NovelToon NovelToon
Hantu Magang

Hantu Magang

Status: tamat
Genre:Hantu / Misteri / Horor / Tamat
Popularitas:842
Nilai: 5
Nama Author: Denny Priyanto

Bara, hantu pemula dengan nilai pas-pasan, mendapat tugas akhir: meneror penghuni apartemen dalam 30 hari atau turun derajat jadi hantu kelas teri. Masalahnya, korbannya adalah Dinda, content creator horor yang skeptis dan malah mengkritik teknik menakut-nakuti Bara karena "kurang estetik".

Di tengah tekanan KPI dari supervisor hantu yang toksik dan tuntutan algoritma media sosial, Bara justru terjebak menjadi asisten pribadi Dinda. Akankah Bara berhasil menyelesaikan magangnya, atau malah gagal total karena terlalu asyik berdebat soal lighting dan angle kamera?

Sebuah komedi horor segar tentang hantu yang takut PHK dan manusia yang takut unfollow.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Napas Gunung Api

Kereta Argo Lawu melaju membelah malam Jawa, meninggalkan hiruk-pikuk Jakarta di belakang. Di dalam gerbong eksekutif yang sepi, Dinda menatap keluar jendela. Pantulan wajahnya sendiri tampak samar di kaca, tumpang tindih dengan kilatan lampu-lampu desa yang berlalu cepat seperti kunang-kunang raksasa.

Di pangkuannya, pouch peredam terasa hangat. Mata Barong Hitam seolah tahu ke mana mereka pergi. Semakin dekat mereka dengan Yogyakarta, semakin kuat denyutan benda itu. Bukan lagi bisikan, melainkan getaran rendah yang beresonansi dengan tulang-tulang Dinda.

Bara duduk di seberangnya, jari-jarinya menari cepat di atas keyboard laptop yang terhubung dengan clipboard modifikasinya. Layarnya menampilkan peta topografi Gunung Merapi dan analisis pola energi geomagnetik.

"Data satelit menunjukkan anomali panas yang tidak wajar di kawah Merapi," lapor Bara tanpa mengangkat kepala. "Suhu permukaan meningkat 0,5 derajat dalam 24 jam terakhir. BMKG menyebutnya aktivitas vulkanik normal, tapi algoritma aku mendeteksi pola pulsa yang teratur. Seperti detak jantung."

"Detak jantung Jantung Rangda," gumam Dinda.

Mbak Siti duduk di samping Dinda, matanya tertutup. Wajahnya masih pucat, namun transparansinya sudah mulai memudar, menandakan energinya perlahan pulih berkat jarak dari pusat gangguan di Jakarta.

"Merapi bukan sekadar gunung," kata Siti pelan, suaranya terdengar seperti angin yang menyusup lewat celah pintu. "Bagi masyarakat Jawa, Merapi adalah poros spiritual. Di sanalah batas antara dunia nyata dan alam gaib paling tipis. Jika Tuan Arus ingin membangkitkan aspek Perusak (Rangda), dia butuh energi kemarahan bumi. Dan Merapi adalah sumber kemarahan terbesar di pulau ini."

Dinda mengerutkan kening. "Jadi, kita harus masuk ke kawasan larangan? Ke area yang bahkan pendaki profesional pun dilarang mendekati?"

"Bukan hanya masuk," koreksi Bara, akhirnya menatap Dinda. "Kita harus turun ke kedalaman tertentu. Berdasarkan pembacaan energi, sumber sinyal bukan di puncak, tapi di sisi barat daya lereng. Ada sebuah gua tua yang tidak tercatat di peta wisata. Gua Larung."

"Gua Larung..." ulang Dinda. Namanya terdengar asing, namun memicu rasa deja vu yang aneh di benaknya.

 

Mereka tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta saat fajar mulai menyingsing. Langit berwarna ungu kemerahan, kontras dengan siluet Gunung Merapi yang menjulang gagah di kejauhan, diselimuti awan putih tebal. Udara di Yogyakarta terasa berbeda—lebih berat, lebih purba, dan sarat dengan sejarah.

Mereka tidak langsung menuju gunung. Pertama-tama, mereka perlu informasi lokal. Bara mengarahkan mereka ke sebuah warung kopi tua di daerah Kaliurang, dekat kaki gunung. Pemilik warung, seorang kakek bernama Mbah Joyo, dikenal sebagai penjaga cerita-cerita lama yang jarang didengar turis.

Saat mereka duduk di meja kayu jati yang licin, Mbah Joyo datang membawa tiga gelas kopi hitam pekat. Matanya yang keriput menatap tajam pada Dinda, lalu bergeser ke arah tas ransel tempat Mata Barong disimpan.

"Kalian membawa barang panas," kata Mbah Joyo datar, tanpa basa-basi.

Dinda terkejut. "Mbah tahu?"

Mbah Joyo tersenyum tipis, menunjukkan gigi-giginya yang sudah ompong beberapa buah. "Angin dari utara membawa bau ozon dan ketakutan. Dan tanah di sini bergetar sejak semalam. Bukan karena magma, Nak. Tapi karena sesuatu yang bangkit dari tidur panjangnya."

Ia duduk di kursi kosong, melipat tangan di atas meja. "Kalian mencari Gua Larung, bukan?"

Bara dan Dinda bertukar pandang. Bagaimana orang tua ini bisa menebak tujuan mereka?

"Aku tidak buta," lanjut Mbah Joyo. "Banyak orang datang ke sini dengan niat buruk akhir-akhir ini. Pria-pria berpakaian rapi, mobil-mobil hitam, membawa alat-alat aneh. Mereka bertanya tentang 'jantung api'. Mereka tidak hormat pada gunung. Mereka hanya ingin mengambil."

"Tuan Arus," desis Dinda.

Mbah Joyo mengangguk. "Mereka sudah naik tadi pagi. Menggunakan jalur tikus yang hanya diketahui oleh para penambang ilegal zaman dulu. Mereka punya pemandu... seseorang yang mengenal medan, tapi hatinya telah dijual."

Dinda merasa dingin menjalar di punggungnya. "Siapa pemandunya?"

Mbah Joyo menghela napas panjang. "Namanya Pak Haris. Dulu dia adalah juru kunci merapi yang jujur. Tapi setelah anaknya sakit parah dan butuh biaya operasi besar, dia menerima tawaran dari kelompok itu. Sekarang, dia menjadi mata dan telinga mereka di gunung."

"Apakah masih ada harapan untuk mengubah pikirannya?" tanya Kila (yang dalam skenario ini digantikan oleh keteguhan Dinda).

"Sulit," jawab Mbah Joyo. "Rasa takut akan kehilangan anak bisa membuat manusia melakukan hal-hal gila. Tapi... ada satu hal yang mungkin bisa menggugah hatinya. Ingatkan dia pada 'Sumpah Batu'. Sumpah yang ia ucapkan saat pertama kali diangkat menjadi juru kunci."

Dinda mencatat nama itu di buku kecilnya. "Terima kasih, Mbah."

"Makanlah kopimu," kata Mbah Joyo sambil berdiri. "Gunung tidak menunggu. Dan ingat, di Merapi, yang paling berbahaya bukan laharnya, tapi ilusi yang diciptakan oleh roh-roh penjaga. Jangan percaya apa yang kau lihat jika hatimu ragu."

 

Perjalanan menuju basecamp pendakian dilakukan dengan menggunakan sepeda motor sewaan. Jalanan menanjak berkelok-kelok, diapit oleh hutan pinus yang lebat. Semakin tinggi mereka naik, udara semakin tipis dan dingin. Kabut mulai turun, mengurangi visibilitas hingga hanya beberapa meter di depan.

Di pos pemeriksaan terakhir sebelum zona larangan, mereka melihat sebuah mobil SUV hitam parkir di pinggir jalan. Beberapa pria berseragam taktis sedang memeriksa peralatan. Itu adalah anak buah Tuan Arus.

"Kita tidak bisa lewat sana," bisik Bara. "Mereka pasti akan mengenali kita dari data biometrik."

Mbak Siti menunjuk ke arah hutan lebat di sebelah kiri jalan. "Ada jalur lama. Jalur pemburu. Curam dan berbahaya, tapi tidak dipantau."

Mereka memarkir motor di balik semak-semak dan mulai mendaki melalui jalur off-road itu. Tanjakan sangat curam, dipenuhi akar pohon dan batu licin berlumut. Dinda hampir terpeleset beberapa kali, namun Bara selalu siap menangkapnya.

Setelah dua jam mendaki yang melelahkan, mereka akhirnya mencapai bibir tebing yang menghadap ke lembah di sisi barat daya. Di bawah sana, tersembunyi di balik pepohonan raksasa, terlihat mulut gua yang gelap. Asap tipis keluar dari dalamnya, bukan asap vulkanik, tapi asap berwarna keunguan yang berbau belerang manis.

"Itu dia," kata Bara, mengecek clipboard-nya. "Sinyal energi sangat kuat dari dalam sana."

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah mulut gua. Seorang pria paruh baya dengan wajah lelah dan mata cekung muncul. Dia mengenakan jaket hijau lusuh dan membawa tongkat kayu. Itu Pak Haris.

Dia tidak sendirian. Dua pengawal Tuan Arus berdiri di belakangnya, tangan mereka siap di sarung senjata.

Pak Haris menatap ke arah semak-semak tempat Dinda dan teman-temannya bersembunyi. Tatapannya kosong, namun ada kesedihan mendalam di sana.

"Keluarlah," panggil Pak Haris suaranya serak. "Aku tahu kalian di sana. Tuan Arus sudah memperkirakan kedatangan kalian."

Dinda, Bara, dan Mbak Siti saling pandang. Mereka terjebak. Namun, Dinda mengingat pesan Mbah Joyo.

Ia melangkah keluar dari persembunyian, mengangkat kedua tangannya untuk menunjukkan ia tidak bersenjata.

"Pak Haris!" seru Dinda. "Ingat Sumpah Batu! Ingat janji Anda pada gunung ini!"

Wajah Pak Haris berubah. Matanya melebar, seolah tersambar petir. Ia menatap Dinda dengan kebingungan, lalu kemarahan, dan akhirnya... penyesalan.

"Sumpah..." gumam Pak Haris. "Aku bersumpah... untuk menjaga, bukan merusak."

Salah satu pengawal Tuan Arus menggerutu. "Hei, tua! Jangan dengarkan dia. Tembak saja."

Tapi Pak Haris tiba-tiba memutar tubuhnya, menghadap kedua pengawal itu. Dengan kecepatan yang mengejutkan untuk seorang pria tua, ia menghantamkan tongkat kayunya ke lutut salah satu pengawal, lalu mendorong pengawal lainnya ke arah tebing curam di samping gua.

"Lari!" teriak Pak Haris pada Dinda. "Masuk ke dalam gua! Jantung Rangda sudah hampir sepenuhnya terbangun! Tuan Arus sedang melakukan ritual di ruang utama!"

Dinda tidak membuang waktu. Ia, Bara, dan Mbak Siti berlari menerobos masuk ke dalam mulut Gua Larung. Di belakang mereka, terdengar suara tembakan pistol, namun Pak Haris sudah menutup pintu masuk gua dengan mekanisme batu rahasia yang hanya dia ketahui.

Kegelapan total menyelimuti mereka. Namun, dari kedalaman gua, terdengar cahaya merah darah yang berdenyut-denyut, disertai dengan suara nyanyian mantra yang mengerikan.

Ritual telah dimulai. Dan mereka terlambat beberapa menit.

1
Ita Xiaomi
Selamat ya Bara lulus dgn Cum Laude
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Mbak Yuli bakalan viral🤣
Ita Xiaomi
Benar-benar memanfaatkan 🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Berbenah demi ndak dengar Pak Broto ngereog🤣
Ita Xiaomi
Dunia gaib seheboh dunia nyata😁
Ita Xiaomi
Salut ama Bara👍👍👍
Ita Xiaomi
Bara, aku tinggal di Kalimantan loh😁
Ita Xiaomi
Sama-sama ngejar Deadline. Dinda yg lebih mendesak Deadlinenya😁
Ita Xiaomi
Ekspresi Dinda lebih menyeramkan🤣
Putri Ayu/PqxxyZ
mari mampir dicerita ku juga ya kak 😊..
Denns: terimakasih support nya Kaka ;)
Baik Kaka Cantik ssiap.
total 2 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
wah keren nih ceritanya kak...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!