NovelToon NovelToon
AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)

AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)

Status: tamat
Genre:Anak Kembar / Mafia / Lari Saat Hamil / Anak Genius / Tamat
Popularitas:206.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sina Tu Narti Ajj

8 tahun lalu, Embun pernah melakukan kesalahan fatal satu malam. Hingga berujung membuahkan bibit di perutnya.

Sialnya, Pria yang menghamilinya adalah orang sama yang membunuh adiknya--Erlan.

Kehidupan Embun hancur lebur setelah peristiwa tersebut. Bagai ditelan bumi, Embun mengasingkan diri sampai lahirlah si kembar yang nakalnya terhakiki bikin sakit kepala.

Surya dan Cahaya, mulai mempertanyakan ayah mereka saat umurnya memasuki 7 tahun.

"Di mana Ayah kami?"

Awalnya, Embun enggan mempertemukan mereka. Namun mengingat dendam harus terbalaskan, Embun pun memanfaatkan sikembar.

"Bantu Bunda jadi pelakor!"

Mampukah Embun membalaskan dendamnya pada Ayah anak kembarnya? Dan mampukah kepintaran si Kembar menyatukan orangtuanya dalam kasih dan cinta? Mereka menggemaskan, tetapi juga seram seperti devil. Pintar penuh muslihat demi meluluhlantakan perseturuan dendam orang tuanya

Ikuti aksi kenakalan mereka menghadapi Istri lain Ayahnya yang menyimpan dendam lebih dalam untuk Ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sina Tu Narti Ajj, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Minta Dedek Bayi!

"Bun...!"

"Yah...!"

Entah sekarang jam berapa? Surya tak tahu. Yang ia lihat pertama kalinya saat bangun dari tubuh yang masih lemah, adalah kedua orang tuanya.

Kedua orang terkasih nya itu sedang tertidur bersama dengan posisi duduk. Ayahnya bersandar di sofa, sedang kepala sang Bunda bersandar nyaman di bahu sang Ayah.

"Sssstt... Diam, bodoh! Nanti mereka bangun."

Aih ... Bodoh katanya.

Refleks Surya melirik ke samping kanan. Ternyata Cahaya sepertinya sudah bangun lebih awal darinya.

"Ayah dan Bunda pasti capek dan kecewa punya anak nakal seperti kita?" racau Cahaya yang sedari tadi memang menatap sendu orang yang tertidur itu.

Surya tak menanggapi. Ia lebih berpikir, tentang kejadian awal awal dirinya merasakan panas luar biasa di bagian tenggorokannya dan terbangun dengan keadaan leher yang mempunyai perban medis sekarang ini.

"Ca, kita terakhir makan apa sih?" Surya bertanya. Membuat pikiran ngaur Cahaya menguap.

"Entahlah__eh, kita kan makan di dalam pesawat bersama Tante ondel ondel!" Ingat Cahaya yang tadinya lupa. "Apa si Tante yang memberi kita racun?"

Surya pun berpikir demikian yang baru saja ditebak tanpa bukti dari Cahaya.

"Tapi... Kapan dia mencampurkannya?" Cahaya kembali berseru.

"Iya juga ya. Aku rasa bukan dia deh. Memang kita makan bersama dengannya, tetapi dia tak melakukan aneh aneh di depan mata kita bukan?"

Baru juga tersadar dari pingsannya, Surya dan Cahaya sudah mengobrol seraya berpikir keras tentang keadaan yang menimpanya. Seperti tidak merasakan sakit apa pun. Anak energik itu, tidak bisa diam bawaannya.

" Om Panu!" kompak dua bocah itu berseru menuduh Vano dan dua orang lainnya yang tiba-tiba sok menyapa ingin berkenalan, saat para orang tua nya ke toilet.

Kalau cuma mau berkenalan, kenapa harus menunggu sang Bunda dan Ayah mereka pergi dulu? Kan bisa awal keberangkatan.

Itu lah kesimpulan kecil dari Surya dan Cahaya.

"Tapi, siapa memang mereka? Motifnya apa coba? Kenal saja, tidak!" Cahaya berpikir logis.

"Ah, entahlah. Nanti saja berpikir yang rumit rumit nya. Bagaimana kalau __" Surya terjeda. Ia lebih memilih menoleh ke arah samping dan berbisik bisik ke Cahaya. Bibir pucat gadis kecil itu pun, tersenyum manis. Setuju akan ide Surya.

"Ayah...!"

"Bunda...!"

Cahaya memanggil sang Ayah, sedang Surya memanggil sang Bunda dengan suara keras, seperti tak ada rasa sakit lagi di bagian leher.

"Bunda!" Panggilan Surya lagi, berhasil membangunkan Badai. Bukan Bundanya.

"Euhh..." Badai melenguh. Ia ingin memposisikan duduknya untuk tegak, tetapi tertahan karena ada beban kepala Embun yang masih tertidur.

"Yah," Panggil Cahaya kembali. Membuat Badai tersadar kalau dua bocahnya sudah siuman.

Karena kegirangan, Badai refleks berdiri. Melupakan ada Embun yang bersandar nyaman. Alhasil, bugh... Embun terjatuh ke lantai.

"Aww...!" pekik Embun yang tersadar seratus persen. Ia segera bangun dari lantai dengan delikan kesalnya tertuju ke Badai. Tetapi sesaat saja, karena ada hal bahagia di depan matanya.

"Kalian sudah __" Embun terjeda. Wajah itu nampak sembringa dalam langkah cepatnya sampai sampai Badai yang sudah mengelus sayang rambut Cahaya, ia senggo. Menggantikan posisi Badai.

Meski kesal, Badai tetap diam. Tak mau adu mulut di depan anaknya. Sabar!

"Bunda senang, kalian sudah sadar. Apa sekarang masih sakit, Sayang?" Embun menciumi kedua Anaknya secara bergantian. Hampir sepuluh menit, Badai tak mendapat kesempatan.

"Gue goreng juga jadi bakwan nih manusia menyebalkan," gumam Badai. Sialnya, Embun berbalik di saat itu juga. Mata wanita itu, langsung memicing sinis padanya. Dia dengar rupanya.

"Hem... Dumel aja terus. Kita masih ada urusan setelah ini. Dan masalah goreng menggoreng, pasti akan ku suguhkan keambiguan mu itu. Lihat saja..." bisik Embun ganas. Badai mengedikkan bahu, cuek. Lebih baik ia menghabiskan waktunya untuk kedua malaikat kecilnya.

Badai hanya membalas bisikan penuh emosi tertahan Embun dengan cara menyenggol sisi tubuh Embun, tapi bukan senggolan menggunakan lengan, melainkan sisi pinggulnya ia tubrukkan. Membuat Cahaya dan Surya tertawa tanpa beban. Meski meringis karena ada denyut ngilu di bagian lehernya.

Hah... Mulut Embun terbuka setengah. Demi apa coba, Badai mencandainya di saat ia sudah memberi kode kode permusuhannya.

Lain halnya Badai, ia berseloroh lucu karena ingin mengobati anaknya, bukan hanya fisiknya saja, melainkan juga psikisnya. Ia tak mau si kembar mempunyai kata trauma, meski sekecil apapun itu.

"Apa ada yang ingin di cium oleh Ayah?" tanya Badai, jenaka. Bibirnya ia monyong - monyongkan dengan alis tebal itu naik turun di depan Cahaya. Kedua bocah itu kembali tergelak. Sakit di lehernya sudah mereka abaikan.

Embun yang melihat ke akraban ketiganya, segera berbalik. Memalingkan penglihatannya. "Pembunuh tetap harus di hukum," batinnya menegaskan lagi misi nya. Ia tak mau lemah hanya karena sikap baik Badai untuk si kembar.

"Kami tak mau di cium, Yah. Tapi kalau boleh meminta lainnya, bisa?" ujar Surya bertanya.

Embun berbalik lagi. Ikut penarasan.

"Apa, Sayang?" Badai siap mendengarkan. "Apa pun itu, Ayah janji akan kabulkan. Terpenting kalian sembuh sedia kalanya."

"Kami mau dedek bayi...!" kompak mereka bersungguh-sungguh.

Uhuukk...

Embun terbatuk. Sedang Badai segera menggigit lidahnya yang main berjanji lebih dahulu. "Sangat bodoh diri ku ini. Mana ada manusia tampan seperti ku yang mau mengawini singa betina. Adanya mati akunya," katanya dalam hati. Sepertinya Badai amnesia kalau ia sudah kawin sama wanita yang dijuluki singa betina itu. Bonus nya pun sudah ada dua bocil nakal di depannya.

" Bun, Ayah! Kok diam saja sih?" Cahaya merengek. Meminta jawaban 'Yes' tanpa mengenal kata 'No'.

Hoaammm...!

"Cieee... Angopnya kompak banget sih." goda Surya.

Embun dan Badai saling pandang, keduanya tahu kalau mereka menguap demi lari dari tuntutan jawaban. Mudah memang menjawab ya atau tidak. Tetapi, mereka tak mau membuat harapan palsu.

"Sini, Yah, Bun. Kita tidur berempat. Pasti seru. Dan ini pula salah satu impian ku sejak dulu." Mata bening Surya berkaca-kaca, akhirnya ia sebentar lagi akan merasakan satu ranjang bersama kedua orang tua nya seperti cerita teman-temannya di sekolah dulu.

"Tentu saja, Sayang. Mari kita tidur bersama." Setuju Badai dengan sorot mata jahil tertuju ke istri singanya itu. Tangan nya pun saat ini sudah bekerja tanpa ada perawan.

Embun ingin sekali mematahkan tangan Badai yang main merangkul sok mesra pinggangnya. Tapi kembali lagi mengingat, kalau ia tak boleh kasar di depan mata si kembar.

Dan setelah mengatur posisi suka suka ala Cahaya di bantu oleh Surya, mereka pun tidur bersama di atas bed king size itu.

Embun dan Cahaya berada di tengah tengah sebagai cewek, itu kata Surya. Dan Badai, saat ini berada di samping berbaringnya Embun. Tubuh wanita itu terasa kaku seketika, tatkala Badai main melingkarkan tangannya di bagian perut.

Badai sengaja menggoda Embun di balik gelapnya ruangan yang sudah di matikan lampunya.

"Kondisikan tangan mu." bisik Embun geram. Ia menahan nafas saat Badai sengaja mengelus perutnya. Ia pun terus menepisnya. Namun Badai tetap saja tengil.

"Ouh, oke. Aku kondisikan. Begini kan..."

Ress...

"Hmmpp..."Embun membekap sendiri mulutnya tatkala Badai semakin tengil. Su*u nya di remas coeg. Pelecehan ini mah namanya. Awas saja!

" Itu bayaran dari perbuatan mu. Merem*s balas diremas." Badai menyeringai. Buah yang baru ia lepaskan serasa menantangnya. Ingin lagi, tapi takut juga pada sang pemilik dada yang mendengus dengus kesal tanpa ada suara lainnya. Kelemahan istri nya itu ternyata di depan si kembar toh. Ah, rasanya tak sabar lagi ingin mengerjai istri pendendamnya itu.

'Emang enak! Rasakan lagi nih remasanku.' Badai ingin sekali lagi melakukannya, tetapi tangan Embun lebih dahulu mencekalnya.

Kreeekk...

Awwwww.... Jeritan itu, hanya bisa tertahan seperti tikus kejepit. Embun hampir saja mematahkan telunjuk tangannya.

"Tidur atau jari jari mu ini benar benar tak akan berfungsi lagi." ancam Embun.

"Cih, dasar wanita kasar!"

1
Ran Aulia
sweruu , romantic action 😍😍😍😍😍

terimakasih ya author 👍👍👍👍👍👍
Ida Lailamajenun
nama tokoh nya bagus" 👍👍
Ida Lailamajenun
kayaknya embun salah paham deh sama kematian adik nya sedangkan badai Sagara dokter bedah mgkn kembaran nya kali yg memiliki genk tapi twins anak badai
Ida Lailamajenun
woalah tak kira setting cerita di indo tau nya diluar negri toh habis nama tokoh nya indo😂😂
Ida Lailamajenun
💪💪👏👏mantap 👍👍
Ida Lailamajenun
ada saat nya nanti sang bapak iblis muncul buat nyobek" mulut sampah mu itu liat aja
Ida Lailamajenun
padahal anak ente yg sah kelakuan nya kayak iblis gak nyadar aja ente juga kayak iblis anak nakal dibela gitu
Ida Lailamajenun
anak jadi besar kepala klu salah dibela.gede nya lebih parah tar
Ida Lailamajenun
la wong anak nya yg nakal kayak setan malah nuduh kembar yg nakal kayak setan.
Ida Lailamajenun
yaelah nih twins pdhl emak nya sendiri tuh🤣🤣🤣
Ida Lailamajenun
sbnrnya menurut ku sih Surya ma Cahaya gak nakal ya hanya ni bocah twins pemberani ya wajar la mrk gak bisa ditindas jadi membela diri nya dan gak bisa diremehkan.apalagi jiwa mafia mengalir di darah mrk
Ida Lailamajenun
jgn" kembaran badai yg nembak adik nya embun apalagi badai kembar 3 embun gak tau klu badai punya kembaran
Ida Lailamajenun
woalah ktmu ma bapak nya sendiri nih twins berarti sama" dokter bedah yak ma bunda nya
Ida Lailamajenun
bapak nya twins kah
Ida Lailamajenun
keren bgt nama bapak nya twins
Ida Lailamajenun
mgkn kematian erlan adik nya embun gak sengaja ato peluru nyasar jadi embun salah paham.apa bapak nya twins mafia ya
Ida Lailamajenun
tapi gak wajar la ortu barli marah lgsg gampar Surya trus pihak Skull nya malah bela barli hingga twins dikeluarkan dari Skull nya.pdhl barli yg salah..kepsek nya nih gak beres bukan sekolah tempat mendidik nama nya jika salah satu murid berseteru bukan didamaikan malah dikeluarkan
Ida Lailamajenun
baru mampir
Ida Lailamajenun
🤣🤣🤣🤣
Dewi Rukmini
ngompol kak😂😂😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!