sampai menuju ke parkiran.
[[]]
Irine turun dari mobil Yuan tanpa mengucapkan apapun.
"Bilang makasih kek," sindir Yuan.
Irine menoleh dengan tajam ke Yuan.
"Kalau lo aja gak ikhlas nolongin gue, ngapain gue bilang makasih ke elo?"
Yuan mendecak.
"Ck! Serah dah. Gue pulang."
"Yaudah sana pulang! Lagian gak ada yang nyuruh lo mampir!" balas Irine dengan kesal lagi.
Tanpa babibu lagi, Yuan menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Irine. Irine mendengus kesal. Ia pun masuk kedalam rumahnya.
"Assalamu'alaikum, Bun," salam Irine ketika masuk rumah.
"Wa'alaikumsalam." Bukan bundanya atau ayahnya, melainkan Bi Surti, pembantu rumah tangganya yang lain. Karena selama Mang Jaja dan Bi Jum cuti lahiran, hanya Bi Surti yang ada.
"Lho, bunda sama ayah mana? Kok belom pulang?"
Bi Surti mengernyit.
"Lho, emangnya orangtua neng gak kasih tau, Neng?" tanya Bi Surti.
"Kasih tahu aku apaan, Bi?"
"Nyonya sama tuan kan lagi berlibur ke puncak. Memangnya Neng, gak dikasih tahu?"
"Hah? Bunda sama Ayah lagi liburan? Kok gak kasih tahu dan ngajak aku sih?" kesal Irine.
"Bibi kira, Neng udah dikasih tahu."
"Yaudah, Irine ke kamar dulu ya, Bi."
"Iya, Neng. Bibi kedapur lagi kalau gitu."
Irine pun pergi ke kamarnya. Ia langsung merogoh saku roknya untuk mengambil ponselnya.
"Halo, Irine. Kenapa?"
"Kenapa, kenapa?! Bunda sama ayah gitu ya sekarang! Kalian liburan kenapa gak ngajak Irine apalagi kasih tahu Irine?!" ucap Irine dengan kesal.
"Kan minggu besok kamu mau ujian. Gak mungkin ayah sama bunda ngajak kamu liburan. Nanti kalau kamu udah selesai ulangannya, minta Yuan buat nyusul kesini. Ya?"
"Emang orangtua Yuan disana juga?"
"Iya, kita semua lagi liburan. Nanti kamu berdua nyusul kita ya."
"Ah, bunda nih gak asik ah! Nyebelin."
"Halo, Irine."
Irine langsung menegak ketika ia mendengar suara dari Rena.
"E-eh, Iya, Bun. Kenapa?"
"Kamu gak usah kesel gitu. Nanti kalau kamu udah selesai ulangan kan bisa nyusul kita. Yuan juga pasti mau kok diajak kesini," ucap Rena.
"Iya, Bun. Irine cuma kesel karena bunda sama ayah gak bilang-bilang ke Irine kalau mau liburan. Kan Irine kesepian." Tanpa terlihat oleh siapapun, Irine mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa kamu gak nginep dirumah bunda aja?"
"Hah? Nginep dirumah Bunda Rena? Berarti Irine satu atap sama Yuan dong? Gak mau ah, Bun. Ntar kalau gak ada bunda, Yuan berubah jadi singa lagi. Gak deh, Bun. Irine tetep dirumah aja."
Rena terkekeh diseberang sana ketika mendengar ucapan Irine.
"Kalau Yuan bikin kamu kesel, bilang aja sama bunda. Biar nanti bunda hukum."
"Bener juga. Yaudah, sekarang juga Irine kesana deh. Bye, Bun. Happy holiday!" ucap Irine.
"Happy holiday juga, Sayang. Semangat ya untuk ujiannya."
"Makasih, Bunda."
Tutt tutt tutt
Sambungan berakhir. Irine pun menyiapkan tas kecil untuk baju-bajunya selama ia nginep di rumah Yuan.
Setelah siap, Irine turun ke bawah.
"Bi! Bibi!" panggil Irine.
Bi Surti keluar dari dapur menghampiri Irine yang memanggil.
"Iya, kenapa atuh, Neng?" tanya Bi Surti.
"Bi, Irine kan mau nginep di rumah Yuan sampai Irine selesai ujiannya. Bibi kalau mau pulang kampung, pulang aja bi. Daripada bibi sendirian disini," ucap Irine.
"Oh, Neng Irine mau nginep di rumah Yuan ya? Yaudah, kalau gitu Bibi pulang kampung aja. Soalnya Bibi udah kangen sama anak-anak bibi," ucap Bi Surti.
Irine mengangguk.
"Yaudah, berarti kunci yang satunya, biar Irine yang bawa. Terus kunci satunya lagi, Bibi yang bawa." Irine memberikan kunci rumah satunya ke Bi Surti.
"Yaudah, kalau gitu Bibi mau siapin baju Bibi dulu."
"Yaudah, Irine langsung berangkat ya, Bi."
Bi Surti mengangguk.
"Hati-hati, Neng."
[[]]
Yuan terkejut ketika melihat Irine yang membawa koper kerumahnya.
"Lo mau ngapain bawa-bawa koper kerumah gue?"
"Gue mau nginep."
"Hah? Ngapain? Rumah lo habis kebakaran emangnya?"
Irine mendecak.
"Tuh mulut mau gue sayat-sayat gak?" Ucapan Irine terdengar horror.
"Ya habis, gak ada hujan gak ada angin, lo tiba-tiba mau nginep disini."
"Ck! Udah kenapa sih, gak usah banyak tanya. Gue sendirian soalnya dirumah."
"Lah terus? Apa perduli gue?"
Irine mendelik tajam.
"Gue pake kamar lo ya. Lo tidur di sofa."
Yuan melotot.
"Heh! Apa-apaan lo! Lo yang nginep tapi nyuruh gue yang tidur di sofa! Lo aja yang tidur disitu!" tolak Yuan dengan tegas.
"Tega lo ya sama cewek!"
"Tega lo ya bikin gue sengsara!" balas Yuan dengan sengit. Pasalnya, sudah tadi ia dibuat malu oleh cewek ini, dan sekarang ia dibuat sengsara lagi.
Irine menyengir lebar.
"Lo kan sahabat baik gue. Masa tega sih biarin gue tidur di sofa?"
"Siapa yang lo bilang sahabat?" tanya Yuan datar.
Irine merasa jika auranya berbeda sekarang.
"Yaelah, masih marah juga lo sama gue? Mau sampai kapan sih? Emang lo gak bosen apa? Udah ah, gue males ngehindarin lo mulu. Capek gue." Irine menaiki tangga menuju ke kamar Yuan.
Yuan terdiam.
"Lo kayak gitu juga karena Sastra. Seandainya dia gak pernah muncul. Mungkin gak akan kayak gini situasinya."
To be Continued
Hmmm 🙄😪
Aku sudah like ya, mampir yuk keceritaku
Dia Untukku. Terimah Kasih
Mencintaimu kaka
Salam manis "Scandal pewaris tunggal"
tetap semangat up nya 😀
jangan lupa di feedback ya kakak 😀
mari saling mendukung