"Bagaimana jika kau tahu rahasia kehancuran dunia, tapi kau tidak boleh memberitahu siapa pun?"
Di masa depan, Wei Changqing adalah legenda tertinggi dunia persilatan—sang Mata Pedang Hijau yang ditakuti sekaligus dihormati. Namun gelar itu tak ada artinya ketika ia berdiri di atas puing-puing dunia yang hancur oleh perang agung, memeluk jasad wanita yang setia menantinya hingga akhir hayat.
Mengorbankan seluruh tingkat latihannya, Changqing memutar balik roda waktu dan terbangun di dalam tubuh mudanya yang berusia 19 tahun. Kembali menjadi pendekar mentah yang belum memiliki reputasi apa pun.
Kali ini, tujuannya hanya satu: Mencegah perang berdarah itu terjadi dan menyelamatkan wanita yang ia cintai.
Namun, merubah takdir memiliki harga mahal. Setiap peristiwa yang ia cegah melahirkan musuh baru yang lebih mengerikan. Lebih buruk lagi, demi menyatukan sekte-sekte yang egois agar tidak saling berperang, Changqing mungkin harus menelan fitnah terbesar dalam sejarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : Menyapu Daun di Lorong Gelap
Angin siang di Kota Lembah Hitam bertiup membawa debu dari jalanan utama. Namun di dalam lorong-lorong sempit yang diapit oleh dinding batu bangunan gudang, udara terasa lembap, pesing, dan sunyi.
Kakak Kelima, pria berwajah bopeng dari komplotan Bayangan Gerhana, berjalan cepat menyusuri lorong bersama dua anak buahnya. Tangannya meraba gagang pisau pendek yang tersembunyi di balik jubahnya.
"Kalian berdua, periksa penginapan di ujung Jalan Teratai," perintah Kakak Kelima dengan suara serak. "Kalau kalian menemukan bocah perempuan atau siapa pun yang mencurigakan, langsung bunuh di tempat. Jangan sampai pengawal kota mencium keributan sebelum kita membawa bocah itu pergi."
"Baik, Kakak Kelima!"
Kedua anak buah itu baru saja hendak memisahkan diri di persimpangan lorong batu, ketika sebuah suara langkah kaki yang sangat santai terdengar dari arah belakang mereka.
Tap. Tap.
Kakak Kelima dan dua anak buahnya langsung berbalik serentak, tangan mereka langsung menghunus senjata rahasia.
Di ujung lorong, berdiri seorang pemuda berjubah abu-abu sederhana. Pedang besi hitam kusam terikat di pinggangnya. Wajahnya tenang, seolah ia sama sekali tidak menyadari hawa membunuh pekat yang dipancarkan oleh ketiga mata-mata itu.
"Siapa kau?!" bentak Kakak Kelima, matanya menyipit penuh kecurigaan. Ia mengingat pemuda ini sempat duduk minum teh tak jauh dari meja mereka di Kedai Teh Kedamaian beberapa saat lalu.
"Hanya seorang pendekar pengelana yang ingin memberi saran kecil," jawab Wei Changqing dengan suara lembut yang bergema di antara dinding batu lorong. "Mencari seorang bocah perempuan berusia sebelas tahun dari kamar ke kamar untuk dijadikan tumbal ritual... itu kebiasaan yang sangat tidak sehat untuk umur kalian."
Mendengar ucapan itu, pupil mata Kakak Kelima mengecil drastis. ‘Dia mendengar pembicaraan kami. Dan dia tahu rahasia ritual Tuan Muda.'
"Bunuh dia! Jangan biarkan dia keluar dari lorong ini hidup-hidup!" jerit Kakak Kelima.
Dua anak buahnya, yang berada di tingkat Pendekar Menengah Tahap 5, langsung mengayunkan tangan mereka serentak. Enam bilah jarum beracun melesat membelah udara dengan suara desingan, mengincar kedua mata, tenggorokan, dan jantung Changqing.
Changqing tidak mencabut pedangnya.
Di mata batin tingkat Pendekar Nirwana miliknya, lintasan keenam jarum beracun itu terlihat begitu lambat dan mudah diprediksi. Tangan kanan Changqing mengayun santai, jubah lengan panjangnya berputar seperti pusaran angin kecil.
Wesh... tik! tik! tik!
Keenam jarum logam beracun itu tersedot ke dalam putaran lengan jubah Changqing tanpa merobek kainnya sedikit pun, seolah-olah ditangkap oleh kain sutra yang lembut!
"A-Apa?!" Kedua penyerang itu terbelalak. Sebelum mereka sempat mengambil napas kedua, pergelangan tangan Changqing berputar balik.
Sring!
Dua dari jarum beracun yang ia tangkap tadi melesat kembali ke arah pemilik aslinya dengan kecepatan tiga kali lipat lebih cepat dari saat mereka melemparkannya!
Jleb! Jleb!
Tanpa sempat berteriak, kedua anak buah Kakak Kelima jatuh berlutut, lalu ambruk ke lantai batu. Jarum beracun milik mereka sendiri menancap tepat di titik nadi tenggorokan mereka, menghentikan detak jantung dalam hitungan detik.
Wajah bopeng Kakak Kelima pucat pasi seperti mayat. Sebagai praktisi tingkat Pendekar Tinggi Tahap 2, ia tahu betul tingkat kesulitan teknik membalikkan senjata rahasia lawan dengan jubah biasa. Itu adalah keahlian yang hanya dimiliki oleh para jagoan tingkat Master Bela Diri atau monster tua di dunia persilatan!
"Kau... kau bukan pemuda sembilan belas tahun biasa! Siapa kau sebenarnya?!" suara Kakak Kelima bergetar hebat. Ia melompat mundur dua langkah, tangannya merogoh sebuah tabung kembang api sinyal, di ikat pinggangnya untuk meminta bantuan ke markas cabang.
Namun, belum sempat jarinya menarik sumbu sinyal itu, sebuah kilatan kelabu berkelebat di depan matanya.
Slat!
Tabung kembang api sinyal itu terbelah menjadi dua bagian di udara, beserta dengan tiga jari tangan kanan Kakak Kelima yang terputus dengan potongan yang rapi.
"Aaaargh!" Kakak Kelima menjerit kesakitan, terhuyung mundur hingga punggungnya menabrak dinding batu lorong yang lembap.
Ia mendongak dalam ketakutan. Wei Changqing kini sudah berdiri hanya berjarak setengah meter darinya. Pedang besi hitam di tangan Changqing telah dicabut sepertiga bagian dari sarungnya, memancarkan hawa dingin yang menusuk tulang rusuk.
Di dalam sepasang mata pemuda itu, cahaya hijau zamrud menyala redup dalam kegelapan lorong—cahaya yang membuat Kakak Kelima merasa jiwa dan napasnya sudah terpisah dari tubuh.
"Di mana markas cabang komplotan kalian di Kota Lembah Hitam ini, dan berapa jumlah pendekar tingkat Pendekar Tinggi yang tersisa di sana?" tanyanya tenang.
Di bawah tekanan mental niat pedang yang mengerikan itu, pertahanan jiwa Kakak Kelima hancur lebur.
"D-Di... di gudang bawah tanah bekas ruangan pengolahan kulit hewan di ujung barat kota!" suara gagap Kakak Kelima serak dan ketakutan. "Hanya... hanya tersisa tiga orang tingkat Pendekar Tinggi dan sekitar dua belas penjaga biasa! Tuan Muda... Tuan Muda kami sedang berada di Markas Pusat di Gunung Teratai untuk mempersiapkan konspirasi besar... kumohon, ampuni aku... jangan bunuh aku..."
Mendengar kata Gunung Teratai, mata Changqing sedikit menyempit. Gunung Teratai adalah wilayah kekuasaan Klan Teratai Darah. Konspirasi surat palsu yang menjadi Akar Perang Kedua jelas sedang dibahas di sana oleh pemimpin Bayangan Gerhana.
"Terima kasih atas informasinya," kata Changqing lembut.
Klik!!
Changqing menyarungkan kembali pedang hitamnya. Bersamaan dengan bunyi klik sarung pedang itu, sebuah lubang kecil yang teramat rapi menembus tepat di tengah dahi Kakak Kelima—akibat tusukan energi pedang tak kasat mata yang dilepaskan Changqing tepat sebelum ia menyarungkan pedangnya.
Tubuh Kakak Kelima melorot turun ke dinding lorong tanpa suara.
Changqing mengambil sebotol kecil cairan penghancur mayat dari saku Kakak Kelima, meneteskannya ke atas ketiga mayat tersebut. Dalam dua menit, tubuh ketiga mata-mata itu larut menjadi genangan air keruh yang hanyut ke dalam selokan air lorong kota. Bersih tanpa sisa.
Changqing merapikan jubah abu-abunya, menepuk sedikit debu di bahunya, lalu berjalan keluar dari lorong gelap itu menuju hangatnya sinar matahari siang.
Lima belas menit kemudian, pintu kamar penginapan terbuka.
Zhou Hao masuk sambil membawa dua bungkusan kain berisi pakaian hangat dan sepasang sepatu bot kulit kecil berwarna merah kecokelatan dengan wajah gembira.
"Aku pulang!" seru Zhou Hao. "Lihat ini, Baii Ling. Kakak Zhou membelikanmu sepatu bot empuk! Pas sekali untuk perjalanan ke pegunungan kita besok!"
Baii Ling yang baru saja selesai melakukan siklus meditasinya melompat turun dari ranjang, matanya berbinar melihat sepatu bot kecil itu. "Wah! Bagus sekali! Terima kasih banyak, Kakak Zhou Hao!"
Changqing duduk di kursi teras sambil menuangkan teh ke cawannya, tersenyum hangat melihat interaksi kedua orang itu. Tubuhnya sama sekali tidak berbau darah ataupun menunjukkan tanda-tanda baru saja melakukan pembantaian kilat di lorong kota.
"Kau lama sekali di pasar, Hao," tegur Changqing santai.
"Hehehe, maklum, aku harus menawar harganya dulu dengan pedagang cerewet itu!" tawa Zhou Hao tanpa beban, sama sekali tidak menyadari bahwa sahabatnya baru saja mengamankan nyawa mereka dari jaring perburuan musuh.
Changqing mengangkat cawan tehnya ke arah jendela menghadap barat, ke arah ruangan pengolahan kulit hewan di ujung barat Kota Lembah Hitam.
‘Malam ini, setelah Zhou Hao dan Baii Ling tertidur,’ batin Changqing dalam diam. ‘Aku akan berkunjung ke ruangan pengolahan kulit hewan itu. Tidak boleh ada satu akar pun dari markas cabang Bayangan Gerhana di kota ini yang melihat matahari terbit besok pagi.’
lanjutkan Thor.....👍👍🙏