Sekuel Ketos Itu Suamiku.
🍁🍁
"Nikah yuk, Bi!" ajak seorang cowok pada seorang gadis yang berjalan di dekatnya.
"Nggak mau!" balas gadis berkerudung lengkap dengan cadarnya tersebut. Menolak mentah-mentah ajakan menikah dari seorang cowok yang dia ketahui bernama Alther Davindra Bagaskara.
🍁
Siapa yang tidak mengenal cowok bernama Alther Davindra Bagaskara? Murid pindahan yang langsung menjadi most wanted di SMA Mahardika.
Wajahnya yang tampan paripurna, postur tubuhnya sesuai idaman para kaum hawa, serta praupannya yang dingin itu sungguh menjadikannya seorang pangeran di sekolah barunya. Bahkan statusnya sebagai ketua geng motor semakin menjadikan Al sebagai cowok idaman mereka.
Namun, siapa sangka jika cowok keren dan brandalan seperti Al malah jatuh hati kepada perempuan bercadar dan sangat menutup penampilan serta menjaga batasannya? Tidak akan ada yang percaya, bukan?
Siapakah perempuan yang berhasil menarik hati Al?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_yuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 24. Modus Al
Bab. 24
Jam istirahat tiba. Seperti biasa, Bina tetap tinggal di kelas. Jarang sekali Bina keluar kelas hanya untuk sekedar nongkrong dengan teman-temannya. Bina lebih memilih menghabiskan waktunya di kelas atau di perpustakaan untuk belajar. Perutnya juga masih kenyang. Jadi aman-aman saja bagi gadis itu.
"Kantin yuk!" ajak Gita seperti biasa. Walaupun teman nya itu tidak akan mau. Karena merasa kurang nyaman.
"Duluan aja. Nanti kalau aku haus, aku nyusul," balas Bina membuat Gita menghela napasnya.
"Kenapa sih lo jarang mau sekarang ini, Bi? Gue yang bayarin," ujar Gita gemas sendiri.
"Bukan masalah uang, Gi. Aku nggak nyaman aja kalau banyak yang liatin aku. Males banget aku kalau sampai ada yang nanya aneh-aneh Kamu tahu sendiri kan?" ujar Bina yang memang sempat beberapa kali mendapat pertanyaan tidak enak didengar oleh telinganya.
Dari pada nanti menjadi sebuah percekcokan yang tidak ada manfaatnya bagi dirinya, lebih baik menghindari saja. Begitulah konsep yang Bina pegang.
Gita juga tahu itu. Karena dirinyalah yang selalu menemani Bina jika gadis itu keluar atau hanya sekedar untuk membeli minuman.
"Oke, deh. Ntar kalau lo pingin sesuatu, telpon aja. Gue bentar kok. Cuma beli camilan doang," ucap Gita pasrah.
Kemudian gadis itu keluar meninggalkan Bina dengan beberapa teman sekelasnya yang juga memilih untuk tetap tinggal.
Sedangkan Bina merasa gugup setelah Gita keluar. Pasalnya, cowok yang duduk di bangku sebelahnya menatap ke arahnya terus sedari tadi. Pun dengan cowok di depan bangku cowok satunya itu.
"Kenapa nggak keluar?" tanya cowok yang duduk di barisan sama seperti dirinya.
Bina menoleh ke arah cowok itu, menatapnya sekilas lalu segera mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.
"Aku?" tanya Bina memastikan lagi. Kalau yang ditanya cowok itu adalah dirinya.
"Hmm," balas cowok itu.
Melihat Al yang tampak ingin berbicara berdua dengan Bina, Lucas, Iyan dan Genta saling pandang. Lalu mengangguk samar. Sepakat untuk keluar saja dari kelas. Toh, di dalam kelas juga masih ada anak lain.
"Ke markas yuk!" ajak Iyan mengawali berdiri dan diikuti oleh temannya yang lain. Lalu mereka pergi begitu saja tanpa menunggu Al yang masih betah duduk di tempatnya.
Sementara itu Bina semakin canggung. Walau tidak hanya ada mereka berdua di dalam kelas, namun entah mengapa ia merasa seolah tatapan Al tertuju kepada dirinya.
Tidak ingin semakin salah tingkah. Bina mengambil kotak yang berisikan salep serta obat-obatan lain, lalu berdiri dan menghampiri ke meja Al. Membuat cowok itu sedikit terkejut. Namun bibirnya tertarik ke atas, hingga ia lupa kalau sudut bibirnya terluka.
"Ssshhh!" desis Al seraya memegang bibirnya dari balik masker.
Bina melihat dan mendengarnya dengan jelas. Mata gadis itu terlihat sendu. Merasa bersalah kepada Al dan Genta.
"Maaf," cicit Bina ketika ia berdiri di samping meja Al. Membuat cowok itu mengangkat wajahnya dan menaikkan alisnya. Tidak mengerti dengan ungkapan Bina barusan.
"Buat?" tanya Al.
Mata Bina bergerak gelisah. Semakin membuat Al penasaran. Karena ia tidak bisa melihat ekspresi wajah Bina saat ini. Kecuali hanya mata indah milik gadis yang saat ini malah meremas kotak di tangannya.
"Maaf, karena aku, kamu dan temanmu jadi terluka, kan?" ujar Bina menebak. "Terimakasih juga sudah nolongin aku semalam. Kalau kalian nggak ada ...."
Bina tidak kuasa melanjutkan kalimatnya. Gadis itu segera menaruh kotak obat yang dia pegang lalu menaruhnya di depan Al.
"Aku nggak bisa obati kamu secara langsung. Tapi mudah-mudahan ini bisa membantu meringankan rasa sakit di wajahmu dan Genta," ucap Bina gugup.
Dan ketika Bina akan beranjak dari sana, Al menahannya. Tentu cowok itu tidak menyentuh Bina secara langsung.
"Boleh minta nomor ponselnya?" tanya Al membuat mata Bina memicing, menelisik maksud Al. "Buat jaga-jaga aja. Kalau semisal lo pulang malam dan kebetulan gue sama temen-temen ada di luar. Jadi nggak akan terulang lagi yang semalam," lanjut Al memberi alasan.
pengen tau kelanjutannya