Miranti, seorang pengusaha restoran yang sedang berada di puncak kejayaan. Meskipun cara yang ditempuh untuk mencapai kesuksesan itu harus melalui berbagai ritual ilmu hitam, Miranti tetap bahagia dan menikmati kekayaan dan kejayaannya.
Awalnya semua berjalan lancar. Hingga akhirnya, di luar dugaan telah terjadi kesalahan dalam pelaksanaan ritual, hingga keadaan menjadi tak terkendali.
Perjanjian yang awalnya hanya akan mengorbankan anggota keluarganya saja, kini merembet pada orang lain. Korban pun berjatuhan.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENARI SENJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Malam itu, Amanda menginap di rumah Miranti. Awalnya, dia ingin mengajak Nina, tapi Miranti melarang dengan alasan menjaga kenyaman suaminya. Miranti mengatakan kalau Arif tidak terlalu nyaman dengan keberadaan orang lain di rumahnya.
Jarum jam menunjukkan pukul 23.55 WIB, Amanda belum bisa tidur, meski telah mencoba berbaring di tempat tidur, dan berharap segera tertidur.
Dia pun telah mencoba menghubungi Rangga sejak tadi, tapi handphone anak muda itu tidak aktif. Amanda sedikit kecewa karenanya.
"Mungkin tidak ada jaringan di tempatnya." Amanda tetap mencoba untuk berpikir positif saja soal Rangga. Dia yakin Rangga tidak akan mengingkari janji untuk terus memantau dirinya.
Dalam kesunyian malam yang terasa mencekam, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Amanda agak terlonjak kaget, dadanya berdebar dan merasa cemas, hatinya pun merasa was-was.
Sekelebat bayangan makhluk tak kasat mata yang pernah mengganggunya, muncul di benak Amanda.
Siapa orang yang akan mengetuk kamarnya di jam segini, kalau bukan makhluk itu? Azka tidak mungkin, anak itu sudah tidur sejak tadi. Apalagi Pak Arif. Suami Miranti itu tidak berdaya karena sakit lumpuh yang dideritanya. Lagi pula ada tujuan apa Pak Arif datang ke kamarnya?
Ketukan itu terus terdengar, membuat Amanda mulai bergidik.
Perlahan Amanda turun dari tempat tidur, lalu pergi mendekati pintu.
Dengan hati-hati dia mendekatkan telinga ke daun pintu. Terdengar gumaman suara yang tak jelas vocalnya, tapi sepertinya dia mengenali suara itu.
Amanda segera membuka pintu. Seorang pria yang duduk di kursi roda berada di hadapannya.
"Pak Arif?" Amanda tertegun melihat Pak Arif yang berada di depan pintu kamar. Namun Amanda merasakan ketenangan karena setidaknya tidak seperti prasangkanya tadi.
"Ng...Ng...." Pak Arif mengeluarkan bahasa yang tidak dimengerti oleh Amanda. Hanya saja tangan kanannya yang masih bisa digerakkan menunjuk ke arah pintu keluar.
Amanda tidak paham yang dimaksudkan Pak Arif.
"Ada Pak? Apa Bapak perlu sesuatu?" tanya Amanda sambil celingak celinguk mengikuti arah tunjuk Pak Arif.
Pak Arif menggeleng dengan kepayahan. Dia terus menggumam sambil terus menunjuk ke arah pintu keluar.
Raut wajah Pak Arif menyiratkan kecemasan, matanya membulat demi membuat Amanda paham akan maksudnya.
"Oh, sebentar Pak. Aku akan mengeceknya." Amanda salah paham dengan maksud Pak Arif. Dia berpikir Pak Arif memintanya untuk mengecek sesuatu di dekat pintu.
Amanda mendekati pintu, ternyata sudah dikunci. Lalu membuka pintu itu, untuk mengecek bagian luar, dan tidak menemukan apa-apa di sana.
"Tidak ada apa-apa, Pak," ujar Amanda memberitahu Pak Arif.
Pak Arif segera menghampiri Amanda yang masih berdiri di dekat pintu. Dengan kesusahan dikayuh kursi roda tempat menopang tubuh yang sudah mulai kurus dan tak terawat.
Sesampai di pintu, Pak Arif berusaha mendorong Amanda ke arah pintu, sambil tangannya kembali menunjuk pintu.
"Ng...!" Suara Pak Arif mulai meninggi.
Amanda tidak paham, bahwa sesungguhnya Pak Arif sedang menyuruhnya untuk pergi dari situ, karena ada bahaya yang sedang mengintai.
Tetapi, Amanda justru merasa takut terhadap sikap Pak Arif. Dia buru-buru kembali ke kamar dan mengunci pintu dari dalam.
Sementara itu Pak Arif yang berada di luar tidak kehabisan akal. Dia pergi ke kamar Azka untuk mencari selembar kertas dan pulpen untuk menuliskan sesuatu.
Di dalam kamar, Amanda yang mulai ketakutan pada sikap Pak Arif tadi, mencoba kembali menghubungi Rangga untuk memberi tahu.
Ternyata, begitu membuka kunci handphone, sudah ada beberapa panggilan tak terjawab dari Rangga, juga sebuah pesan WhatsApp.
"Kakak di mana? Kenapa telponku ga diangkat? Segera pergi dari rumah itu!" Sebuah pesan yang sangat mengejutkan.
Amanda yang baru saja mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari Pak Arif, semakin panik membaca pesan Rangga.
Dengan tangan gemetar Amanda langsung menelpon Rangga, dan sangat lega karena segera diangkat.
"Halo Rangga." Amanda bicara agak berbisik. Nadanya suaranya juga bergetar ketika bicara.
"Kakak di mana? Aku telepon dari tadi." Rangga yang dilanda kepanikan karena teleponnya tidak diangkat dari tadi bersuara lebih tinggi.
"Aku tadi...." Belum selesai Amanda menjelaskan, Rangga segera memotongnya.
"Sekarang juga kakak pergi dari sana!" Rangga memerintahkan.
"Maksudnya?" Ketegangan mencekam Amanda. Instingnya mulai merasakan akan ada bahaya yang mengancam.
"Udah jangan banyak tanya. Pokoknya pergi dari situ?" Rangga terus mendesak. Seandainya saja tempat itu memiliki jarak yang dekat, dia pasti sudah menjemput Amanda.
"I-iya." Amanda mencoba patuh.
Dia segera mengemasi barang-barangnya, dan berharap bisa keluar dari tempat itu secepatnya. Sambungan telepon dengan Rangga sengaja tidak diputus, agar merasa ditemani.
Amanda berjalan pelan menuju pintu berharap tidak didengar oleh Pak Arif yang telah membuat dirinya ketakutan. Namun, langkahnya terhenti ketika pintu kamar kembali digedor.
Bahkan suara gedoran itu terdengar oleh Rangga yang standby di seberang telepon.
"Siapa yang menggedor pintu, Kak?" tanya Rangga cemas. Ketegangan juga melanda Rangga.
"Engga tahu," bisik Amanda.
"Bang Gilang sedang dalam perjalanan ke situ. Kakak jangan khawatir." Perkataan Rangga memberikan sedikit kelegaan untuk Amanda. Dia berharap Gilang segera tiba.
Kini Amanda bingung, apakah dia harus tetap berada di dalam kamar hingga Gilang tiba, atau keluar sekarang juga.
Amanda kembali menempelkan telinga di daun pintu, berusaha mencari tahu siapa orang yang berada di situ?
"Halo Kak." Rangga memanggilnya.
"Ya," bisiknya.
"Kakak masih di kamar?" tanya Rangga.
"Iya. Takutnya Pak Arif masih di sana," ujar Amanda.
"Pak Arif?" Rangga tidak mengerti. Apa yang dilakukan Pak Arif terhadap Amanda? Tapi ini bukanlah waktu yang tepat untuk bertanya.
"Aku mau nelpon Bang Gilang dulu ya. Matikan teleponnya sebentar." Rangga memutuskan sambungan telepon untuk menelepon Gilang dan meminta agar secepatnya menyusul Amanda.
Amanda semakin dicekam ketakutan karena merasa sendirian. Akhirnya dia membulatkan tekad untuk tetap keluar. Hatinya mengatakan, Arif tidak akan mampu menyakiti dirinya.
Perlahan dibukanya pintu dengan jantung yang berdegup tak karuan. Ketika pintu terbuka, benar saja. Arif berada di depan pintu kamar dengan menunjukkan selembar kertas yang bertuliskan:
PERGI DARI SINI!
BAHAYA!!!
Mata Amanda terbelalak dan perasaannya bercampur aduk membaca tulisan itu. Antara merasa bersalah karena telah menuduh Arif yang bukan-bukan, dan merasa syok dengan peringatan yang diberikan Arif.
Sebuah harapan yang tidak mungkin terjadi, tiba-tiba hadir dalam hati Amanda. Andai saja Arif sehat, tentu mereka bisa saling membantu saat ini. Atau setidaknya Arif bisa memberitahu Amanda akan bahaya yang dimaksud.
"Ng...!" Arif kembali bersuara dengan tangan yang kembali menunjuk pintu, bahkan kali ini seluruh tubuhnya ikut bergerak karena kesal melihat reaksi Amanda yang terlalu lamban.
Amanda mengangguk. Lalu segera berlari menuju pintu. Tapi, ketika baru sampai di pintu, seseorang telah membukanya dari luar. Langkah Amanda terhenti.
Wajah Amanda menjadi pucat ketika melihat sesosok yang memakai jubah hitam berdiri di ambang pintu. Wajah orang itu juga ditutup dengan kain hitam, sehingga Amanda tidak akan mungkin mengenalinya.
Tubuh Amanda semakin gemetar dan ketakutannya semakin hebat. Sementara orang itu melangkah masuk ke dalam dan mengunci pintu dengan langkah tegap.
Amanda ingin mundur dan berlari ke kamar, tapi kakinya bagai dipaku pada lantai tempatnya berdiri, mulutnya terkunci, dan kemampuan berpikirnya juga kacau.
Dalam situasi yang mencekam itu, Arif masih punya keberanian untuk membantu Amanda. Dia berusaha menyerang orang itu dengan pisau yang sudah dipersiapkan.
Tapi tentu saja orang itu bukanlah lawan yang imbang untuk Arif. Pisau itu bisa ditangkis tanpa melukainya sedikit pun. Dan kini serangan berbalik pada Arif. Orang itu mencekik leher Arif tanpa ampun. Arif mengerang dan tubuhnya hanya bisa mengejang karena memang tidak bisa bergerak. Amanda masih sempat melihat tangan kanan Arif memukul-mukul orang itu.
Amanda ingin menolong, tapi tidak punya nyali. Seketika dia berusaha membuka pintu untuk kabur. Tapi malangnya, orang itu dengan sigap menyergap tubuhnya, lalu menyeretnya menuju sebuah ruangan.
Amanda meronta dengan sisa tenaga yang ada, dan mencoba untuk berteriak minta tolong. Tapi ternyata dalam kondisi ketakutan yang berlebihan, Amanda juga tidak mampu berteriak.
☕☕☕
Miranti sukses dgn jalur demit ,