Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.
Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir nafas seorang ibu!
"Lela, lakukan cepat.."
Bu Sri tetap bersikap kukuh, memohon dengan sisa-sisa kesadaran yang kian menipis agar Lela segera membelah perutnya demi mengeluarkan bayi di dalam kandungannya.
Pandangan matanya yang sayu namun penuh kepasrahan menatap lurus ke dalam sanubari Lela. Melihat wajah Bu Sri yang begitu memohon dengan keputusasaan seorang ibu, pertahanan Lela akhirnya runtuh.
Dengan tangan yang gemetar hebat hingga sendi-sendinya terasa kaku, Lela mencengkeram erat gagang cutter kecil itu.
Sambil terisak tanpa suara, dia mengarahkan ujung pisau dan merobek baju daster putih Bu Sri yang telah basah oleh darah dan keringat. Kain itu terbelah, menyingkap perut buncit sang majikan yang di dalamnya menyimpan satu-satunya harapan kehidupan.
Saat menatap permukaan perut Bu Sri yang tegang, tangan Lela semakin gemetar, dan tangisannya kian pecah. Jiwanya menjerit menolak tindakan biadab yang harus dilakukannya ini.
Air mata yang deras mengaburkan pandangannya, membuat malam yang gelap di tengah hutan itu terasa semakin pekat dan menyiksa.
"Jangan ragu, lakukan saja." Ucap Bu Sri, mencoba memberikan kekuatan terakhir kepada pelayannya.
Suaranya teramat lirih, hampir habis ditelan desau angin malam. Bu Sri lalu meminta potongan kain dasternya kepada Lela untuk menyumbat mulutnya sendiri.
Dengan gerakan lemah, dia bersiap menjejalkan kain itu ke dalam rongga mulut. Tindakan itu dilakukannya agar dia tidak berteriak dan untuk menahan raung kesakitan yang amat sangat, yang dipastikan akan menyiksa seluruh tubuhnya sebentar lagi ketika bilah pisau itu mulai mengiris dagingnya.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Lela mulai mengiris kulit hingga menembus lapisan daging di perut Bu Sri.
Meskipun rasa takut yang teramat sangat mencengkeram dadanya, dan meskipun tubuhnya terus terisak tanpa suara, Lela mencoba menahan semua gejolak batin itu. Dia memaksakan dirinya demi memenuhi permintaan terakhir dari majikannya, wanita yang selama ini telah begitu baik kepada dirinya dan juga Sumi.
Bagi Lela dan Sumi, Bu Sri bukan sekadar seorang majikan. Sebenarnya, Lela dan Sumi adalah anak yatim piatu yang terlunta-lunta, sebelum akhirnya diterima bekerja oleh Bu Sri di awal masa pernikahan Bu Sri dan Pak Gunawan.
Selama bekerja, mereka tidak pernah diperlakukan layaknya pembantu rendahan, melainkan sudah dianggap seperti bagian dari keluarga sendiri.
Sambil terus menggerakkan bilah cutter kecil itu dengan saksama di tengah keremangan hutan, memori masa lalu berputar di kepala Lela, mempergila rasa sesak di dadanya.
Lela tahu betul bagaimana perjuangan dan perjalanan panjang Bu Sri bersama Pak Gunawan. Dia menjadi saksi hidup betapa pasangan suami istri itu harus melewati tahun-tahun pernikahan, Tuhan baru memberikan mereka kepercayaan berupa keturunan.
Anak yang kini berada di dalam rahim ini adalah mukjizat yang paling dinantikan oleh Bu Sri dan Pak Gunawan. Kehadiran anak itu adalah kebahagiaan terbesar untuk majikannya itu.
Darah segar menyembur, membasahi jemari Lela yang kaku. Di bawahnya, Bu Sri memejamkan mata rapat-rapat, menggigit kain daster di mulutnya dengan begitu kencang hingga urat-urat di lehernya menegang parah.
Tubuhnya kelojotan menahan rasa sakit yang tak terbayangkan saat mata pisau Lela mengoyak dinding perutnya. Lela menangis sejadi-jadinya dalam diam, memohon dalam hati agar mukjizat itu datang sekali lagi, demi bayi yang kini berada di ambang antara hidup dan mati.
Daging demi daging dilewati oleh bilah cutter kecil itu. Semakin dalam sayatan itu masuk, semakin mengerikan pula rasa sakit yang harus dirasakan oleh Bu Sri.
Seluruh tubuh wanita itu gemetar hebat, menegang sampai batas yang begitu sakit, demi menahan jeritan yang tertahan oleh sumbatan kain di mulutnya. Matanya melotot menahan siksaan yang teramat sangat, sementara keringat dingin dan air mata bercampur membasahi wajahnya yang kian memutih.
Melihat pemandangan yang begitu menyayat hati itu, Lela semakin terisak dan gemetar. Tangannya yang dipenuhi lumuran darah hangat nyaris tidak mampu lagi menggenggam gagang pisau kecil tersebut.
Setiap mili irisan terasa seperti dosa besar yang sedang ia lakukan, namun bayang-bayang kebaikan Bu Sri dan harapan keselamatan sang bayi terus memaksanya untuk tidak berhenti.
Perlahan-lahan, lapisan dinding rahim akhirnya terbuka. Di balik genangan darah, bayi yang dibalut oleh kantung ketuban atau selaput ketuban itu mulai terlihat samar-samar. Bayi itu masih terbungkus utuh di dalam cairan yang melindunginya selama ini, tampak begitu rapuh di tengah jahanamnya malam itu.
Melihat wujud sang bayi yang sudah berada di depan mata, jantung Lela berdegup kian kencang. Ia tahu, detik-detik ini adalah penentu apakah pengorbanan nyawa Bu Sri dan Sumi akan membuahkan hasil, atau justru berakhir menjadi tragedi yang sepenuhnya sia-sia di dalam kegelapan hutan terkutuk tersebut.
Setelah berhasil menyayat tuntas daging perut Bu Sri, dengan sisa keberanian yang paling nekat, Lela merobek kantung ketuban tersebut.
Menggunakan kedua tangannya yang gemetar dan basah kuyup, Lela mengeluarkan bayi tanpa dosa yang kini berlumur darah ibunya itu dari dalam rahim.
Namun, kegembiraan singkat itu langsung sirna. Tubuh mungil itu terasa begitu lemas dan dingin. Bayi itu sama sekali tidak menangis. Kulitnya pucat, dan dia seperti tidak bernapas lagi.
"Tidak, tidak... Tolong, jangan mati." Ucap Lela, kepanikannya kini naik ke ubun-ubun.
Dengan panik Lela mengangkat tubuh bayi itu. Ingatannya mendadak berputar pada adegan yang pernah ditontonnya di televisi waktu di kota, saat adegan dokter menyelamatkan bayi yang tidak menangis setelah lahir.
Sambil terisak dan menahan napas agar tidak menimbulkan suara di tengah kepungan hutan, Lela membalikkan tubuh bayi itu dengan hati-hati. Dia memposisikan kepala sang bayi agak menurun, lalu dengan telapak tangannya yang gemetar, dia mulai menepuk-nepuk dan menyentil telapak kaki mungil sang bayi berulang kali.
Plak! Plak! Plak!
"Ayo, Nak... Menangis, tolong jangan diam saja." Batin Lela menjerit, meraba dada kecil sang bayi yang belum memperlihatkan tanda-tanda detak jantung.
Lela kemudian membersihkan sisa cairan dan darah yang menyumbat mulut serta hidung bayi itu menggunakan ujung jarinya, persis seperti yang dilakukan para medis di televisi.
Dia kembali menepuk punggung bayi itu dengan gerakan cepat namun penuh kehati-hatian, berharap keajaiban datang dan mengembalikan napas kehidupan ke dalam tubuh rapuh yang baru saja dilahirkan dari altar pengorbanan berdarah tersebut.
Dan tak lama, seperti Tuhan sudah mendengar permohonan tulus itu, bayi yang sangat kecil itu akhirnya mengeluarkan suara.
Tangisan pertamanya yang cempreng memecah keheningan malam. Suara kehidupan itu membuat Lela merasa sangat lega dan bersyukur, air matanya kembali tumpah, namun kali ini bercampur dengan rasa haru yang luar biasa di tengah keputusasaan.
Di kejauhan, para perampok yang mengejar dan masih mencari-cari Lela dan Bu Sri di dalam hutan itu mendengar suara tangisan tersebut. Di tengah sunyinya hutan malam, suara tangis bayi merah itu menggema dengan begitu jelas. Langkah kaki keempat penjahat itu seketika terhenti.
"Ada suara bayi!" kata salah satunya dengan nada terkejut.
"Disana! Suara itu di sana!" ucap yang satu lagi, menunjuk ke arah suara itu terdengar.
Mengetahui mangsa mereka sudah dekat, keempat perampok itu lalu berlari kencang ke arah suara itu, mengacungkan parang mereka yang berkilat tajam di bawah kegelapan malam, siap untuk menghabisi siapa saja yang tersisa.
"Nyonya, bayinya. Dia hidup, Nyonya." Kata Lela pada Bu Sri yang sudah setengah sadar. Air mata Lela mengalir deras, membasahi wajahnya yang penuh dengan noda darah .
Bayi merah di pelukannya bergerak pelan, mengeluarkan suara tangis kecil yang begitu berharga. Bu Sri membuka matanya yang kian meredup dengan sangat lambat. Kesadarannya timbul tenggelam di ambang maut.
"Lela, pergilah, bawa dia pergi dari sini. Selamatkan dirimu dan anak ini. Jagalah dia, anggap dia seperti anakmu sendiri," kata Bu Sri, suaranya teramat lirih, hampir habis tersapu angin malam.
"Tapi Nya..." Ucap Lela dengan tenggorokan yang tercekat. Bagaimana mungkin dia harus meninggalkan majikannya sendirian di tengah hutan dalam kondisi seperti ini?
"Jangan pikirkan aku, aku mungkin sudah akan menyusul Mas Gunawan." Kata Bu Sri. Kalimat pasrah yang keluar dari bibir yang kian memutih itu membuat Lela semakin berlinang air mata.
Jiwanya berguncang hebat menyaksikan akhir dari perjalanan hidup sepasang suami istri yang selama ini teramat baik kepadanya.
"Lela, dekatkan dia. Biarkan aku menciumnya yang pertama dan terakhir kalinya," ucap Bu Sri dengan napas yang semakin terputus-putus. Tatapan matanya yang sayu berangsur melembut, memancarkan seluruh sisa cinta yang dia miliki di dunia ini.
Lela pun mendekatkan bayi itu pada Bu Sri, menurunkannya dengan sangat hati-hati ke dekat wajah sang ibu. Bu Sri lalu mencium bayinya dengan cinta yang begitu dalam. Bibirnya yang dingin menyentuh kulit lembut sang buah hati, menyalurkan kehangatan terakhir seorang ibu sebelum raganya mendingin.
"Pergilah, Lela. Sebelum mereka datang. Pergilah, bawa dia pergi. Aku... akan selalu bersama kalian," kata Bu Sri.
Tepat setelah kalimat perpisahan itu terucap, Bu Sri mengembuskan napas terakhirnya.
Beban berat di dadanya luruh, dan sedetik kemudian, kepalanya tergulai lemas ke samping. Matanya terpejam lambat, meninggalkan segala penderitaan duniawi di lantai hutan yang sepi.
"Nyonya...!" teriak Lela tertahan. Tangisnya pecah tanpa suara, meratapi kepergian pelindungnya. Namun, sayup-sayup suara teriakan para perampok yang kian mendekat memicu naluri bertahan hidupnya untuk bergerak cepat.
Setelah dengan sigap mengikat tali pusar bayi itu dengan kain daster yang dia potong kecil, dia lalu memutusnya menggunakan ujung cutter, Lela pun bersiap untuk pergi. Lela mengambil sisa kain daster Bu Sri yang dia robek dengan terburu-buru untuk membungkus tubuh ringkih bayi itu agar terlindung dari udara malam yang menusuk tulang.
Sambil mendekap erat sang bayi di dadanya, Lela bangkit berdiri dengan kaki yang gemetar hebat. Tanpa menoleh lagi ke belakang, dia berbalik dan berlari sekuat tenaga menembus rimbunnya semak berduri, membelah kegelapan malam demi menyelamatkan dirinya dan bayi tak berdosa itu dari maut yang terus mengejar.
Sementara di belang mereka, tubuh Bu Sri yang tak lagi bernyawa mengantar pelarian malam itu.
*****
Buat para pembaca, terim kasih ya untuk dukungan kalian pada karya-karya author yang masih banyak kekurangannya ini. Untuk support author jangan lupa untuk like, vote dan bintang lima ya🥰 terimakasih