"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."
Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.
Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?
Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30: Penyelidikan Rahasia Sang CEO
Malam merayap semakin pekat menyelimuti kamar tidur utama yang tenang.
Di bawah pelukan protektif Oliver, napas Viona perlahan-lahan mulai teratur dan ia akhirnya tertidur lelap.
Gurat kecemasan di wajah cantiknya berangsur memudar, digantikan ketenangan yang dihantarkan oleh kehangatan tubuh pria di sampingnya.
Namun, di kegelapan kamar yang hanya diterangi lampu tidur temaram, sepasang mata elang Oliver tetap terjaga sepenuhnya.
Sorot matanya berkilat dingin, dipenuhi kalkulasi yang tajam.
Oliver adalah seorang predator di dunia bisnis; ia tidak pernah membiarkan adanya variabel tak dikenal (unknown variable) di dalam hidupnya, terutama jika hal itu menyangkut kesehatan dan kedamaian mental wanita yang dicintainya.
Kecemasan Viona yang begitu mendalam tentang tuduhan "mandul" dari keluarga Lin bukan sekadar ketakutan biasa.
Itu adalah trauma psikologis yang terstruktur, yang telah ditanamkan secara sistematis selama tiga tahun pernikahan toxic-nya dulu.
Dan insting Oliver mengatakan ada sesuatu yang sengaja dimanipulasi di masa lalu Viona.
“Selama tiga tahun, mereka melarang saya memeriksakan kesehatan saya, dan menuduh saya mandul...”
Kalimat Viona di Distrik Barat tempo hari mendadak bergaung kembali di kepala Oliver.
"Melarangnya memeriksakan diri?"
Bagi Oliver, hal itu sangat tidak logis untuk keluarga yang begitu mendambakan ahli waris.
"Mengapa keluarga Lin yang begitu terobsesi dengan keturunan justru melarang menantunya pergi ke dokter?" Hanya ada dua kemungkinan: keluarga Lin menyembunyikan masalah kesuburan dari pihak Adrian sendiri, atau mereka sengaja memanipulasi dokumen medis untuk menyudutkan Viona demi tujuan tertentu.
Dengan perlahan dan sangat hati-hati agar tidak membangunkan Viona, Oliver menarik lengannya dari bawah kepala wanita itu.
Ia menyelimuti Viona hingga sebatas bahu, mengecup keningnya sekali lagi dengan kelembutan yang kontras, lalu turun dari ranjang.
Oliver mengenakan jubah tidur sutra hitamnya dan melangkah keluar kamar tanpa suara.
Pukul sebelas malam.
Ruang kerja pribadi Oliver di lantai satu tampak sunyi, hanya diterangi oleh pendar cahaya dari layar monitor komputer jinjingnya dan lampu meja kuningan.
Oliver duduk di kursi kebesarannya, menatap layar dengan pandangan sedingin es.
Di hadapannya, berdiri dua orang kepercayaan yang sengaja ia panggil secara darurat malam itu: Sekretaris Ryan dan Rendra, kepala tim investigasi khusus Oliver Group yang biasanya menangani spionase korporat tingkat tinggi.
"Tuan Besar,"
sapa Rendra dengan membungkuk hormat.
"Kami telah mengumpulkan data awal seperti yang Anda perintahkan satu jam lalu."
"Katakan padaku,"
perintah Oliver, suaranya sangat rendah dan berat, memecah keheningan ruangan.
"Apa yang kalian temukan tentang riwayat medis Viona selama tiga tahun di bawah keluarga Lin?"
Rendra membuka sebuah map kulit hitam yang dibawanya, lalu meletakkannya di atas meja kerja Oliver.
"Tim kami berhasil meretas arsip digital dari klinik keluarga swasta yang dulu biasa digunakan oleh keluarga Lin di Distrik Selatan. Selama pernikahan mereka, Viona sebenarnya pernah dibawa satu kali ke klinik tersebut oleh ibu mertuanya, Widya Lin, pada tahun kedua pernikahan mereka."
Oliver menyipitkan matanya. "Dan hasilnya?"
"Ini adalah poin yang sangat mencurigakan, Tuan,"
lanjut Rendra, menunjukkan salinan dokumen laboratorium medis di layar tabletnya.
"Di dalam dokumen resmi yang diberikan kepada Viona saat itu, tertulis bahwa ia didiagnosis mengalami kegagalan ovarium prematur yang membuatnya hampir mustahil untuk hamil secara alami. Namun, ketika kami mencocokkan data mentah laboratorium (raw data) asli yang disimpan di server cadangan klinik tersebut... kami menemukan kejanggalan fatal."
Oliver menegakkan punggungnya, auranya seketika menggelap.
"Kejanggalan apa?"
"Data mentah itu menunjukkan bahwa sistem reproduksi Nyonya Viona sebenarnya berada dalam kondisi yang sangat sehat dan sangat subur pada saat pemeriksaan dilakukan. Sebaliknya, ada dokumen medis lain yang disimpan di bawah nama samaran, namun memiliki sidik jari medis dan kode genetik yang cocok dengan Adrian Lin."
Rendra menjeda kalimatnya sejenak, menatap reaksi Oliver yang kini tampak begitu mengerikan.
"Hasil analisis semen dari Adrian Lin menunjukkan bahwa pria itu mengalami kondisi azoospermia parah—tidak menghasilkan sel sperma sama sekali. Secara medis, Adrian Lin-lah yang mandul secara permanen sejak lahir."
"Brak!"
Oliver memukul permukaan meja kerja mahoninya dengan kepalan tangan, membuat cangkir kopi di dekatnya bergetar hebat.
Rahangnya mengeras sempurna, dan matanya memancarkan kilatan kemarahan yang begitu pekat hingga membuat Ryan dan Rendra secara refleks menundukkan kepala mereka dalam-dalam.
"Bajingan-bajingan picik itu..."
desis Oliver, suaranya bergetar menahan amarah yang teramat besar.
Kini semuanya menjadi sangat jelas bagi Oliver.
Keluarga Lin tahu bahwa putra mahkota mereka mandul sejak awal.
Demi menjaga reputasi keluarga aristokrat palsu mereka dan melindungi harga diri egois Adrian, mereka merancang skenario keji ini.
Mereka menyuap klinik tersebut untuk memalsukan hasil tes medis Viona, membebankan seluruh kesalahan dan aib mandul itu ke pundak Viona yang tak berdosa.
Selama tiga tahun, Viona hidup dalam rasa bersalah yang diciptakan oleh kebohongan terstruktur mereka.
Ia disiksa secara verbal, diperlakukan seperti pelayan, dan diusir bagai sampah tak berguna hanya untuk menutupi kelemahan biologis dari Adrian Lin.
"Klinik itu... siapa pemiliknya?"
tanya Oliver, suaranya kini terdengar begitu tenang—sejenis ketenangan yang biasa ia tunjukkan tepat sebelum ia menghancurkan mangsanya tanpa ampun.
"Klinik Medika Selatan, Tuan. Pemilik utamanya adalah dr. sasmita, yang juga merupakan sepupu jauh dari Widya Lin," jawab Ryan cepat.
"Klinik tersebut saat ini sedang mengajukan pinjaman ekspansi ke salah satu anak perusahaan perbankan kita."
Oliver menyandarkan punggungnya di kursi, senyuman dingin dan kejam terukir di bibirnya yang tegas.
"Batalkan pinjaman mereka besok pagi," perintah Oliver dengan nada mutlak.
"Kirim tim audit medis independen dari yayasan Oliver Group untuk memeriksa seluruh malpraktik di klinik itu selama sepuluh tahun terakhir. Aku ingin klinik itu disegel, dan lisensi praktik dr. Sasmita dicabut secara permanen sebelum matahari terbenam."
"Baik, Tuan Besar," sahut Ryan patuh.
"Dan untuk Adrian Lin serta ibunya..."
Oliver menjeda kalimatnya, matanya menyipit dingin.
"Apakah draf gugatan pemalsuan dokumen medis dan penipuan terencana sudah siap?"
"Sudah, Tuan. Pengacara kita siap mendaftarkannya ke pengadilan negeri besok pagi. Bukti-bukti yang dikumpulkan Rendra sudah lebih dari cukup untuk menyeret mereka ke dalam penjara atas tuduhan konspirasi, penipuan medis, dan kekerasan psikologis dalam rumah tangga yang direncanakan."
"Bagus,"
ucap Oliver, suaranya sedingin es di kutub utara.
"Aku ingin mereka tahu bahwa setiap air mata yang mereka paksa keluar dari mata Viona selama tiga tahun itu... kini akan dibayar dengan sisa hidup mereka di balik jeruji besi."
Setelah memberikan instruksi penutup, Oliver menyuruh kedua orang kepercayaannya itu untuk pergi.
Keheningan kembali menguasai ruang kerja, namun kali ini, keheningan itu dipenuhi oleh rasa puas yang dingin.
Penyelidikan rahasia ini telah menyingkap tabir kegelapan yang selama ini membelenggu jiwa Viona.
Pukul satu dini hari.
Oliver kembali melangkah masuk ke dalam kamar tidur utama yang hangat.
Ia mendekati sisi ranjang, menatap wajah tidur Viona yang tampak sangat damai.
Dengan sangat perlahan, Oliver ikut berbaring di sampingnya, menarik tubuh ramping itu kembali ke dalam dekapan hangatnya.
Merasakan kehadiran yang familiar, Viona menggeliat pelan dalam tidurnya.
Ia memutar tubuhnya, membenamkan wajahnya di ceruk leher Oliver, sementara satu tangan kecilnya melingkari pinggang kokoh sang suami dengan manja.
Oliver mengecup puncak kepala Viona dengan kelembutan yang tak terhingga.
Tangannya yang besar mengusap punggung wanita itu dengan gerakan protektif yang konstan.
"Kau sangat sehat, Sayang..."
bisik Oliver pelan di tengah keheningan malam, suaranya sarat akan kebanggaan dan cinta yang teramat dalam.
"Kau tidak mandul, dan kau tidak pernah cacat seperti yang mereka katakan. Mulai besok, tidak akan ada satu pun kebohongan yang bisa melukaimu lagi. Kebenaran telah berpihak padamu, dan aku akan memastikan dunia mengetahuinya."
Viona yang masih terlelap seolah mendengar bisikan hangat tersebut.
Sebuah senyuman manis dan sangat tenang perlahan terukir di bibir merah mudanya dalam tidur, seolah jiwa bawah sadarnya tahu bahwa di dalam dekapan sang tirani dingin, ia telah sepenuhnya aman, merdeka, dan siap menyambut keajaiban baru yang sesungguhnya di esok hari.