NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Perperangan / Akademi Sihir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Author Raf

Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.

Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.

Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.

Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.

Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.

Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 Rencana Menuju Pulau Es

   Sinar matahari pagi yang cerah menembus celah-celah jendela kaca besar di ruang kemudi utama The Sky Leviathan. Cahaya itu memantul di atas permukaan meja marmer bundar yang kini dipenuhi oleh gulungan peta navigasi kuno dan dokumen-dokumen militer yang setengah terbuka.

   Sisa-sisa ketegangan dari pertempuran melawan kapal-kapal hitam Sekte The Obsidian Dawn tadi malam masih terasa samar dari aroma mesiu sihir yang belum sepenuhnya hilang dari dek luar. Namun, di dalam ruangan ini, sebuah rencana besar yang akan menentukan nasib seluruh keluarga Kapten Alden sedang mulai disusun.

   Clara duduk di salah satu kursi kayu berukir di sisi meja. Tubuhnya sudah jauh lebih segar setelah mendapatkan istirahat total semalam penuh. Di tangan kanannya, sarung tangan Sutra Laba-laba Salju masih melekat dengan pas, mengalirkan hawa sejuk yang menenangkan saraf-sarafnya yang sempat tegang.

   Di hadapannya, Kapten Alden berdiri tegap membelakangi meja, memandangi kompas magnetik sihir raksasa yang melayang di tengah ruangan. Pria itu sudah kembali mengenakan seragam militer lengkapnya, namun ekspresi wajahnya tidak lagi sekaku hari-hari pertama pernikahan mereka.

   Setiap kali tatapan abu-abu badainya beralih kepada Clara, ada sebuah kehangatan dan rasa protektif yang sangat mendalam di sana, sebuah perubahan nyata pascaperistiwa manis di kamar Clara tadi malam.

   "Kondisi kapal saat ini sudah stabil, namun kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan perisai penyamaran The Sky Leviathan," buka Alden, suaranya berat dan berwibawa memecah keheningan ruangan. Pria itu berbalik dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas tepian meja peta.

   "Serangan tadi malam membuktikan bahwa sekte hitam itu memiliki alat pelacak kutukan yang jauh lebih sensitif dari yang kita duga. Begitu Gerhana Abadi mendekat, energi kutukan di dalam tubuh Leo, Rin, dan Toby akan semakin bergejolak dan memancarkan suar energi yang mengundang musuh."

   Clara mengangguk setuju, ekspresi wajahnya berubah serius. Ia menarik salah satu gulungan peta kuno yang membahas tentang anatomi makhluk mistis dan sihir penawar dari Kuil Agung. "Anda benar, Alden. Kutukan yang ditanamkan pada mereka adalah jenis Kutukan Mengakar. Benda itu menyatu dengan inti sihir alami makhluk mistis di dalam darah mereka. Jika kita hanya menahannya dengan segel perak seperti yang ada pada Rin, lambat laun tubuh anak-anak tidak akan kuat menahan tekanan ganda dari kutukan dan sihir mereka sendiri."

   Clara menggeser jemarinya di atas peta, menunjuk sebuah titik terpencil di ujung utara peta navigasi langit. "Satu-satunya cara untuk menyelamatkan mereka adalah dengan mencabut akar kutukan tersebut sebelum Gerhana Abadi tiba. Dan berdasarkan catatan medis kuno yang pernah saya pelajari di Kuil Agung, bahan utama untuk membuat ramuan penawar kutukan hitam tingkat tinggi hanya bisa ditemukan di satu tempat."

   Alden menyipitkan matanya, mengikuti arah telunjuk Clara. "Pulau Melayang Frostfire."

   "Benar," jawab Clara tegap. "Pulau itu dikelilingi oleh badai salju abadi yang sangat berbahaya, namun di intinya terdapat sebuah mata air magis bernama Mata Air Air Mata Phoenix Ice. Cairan dari mata air itu memiliki sifat murnifikasi total yang bisa memisahkan energi hitam dari inti sihir murni tanpa merusak aliran darah anak-anak."

   Alden terdiam, rahangnya sedikit mengeras saat memikirkan rute pelayaran menuju ke sana. Sebagai seorang kapten berpengalaman, ia tahu betul reputasi buruk dari Pulau Melayang Frostfire.

   Tempat itu bukan sekadar pulau terpencil, melainkan wilayah terlarang yang dipenuhi oleh monster-monster elemen es purba dan turbulensi udara yang bisa merobek lambung kapal perang sekalipun.

   "Rute menuju utara adalah jalur yang sangat berbahaya, Clara," kata Alden, melangkah memutari meja hingga ia kini berdiri tepat di samping kursi Clara. Pria itu menundukkan tubuhnya sedikit, menatap lurus ke dalam sepasang mata jernih istrinya dengan tatapan yang sarat akan rasa khawatir. "Badai es di wilayah itu bisa membekukan mesin sihir utama kapal dalam hitungan menit. Ditambah lagi, armada sekte hitam pasti akan memprediksi pergerakan kita jika mereka tahu kita sedang mencari penawar untuk anak-anak."

   Clara tidak mundur dari tatapan protektif Alden. Ia justru mengulurkan tangan kirinya, menyentuh lembut punggung tangan Alden yang berada di atas meja, sebuah tindakan kecil yang kini selalu berhasil menenangkan gejolak emosi di dada sang Kapten.

"Aku tahu ini berbahaya, Alden. Namun, kita tidak punya pilihan lain. Kita tidak bisa terus berlari dan bersembunyi di atas langit ini selamanya. Anak-anak berhak mendapatkan kehidupan yang normal, di mana Leo bisa melepaskan apinya tanpa takut membakar dirinya sendiri, dan Rin bisa menyanyikan lagu tanpa takut mengutuk orang lain."

   Mendengar kata-kata Clara, Alden menghembuskan napas panjang.

   Sentuhan tangan Clara yang sejuk dan kata-kata penuh tekadnya seolah menjadi bahan bakar baru bagi keberaniannya. Dinding es di hatinya kini benar-benar telah digantikan oleh rasa ketergantungan yang kuat pada wanita di hadapannya ini.

   "Baiklah," ujar Alden dengan nada suara yang kembali tegas dan penuh keputusan mutlak seorang komandan. "Kita akan mengubah haluan pelayaran The Sky Leviathan menuju utara. Aku akan memerintahkan kru untuk memperkuat lapisan pelindung mesin dengan kristal api tingkat tinggi agar tidak membeku saat memasuki wilayah badai es."

   Pintu ruang kemudi mendadak terbuka dengan ketukan yang teratur. Bernet melangkah masuk dengan sikap hormat yang kaku, membawa sebuah nampan berisi surat resmi berpita segel lilin merah berlambang militer kekaisaran.

   "Mohon maaf mengganggu waktu Anda, Kapten, Nyonya Clara," sapa Bernet dengan nada formal. "Seekor burung merpati sihir militer baru saja tiba dari ibu kota. Ada pesan darurat dari Markas Besar Pertahanan Langit."

   Alden mengambil surat tersebut, memecahkan segel lilinnya dengan cepat, lalu membaca deretan kalimat sihir yang tertulis di atas perkamen emas tersebut. Seiring ia membaca, kerutan di dahinya kembali dalam, dan aura magis petarung langit miliknya sempat berdesir dingin di udara ruangan.

   "Ada apa, Alden? Apakah ada kabar buruk?" tanya Clara, bangkit dari kursinya dengan rasa cemas yang mulai merayap di hatinya.

   Alden meremas perkamen itu hingga hancur menjadi abu sihir di telapak tangannya. "Pihak militer kekaisaran meminta aku untuk segera kembali ke ibu kota. Mereka mendeteksi adanya aktivitas mencurigakan dari sekte hitam di daratan bawah dan membutuhkan armada The Sky Leviathan untuk melakukan patroli pengamanan."

   Clara membelalakkan matanya. "Ini adalah jebakan. Mereka sengaja menggunakan otoritas militer untuk menarikmu menjauh dari anak-anak, atau memisahkan kita agar kapal ini kehilangan perlindungan utamanya."

   "Aku tahu," desis Alden dingin, sepasang matanya berkilat penuh amarah taktis. "Sekte The Obsidian Dawn pasti memiliki mata-mata di dalam jajaran petinggi militer kekaisaran. Mereka tahu aku tidak akan bisa menolak perintah resmi kekaisaran tanpa dituduh sebagai pengkhianat negara."

   Alden berbalik menatap Clara, lalu menggenggam kedua belah tangan Clara dengan sangat erat. Tatapan abu-abu badainya kini memancarkan keputusan yang sangat berani sekaligus berbahaya. "Clara, rencana menuju Pulau Melayang Frostfire tidak boleh ditunda. Waktu kita sebelum Gerhana Abadi semakin sempit."

   "Lalu apa rencana Anda, Kapten?" tanya Clara, detak jantungnya berpacu cepat.

   "Aku akan membagi armada kita," jawab Alden dengan nada suara yang dalam dan yakin. "Aku akan mengambil satu kapal sekoci tempur cepat untuk pergi ke ibu kota demi memenuhi panggilan militer dan mengalihkan perhatian mata-mata sekte tersebut. Sementara itu, The Sky Leviathan akan tetap berlayar menuju utara menuju Pulau Es di bawah komandomu dan Bernet."

   Clara tertegun, menatap suaminya dengan pandangan tidak percaya. "Di bawah komandoku? Alden, aku adalah seorang wanita tanpa sihir. Bagaimana bisa aku memimpin sebuah kapal perang raksasa menembus badai es abadi tanpa kehadiranmu?"

   Alden menarik tubuh Clara ke dalam dekapan dadanya yang bidang dan hangat, mengunci wanita itu dalam pelukan yang sangat protektif sebelum mereka harus berpisah jarak. Ia menundukkan kepalanya, membisikkan kata-kata penuh keyakinan tepat di telinga Clara.

"Karena kau adalah satu-satunya orang yang aku percayai di seluruh dunia ini untuk menjaga nyawa anak-anak kita, Clara. Kau memiliki sarung tangan perak itu, kau memiliki pengetahuan Kuil Agung, dan yang paling penting... kau memiliki hati seorang ibu yang tidak akan pernah menyerah pada kegelapan. Kru kapal ini telah melihat keberanianmu tadi malam, mereka akan mematuhimu seperti mereka mematuhiku."

   Alden melepaskan pelukannya sedikit, lalu menatap wajah Clara dengan tatapan yang sarat akan rasa cinta yang mendalam. "Jaga dirimu dan anak-anak kita selama aku tidak ada, Clara. Aku bersumpah akan menyelesaikan urusan di ibu kota secepat mungkin dan menyusul kalian ke Pulau Frostfire sebelum badai es mengunci pulau tersebut."

   Clara merasakan debaran dada Alden yang konstan, menyalurkan seluruh kekuatan batin dan keberanian ke dalam jiwanya. Rasa ragu di hatinya sirna, digantikan oleh kobaran tekad yang membara. Pernikahan kontrak ini telah berubah menjadi sebuah perjuangan nyata demi masa depan keluarga mereka.

   "Baiklah, Alden. Pergilah selesaikan urusanmu di ibu kota," jawab Clara dengan senyum tulus yang menguatkan, meski ada rasa berat di hatinya karena harus berpisah. "Aku bersumpah akan membawa Leo, Rin, dan Toby tiba di Pulau Es dalam keadaan selamat. Kami akan menunggumu di sana."

   Mencairnya ketegangan di antara mereka ditutup dengan sebuah kecupan dalam yang murni di kening Clara oleh Alden, sebuah tanda perpisahan sementara yang mengunci janji setia di antara sepasang belahan jiwa di atas Samudra Langit yang luas.

1
Al Ranai
semangat kakkk
HaRas_DeHas: Makasih banyak Kak. Jangan lupa follow ya.
total 1 replies
Al Ranai
semangatt kakk, di tunggu kelanjutannya yaaa💪💪😁
HaRas_DeHas: Siap...
total 1 replies
Al Ranai
bagus kakkk ceritanya, semangatt kakkk😊
HaRas_DeHas: Wahhh... makasih banyak Kak sudah mampir. Alhamdulillah, saat sepi pembaca ternyata ada yang mampir dan beri komen. Jangan lupa follow akun saya ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!