NovelToon NovelToon
Suami Dadakanku Ternyata Bos Baruku

Suami Dadakanku Ternyata Bos Baruku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Aluna,seorang staf admintrasi bawahan, ia tidak menyangka kalau hidupnya akan berjungkar balik dalam waktu sehari .
Mendapat tekanan dari pekerjaan, niat hati ingin berkeluh kesah dan memeluk kekasiihnya namun kenyataan pahit ia terima kekasihnya berselingkuh didepan matanya.

Dengan derai air mata ia pulang kerumah namun lagi - lagi ia mendapati pemandangan yang memilukan Ayahnya bersimbah darah karena ulah kakak tirinya .

Hidup Aluna berubah menjadi mimpi buruk dalam semalam. Ayahnya kritis akibat dianiaya oleh kakak tirinya, dan kini Aluna terancam "dijual" untuk melunasi utang judi sang kakak.

Di ambang maut, sang ayah memohon satu hal: Aluna harus segera menikah agar punya pelindung.

Masalahnya, Aluna baru saja diselingkuhi dan menyandang status jomblo . Dalam kondisi panik dan terdesak di rumah sakit, ia nekat menarik lengan seorang pemuda asing yang kebetulan lewat. "Tolong, nikahi aku sekarang!"

Bagaiman kisah Aluna selanjutnya ? siapa sebenarnya suami dadakan Aluna ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konfrontasi di Balik Tirai

Udara di dalam Kamar 204 Ruang Dahlia mendadak terasa membeku. Kehadiran Kafka di ambang pintu laksana embusan angin kutub yang mematikan seluruh kehangatan yang baru saja tercipta antara Aluna dan ayahnya.

Aluna berdiri mematung di samping tempat tidur, jemarinya meremas sprei rumah sakit begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Amarah, rasa jijik, dan luka hati yang belum mengering akibat pengkhianatan pria itu semalam kini bergolak hebat di dalam dadanya, menciptakan rasa mual yang amat sangat.

Kafka melangkah masuk dengan ragu, matanya tertuju lurus pada Aluna.

Penampilannya tidak serapi biasanya; kemeja kerjanya kusut di bagian lengan, rambutnya acak-acakan, dan ada lingkaran hitam yang jelas di bawah matanya.

"Aluna ... akhirnya aku menemukanmu," ucap Kafka dengan suara bariton yang bergetar, mencoba menampilkan raut wajah paling menyesal yang bisa ia tunjukkan. Ia melangkah mendekat, mengabaikan tatapan lemah penuh permusuhan dari Pak Kusuma yang terbaring di atas dipan. "Aku sudah mencarimu ke rumahmu sejak subuh, tapi rumahmu kosong dan terkunci. Tetangga bilang kamu membawa ayahmu ke rumah sakit umum daerah ini dengan ambulans. Aluna, tolong maafkan aku ..."

"Jangan sebut namaku dengan mulut busukmu itu, Kafka," potong Aluna dengan nada suara yang sangat dingin dan tajam. Suaranya tidak keras, namun getaran amarah di dalamnya begitu pekat hingga membuat Kafka menghentikan langkahnya sekitar dua meter dari tempat tidur. "Untuk apa kamu ke sini? Tempatmu bukan di sini. Tempatmu adalah di samping wanita kaya pilihan ibumu yang semalam kamu peluk dengan begitu mesra."

Wajah Kafka memucat mendengar sindiran Aluna. Ia maju satu langkah lagi, mencoba meraih tangan Aluna, namun Aluna dengan cepat menarik tangannya menjauh ke belakang tubuhnya.

"Aluna, dengarkan penjelasanku dulu! Semua yang kamu lihat semalam itu tidak seperti yang kamu pikirkan!" Kafka memohon dengan mata yang berkaca-kaca, sebuah akting yang dulu selalu berhasil meluluhkan hati Aluna. "Aku terpaksa, Aluna. Ibuku terlilit utang besar karena arisan bodoh, dan keluarga wanita itu menawarkan bantuan finansial dengan syarat aku harus mendekatinya. Aku melakukan semua ini demi masa depan kita juga! Jika utang ibuku lunas, kita bisa menikah tanpa beban. Aku tidak pernah mencintainya, Aluna. Aku hanya mencintaimu!"

Mendengar kebohongan yang begitu menjijikkan keluar dari mulut pria yang pernah ia puja selama dua tahun, Aluna hampir saja tertawa lepas. Rasa sakitnya telah bertransformasi menjadi kebencian yang murni. Bagaimana bisa seorang pria mengkhianati pasangannya dan berdalih melakukan itu demi kebaikan bersama? Egoisme Kafka benar-benar tidak memiliki batas.

"Demi masa depan kita?" Aluna menatap Kafka dengan pandangan paling merendahkan yang pernah ia miliki. "Kamu menjual dirimu demi uang, lalu kamu menyembunyikan rencana pernikahanmu di belakangku, membiarkan aku menjadi wanita bodoh yang terus membantumu secara finansial? Dan sekarang kamu bilang itu demi aku? Kamu benar-benar pria tak punya harga diri, Kafka."

Dari atas tempat tidur, Pak Kusuma mencoba bersuara, napasnya memburu karena emosi. "Per ... pergi kamu, Kafka ... Jangan ganggu ... anakku lagi ..."

Kafka melirik Pak Kusuma sejenak, lalu kembali menatap Aluna dengan tatapan yang mulai berubah dari memohon menjadi frustrasi. "Aluna, sudahlah! Jangan keras kepala seperti ini. Kamu tidak tahu apa yang sedang mengintaimu di luar sana. Kakak tirimu, Doni, dia sudah berutang ratusan juta kepada rentenir besar. Semalam anak buah rentenir itu mencarimu ke kantormu! Kamu dalam bahaya besar, Aluna. Ikut aku sekarang. Aku bisa meminta bantuan keluarga wanita itu untuk melunasi utang Doni dan menyembunyikanmu di tempat yang aman. Tapi kamu harus kembali kepadaku!"

Aluna tersentak. Jadi Kafka tahu tentang ancaman rentenir itu, dan alih-alih menolongnya secara tulus, Kafka ingin menjadikan ancaman itu sebagai alat untuk memerasnya agar kembali menjadi kekasih simpanannya. Penawaran Kafka tidak ada bedanya dengan penawaran iblis.

"Aku tidak butuh bantuanmu, Kafka. Dan aku tidak akan pernah ikut denganmu, meskipun aku harus mati di tangan rentenir sekalipun," jawab Aluna tegas, setiap katanya diucapkan dengan penekanan yang mutlak.

"Kamu jangan gila, Aluna! Siapa lagi yang bisa menolongmu malam ini selain aku? Kamu tidak punya uang, ayahmu sekarat dan tidak berdaya seperti itu! Tanpa aku dan uang dari keluarga kekasihku, kamu hanyalah wanita rapuh yang akan hancur dalam hitungan hari!" Suara Kafka mulai meninggi karena egonya terluka oleh penolakan mentah-mentah dari Aluna. Ia melangkah maju dengan cepat, tangan kanannya terjulur kasar untuk mencengkeram pergelangan tangan Aluna, berniat menarik wanita itu keluar dari kamar secara paksa.

Namun, sebelum jemari Kafka sempat menyentuh kulit pergelangan tangan Aluna, sebuah tangan besar dengan cengkeraman sekuat cakar elang mendadak muncul dari samping, mencengkeram pergelangan tangan Kafka dengan intensitas yang sangat menyakitkan.

Krak.

Suara gesekan sendi tangan Kafka terdengar pelan di dalam ruangan. Kafka memekik kesakitan, tubuhnya langsung membungkuk karena tekanan luar biasa yang menghantam tangannya. Ia menoleh dengan wajah memerah menahan sakit, menatap sosok pria tegap yang entah sejak kapan sudah berdiri di antara dirinya dan Aluna.

Elvan.

Suami dadakan Aluna itu berdiri di sana dengan ekspresi wajah yang sangat datar, namun sepasang mata elangnya memancarkan kilatan pembunuh yang begitu pekat. Aura dingin yang menguar dari tubuh Elvan seketika membuat atmosfer Kamar 204 terasa seperti ruang interogasi bawah tanah yang mencekam.

"Lepas ... Lepaskan tanganku! Siapa kamu?!" bentak Kafka dengan suara yang bergetar menahan sakit dan keterkejutan.

Elvan tidak langsung menjawab. Ia meningkatkan tekanan cengkeramannya selama satu detik lagi, membuat Kafka mengerang lebih keras, sebelum akhirnya menghempaskan tangan Kafka menjauh dengan satu sentakan kasar yang membuat pria perlente itu terhuyung mundur hingga menabrak lemari kecil di sudut kamar.

Elvan merapikan kerah kaus polos hitamnya yang sedikit bergeser, lalu berdiri dengan melipat kedua tangannya di depan dada, menjulang tinggi di depan Kafka dengan wibawa seorang penguasa yang mutlak.

"Nama saya Elvan," ucap Elvan dengan suara baritonnya yang rendah, berat, dan dipenuhi oleh ancaman terselubung yang luar biasa intimidatif. "Dan pria yang baru saja kamu sebut sekarat dan tidak berdaya itu adalah ayah mertua saya. Sedangkan wanita yang baru saja ingin kamu sentuh dengan tangan kotormu itu ... adalah istri sah saya."

Deg.

Kafka membelalakkan matanya lebar-lebar. Kepalanya seolah dihantam oleh gada besi yang sangat besar. Ia menatap Elvan, lalu beralih menatap Aluna dengan pandangan tidak percaya yang bercampur dengan kemarahan egois. "Istri? Kamu menikah? Aluna, jangan membual! Kamu baru saja putus denganku semalam! Bagaimana bisa kamu menikah dengan pria urakan miskin seperti ini dalam waktu beberapa jam?!"

Aluna melangkah maju, berdiri tepat di samping Elvan, merasakan perlindungan fisik yang sangat kokoh dari suaminya. Ia menatap Kafka tanpa rasa takut lagi. "Aku tidak membual, Kafka. Kami sudah menikah secara sah di depan wali hakim dan saksi semalam di rumah sakit ini. Pria yang kamu sebut urakan dan miskin ini ... adalah pelindungku, suamiku yang sesungguhnya. Dan dia jauh lebih terhormat daripada seorang pengkhianat yang menjual harga dirinya demi uang seperti kamu."

Wajah Kafka berubah menjadi merah padam oleh rasa malu yang teramat sangat. Di dalam logikanya yang sempit, ia mengira Aluna akan menangis meratap di kakinya setelah tahu tentang ancaman rentenir, memohon agar ia menyelamatkannya. Namun kenyataannya, Aluna telah melompat ke pelukan pria lain, seorang pria asing yang penampilannya sangat sederhana dengan kaus polos murah, namun memiliki aura keberanian dan kekuatan fisik yang sanggup menciutkan nyalinya.

"Aluna ... kamu akan menyesal! Pria miskin ini tidak akan bisa melindungimu dari jaringan rentenir Doni! Mereka akan menghancurkan kalian berdua!" teriak Kafka dengan frustrasi, mencoba menutupi rasa malunya dengan ancaman kosong.

Elvan melangkah satu tindak maju mendekati Kafka. Gerakan sederhana itu instan membuat Kafka mundur selangkah ke belakang dengan wajah ketakutan.

"Masalah rentenir atau apa pun yang mengancam istri saya ... itu adalah urusan saya sebagai kepala keluarga," ujar Elvan dengan nada suara yang sangat tenang namun sangat mematikan. "Tugasmu sekarang adalah keluar dari kamar ini dengan kakimu sendiri dalam waktu tiga detik. Jika dalam hitungan ketiga wajahmu masih ada di hadapan istri dan mertua saya ... saya pastikan kamu akan keluar dari rumah sakit ini menggunakan kursi roda dengan seluruh tulang tanganmu yang patah. Satu ..."

Kafka menatap mata elang Elvan yang dingin tak berdasar, menyadari bahwa pria di hadapannya ini sama sekali tidak sedang menggertak.

Elvan memiliki tipe tatapan dari seseorang yang benar-benar sanggup melakukan apa yang ia katakan tanpa keraguan sedikit pun. Rasa takut akan keselamatan fisiknya akhirnya mengalahkan ego dan kemarahannya.

Tanpa menunggu hitungan kedua dari mulut Elvan, Kafka berbalik dengan tergesa-gesa, membuka pintu kamar rawat dengan kasar, dan berlari keluar menuju koridor seperti seorang pengecut yang ketakutan setengah mati.

Begitu pintu kamar tertutup kembali dan sosok Kafka lenyap, keheningan khidmat kembali menguasai Ruang Dahlia 204.

Aluna mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan di dalam dadanya, merasakan sebuah kelegaan yang luar biasa hebat.

Duri beracun dari masa lalunya akhirnya telah dicabut secara paksa dan dibuang jauh-jauh oleh kehadiran pria di sampingnya.

Aluna menoleh menatap Elvan. "Terima kasih ... Mas Elvan. Terima kasih karena selalu datang di waktu yang tepat untuk menyelamatkanku."

Elvan menoleh, menatap Aluna dengan tatapan yang kini telah kembali melembut dan hangat, seolah aura membunuh yang ia pancarkan kepada Kafka beberapa detik lalu hanyalah ilusi semata. Ia mengulurkan tangannya, menepuk pundak Aluna dengan lembut. "Itu sudah menjadi tugasku, Aluna. Jangan pikirkan pria itu lagi. Sekarang, mari kita perkenalkan aku secara resmi kepada ayahmu."

Aluna tersenyum dengan mata berkaca-kaca karena haru. Ia menoleh ke arah tempat tidur, di mana Pak Kusuma menatap Elvan dengan air mata kebahagiaan yang mengalir di pipi tuanya yang keriput.

Pertemuan pertama antara sang ayah dan menantu dadakan misterius itu akhirnya terjadi di bawah naungan dinding rumah sakit yang sunyi, memulai babak baru pertahanan keluarga kecil mereka yang siap menghadapi badai apa pun di depan sana.

1
Lasa Hardianti
Mampir thorr😄
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
Indriani Kartini
perjalanan hidup akan baru di mulai, semangat
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
Indriani Kartini
semoga dia laki2 baik bisa menjaga dan melindungi aluna, dan nantinya akan saling jatuh cinta😍
MayAyunda: terimkasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!