>Ini novel pertama autor yang bertema religi maaf kalau masih banyak kekurangannya.
Aleena Humairoh seorang guru sekolah dasar disebuah sekolah swasta dikota A memutuskan menutup auratnya dan bangkit dari traumanya setelah mengalami sebuah peristiwa pahit dimasalalu yang membuatnya harus kehilangan mahkota berharganya sebagai seorang perempuan.
Bertemu dengan seorang Abimanyu duda muda ayah dari murid Aleena yang juga pernah mengalami hal menyakitkan dengan perempuan dimasalalu.
Dua orang yang sama sama punya masalalu pahit akankah mereka bisa berjodoh dengan putri kecil Abimanyu sebagai perantara.
Ataukah malah saling membenci karena sebuah hubungan luka dimasalalu mereka yang diakibatkan oleh orang yang sama.
Penasaran silahkan baca kelanjutannya 😊😊.
Budayakan meninggalkan like dan komen sebagai dukungannya reader.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24.Niat Abimanyu.
Abimanyu terus melajukan mobilnya membelah malam menuju kampung tempat tinggal Aleena,mereka hanya sempat berhenti sebentar untuk melaksanakan sholat magrib disebuah masjid yang tadi mereka lewati waktu magrib tiba.
Setelah itu Abimanyu kembali mengajak Aleena melanjutkan perjalanan mereka menuju kampungnya yang berjarak sekitar 3 sampai 4 jam perjalanan menggunakan mobil.
"Istirahatlah dulu bersama Aliyah nanti aku akan membangunkan kalian kalau kita sudah memasuki kampung tempat tinggalmu".
"Iya mas",jawab Aleena dengan mencoba memejamkan matanya dengan Aliyah dalam pelukannya selama perjalanan itu.
Aleena sempat tertidur dan sedikit terkejut saat Abimanyu memanggil namanya pelan.
"***... *** bangun kita sudah memasuki kawasan kampungmu dimana posisi rumah kedua orangtuamu".
"Hah... iya mas.... mas terus aja, dibelokan kedua gang yang didepan mas terus saja nanti saat melihat Rumah bercat biru mas stop itu rumah Umi dan Abah Aleena".
"Baiklah",ucap Abimanyu dengan kembali melajukan mobilnya pelan mengikuti arah yang dikatakan Aleena tadi.
Akhirnya setelah berkendara beberapa saat lagi mobil Abimanyu sampai didepan rumah yang dimaksud Aleena barusan.
"Ini rumah Abah sama Umi Ena Mas Abi",ucap Aleena dengan bersiap turun dari mobil menunjuk kerumah sederhana khas kampung disana.
"Biar mas bantu",ucap Abimanyu saat Aleena akan membuka pintu mobil disampingnya.
Abimanyu bergegas turun dari mobil lalu membantu membukakan pintu mobil untuk Aleena dan mengambil Aliyah dari gendongan Aleena yang saat itu sudah tertidur nyenyak.
Sebelum Aleena mengetuk pintu Abah sudah lebih dulu membukakan pintu depan rumah karena saat sedang duduk diruang tamu Abah mendengar suara mobil berhenti dihalaman rumahnya.
"Assalamualaikum Abah",sapa Aleena saat melihat sang abah berdiri didepan pintu rumah yang terbuka.
"Waalaikusalam",jawab Abah lalu langsung memeluk Aleena erat.
"Ayo masuk",perintah Abah ramah pada Aleena sambil menatap kearah Abimanyu yang saat itu berdiri dibelakang Aleena dengan membawa Aliyah dalam gendongannya.
Aleena yang melihat arah tatapan Abahnya itu segera mengenalkan Abimanyu pada sang Abah.
"Oh.. ini mas Abi Bah dan putrinya Aliyah,Aliyah ingin ikut aku berlibur kekampung".
"Sebaiknya kalian masuk dulu kasihan si Aliyah yang tertidur itu pasti dia kelelahan selama perjalanan tadi jadi tidurkan dia sementara dikamarmu Ena",perintah sang Abah yang dijawab Anggukan oleh Aleena dengan mengambil Aliyah dari tangan Abimanyu untuk dibawa kekamarnya.
"Silahkan duduk nak Abi... ".
"Saya Abimanyu Abah'', jawab Abimanyu dengan duduk dihadapan sang Abah.
"Ya... jadi nak Abi juga ingin ikut berlibur kesini atau ada urusan lain".
"Saya duda beranak satu mantan istri saya sudah meninggal saat Aliyah berumur dua tahun dan selama itu saya tetap menduda dengan merawat Aliyah".
Abah diam mendengarkan apa yang diucapkan pria muda didepannya ini menunggu dia menyelesaikan maksud ucapannya saat itu.
Sementara Aleena yang bermaksud kembali kedepan lagi setelah meletakakan Aliyah dikamarnya mendengar Abimanyu tampak bicara serius dengan sang Abah terpaksa mengurungkan niatnya dan memilih duduk didalam menunggu mereka selesai bicara.
"Jadi... apa nak Abi punya maksud lain selain mengantar mereka berdua kemari tadi".
"Iya... saya mengenal Aleena sejak Aleena menjadi walikelas Aliyah dan sejak Aliyah dekat dengan Aleena saya mulai bersimpati pada Aleena".
Abah hanya menatap Abimanyu tanpa bermaksud menyela ucapannya.
"Dan karena hal itu juga saya merasa Aleena adalah wanita yang baik jadi sebagai seorang lakilaki dewasa saya ingin meminta Aleena untuk menjadi istri saya dan juga ibu bagi Aliyah kalau memang Abah mengijinkan".
Abah tampak menarik nafas mendengar hal itu.
"Apa nak Abi sudah berbicara langsung tentang ini pada Aleena sendiri? ",tanya Abah.
"Secara spesifik memang belum tapi saya sudah beberapa kali menyinggung hal ini dihadapannya".
"Saya mengerti niat hati nak Abi yang ingin mempersunting Aleena tapi Abah tidak bisa menjawab sekarang niat baik nak Abi ini, bukan karena Abah tidak setuju tepi ada hal yang perlu Abah tanyakan dulu pada Aleena malam ini dan setelah itu biar Aleena yang menjelaskannya sendiri pada nak Abi supaya tidak ada penyesalan nak Abi dengan keputusan ini dikemudian hari dan supaya ini tidak menjadi masalah dalam rumah tangga kalian nanti'
"Glek"
Abimanyu merasa sedikit khawatir mendengar apa yang diucapkan Abah padanya membuat tekad bulat yang sudah dikumpulkannya selama berbulan bulan ini untuk berani mengutarakan niatnya melamar Aleena menjadi istrinya takut ditolak oleh orangtua Aleena karena statusnya sebagai seorang duda itu.
"Kalau begitu saya permisi saja sekarang untuk menginap dihotel dekat sini supaya besok saat menjemput Aliyah tidak terlalu jauh".
Abah hanya mengangguk pada Abimanyu yang berjalan keluar dari rumah dengan kepala tertunduk merasa seolah niatnya itu sudah ditolak oleh Abah Aleena.
"Apa Abah menolak mas Abi?",tanya Aleena saat Abimanyu sudah tidak berada didalam rumah itu.
Abah menggeleng, "Keputusan menolak atau menerima niatnya itu ada ditanganmu,Abah hanya mengatakan apa yang harus abah katakan saja,tapi saran Abah, sebelum kamu memutuskan menolak lamarannya sebaiknya kalian bicarakan dulu apa yang sudah pernah kalian alami itu secara terbuka".
"Ma... maksud abah Ena harus jujur tentang masalalu Ena yang menyakitkan itu pada mas Abi sebelum Ena menerima lamarannya".
Abah mengangguk.
"Tapi Abah setelah bersusah payah akhirnya Ena mulai bisa melupakan hal itu dan menerima diri Ena seutuhnya tapi sekarang tiba.... ".
"Apa yang dikatakan oleh Abahmu itu benar Ena lebih baik kamu gagal sekarang dari pada nanti setelah kalian menikah dan suamimu kecewa dengan masalalumu itu meski kalian bisa bercerai tapi perceraian itu dilaknat oleh Allah, jadi untuk menghindari hal itu lebih baik kamu merasakan sakit itu sekarang sebelum semuanya kamu sesali".
"Sepertinya untuk mengatakan hal itu Aleena perlu merenung dulu malam ini Abah Umi",ucap Aleena.
"Mintalah petunjuk kepada Allah nak,karena hanya Allah yang bisa memberimu keputusan terbaik apa yang harus kamu lakukan pada hidupmu selanjutnya",ucap Umi dengan memeluk tubuh Aleena.
"Iya Umi Ena pasti akan meminta petunjuk pada Allah tentang kegundahan Ena sekarang dan Ena akan menerima apapun ketetapan yang Allah berikan pada Ena, andai memang Ena dan mas Abi tidak berjodoh nanti, Ena harus belajar mengiklaskannya".
Umi mengangguk,"Iya sayang kalau memang dia jodohmu yang dikirimkan Allah untuk menemani sisa hidupmu,insyaallah dia tidak akan mundur mendengar apa yang akan kamu katakan nanti padanya,karena pasangan kita yang sebenarnya adalah orang yang bisa menerima kekurangan dan kelebihan yang kita miliki".
"Iya Umi terimakasih karena kalian selalu mendukung Ena seperti apapun kondisi Ena".
"Itu adalah tugas kami sebagai orang tua sayang selama apa yang kamu lakukan itu baik tidak bertentangan dengan nilai Aqidah dan moral kami sebagai orangtua akan selalu berusaha mendukungmu".