Hanya cerita fiksi
Tidak terkait dengan agama manapun
maaf jika ada yang kurang berkenan 🙏
Bella Amanda awalnya adalah gadis cantik yang begitu periang. Tapi sikapnya lambat laun berubah ketika orang-orang membandingkan dirinya dengan adiknya sendiri yang katanya lebih cantik, lebih pintar dan lebih segala-galanya.
Bukan hanya itu Bella juga harus menelan pil pahit saat suaminya dengan tega bermain belakang dengan Belinda, adiknya sendiri dan diharuskan menikah.
Sanggupkah Bella tetap bertahan dengan pernikahannya atau memilih menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon airarahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pisah Rumah
"Tidak sayang… jangan katakan itu… sampai kapan pun Mas gak akan ijinkan kamu pergi dari sisi Mas” ucap Erlan dengan frustasi.
“Apa perlu mas berpisah dari Belinda ?” lanjutnya.
“Mas.. bukan itu akar masalahnya. Walau mas berpisah dengan Belinda pun tidak akan bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Aku tidak bisa kembali bersama mu dengan kesalahan yang sudah kamu perbuat. Aku tidak bisa mas. Selamanya aku akan mengingat penghianatan mu. Aku bukan wanita sebaik itu yang bisa dengan mudah memaafkan. Maaf mas… Aku tidak bisa lagi… Aku menyerah mas” jawab Bella dengan terisak.
Fraya yang mendengar pertengkaran itu masuk ke dalam kamar.
“Erlan, lebih baik kamu keluar dulu. Biarkan Bella menenangkan dirinya. Elea juga sedang sakit” ucap Fraya menengahi pertengkaran itu.
Erlan tetap ditempatnya, berlutut di kaki Bella.
“Maafkan Mas, Bell. Saat itu mas tidak sadar Bella. Mas mabuk” jelas Erlan penuh mohon.
“Kamu mabuk karena apa? Karena kamu bingung kan mas sama perasaan kamu? Karena kamu bingung memilih aku atau Belinda” ucap Bella mengemukakan fakta. Fakta bahwa memang itulah penyebab Erlan mabuk.
“Maafkan Mas sayang… Mas menyesal” Erlan tidak bisa menjawab selain meminta maaf karena memang dia bersalah.
Tapi Bella sudah sangat kecewa, dia tidak bisa lagi memaafkan kesalahan yang Erlan perbuat karena menurutnya kesalahan itu sudah sangat fatal.
“Aku ingin beristirahat mas, lebih baik mas keluar dari kamarku” mohon Bella. Dia bahkan mengatupkan tangannya saat mengatakan itu.
Melihat kesedihan di mata Bella membuat Erlan terpaksa menurutinya.
“Pokoknya mas gak mau dengar kata perpisahan” ucap Erlan sebelum meninggalkan kamar itu.
Bella menghela nafas berkali kali. Rasa sesak itu selalu menekan dadanya dan terasa sangat menyakitkan.
"Apa yang harus aku lakukan tante?" tanya Bella pada Fraya yang masih berdiri disana.
Fraya mendekat pada Bella dan lansung memeluknya. Dari dulu mereka memang sangat dekat. Fraya adalah tempat Bella berkeluh kesah dan mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya. Hanya pada Fraya , Bella bisa jujur.
"Tinggallah dulu di tempat tante untuk sementara. Sampai kamu bisa memilih mau lanjut atau berpisah. Pikirkan juga bagaimana nasib Elea kedepannya bila kamu berpisah" ucap Fraya memberi saran.
Bella mencerna setiap kata yang keluar dari mulut tantenya itu.
Memang dia harus memikirkan ini baik-baik karena sesuatu yang diputuskan dengan emosi tidak akan berakhir baik.
...
Setelah menunggu kondisi Elea membaik, Bella mengajak putrinya untuk tinggal di rumah Fraya. Semua pakaian dan perlengkapan Elea sudah dia siapkan di dalam koper. Bahkan suster pun diajak. Bella benar-benar membutuhkan waktu untuk berpikir.
Melihat Bella yang turun dengan menggendong Elea dan suster dibelakangnya membawa 2 koper besar membuat Erlan seketika berdiri.
Dengan tergesa dia menghampiri anak dan istrinya.
"Mau kemana kamu Bella?" tanya Erlan dengan nada penuh penekanan.
Bukan Bella yang menjawab, tapi Fraya yang baru saja tiba langsung menjawab pertanyaan Erlan.
"Berikan Bella waktu untuk berpikir Lan. Istrimu bisa stress kalau dia masih disini. Apapun keputusannya kamu harus terima" jawab Fraya.
"Tidak tante, aku tidak akan membiarkan istri dan anak ku pergi" ucap Erlan yang sudah diliputi kecemasan.
"Kamu jangan egois Erlan" sahut Fraya sudah dengan emosi.
"Tante bagaimana bisa aku membiarkan anak dan istri yang begitu aku cintai pergi dari ku tante. Aku tidak akan sanggup" ucap Erlan yang sudah meninggikan suaranya.
Bella yang mendengar itu sungguh ingin tertawa. Erlan berkata seolah olah memang mencintai dirinya, padahal dia sendiri telah berselingkuh dengan Belinda.
Daniel yang mendengar pertengkaran itu pun mendekat.
"Biarkan Bella pergi Lan, dia perlu waktu untuk berpikir. Semoga setelah sedikit tenang dia bisa mendapatkan keputusan yang paling tepat" ucap Daniel menengahi.
Erlan tidak bisa berkutik mendengar perkataan mertuanya, tapi dia tidak rela kalau Bella dan anaknya pergi dari rumah ini.
"Bella, mas mohon. Jangan pergi ya" mohon Erlan lagi.
Bella menggeleng.
"Maaf mas, keputusanku sudah bulat. Aku ingin mencari suasana baru agar aku bisa berpikiran jernih tentang kelanjutan hubungan kita" ucap Bella tegas.
Erlan meraup wajahnya kasar.
"Oke..mas ijinkan kamu pergi. Tapi mas tidak akan pernah mau untuk bercerai" ucap Erlan kukuh.
...
Malam harinya, Erlan duduk bersandar di tempat tidur. Belinda masih di kamar mandi untuk melakukan ritual malamnya.
Saat keluar, dia sudah memakai pakaian dinasnya. Baju segsih berwarna merah menyala yang menerawang tipis hingga memperlihatkan tubuhnya yang begitu indah.
Erlan yang hatinya sangat kacau tidak menoleh ke arah Belinda sedikit pun. Dia masih memikirkan bagaimana keadaan anak dan istrinya di rumah Fraya.
Tapi bukan Belinda namanya bila langsung menyerah. Tanpa di duga dia langsung naik ke atas pangkuan Erlan.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Erlan terkejut.
"Membuat suamiku kembali ceria" jawab Belinda dengan tersenyum begitu manis.
Belinda bahkan mengelus elus kepemilikan suaminya yang masih tertidur, tak berhenti disana dia kemudian membuka pakaian Erlan dengan perlahan.
Belinda mulai memberikan rangsangan pada tubuh Erlan.
Awalnya Erlan tidak merespon , tapi mendapat serangan yang terus menerus dari Belinda membuat Erlan luluh juga.
Melihat suaminya yang sudah tidak ada penolakan membuat Belinda kemudian mencium bibir suaminya dengan begitu liarnya.
Cum bu an yang diberikan Belinda membuat Erlan dimabuk kepayang. Setiap kali melakukan penyatuan, Belinda selalu menjadi pemegang kendali. Dia berhasil membuat suaminya begitu puas.
Setelah tubuh mereka sama-sama panas. Belinda mulai melepas pakaiannya. Telihat benda favorit Erlan yang begitu menggoda untuk disentuh itu sudah membusung minta di cium.
Erlan yang sudah berpengalaman langsung saja memulai permainan. Dia mulai menghisap bagaikan bayi pada benda favoritnya itu.
Suara suara desa han pun lolos dari bibir mungil Belinda.
"Ah.... Mas... Lagi sayang" de sah nya manja.
Mendengar itu has rat Erlan semakin tersulut. Dengan membayangkan wajah Bella, dia mulai mencumbui istri keduanya itu hingga Belinda terus meneriakkan namanya.
"Mas.... Mas Erlan..." Belinda terus mende sah.
Belinda memeluk tubuh Erlan dan memberikan belaian-belaian kasih sayang terus menerus.
Saat ber cin ta seperti ini , Erlan seketika lupa kalau Bella istrinya sudah tidak bisa memaafkannya lagi. Yang ada dalam pikirannya sekarang adalah bagaimana memuaskan dirinya dan juga Belinda.
Semakin lama Erlan semakin mempercepat gempurannya hingga Belinda semakin intens meneriakkan namanya.
Belinda begitu puas bisa ber cin ta dengan Erlan karena dia bisa mendapatkan pelepasan berkali kali.
"Ah.. Ah... Mas...lebih cepat" rancau Belinda pula.
Mendengar itu membuat Erlan semakin mempercepat hujamannya hingga de sah panjang keluar dari mulut Belinda menandakan dia sudah mendapatkan pelepasannya.
Setelah memastikan Belinda sudah puas, Erlan kembali mempercepat hujamannya hingga dia pun mencapai surga dunia.
Bersambung