NovelToon NovelToon
LOLIPOP MANIS

LOLIPOP MANIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:679
Nilai: 5
Nama Author: nila edrina

PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?

Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.

MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?

NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

BAB 34 — DARAH TERAKHIR ARKAN

---

Angin laut berhenti.

Seolah seluruh pulau menahan napas.

Di hadapan mereka...

Arven berdiri di atas anak tangga bangunan tua.

Jas putih. Senyum tipis.

Di belakangnya 10 orang bersenjata lengkap.

"Selamat datang kembali..."

"Putri kecil Arkan. Rumahmu sudah lama menunggumu."

Ergan langsung maju dan melindungi Eiri.

"Jangan mendekat!"

Mahendra tidak bergerak. Tatapannya dingin.

Tapi tangannya mengepal di samping tubuh.

"Apa yang kau inginkan, Arven?"

Arven tertawa pelan.

"Yang aku inginkan?"

Ia menuruni satu anak tangga.

"Sederhana. Aku hanya ingin mengambil apa yang memang menjadi hakku sejak 15 tahun lalu."

Eiri masih dipelukan Mahendra. Kepalanya sakit.

"Darah terakhir Arkan..."

bisiknya.

"Apa maksudnya?"

Arven menatap Eiri. Matanya menyipit.

"Maksudnya, Nona Eiri..."

"Kau adalah kunci dari seluruh harta keluarga Arkan.

Pulau ini. Perusahaan. Semua warisan."

Ia tersenyum.

"Dan karena ayahmu menyembunyikanmu...

Aku terpaksa mengambilnya dengan cara lain."

Alena melangkah maju. Wajahnya marah.

"Pengkhianat! Kaulah yang menjual keluarga Arkan malam itu!"

Arven mengangkat bahu.

"Menjual? Tidak. Aku hanya...

memberikan pada orang yang tepat."

DUG.

Dada Eiri terasa sesak.

Bayangan malam itu kembali muncul.

Jeritan. Darah. Ayahnya menggendongnya sambil berlari.

"Ayah..."

Eiri memegang kepalanya.

"Eiri!"

Mahendra menahan tubuhnya agar tidak jatuh.

"Tahan. Jangan dengarkan dia."

Arven melihat itu dan senyumnya makin lebar.

"Oh... Tuan Mahendra Axlarta.

Anak emas keluarga Axlarta yang tiba-tiba jadi pahlawan."

Ia menatap Mahendra dari atas sampai bawah.

"Menarik. Kau melindunginya karena cinta?

Atau karena kau juga mengincar warisan Arkan?"

Mahendra tidak menjawab.

Tapi matanya sudah gelap.

"Jangan libatkan dia."

Kata Mahendra datar.

"Masalah ini antara kau dan aku."

Arven menggeleng.

"Salah. Masalah ini antara aku...

dan darah terakhir Arkan."

Ia menunjuk Eiri.

"Serahkan dia.

Dan aku janji tidak akan ada yang mati hari ini."

Hening.

Hanya suara ombak yang memecah.

Eiri menggigit bibirnya. Lalu berdiri.

Melepaskan pegangan Mahendra.

"Aku ikut."

"EIRI!"

Mahendra dan Alena bersamaan.

Eiri menatap Mahendra. Matanya berkaca tapi tegar.

"Kalau aku tidak ikut...

mereka semua akan mati karena aku."

Ia menarik napas.

"Aku sudah 20 tahun lari.

Sekarang aku mau hadapi."

Mahendra menatapnya lama.

Lalu berbisik hanya untuk Eiri.

"Kau yakin?"

Eiri mengangguk kecil.

"Aku percaya padamu."

Kalimat itu membuat dada Mahendra panas.

Arven bertepuk tangan.

"Bagus. Keputusan yang bijak."

Ia memberi isyarat.

Dua anak buahnya maju untuk membawa Eiri.

Namun sebelum mereka menyentuh Eiri...

BRAK!

Tembakan.

Peluru menghantam tanah di depan kaki anak buah Arven.

Dari balik pepohonan...

Muncul 5 orang bersenjata.

Baju hitam. Masker.

Pemimpinnya berdiri paling depan.

"Siapa berani sentuh dia..."

suara itu berat.

"Kalian mati di sini."

Arven mengerutkan kening.

"Siapa kalian?"

Pria bertopi hitam itu melepas topinya perlahan.

Menampakkan wajahnya.

Rambut maroon. Bekas luka di pipi.

"Namaku Rivan Arkendra."

Ia tersenyum tipis.

"Dan aku...

adalah kakak Eiri."

DUNIA SEPERTI BERHENTI.

Eiri membelalak.

"Kak... kakak?"

Alena menutup mulutnya. Air matanya jatuh.

"Rivan... itu kau?"

Rivan menatap Eiri. Tatapannya lembut.

Berbeda 180 derajat saat menatap Arven.

"Maaf aku telat, adik kecil.

Tapi aku janji...

tidak akan ada yang menyentuhmu lagi."

Arven tertawa. Tapi tawanya terdengar dipaksa.

"Oh. Jadi ini anak hilang nomor 2.

Bagus. Berarti 2 dari 3 sudah kumpul."

Ia mengeluarkan pistol.

"Sayang... kalian datang ke tempat yang salah."

BRAK BRAK BRAK!

Baku tembak pecah.

"Ke belakang!"

Teriak Mahendra sambil menarik Eiri dan melindunginya dengan tubuhnya.

Alena dan Ergan ikut menembak.

Rivan dan anak buahnya juga.

Eiri hanya bisa memejamkan mata.

Telinganya berdengung.

Tapi di tengah kekacauan...

Ia mendengar suara.

Suara ayahnya.

"Jangan biarkan mereka menemukan darah terakhir Arkan..."

"Karena di dalam darahmu...

ada rahasia yang bisa menghancurkan mereka."

Eiri membuka matanya.

Ia menatap Rivan yang sedang bertarung.

Lalu menatap Mahendra yang melindunginya.

"Aku..."

"Aku bukan korban."

bisiknya.

"Aku ahli waris."

Arven mundur sambil tertawa.

"Bagus! Bagus! Ingat itu!"

Ia berlari masuk ke dalam bangunan tua.

"Temui aku di dalam kalau berani!

Di sana semua jawaban ada!"

Lalu pintu besar itu tertutup.

Rivan menurunkan senjatanya.

Pertarungan berhenti.

Anak buah Arven sudah tumbang atau kabur.

Pulau kembali sunyi.

Rivan menghampiri Eiri.

Ia berlutut di depannya.

Melihat wajah adiknya yang sudah besar.

"Kau mirip Ibu..."

ucapnya pelan. Tangannya hampir menyentuh pipi Eiri tapi berhenti.

"Aku Rivan. Kakakmu.

Aku yang dulu sering kasih kau lolipop rasa stroberi.

Ingat?"

Eiri menatapnya. Air matanya jatuh.

Kilasan ingatan.

Remaja laki-laki. Lolipop. Pohon mangga.

"Aku... aku ingat sedikit..."

Rivan tersenyum. Matanya juga basah.

"Pelan-pelan. Tidak apa-apa."

Mahendra berdiri di samping mereka.

Diam. Menatap.

Rahangnnya masih mengeras.

Alena memeluk Eiri dari samping.

"Syukurlah... syukurlah kau masih hidup, Nak."

Eiri mengusap air matanya.

Lalu menatap pintu besar bangunan tua itu.

"Di dalam sana..."

"Semua jawaban ada, ya?"

Rivan berdiri. Mengambil senjatanya.

"Iya. Dan juga bahaya."

Ia menatap Mahendra.

"Kau siapa?"

Mahendra menatap balik.

"Orang yang akan melindunginya.

Sampai titik darah penghabisan."

Rivan terdiam beberapa detik.

Lalu mengangguk.

"Bagus. Kita butuh orang seperti itu."

Ergan maju.

"Bagaimana Tuan? Masuk sekarang?"

Mahendra menatap Eiri.

"Keputusan di tanganmu."

Eiri menarik napas dalam.

Tangannya menggenggam gelang perak di sakunya.

Hangat.

"Aku masuk."

Katanya mantap.

"Karena aku...

Darah Terakhir Arkan.

Dan sudah waktunya aku mengambil kembali

apa yang menjadi milikku."

Rivan tersenyum bangga.

Mahendra mengangguk.

Keempatnya berjalan bersama.

Menuju pintu besar itu.

Creeet...

Pintu terbuka perlahan.

Di dalamnya gelap.

Hanya ada satu lampu gantung di tengah ruangan.

Dan di bawah lampu itu...

Ada sebuah meja.

Di atas meja...

Sebuah kotak kayu tua.

Dengan ukiran yang sama seperti gelang Eiri.

Dan suara Arven dari dalam kegelapan.

"Akhirnya kau datang...

Putri kecil.

Silakan buka kotaknya.

Tapi ingat..."

tawanya bergema.

"Begitu kau membukanya...

tidak ada jalan kembali."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!