NovelToon NovelToon
Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

"Aku membiarkan diriku ditangkap oleh hukum, hanya agar aku bisa tetap berada di dalam duniamu."

....

Herry adalah kapten tim elit kepolisian Seoul yang dingin, kaku, dan menganggap dunia hanya sebatas hitam dan putih. Baginya, Marysa ratu mafia termuda yang kejam hanyalah target besar yang harus dia seret ke balik jeruji besi.

Namun, di balik borgol dan dinding penjara yang dingin, sebuah rahasia berdarah lima tahun lalu di Pelabuhan Incheon terkunci rapat. Marysa mengingat semuanya termasuk bagaimana dia mengorbankan segalanya demi menyelamatkan nyawa Herry. Sementara Herry? Amnesia pascatrauma menghapus seluruh eksistensi Marysa dari kepalanya, menyisakan tatapan asing yang penuh kebencian.

Di saat Marysa rela menerima semua siksaan penjara asalkan bisa berada di bawah langit yang sama dengan Herry, sebuah kabar menghantamnya tanpa ampun, Herry akan bertunangan dengan wanita lain.

...

apa yang difikirkan Marysa? Kabur? atau memilih dieksekusi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Saya Ikhlas

...

Suasana di dalam rumah kecil beratap seng itu mendadak mendingin, diselimuti oleh aura ketegasan yang tak kasat mata namun mengimpit udara. Tania berdiri tegak di samping kasur busa tipis tempat ayah Rangga berbaring. Matanya yang sipit menyapu kondisi pria tua yang ringkih itu sekali lagi sebelum dia menoleh ke arah Rangga.

"Cari taksi. Sekarang," ucap Tania. Suaranya pelan, rendah, dan kaku, namun getaran di dalam nadanya membawa otoritas mutlak yang sama sekali tidak menerima bantahan.

Rangga yang masih dilingkupi rasa bingung dan syok mendadak kehilangan argumennya. Tanpa banyak bertanya lagi, pria jangkung itu langsung menurut. Dia berbalik dan segera berlari keluar menembus kegelapan gang buntu demi mencari taksi yang masih beroperasi di tengah malam buta yang biasa mangkal dikucingan pinggir jalan.

Tidak butuh waktu lama hingga sebuah sedan biru tua berhenti di depan mulut gang. Proses memindahkan tubuh ayah Rangga berlangsung dalam kesunyian yang mencekam.

Di dalam kabin taksi yang sempit dan berbau pengharum ruangan jeruk yang menyengat, Tania duduk di kursi depan, bersedekap dada dengan pandangan lurus menembus kaca jendela yang buram oleh embun malam. Sementara di kursi belakang, Rangga sibuk menopang tubuh kurus ayahnya yang sesekali melenguh lemah akibat stroke.

Di sela-sela kepanikannya, sepasang mata sipit Rangga terus bergerak maju, mencuri pandang ke arah profil samping wajah Tania melalui kaca spion tengah.

Hati pria playboy itu mendadak berdesir hangat. Sebuah sensasi asing yang terasa begitu ganjil sekaligus melembutkan egonya yang keras selama ini. Rasanya aneh, batin Rangga, meremas pelan selimut usang ayahnya. Masa iya, seorang pria jalanan yang biasanya menaklukkan wanita malah dibantu secara total oleh wanita yang baru dia kenal? Harga diri Rangga sebagai laki-laki sedikit terusik, namun rasa syukurnya jauh lebih besar. Dia mulai memutar otak, memikirkan cara apa pun yang legal agar kelak dia tidak membebani kehidupan Tania yang dia kira juga sedang kesusahan.

Begitu ban taksi berdecit di lobi drop-off sebuah rumah sakit swasta daerah Jakarta, Tania langsung mengambil kendali situasi. Begitu pintu terbuka, beberapa perawat dengan sigap mendorong brankar besi mendekat.

"Ikut perawat itu ke ruang IGD. Jaga ayahmu," perintah Tania pada Rangga, nadanya datar namun efisien. "Saya yang akan mengurus bagian administrasi."

Rangga hanya bisa mengangguk pasrah, melangkah setengah berlari mengikuti brankar yang didorong cepat membelah selasar rumah sakit.

Tania membalikkan tubuhnya, melangkah perlahan menuju lorong putih yang sepi di dekat mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Dia merogoh saku kemeja flanelnya, mengeluarkan ponselnya yang layarnya sengaja digelapkan. Jari-jarinya yang ramping mengetik sebuah pesan singkat dalam kode enkripsi tingkat tinggi yang hanya dimengerti oleh klan bawah tanahnya.

Dia memerintahkan satu orang bawahannya yang ada di Jakarta untuk segera datang ke rumah sakit ini dalam waktu lima belas menit dengan membawa tas berisi uang tunai cash.

Tania tahu betul cara kerja pelacakan internasional. Jika dia menggunakan kartu kredit hitam black cardnya atau melakukan transfer antar-bank dari rekening rahasianya, gelombang sinyal digital itu akan langsung mendeteksi lokasinya dan menyalakan alarm merah di komputer Kapten Herry di Seoul. Menggunakan uang tunai adalah cara paling aman untuk tetap berada di bawah radar.

Tepat lima belas menit kemudian, seorang pria berjaket bomber hitam dengan topi rendah berjalan melewati lobi, menaruh sebuah tas jinjing kanvas tebal bermotif batik di atas kursi tunggu kosong di samping Tania tanpa sepatah kata pun, lalu pergi menghilang di kegelapan parkiran.

Tania membawa tas itu ke meja administrasi, menyelesaikan seluruh biaya jaminan awal pemesanan kamar VIP dan penanganan darurat tanpa berkedip.

Ketika dia kembali ke area IGD, dia menemukan Rangga sedang duduk menyandar di dinding lorong dengan wajah kusam. Tania mendekat, menjatuhkan tubuhnya di kursi plastik sebelah pria itu.

"Biaya awal administrasi sudah lunas. Saya menggunakan uang tabungan saya," kata Tania kaku, memberikan alibi yang logis. "Ayahmu akan segera dipindahkan ke ruang perawatan intensif untuk mulai terapi."

...

Tidak teras dua jam berlalu. ketika kondisi sang ayah sudah dinyatakan stabil di dalam ruang rawat, Rangga mengajak Tania naik ke area taman rooftop yang ada di lantai teratas rumah sakit untuk mencari udara segar. Angin malam yang agak kencang, menerbangkan ujung rambut cokelat pendek sebahunya Tania.

"Neng... aku bener-bener gak tahu harus ngomong apa lagi," Rangga membuka suara, berdiri di samping pembatas pagar pembatas beton. Dia menatap Tania dengan tatapan yang dipenuhi rasa emosional yang mendalam. "Uang tabunganmu pasti habis bener buat ini. Aku bersumpah, Neng, bakal berusaha kerja rodi buat ganti semua uangmu. Gak bakal tak cicil lama-lama."

Tania menatap lurus ke arah keremangan lampu kota di bawah mereka. Wajah pucatnya tampak sangat kaku saat dia menjawab, "Itu ikhlas. Jangan dipikirkan."

Mendengar kata 'ikhlas' yang diucapkan dengan intonasi sekaku robot itu justru membuat sudut bibir Rangga berkedut menahan senyum hangat. Tekad di dalam dadanya justru semakin mengeras. Gak peduli seberapa dingin kamu, Neng, aku bakal berusaha membahagiakanmu. bakal ganti semua kebaikan ini, batin Rangga dengan pipi yang mendadak merona merah samar di bawah kegelapan malam.

Rangga kemudian berdehem, mencoba mengalihkan rasa canggungnya. Dia menatap Tania dengan rasa penasaran yang sudah lama mengendap di kepalanya. "Tapi, Neng... aku boleh tanya sesuatu gak? Kenapa sih kamu mau sedekat ini dan bahkan bantu keluargaku? Padahal kamu tahu sendiri kan kalau aku ini playboy bajingan di pasar? Semua orang tahu ini."

Tania memalingkan wajahnya sedikit, menatap sepasang mata sipit Rangga dengan manik mata kelamnya yang pekat oleh kehampaan masa lalu.

"Saya tidak pilih-pilih teman," jawab Tania, suaranya terdengar sangat polos namun memiliki ketajaman yang datar. "Dan di mata saya, kamu... terlihat seperti orang yang baik. Kamu merawat ayahmu yang sakit meskipun kamu memiliki sikap yang buruk. Maksud saya sikap yang playboy itu. Tapi saya tidak peduli dengan status atau apa pun yang dikatakan orang tentang dirimu."

Di dunia bawah tanah klan mafia, reputasi dibangun di atas tumpukan mayat dan pengkhianatan. Dibandingkan dengan para monster berjas mahal di Seoul yang pandai menusuk dari belakang, seorang playboy jalanan seperti Rangga yang masih memiliki hati untuk menangis demi ayahnya yang lumpuh terasa jauh lebih terhormat di mata Marysa.

Rangga tertegun, dadanya bergemuruh oleh rasa haru yang belum pernah dia dapatkan dari wanita mana pun selama hidupnya. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menyembunyikan wajahnya yang kian memerah padam.

"Y-ya... Aku juga sama, Neng," balas Rangga terbata-bata, suaranya melunak drastis. "Aku berteman dan dekat sama kamu juga murni karena keinginanku sendiri. Aku gak mandang kamu ini orang asing, kaku, atau tukang sapu jalanan. Aku cuma... pengen ada di dekatmu aja."

Pupil matanya sedikit melebar. Apakah jika Rangga tahu siapa dirinya yang sebenarnya, masih maukah dekat dengan dirinya? Tania tidak membalas ucapan itu. Memilih untuk diam. Dia kembali menatap lurus ke depan, menikmati keheningan malam yang terasa lambat berjalan. Namun, di dalam rongga dadanya, sebersit rasa aman yang ganjil perlahan mulai mekar, mengikis sisa-sisa trauma dari dinginnya sel penjara Cheongju.

...

Sementara itu, di dalam kabin pesawat jet pribadi militer yang sedang membelah awan hitam di atas samudra menuju wilayah selatan, atmosfer terasa sangat sunyi dan dingin.

Kapten Herry duduk di kursi kulitnya yang empuk, menopang dagunya dengan satu tangan sementara matanya menatap kosong ke arah kegelapan di luar jendela pesawat. Di seberang lorong kabin, Jessica Hwang Won sudah tertidur lelap dengan selimut bulu yang menutupi tubuh anggunnya.

Pikiran Herry benar-benar campur aduk seperti benang kusut yang mustahil untuk diurai. Setiap kali pesawat berguncang akibat turbulensi ringan, jantungnya berdegup kencang, memicu kilasan-kilasan memori samar yang memusingkan kepalanya. Sifat dinginnya kini berbenturan hebat dengan keresahan emosional yang mendalam.

Dia sedang menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang sama sekali tidak memiliki korelasi dengan masa lalunya, namun insting liarnya terus-menerus meneriakkan bahwa di sanalah jawaban atas hilangnya Marysa.

Herry mencengkeram erat lencana kepolisian di dalam saku mantelnya. Begitu roda pesawat menyentuh aspal Jakarta esok hari, dia tidak akan berhenti sebelum menemukan ujung dari benang merah yang mengikat takdirnya dengan sang ratu mafia.

...

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like nya 😇

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like nya 😇

1
falea sezi
sebel liat kapten sok ganteng gk tau diri😒
falea sezi
moga aja ma rangga aja
falea sezi
gantengnya mas rangga🤣 ma rangga aja lahh biar miskin bukan tunangan orang yg gk tau Terima kasih😒
falea sezi
lanjut donk bkin si neng di taksir cogan 😒 sebel liat polisi sok cakep uda nikah aja ma anak komandan mu itu🤣 abis itu ingatan balik nyesel lu pria g tau diri🤭
falea sezi
nikah aja sana 😒 biar si neng ma cogan di Indonesia aja🤭
falea sezi
😕 nyesek amat sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!