Sejak berusia sepuluh tahun, Yan Kai hidup sebagai pelayan di Sekte Hutan Bambu setelah kehilangan kedua orang tuanya. Karena memiliki akar spiritual yang sangat lemah, ia tidak pernah diterima sebagai murid dan selama delapan tahun hanya menjadi sasaran penghinaan, perundungan, serta siksaan dari para murid sekte. Hidupnya dipenuhi penderitaan, hingga suatu hari sebuah tugas sederhana membersihkan perpustakaan kuno mengubah takdirnya selamanya.
Sebuah buku misterius membawanya ke Dimensi Tak Berujung, tempat seekor Naga Kegelapan kuno disegel sejak ribuan tahun lalu akibat perang besar antara ras naga dan para dewa. Yan Kai mendapatkan secuil kekuatan naga itu hingga mengubah akar spiritualnya yang sebelumnya cacat menjadi fondasi yang luar biasa. Tanpa mengetahui rahasia besar yang kini tersembunyi dalam dirinya, Yan Kai memulai perjalanan kultivasinya menuju puncak kekuatan sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANTE-KUN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Pagi pun tiba diiringi dentangan lonceng Sekte Hutan Bambu yang memecah keheningan pegunungan.
Bagi para murid, dentangan lonceng itu adalah pertanda dimulainya latihan pagi. Namun bagi Yan Kai, itu adalah awal dari hari yang melelahkan.
Bahkan sebelum lonceng berbunyi, ia sudah lebih dahulu bangun. Setelah mencuci wajah dengan air dingin, ia mengenakan kembali pakaian abu-abu lusuh yang telah dijahit berkali-kali karena robek. Bekas luka di pelipisnya telah mengering, tetapi memar di pipi, lengan, dan punggungnya masih terasa nyeri setiap kali bergerak.
Yan Kai menarik napas panjang sebelum mengambil sapu bambu yang hampir setinggi tubuhnya. Lapangan latihan utama Sekte Hutan Bambu terbentang begitu luas, dan ratusan daun bambu yang gugur semalaman memenuhi permukaan batu-batu putih di sana.
Tanpa mengeluh sedikit pun, ia mulai menyapu, suara gesekan sapu dengan lantai batu terdengar berulang-ulang di tengah sunyinya pagi.
Tak lama kemudian para murid mulai berdatangan. Sebagian bahkan melewati Yan Kai tanpa memedulikannya sedikit pun, seolah keberadaannya tidak lebih berarti daripada sapu yang sedang ia pegang.
Ada pula beberapa murid yang dengan sengaja menginjak bagian halaman yang baru saja selesai ia bersihkan, membuat daun-daun kembali berhamburan. Yan Kai hanya bisa menghela napas pelan sebelum kembali menyapu dari awal.
Setelah lapangan selesai dibersihkan, ia berlari menuju dapur untuk membantu menyiapkan sarapan—mengangkat karung beras, memotong sayuran, menyalakan tungku, mengantar makanan ke aula makan, mencuci peralatan masak, kemudian kembali mengangkut air untuk dapur. Seluruh pekerjaannya baru sedikit berkurang ketika matahari telah mencapai puncak langit.
Saat para murid menikmati makan siang mereka, Yan Kai berdiri seperti biasa di sudut aula untuk melayani setiap permintaan. Hari itu, anehnya Ji Hao dan kelompoknya tidak terlihat. Bagi Yan Kai, itu justru menjadi satu-satunya ketenangan yang ia rasakan sejak pagi.
Setelah seluruh peralatan makan selesai dibereskan, seorang murid pelayan lain berlari menghampirinya.
"Yan Kai." Yan Kai segera menoleh. "Ada apa?"
"Tetua Lu memanggilmu."
Mendengar nama itu, Yan Kai sedikit terkejut. Tetua Lu dikenal sebagai salah satu tetua yang bertugas mengurus berbagai urusan administrasi dan penjagaan aset sekte. Meski tidak terlalu kuat dibanding tetua lain, beliau memiliki kedudukan yang cukup dihormati.
Yan Kai segera membersihkan tangannya sebelum berjalan menuju aula para tetua. Sesampainya di sana, ia langsung memberi hormat. "Tetua Lu."
Seorang pria tua berjanggut putih sedang membaca beberapa gulungan bambu. Mendengar suara Yan Kai, ia perlahan mengangkat kepala dengan tatapan yang tenang. "Aku mendengar kau cukup rajin bekerja."
Yan Kai menundukkan kepala. "Itu memang tugas murid... maksudku, tugas pelayan ini."
Tetua Lu mengangguk pelan. "Hari ini ada pekerjaan yang sedikit berbeda." Beliau membuka sebuah laci kayu, lalu mengeluarkan sebuah surat yang telah diberi cap resmi Sekte Hutan Bambu. "Perpustakaan sekte sudah lama tidak dibersihkan. Para penjaga tidak memiliki cukup waktu untuk mengurusnya."
Yan Kai sedikit membelalakkan mata. Perpustakaan sekte—tempat itu merupakan salah satu lokasi paling penting di seluruh Sekte Hutan Bambu. Di sanalah berbagai kitab teknik bela diri, catatan sejarah sekte, hingga pengetahuan para tetua terdahulu disimpan. Tidak semua murid diizinkan masuk. Bahkan murid luar pun hanya boleh memasuki lantai pertama setelah memperoleh izin.
Tetua Lu menyerahkan surat itu kepada Yan Kai. "Bawa surat ini kepada penjaga perpustakaan. Isinya menjelaskan bahwa kau diperintahkan langsung olehku untuk membersihkan seluruh bagian perpustakaan."
Yan Kai menerima surat itu dengan kedua tangan. "Baik, Tetua."
"Ingat." Suara Tetua Lu menjadi lebih serius. "Jangan menyentuh kitab-kitab selain untuk membersihkan debunya. Jangan membuka gulungan atau buku apa pun. Tugasmu hanya membersihkan."
"Pelayan ini mengerti."
...
Beberapa saat kemudian, Yan Kai tiba di depan bangunan perpustakaan. Bangunan itu berdiri di bagian terdalam sekte, jauh dari keramaian.
Seluruh bangunannya terbuat dari kayu hitam berkualitas tinggi yang masih tampak kokoh meski telah berusia ratusan tahun, dengan atap bertingkat tiga berukir bambu dan burung bangau di setiap sudutnya. Suasananya begitu sunyi, seolah seluruh dunia luar berhenti begitu seseorang menginjakkan kaki di sana.
Dua murid penjaga berdiri di depan pintu utama dan segera menghalangi langkahnya. "Berhenti. Perpustakaan bukan tempat pelayan masuk."
Yan Kai segera mengeluarkan surat pemberian Tetua Lu. "Saya mendapat perintah dari Tetua Lu untuk membersihkan perpustakaan."
Salah seorang penjaga menerima surat itu, membacanya dengan saksama, lalu memeriksa cap resmi sekte yang tertera di bagian bawah. Setelah memastikan semuanya benar, ekspresinya sedikit berubah. "Silakan masuk. Tetapi ingat, jangan melakukan hal-hal di luar tugasmu."
Yan Kai mengangguk hormat. "Terima kasih."
Pintu kayu besar perlahan dibuka. suara engsel tua bergema pelan. Begitu memasuki ruangan, aroma khas kayu tua dan kertas kuno langsung memenuhi indera penciumannya. Rak-rak kitab berdiri berjajar rapi memenuhi seluruh ruangan, ribuan buku, gulungan bambu, dan naskah tua tersusun dengan teratur.
Yan Kai sempat terdiam beberapa saat. Untuk pertama kalinya sejak tinggal di Sekte Hutan Bambu, ia akhirnya dapat melihat isi perpustakaan yang selama ini hanya bisa dipandang dari kejauhan. Namun ia segera mengingat tugasnya, mengambil kain lap, dan mulai bekerja.
Lantai pertama dibersihkan dengan teliti—ia menyapu setiap sudut ruangan, mengelap meja-meja baca, membersihkan debu pada rak-rak kitab, lalu mengepel lantai batu hingga kembali mengilap. Tak ada sesuatu yang aneh. Semuanya berjalan seperti biasa.
Setelah selesai, ia menaiki tangga kayu menuju lantai kedua, yang jauh lebih sunyi. Kitab-kitab yang tersimpan di sana tampak jauh lebih tua, sebagian bahkan sudah mulai menguning dimakan usia. Yan Kai tetap bekerja dengan hati-hati, membersihkan setiap rak tanpa berani membuka satu pun kitab yang ada di sana.
Waktu terus berlalu. Tak terasa matahari mulai condong ke arah barat ketika ia akhirnya menaiki tangga terakhir menuju lantai ketiga.
Begitu kakinya menginjak lantai itu, entah mengapa suasananya terasa berbeda. Ruangan itu jauh lebih redup meski cahaya matahari masih masuk melalui jendela-jendela kecil.
Rak-raknya jauh lebih sedikit, dan kitab-kitab yang tersimpan pun tampak jauh lebih kuno dibanding dua lantai sebelumnya. Debu tebal menutupi hampir seluruh permukaannya.
Yan Kai mulai membersihkan satu per satu rak dengan gerakan perlahan, sampai akhirnya tangannya berhenti pada sebuah rak kayu tua yang berada di sudut paling dalam ruangan.
Di sana terdapat sebuah buku yang bentuknya sangat berbeda dengan kitab-kitab lain. Sampulnya telah kusam dimakan usia, tanpa judul, tanpa nama penulis, dan seluruh permukaannya tertutup debu yang begitu tebal hingga hampir menyerupai lapisan tanah.
Yan Kai mengernyit. "Aneh... kenapa buku ini seperti sudah sangat lama tidak disentuh?"
Karena mengira buku itu hanya perlu dibersihkan seperti kitab lainnya, ia mengangkatnya perlahan. Debu-debu langsung berjatuhan memenuhi udara, dan ia meniup sisa debu yang menempel di sampulnya. Kemudian, tanpa berpikir panjang, ia membuka halaman pertamanya agar bagian dalamnya juga bisa dibersihkan.
Namun pada saat halaman pertama terbuka—
Wuuung!
Seluruh buku itu tiba-tiba memancarkan cahaya keemasan yang begitu menyilaukan.
"Apa...?!"
Mata Yan Kai membelalak. Belum sempat ia bereaksi, cahaya itu berubah menjadi pusaran yang berputar semakin cepat. Ruangan lantai tiga langsung dipenuhi hembusan angin yang sangat kuat, rak-rak kayu bergetar hebat, sementara lembaran-lembaran kitab di sekitarnya berkibar liar.
Tubuh Yan Kai tiba-tiba terasa begitu ringan. "Tidak... apa yang terjadi?!"
Ia mencoba melepaskan buku itu, namun telapak tangannya seolah melekat pada sampulnya. Sebuah kekuatan misterius menarik tubuhnya ke arah pusaran cahaya.
"Tolong...!"
Yan Kai berusaha meraih rak terdekat, tetapi jari-jarinya hanya menyentuh udara kosong. Dalam sekejap, seluruh tubuhnya tersedot masuk ke dalam cahaya yang berasal dari buku kuno tersebut.
Wuuusss!
Cahaya keemasan itu menghilang secepat kemunculannya. Lantai tiga kembali sunyi, seolah tidak pernah terjadi apa pun.