Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.
Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.
Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.
Mampukah mantan ku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Pertarungan yang Tidak Seimbang
Suasana di dalam warung nasi seketika mencekam. Tangan kiri Bumi masih mencengkeram erat pergelangan tangan preman bertato anak buah Rendra. Preman itu mencoba melayangkan jotosan tangan kanannya, namun Bumi bergerak lebih taktis. Dengan sedikit sentuhan teknik dan dorongan tenaga yang meluap dari ramuan leluhurnya, Bumi memutar pergelangan tangan sang preman ke arah luar dengan satu sentakan cepat.
Kreeek! Plak!
Suara patahan sendi tulang terdengar mengerikan di dalam ruangan sempit itu, disusul jeritan histeris dari mulut sang preman yang langsung berlutut di lantai semen. "Aaaakh! Tangan gua! Tangan gua patah! Ampun!"
Bumi melepaskan cengkeramannya, membuat preman bertato itu bergulingan di lantai sambil memegangi lengannya yang terkulai lemas. Ia kalah telak hanya dalam satu gerakan singkat tanpa sempat memberi perlawanan berarti.
Rendra yang menyaksikan anak buah terbaiknya tumbang seketika dalam hitungan detik langsung mundur dua langkah. Wajahnya yang semula angkuh kini memucat karena terkejut, namun rasa cemburu dan harga dirinya sebagai anak juragan paling kaya di pasar membuatnya semakin naik pitam. Kemarahannya berada di ubun-ubun.
"Kurang ajar lu, tikus pasar! Udah berani lu macem-macem di wilayah bokap gua?!" teriak Rendra dengan suara gemetar menahan amarah. Ia langsung merogoh kantong celananya, mengambil ponsel, dan menekan tombol panggilan cepat. "Halo! Bang Barong! Bawa semua anak buah lu ke warung nasinya ibunya Alya sekarang juga! Ada kuli panggul bajingan yang berani bikin rusuh di sini!"
Hanya butuh waktu kurang dari lima menit, suara langkah kaki bergedap-gedup yang sangat ramai terdengar mendekati warung nasi. Pintu warung kembali terbuka lebar, dan masuklah sosok pria berbadan raksasa dengan luka parut memanjang di pipi kirinya. Dialah Barong, kepala preman yang paling ditakuti, paling sadis, dan menguasai seluruh upeti di pasar induk ini. Di belakangnya, belasan anak buahnya berdiri mengepung pintu masuk dengan membawa balok kayu dan senjata tajam.
"Mana orangnya, Bos Rendra?! Siapa yang berani nyentuh anak buah gua di pasar ini?!" gelegar Barong dengan suara berat yang menggetarkan kaca-kaca etalase warung.
Rendra langsung menunjuk ke arah Bumi yang berdiri tegak pelindung di depan Alya. "Itu, Bang Barong! Si Bumi, kuli panggul baru yang belakangan ini belagu! Habisin dia!"
Barong melirik anak buahnya yang masih merintih patah tulang di lantai, lalu menatap Bumi dengan pandangan meremehkan sekaligus murka. "Oh, lu toh. Nyawa lu tebel juga ya setelah digebukin anak-anak. Mau cari mati lagi lu di sini?"
Bumi menatap Barong dan belasan anak buahnya dengan sangat tenang. Ia melirik ke sekeliling warung nasi, melihat piring-piring dagangan ibunya Alya dan meja kaca yang bisa hancur berantakan jika perkelahian pecah di dalam ruangan ini.
"Bang Barong, kalau lu emang punya masalah sama gua, kita selesaiin ini jantan sama jantan," ucap Bumi dengan nada santai namun tegas. "Gua saranin perkelahian kita jangan di dalam warung ini. Kasihan ibunya Mbak Alya dagangannya bisa rusak. Kita cari tempat yang agak lapang di luar pasar, di lapangan kosong dekat gudang barat."
Barong langsung tertawa terbahak-bahak mendengar tantangan Bumi, diikuti suara tawa mengejek dari belasan anak buahnya. Rasa sombong sebagai penguasa pasar membuatnya merasa di atas angin, terlebih setelah melihat anak buahnya terkapar, ia ingin menunjukkan dominasinya.
"Hahaha! Punya nyali juga lu, Kuli! Oke, gua terima tantangan lu! Gua gak mau dibilang merusak warung orang tua. Lu semua dengar, kita seret ini bocah ke lapangan barat! Jangan harap lu bisa keluar hidup-hidup dari sana!" seru Barong penuh kesombongan.
Alya yang melihat situasi makin tidak terkendali langsung memegang lengan Bumi dengan sangat erat. Air mata kecemasan mulai mengalir di pipinya. "Mas Bumi, jangan pergi! Tolong jangan dilawan, mereka terlalu banyak dan sadis! Rendra, stop! Jangan keterlaluan kamu!"
Ibunya Alya yang baru keluar dari dapur juga ikut menangis ketakutan dari balik meja kasir. "Ya Allah, Bumi... jangan, Nak. Mending kamu lari aja lewat pintu belakang, mereka orang-orang jahat!"
Bumi membalikkan badannya sejenak, menatap Alya dan ibunya dengan senyuman yang sangat menenangkan. Ia melepaskan tangan Alya dengan lembut. "Mbak Alya, Ibu... tenang aja. Percaya sama Bumi. Hari ini semua urusan ini bakal selesai dengan baik. Bumi gak bakal kenapa-napa."
Kabar tentang Bumi yang menantang Barong di lapangan barat langsung menyebar secepat kilat ke seluruh penjuru pasar induk. Saat Bumi berjalan dikawal gerombolan preman menuju lapangan, Kang Bendot dan Mandor Badrun yang baru mendengar berita itu langsung berlari terengah-engah menghadang langkah Bumi.
"Bumi! Lu udah gila apa, Tong?!" bentak Kang Bendot dengan wajah luar biasa cemas, memegangi pundak Bumi. "Lu gak tahu siapa si Barong? Dia itu preman paling sadis di sini! Dia gak segan-segan bikin orang cacat seumur hidup kalau udah marah! Jangan dilawan, Bum!"
Mandor Badrun juga ikut menimpali dengan nada melarang yang sangat keras. "Iya, Bumi! Jangan sok jagoan lu! Gua tahu lu kemarin bisa angkat kubis banyak, tapi ini urusan nyawa, urusan berantem sama pembunuh! Lu mundur aja, biar gua yang ngomong sama bokapnya si Rendra buat selesaiin masalah ini!"
Bumi menatap kedua orang tua pasar yang selama ini baik kepadanya itu. Ia tahu mereka melarangnya karena benar-benar peduli dan sayang padanya. Namun, Bumi memiliki pemikiran dan visi yang jauh lebih besar di dalam kepalanya.
"Kang Bendot, Pak Mandor, terima kasih banyak atas perhatiannya," jawab Bumi dengan tatapan mata yang sangat jernih dan penuh tekad. "Tapi kali ini saya gak bisa mundur. Ini bukan cuma soal membela diri atau ngelindungin Mbak Alya dari jeratan si Rendra yang arogan itu."
Bumi menjeda kalimatnya, lalu menatap ke arah lapangan barat di mana Barong sudah menunggu bersama anak buahnya yang bersenjata. Di dalam lubuk hatinya, misi utama Bumi telah menyala terang. Ini adalah kesempatan emas yang diberikan takdir untuk mengamalkan pesan leluhurnya secara total.
"Saya punya misi yang lebih besar, Kang, Pak," bisik Bumi lirih namun sarat akan ketegasan. "Gua harus menaklukkan pasar induk ini. Caranya adalah dengan mengalahkan preman paling berkuasa yang selama ini menindas kita semua. Kalau Barong kalah hari ini, kedepannya gak bakal ada lagi yang berani malak kuli baru, gak ada lagi yang berani semena-mena sama pedagang kecil. Gua akan pakai kekuatan ini untuk menjadi pelindung bagi orang-orang yang teraniaya di dalam pasar ini."
Kang Bendot dan Mandor Badrun seketika terdiam seribu bahasa. Mereka berdua tertegun menatap sorot mata Bumi yang memancarkan aura wibawa yang sangat besar, sesuatu yang belum pernah mereka lihat dari seorang kuli panggul biasa. Mereka sadar, pemuda di depan mereka ini sudah bukan lagi Bumi yang lemah yang bisa ditindas beberapa hari lalu.
"Tapi, Bum... mereka bawa senjata banyak bener itu di lapangan," kata Kang Bendot dengan suara yang mulai mengecil, masih ada rasa khawatir yang tersisa.
Bumi hanya menepuk tangan Kang Bendot sambil tersenyum santai. "Tenang aja, Kang. Senjata-senjata itu gak bakal ada artinya sore ini. Doain saya aja ya."
Bumi melangkah mantap memasuki area lapangan tanah yang luas dan gersang di dekat gudang barat. Di tengah lapangan, Barong sudah berdiri berkacak pinggang dengan sebuah golok besar yang terselip di pinggangnya. Belasan anak buahnya langsung membuat lingkaran besar, menutup semua jalan keluar bagi Bumi, sementara Rendra menonton dari kejauhan dengan senyuman puas, mengira Bumi akan segera hancur berantakan.
"Udah selesai pamitannya, Kuli?" ejek Barong sambil maju beberapa langkah, otot-otot lengannya yang besar tampak menegang. "Sekarang lu pilih, mau patah kaki apa patah leher di tangan gua?"
Bumi berdiri dengan posisi santai, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya. "Gua gak milih dua-duanya, Bang Barong. Gua cuma mau mastiin satu hal... setelah lu kalah sore ini, lu dan seluruh anak buah lu harus tunduk dan jangan pernah berani lagi memeras orang-orang kecil di pasar ini."
Barong mendengus geram, matanya memerah penuh amarah yang meledak. "Bajingan sombong! Maju lu semua! Cencang ini bocah sampai jadi daging cincang!" teriak Barong memberi perintah kepada belasan anak buahnya.
Uwooogh! Belasan preman bersenjata balok kayu langsung berlari kencang menerjang ke arah Bumi secara bersamaan. Pertarungan yang tampaknya sangat tidak seimbang di mata semua orang yang menonton itu pun resmi dimulai, namun di dalam diri Bumi, kekuatan besar warisan leluhurnya telah bangkit sepenuhnya, siap memberikan pelajaran yang tidak akan pernah dilupakan oleh para penguasa kegelapan pasar induk tersebut.