Tulisan saya ini pernah dimuat di KBM dengan pembaca lebih dari empat belas ribu orang. Kisah tentang perempuan yang melahirkan di rumah mertua dengan segala suka dukanya.
Konfliknya menarik, dikemas dengan bahasa yang baik dan visualisasi mendalam sehingga pembaca seolah-olah masuk dalam cerita dan merasakan emosi tokoh dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evi Listriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ratih
#Melahirkan_di_Rumah_Mertua
#Part_24
Untuk yang kedua kalinya di hari ini, aku menemui Bu Bidan Isti. Penampilannya jauh lebih bersahaja dibandingkan dengan tadi siang, mungkin karena sekarang sudah lewat jam dinasnya. Daster batik dengan kerudung langsung berwarna hitam kontras dengan warna putih kulitnya.
"Maaf, Ning menggangu malam-malan Bu Bidan."
Bu Bidan senyum ramah, masih semanis tadi siang. "Mau KB ya?" terkanya. "Selepas kamu pulang tadi, Ibu baru kepikiran, nggak nanya udah KB apa belum. Duh, maklum, faktur U," tuturnya.
Bang Rafi menunggu di bangku depan klinik, sementara aku berbicara panjang lebar dengan Bu Bidan Isti. Dia menyebutkan beberapa alternatif alat kontrasepsi mulai dari KB dengan pil, sunti, susuk dan IUD. Masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihannya tersendiri. Karena aku masih menyusui, Bu Bidan memberikan saran untuk KB dengan suntik per tiga bulan. "Ada yang satu bulan sekali, Ning. Yang ini bisa tetap haid dengan lancar tapi berpengaruh pada produksi ASI," jelasnya.
"Jangan Bu. Nggak apa-apalah kalau haidnya nggak lancar, asal bisa tetep menyusui Marisa dengan tenang," jawabku.
Setelah sekian kali mengalami disuntik, baru kali ini, aku tidak merasakan sakit. Rupanya Bu Isti punya keterampilan mumpuni di bidang ini, jarum suntik hanya dibiarkan menempel di bagian tubuhku hingga obat di dalamnya habis tanpa menekan bagian alat suntiknya.
"Sudah," pungkas Bu Isti, sambil mencabut jarum suntik dan mengusap bagian tubuhku dengan kapas yang basah dan terasa dingin.
Bang Rafi masuk untuk membayar biayanya dan kami pun pamit untuk pulang.
"Bang, mau punya anak berapa?" Iseng aku bertanya.
"Lima, cukup," jawabnya asal.
Aku mencubit lengannya yang sedang aku pegang. Dia mengaduh, aku tertawa.
"Berapa pun anak kita, yang penting Ibunya tetap aku!"
Bang Rafi terkekeh. "Memang, dari siapa lagi?" Bang Rafi memegang pucuk kepalaku yang tertutup jilbab.
"Ratih?"
"Nggak usah bahas tentang dia, nggak penting. Lagian hubungan kamu dan Ibu tampaknya sudah lebih baik. Makasih ya ...." Bang Rafi menarik bahuku hingga kami berjalan dengan bahu saling bersentuhan
Cheesecake buatan aku dan Ibu terhidang di meja saat kami tiba. Ibu telah masuk kamar dengan lampu yang telah padam, Marisa tidak ada, mungkin di bawa Ibu ke kamarnya.
Setelah menikmati beberapa potong kue, aku meminta Bang Rafi untuk mengambil Marisa dari kamar Ibu dan segera beristirahat. Sementara aku, merapikan peralatan bekas membuat kue. Mencucinya, dan menyimpan kembali ke tempat asalnya.
Bagiku, lelah fisik itu biasa. Mungkin akan terasa linu saat bangun tidur, lalu akan kembali segar begitu terguyur air. Yang penting tidak makan hati, jika perasaan happy, pekerjaan rumah seberat apapun bagiku tak masalah.
Beberapa hari aku bisa menyikapi sikap Ibu dengan santai. Ibu memerintah, aku turuti. Ibu marah, aku manut aja, Ibu nyerocos, aku mendengarkan dengan takdzim hingga tidak ada keteganhan berarti sampai pada suatu sore, kami kedatangan tamu tak diundang.
"Ibu ...!" Seorang wanita seusia Bang Rafi menerobos dari arah pintu dan langsung memeluk Ibu.
Aku yang tengah menjerang air untuk mandi sore Marisa hanya memperhatikannya dari kejauhan. Seorang wanita bergamis polos warna coklat dibalut kardigan panjang warna moka dengan kerudung senada tampak akrab sekali dengan Ibu.
"Ini Ratih bawa oleh-oleh buat, Ibu." Gadis itu memberikan bungkusan pada Ibu.
Apa tadi dia bilang? Ratih? Oh, ini Ratih calon menantu idaman Ibu? Mati aku! Kukira dia gadis norak, genit, berpenampilan seronok ala-ala pelakor di #Kampung_Pelakor. Ternyata dia gadis cantik, berpenampilan sopan tapi elegan. Benar kata Ibu, dia memiliki kasta jauh di atasku.
Dadaku berdebar, aku melihat penampilanku dari ujung kaki sampai semua bagian yang dapat kulihat. Daster batik tanpa lengan dengan wajah kucel berminyak. Rambut diikat asal. Ah, minim nilai jual! Minder aku! Aku bermaksud mencuci muka di kamar mandi, untuk membuat wajahku sedikit segar tapi Ibu terlanjur memanggilku.
"Ning!"
Aduuuhhhh ....
anakku sekarang lahiran aku bebasin makan segala macam yg bergizi.😁
sarapan jam 10, makan sore jam 3, setelah jam 5 sore udah gaboleh makan.
makan cuma boleh nasi + sayur rebus (hambar gak ada rasa sama sekali).
gak boleh tidur siang, pdhl mlm harus melek nemenin adik.
bb lgsg anjlok 13kg selama 40hari ikut mertua, mau pulang kerumah setelah 7 hari lahirnya dedek tidak boleh. harus nunggu 40hari.
40 hari yg menyiksa, setelah skrg dirumah aku paling anti kalau diajak kerumah mertua, gak mau lagi. kecuali kesana pagi terus sore pulang