Cinta hadir tanpa permisi, menelusup masuk melalui celah hati yang sebenarnya sudah bertuan.
Cinta memang buta dan tuli, hingga tanpa sadar Bryan seorang CEO perusahaan tembakau ternama, yang sudah memiliki tunangan meminta wanita yang berprofesi sebagai penari sekaligus karyawan di perusahaannya untuk menjadi wanita simpanannya. Wanita itu bernama Naina Anaclara.
Cinta tidak pernah salah, yang salah adalah waktu. Waktu mempertemukan mereka di saat yang tidak tepat. Karena cinta juga, Naina mau menerima untuk menjadi wanita simpanan Bryan.
Baru menjalin kasih terlarang selama dua bulan, Naina mengandung anak dari hubungan gelapnya bersama Bryan.
Akankah kisah cinta Naina berakhir bahagia bersama Bryan tanpa sepengetahuan dari Istri pertama lelaki yang sudah menjadikannya wanita simpanan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeChan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24
"Bryan tolong pesankan aku satu teko teh manis hangat." pinta Naina masih dengan mata terpejam pada Bryan yang tengah berolahraga di balkon.
"Oke." kata Bryan menanggapi permintaan Naina. Ia meraih gagang telepon dan menghubungi resto hotel.
Selang 5 menit pelayan datang mengetuk pintu, Bryan berjalan cepat untuk membuka pintu dan mengambil pesanannya. Lalu meletakkan di atas meja samping sofa yang Naina tempati.
Naina terkejut saat melihat keadaan Bryan yang tidak memakai lengkap pakaiannya, ia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
Bryan terkekeh sembari menyugar rambutnya, berjalan memutari meja lalu menuang isi teko ke cangkir kosong.
Bryan berada tepat di hadapan Naina dengan celana pendek hitam serta jubah kimono yang terbuka, mempertontonkan guratan otot di bagian dada dan perut Bryan.
Tangan Naina gemetar, mendadak tubuhnya jadi panas dingin seperti ini.
Bryan menarik kursi dan duduk di samping Naina, kedua tangan menopang dagu, mata cokelatnya mengawasi seseorang masih memandang kagum ke arahnya.
"Hei, kenapa wajahmu merah seperti itu?" tanya Bryan sengaja untuk menggoda Naina.
"Tidak apa-apa, mungkin alergiku kambuh." jawab Naina sedikit gugup sembari mengusap pipinya yang sudah menampakkan rona merahnya.
"Jujur saja kalau kamu kagum dengan ototku yang seksi ini." kata Bryan memamerkan otot miliknya.
Naina tersenyum, tersipu malu sendiri dengan tingkah lakunya yang kagum dengan semua yang dimiliki Bryan dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Lihat mataku."
Naina menatap mata sendu milik Bryan yang berwarna cokelat itu.
"Lupakan dia."
"Dia siapa?"
"Samar."
Naina menggeleng tipis, berpisah memang mudah tapi melupakan butuh waktu lama baginya untuk menghapus kenangan indah bersama Samar.
Samar adalah seseorang yang mampu mengobati rasa takut Naina, rasa trauma yang hampir merusak akal sehatnya. Dan selama menjalin hubungan 3 tahun, Samar selalu memperlakukan Naina dengan baik, Samar selalu memberikan apa yang Naina tidak dapatkan dari keluarganya yaitu kasih sayang.
"Tidak semudah itu Bryan."
"Aku hanya minta itu Nai agar kamu baik-baik saja."
"Emangnya kamu melihat kesedihan di wajahku? Lihatlah aku sudah tersenyum manis seperti ini."
"Bibirmu memang tersenyum, tapi tidak dengan hatimu Naina."
"Huft, baiklah aku akan berusaha untuk melupakannya, dasar Bos pemaksa."
Naina menghela napas kasar, tubuh berkeringat Bryan menguarkan aroma feromon yang membuat jangtungnya berdetak cepat, Naina hendak menyingkir namun lengan kekar itu lebih dulu menahannya agar tidak beranjak pergi.
Naina mencengkram pundak Bryan, kalimatnya seperti titah seorang raja yang tidak bisa di bantah. Dengan gerakan lambat Bryan menangkup kedua pipi Naina, semakin mengunci tatapannya, dan Naina benar-benar tenggelam di mata cokelat yang mampu meneduhkan relung sanubarinya.
Bryan merunduk dan mengecup bibir Naina, awalnya hanya sentuhan lembut tetapi saat merasa tidak ada penolakan, Bryan memberanikan diri menyesap manisnya bibir wanita yang ada di pangkuannya.
Sentuhan bibir Bryan membuat seluruh tubuh Naina lemas tidak berdaya, Naina hanya bisa pasrah berada dalam dekapan lengan kekar itu, sembari menikmati rasa nikmat yang ditawarkan oleh Bryan.
Oke, barangkali hawa nafsu memang sudah melenyapkan kewarasan mereka berdua, Bryan semakin memperdalam ciumannya, sementara Naina meremas rambut Bryan, ia semakin kehilangan kendali diri membuatnya mengerang perlahan.
Erangan Naina membuat gairah Bryan semakin meroket, entahlah ciuman membabi buta tanpa teknik yang dilakukan oleh Naina dengan jiwa yang mungkin setengah sadar atau sepenuhnya sadar.
Mabuknya Naina malah memberikan kenikmatan berkali-kali lipat dibanding saat Bryan mencium Elvia dalam keadaan sadar.
Jantung Bryan berdetak cepat, darah berkumpul di titik pusatnya, Bryan mengeluh ingin dipuaskan, Argh... Naina memang gadis nakal yang membuat Bryan kehilangan akal.
Bryan mengakhiri ciumannya agar tidak lepas kendali yang nantinya malah membuat Naina membencinya. Ia menangkup wajah Naina, saling berpandangan dengan mata berkabut.
Naina menarik napas panjang, menghirup aroma feromon dari tubuh Bryan yang membuatnya kembali menginginkan ciuman Bryan lagi.
Dan Naina benar-benar melakukannya, ia berani mencium Bryan, ia tidak sadar bahwa tindakannya membuat gairah Bryan semakin memuncak.
Masih dengan bibir yang menyatu, Bryan meraih tubuh Naina ke dalam gendongannya lalu merebahkan tubuh Naina di atas ranjang, tanpa pikir panjang Bryan mengungkung tubuh seksi Naina di antara tubuh kekarnya, ciuman itupun berlanjut semakin memanas.
Tidak puas hanya mencium bibir, Bryan mulai menjelajah leher jenjang Naina, memberikan gigitan kecil di sana.
Tubuh Naina mengejang, ia mencengkram pundak Bryan dengan sisa tenaga yang ia miliki. Naina merasakan tubuhnya seperti tersengat listrik ribuan volt.
Dengan berani Bryan membuka kancing blouse berwarna putih yang Naina kenakan, ia berhasil melepaskan pakaian Naina dan membuangnya ke sembarang arah. Bryan terpukau melihat tubuh seksi Naina yang sudah tidak mengenakan blouse membuat darahnya berdesir.
Bryan mulai menciumi setiap inch kulit tubuh Naina yang polos tanpa selehai benangpun menempel di tubuhnya. Entah Bryan kerasukan setan apa hingga ia melakukannya bersama Naina dan tidak memikirkan perasaan Elvia sedikitpun.
*Skip*
Bryan menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya yang masih berkeringat walau suhu ruangan sudah sangat dingin mengalahkan dinginnya malam di luar sana.
Mata Bryan menatap Naina yang hendak terjatuh tertidur dengan tubuh basah dan berkeringat, sedangkan pendingin ruangan sudah menyala maksimal di tempat tidur yang basah dan lembab.
Bryan memeluk Naina yang membelakanginya, tangan sebelahnya mengelus kepala Naina dengan sangat lembut.
"Naina, sebelumnya kamu pernah melakukan ini dengan siapa?" tanya Bryan.
Tidak ada bercak darah yang mengotori sprei, maka dari itu Bryan berani bertanya, ia hanya ingin mendengar semua cerita Naina yang mungkin selama bertahun-tahun ia simpan sendirian.
Naina membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Bryan yang sedang berusaha mengorek masa lalu Naina yang hampir membuatnya gila.
"Kenapa kamu bertanya ini? Apa kamu hanya ingin meniduri wanita yang masih perawan saja?"
"Aku hanya bertanya Nai, agar aku tahu semua cerita mengenaimu."
"Kamu tidak perlu tahu masa laluku Bryan, sekarang kamu sudah tahu aibku dan sudah tidur denganku, tunggu apa lagi? Pergi sekarang dan tinggalkan aku."
"Kenapa kamu berbicara seperti ini Naina?" tanya Bryan seraya memegangi pipi Naina yang kembali terlihat pucat.
"Karena dia melakukan hal sama dan pergi meninggalkanku, dia membohongiku, dia menipuku, dia mencampakkan aku begitu saja seperti dia mencampakkan sampah." jawab Naina dengan air mata yang sudah menganak di kedua kelopak matanya.
Hati Bryan seperti di tampar dengan pengakuan Naina, betapa tidak percayanya Bryan dengan seorang laki-laki yang tega menyakiti Naina yang rapuh ini. Bryan melihat kesedihan yang begitu dalam yang tersirat di mata indah Naina.
"Di luar kamu terlihat begitu kuat Nai, tapi aku baru mengetahui ternyata kamu punya sisi lemah yang membuatmu semenyedihkan ini."
"Tidak Naina, aku tidak akan pergi meninggalkan kamu, aku akan terus bersamamu dan terus menjagamu. Aku tidak mempermasalahkan hal itu karena aku mencintaimu apa adanya."
"Ini bukan cinta Bryan, ini hanya nafsu belaka."
"Aku tidak sebodoh itu dalam mengartikan perasaanku sendiri Nai, aku mencintaimu, sangat sangat mencintaimu."
"Bryan kita harus menyelesaikan hubungan kita sampai di sini, kamu harus ingat keberadaan Elvia yang sebentar lagi akan menjadi istrimu."
"Aku tidak bisa dan tidak mau Nai, kita akan terus bersama apapun yang terjadi."
"Bryan, sebelum semuanya menjadi berat kita harus berpikir secara dewasa, aku tidak ingin menjadi simpananmu."
Naina menyibakkan selimut yang menutupi tubuh polosnya, ia memunguti pakaian yang tergeletak di lantai dan berjalan dengan susah payah menuju kamar mandi karena terasa perih di bagian ******nya.
Bryan bangun dan menggendong Naina, membantu mengantarkannya ke kamar mandi untuk membersihkan diri akibat ulahnya selama satu jam yang mungkin menyakiti Naina tanpa sadar.
"Bryan turunkan aku!"
"Aku hanya membantumu yang kesulitan berjalan akibat ulahku."
Bryan menurunkan Naina saat sudah berada di dalam kamar mandi, ia mengambil pakaian yang Naina bawa dan melemparkannya ke keranjang loundry.
"Mike akan mengirimkan pakaian untukmu, sekarang mandilah." ujar Bryan dan menyalakan shower.
Guyuran air shower membuat tubuhnya meluruh, membasahi seluruh kepala dan tubuhnya. Bryan berlalu meninggalkan Naina yang hanya mematung, ia melangkah keluar dan menghubungi Mike.
"Mike kirimkan baju untukku dan untuk Naina beberapa stel, dua jam ke depan baru sampai ya."
"Dua jam terlalu lama Bos, saya bisa sampai dalam waktu 30 menit karena butik langgananmu tidak jauh jaraknya dari hotel."
"Kau membantah perintahku?"
"Oh jadi ini sebuah perintah, baik Bos laksanakan!"
Bryan memutuskan panggilan dan kembali melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
"Eh Bryan, kamu mau apa?" tanya Naina terkejut melihat Bryan kembali masuk.
"Mau mandi bersamamu."
"Bryan sepertinya otakmu sudah mulai menggeser dari tempat semulanya."
"Kamu benar Naina, otakku bergeser karena selalu memikirkan kamu, kamu seperti candu bagiku."
Naina tertawa mendengar candaan Bryan yang menggelitik sampai ke sanubarinya. Ia menyemprotkan air ke arah wajah Bryan hingga masuk mengenai matanya.
Bryan mengejar Naina dan menangkapnya, lalu ia merendamkan tubuh Naina ke dalam bath up dan mendekap tubuh Naina dengan seluruh perasaannya.
Satu jam kemudian, mereka keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan bathrobe. Naina sudah tidak lagi kesulitan dalam berjalan, karena Bryan sudah menyembuhkannya tadi.
Aku mampir
Salam kenal, 💐😄