NovelToon NovelToon
Belenggu Janji Sang Penguasa

Belenggu Janji Sang Penguasa

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Mafia / Tamat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Redblue Vixx

Axel Alexander adalah pemimpin perusahaan raksasa yang dingin, tegas, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Hidupnya berubah saat Ayranza Geovan terpaksa datang padanya demi menyelamatkan usaha keluarga yang terancam bangkrut. Di mata Axel, Ayranza hanyalah tawaran yang mudah dikendalikan. Sampai pertemuan demi pertemuan membangkitkan perasaan yang tak ia inginkan. Di tengah tekanan bisnis dan ambisi besar, Ayranza harus menjaga adik‑adiknya, Angga dan Arshen Geovan, dari bahaya sekaligus melunakkan hati sang penguasa yang dikenal kejam itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redblue Vixx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Pertarungan Besar

Pagi itu langit cerah namun berangin kencang. Sinar matahari menembus tirai jendela kamar Ayranza lebih awal dari biasanya. Ia bangun dengan perasaan campur aduk. Cemas, namun juga lega karena hari yang dinanti sekaligus ditakuti akhirnya tiba. Segala persiapan sudah tuntas, setiap rute dan isyarat sudah dihafal luar kepala.

Di ruang makan, suasana tenang namun penuh kesiapan. Semua anggota keluarga berkumpul untuk sarapan ringan. Tak ada yang bicara banyak, sampai akhirnya Daddy Xavier memecah keheningan.

“Ingat baik‑baik,” ucapnya tegas namun tenang. “Jangan terburu‑buru, jangan terpancing emosi. Biarkan Riccardo yang membuat langkah pertama dan terperangkap sendiri.”

Axel mengangguk sambil menyerahkan secarik kertas kecil pada Ayranza. “Di sini ada pesan sandi darurat. Begitu kau dengar atau baca ini, segera bergerak ke titik aman yang sudah disepakati. Tanpa ragu sedetik pun.”

“Siap,” jawab Ayranza pelan sambil menyelipkan kertas itu ke saku bagian dalam gaunnya.

Tak lama kemudian mereka bergerak berangkat dalam rombongan kendaraan yang tampak biasa saja namun dijaga ketat. Sesuai rencana, Ayranza diantar ke kafe pinggir taman. Tempat yang sudah diketahui diam‑diam sering dikunjungi Giancarlo. Ditemani satu pengawal yang duduk agak jauh. Axel sendiri menunggu di dalam mobil tersembunyi di balik deretan pohon besar tak jauh dari sana.

Tak sampai dua puluh menit, Giancarlo datang sendirian, wajahnya tampak kusut dan gelisah. Ia duduk di meja sudut seolah ingin tak terlihat siapa pun. Ayranza menarik napas panjang lalu berjalan menghampirinya dengan tenang.

“Boleh aku duduk sebentar, Tuan Giancarlo?” tanyanya lembut namun tegas.

Pria itu mendongak terkejut, hendak menolak namun ragu. Akhirnya ia mengangguk pelan. “Silakan. Ada keperluan apa kau mencariku di sini?”

Ayranza duduk berhadapan dengannya, menatap lekat‑lekat. “Kau sudah tahu semuanya, bukan? Rencana Riccardo, bahaya yang mengancam semua orang, termasuk dirimu dan Elena.”

Giancarlo membuang muka, suaranya berat. “Aku tak punya pilihan. Kalau aku mundur sekarang, Riccardo berjanji akan menghancurkan kami sekeluarga lebih dulu.”

“Dia hanya mengancam agar kau tetap patuh,” potong Ayranza cepat namun tetap lembut. “Dia butuh kekayaan dan koneksi kalian. Begitu tujuannya tercapai, kalian pun akan dibuang begitu saja.”

Pria itu terdiam, tangannya meremas cangkir kopi di hadapannya kuat‑kuat. “Lalu apa yang bisa kulakukan? Aku sudah terlanjur terlibat dalam banyak hal buruk.”

“Masih ada jalan keluar,” ucap Ayranza mantap. “Berbaliklah sekarang. Berikan kesaksian jujur, serahkan segala bukti yang kau miliki. Kami jamin perlindungan hukum yang aman bagimu dan Elena. Kalian takkan sendirian menghadapi konsekuensinya.”

Giancarlo menatapnya lama, seolah mencari ketulusan di balik ucapan itu. Ia ingat betapa berubahnya sikap Riccardo belakangan ini. Semakin keras, makin nekat, tak peduli lagi risiko yang menimpa sekutunya. Ia menghela napas panjang, bahunya perlahan kendur.

“Baiklah,” jawabnya pelan namun jelas. “Aku akan bicara. Tapi aku butuh jaminan nyata sekarang juga.”

Belum sempat Ayranza menjawab, terdengar suara deru mesin kencang mendekat. Beberapa mobil berhenti tiba‑tiba memblokir jalan depan kafe. Pintu terbuka lebar, Riccardo turun diikuti belasan orang berwajah garang. Elena ada di sampingnya, tampak ragu namun tetap berjalan mengikuti perintah.

“Tampaknya kalian sedang membicarakan hal penting ya,” ucap Riccardo lantang sambil tersenyum sinis. Matanya tajam menatap bergantian pada Ayranza dan Giancarlo. “Sayang sekali pertemuan manis ini harus berakhir sekarang.”

Di balik pohon, Axel segera memberi isyarat singkat pada timnya yang tersebar. Ia bersiap turun kapan saja.

Giancarlo bangkit berdiri gemetar. “Riccardo… aku… aku hanya bicara sedikit saja.”

“Sudah cukup!” potong Riccardo dingin. Ia memberi isyarat pada anak buahnya. “Amankan mereka berdua. Kita bawa ke tempat aman sampai urusan selesai.”

Dua orang bergegas maju mendekati meja Ayranza dan Giancarlo. Namun saat mereka baru berjarak beberapa langkah, terdengar suara peluit tajam bersahutan dari segala arah. Belasan orang berseragam dan berpakaian preman yang menyamar serentak keluar dari balik kendaraan, gedung, dan pepohonan. Semua bagian tim Axel dan Leonardo.

Riccardo terkejut luar biasa. Ia mundur selangkah, tangannya langsung meraih Elena di sampingnya. “Ini jebakan!” serunya geram. “Mundur dan lawan!”

Pertarungan pendek namun sengit tak terelakkan di halaman depan kafe. Teriakan, benturan benda keras, dan suara peringatan bercampur baur. Giancarlo segera berlari mendekati barisan Axel yang maju melindungi mereka. Ayranza mundur perlahan menjauh dari kerumunan, dijaga ketat dua petugas keamanan.

Di tengah kekacauan itu, Riccardo berusaha kabur lewat gang sempit sambil menyeret Elena yang mulai menangis ketakutan. Namun di ujung gang, Axel sudah berdiri tegak menghadang. Wajahnya dingin, tak ada lagi amarah melainkan tekad bulat.

“Sudah habis waktumu, Riccardo,” ucapnya pelan namun tegas. “Tak ada jalan lari lagi.”

Riccardo mendengus kasar sambil mendorong Elena ke depan seolah menjadikan gadis itu perisai. “Minggir! Atau aku sakiti dia sekarang juga!”

Elena menjerit pelan, menoleh ke arah Axel memohon. “Tolong aku… aku tak mau begini lagi!”

Tanpa pikir panjang, Axel maju selangkah cepat sekaligus menendang tepat mengenai tangan Riccardo yang memegang Elena. Pria itu meringis kesakitan dan melepaskan cengkeramannya seketika. Elena segera berlari menjauh ke tempat aman. Riccardo mencoba menyerang balik, namun gerakannya tak secepat dan sekuat Axel. Beberapa kali hantaman meleset, hingga akhirnya Axel berhasil menjatuhkannya ke tanah dan menahan geraknya rapat sampai petugas berwenang datang mengamankan.

“Kau takkan pernah mengerti rasanya kehilangan hak waris dan keluarga,” geram Riccardo masih berusaha melawan saat kedua tangannya diborgol.

Axel berjongkok sebentar di sampingnya, menatap tajam namun tenang. “Aku mengerti rasa kehilangan. Tapi cara membalas dendammu salah besar. Kejahatan takkan pernah melahirkan keadilan.”

Tak lama kemudian kendaraan berpenumpang petugas berwenang tiba dan membawa Riccardo serta anak buahnya pergi. Giancarlo dan Elena pun dibawa terpisah untuk memberikan kesaksian lengkap guna memperoleh perlindungan hukum yang dijanjikan.

Kekacauan perlahan mereda. Warga sekitar yang semula panik mulai berani keluar kembali, berbisik‑bisik melihat kejadian besar itu. Leonardo segera menghampiri Axel dan Ayranza yang sudah berkumpul kembali di pinggir taman.

“Semua aman, Tuan,” lapornya napas terengah namun lega. “Bukti lengkap sudah diserahkan, saksi‑saksi siap bersaksi. Kasus ini kuat sekali.”

Axel mengangguk puas lalu berbalik menatap Ayranza yang tampak sedikit lelah namun tenang. Ia meraih tangan gadis itu lembut.

“Kau baik‑baik saja?”

“Ya,” jawab Ayranza sambil tersenyum tulus, senyum lega yang sudah lama tertahan. “Semuanya berjalan baik berkat persiapan kita bersama.”

Sore itu, saat mereka kembali ke kediaman Alexander, seluruh keluarga menyambut dengan rasa bahagia luar biasa. Arshen berlari menghampiri Ayranza dan memeluknya erat, diikuti Angga yang tersenyum bangga. Mommy Xena dan Daddy Xavier saling pandang lega, beban berat di pundak mereka akhirnya terangkat tuntas.

Malam harinya, setelah semua tenang dan aman sepenuhnya, Axel dan Ayranza kembali duduk berdua di balkon belakang rumah tempat mereka sering berbicara dulu. Angin berhembus lembut membawa aroma bunga mawar yang mekar indah di taman.

“Sudah berakhir ya,” gumam Ayranza pelan menatap langit berbintang.

Axel duduk di sebelahnya, merapatkan bahu sedikit. “Ya. Ancaman Riccardo lenyap, rahasia masa lalu terbuka jelas, tak ada lagi bahaya besar mengintai.” Ia berhenti sejenak lalu menambahkan lembut, “Dan tak ada lagi kontrak, tak ada lagi kewajiban semu.”

Ayranza menoleh menatapnya, jantungnya berdebar halus namun kali ini penuh rasa bahagia. “Lalu apa selanjutnya bagi kita?”

Axel menggenggam tangannya erat, sorot matanya penuh ketulusan yang tak bisa disembunyikan lagi.

“Selanjutnya kita jalani hidup seperti keluarga sesungguhnya. Bersama‑sama, saling menjaga, dan membangun masa depan baru yang damai dan bahagia.”

Di kejauhan, lampu‑lampu kota Milan berkelap‑kelip indah seolah turut merayakan kemenangan mereka. Perjalanan panjang penuh bahaya dan rahasia besar akhirnya sampai di ujung yang indah. Namun di hati mereka berdua, cerita cinta dan persatuan yang tumbuh di tengah badai baru saja dimulai sepenuhnya.

 

1
KZ2
Kenapa yang Black Eagle di hapus?
KZ2: Siap beb👍🏻
total 2 replies
Fahri Purba
smangt bossqueee.
Fahri Purba
mkanya jjur kw xavier biar gk lari binimu.
Murni Caem
🌟🌟🌟🌟🌟
Murni Caem
jahat x ferguso eh salah fabrizio ini anak² pun diracuni.
Jhony
tor cpetan hlangkan sih cindy, gedek liatny.😡
Jhony
good job👍👍
ShyLvia
smbg amat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!