Menjadi cantik dan berprestasi bukan sebuah jaminan memiliki kehidupan yang baik. Alina gadis yatim piatu berparas cantik juga salah satu primadona kampus dengan banyak prestasi harus menerima takdirnya yang buruk.
Alina tidak menyangka bahwa akibat dari cinta satu malamnya yang tidak di sengaja bersama Presdir kejam bernama Revan menuai hinaan dan hujatan dari orang disekitarnya karena telah berbadan dua...
Diharapkan untuk pembaca agar bijak dalam menanggapi tulisan ini 😁😁😁
bagi yang belum cukup umur jangan intip intip ya..☺️☺️☺️🌺🌺🌺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vinyfillah☺☺, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit (Part 1)
Sudah seminggu lebih mereka tinggal dirumah Rio semua asisten rumah tangga sangat ramah. Alina tidak membedakan mereka, meskipun status sebagai pembantu dirumah itu Alina tidak serta merta memperlakukan mereka sesukanya, bagi Alina semua sama status tak bisa membedakan mereka membuat para pekerja rumah itu merasa nyaman diperlakukan juga sebagai tuan rumah.
"Bu, pak Mus tadi kemana ya?"
" Ada dibelakang Neng mau ibu panggilkan?"
"Iya Bu."
"Ya udah, neng kalau capek istirahat aja jangan maksain oke?"
"Iya Bu, ini juga udah mau selesai ngepelnya."
Semenjak usia kandungannya menginjak usia 9 bulan Alina sering melakukan pekerjaan rumah tangga ia mengikuti instruksi Dokter yang ia kunjungi minggu kemarin yang menyarankannya untuk banyak bergerak agar mempermudah persalinannya nanti. Sejak awal Alina memang tidak bermanja manja ia selalu melakukan beberapa pekerjaan rumah terutama saat ia merasa bosan karena tidak punya kesibukan, sehingga terkadang membuat para asisten rumah tangga gemas dengan bumil yang satu ini karena terlalu lincah dan tidak mau diam.
"Neng Alina bisa nggak diam aja?" ucap bi Imah
"Gak bisa bi Imah."
"Iya neng Alina diam aja napa, bikin gemes aja liatnya perut buncit gitu kesana kemari kerjain ini itu, pengen cubit deh." Ucap Santi ikut ikutan.
"hiihh bi, kata Dokter aku harus banyak gerak." Ucap Alina membantah.
"Gerak sih gerak neng tapi pelan-pelan jangan gitu, perutnya ituloh dijaga!" Ucap bi Imah ikut gemas.
"Iya bi jangan khawatir masi terkendali oke."
"Neng kalau lagi hamil gede gini disuruh gerak tetapi seperlunya saja bukan kayak neng Alina dari pagi sampe sekarang udah mau siang masih aja beres beres rumah istirahatnya malah kurang." Ucap bi Imah
"Iya bi, Alin istirahat setelah selesai ngepel."
"Udah neng biar bi Imah aja yang lanjutkan neng istirahat aja oke." pinta bi Imah, "ampun deh, neng Alina bikin bibi khawatir setengah mati."
"Hehehehe. Iya bi nih." Ucap Ani menyerahkan gagang pel.
"Nah gitu dong. Nih ti, kamu yang lanjutkan." Ucap bi Imah tersenyum.
Tak lama ibu Ani dan pak Mus muncul dari dapur. Alina yang melihat, langsung memanggil dan menyuruh pak Mus untuk mendekat sambil ia menuang air digelas kaca dan minum.
"Pak Mus besok bisa nggak tangkap ikan yang dikolam belakang? Ikan kecil aja 2 ekor isi di toples kaca ukuran sedang."
"Bisa Neng nanti bapak tangkap."
"Makasih ya pak nanti kalau sudah ada langsung taruh dikamar saya aja."
"Baik neng."
"Ya sudah aku ke atas dulu mau istirahat." Ucap Alina sambil mengelus punggungnya yang mulai terasa sakit.
Sebelumnya Alina memang sudah sering merasa nyeri seperti ini beberapa kali. Untuk pertama kalinya ia merasakan kontraksi pada perutnya, awalnya ia menangis karena sakitnya dari punggung yang langsung naik ke perut, tapi lama kelamaan ia mulai terbiasa dengan sakitnya sehingga jika kontraksinya terjadi lagi ia hanya meringis dan mengelus punggungnya yang sakit.
"hmmmm, sakit banget ." Ucap Alina meringis sambil mengelus punggungnya.
"Neng kenapa?" Ucap ibu Ani yang sejak awal mulai curiga dengan Alina.
"Nggak ada apa-apa Bu." Ucap Alina kecut menahan sakit.
"Jangan bohong sama ibu, sudah mulai sakit ya?"
"Iya Bu. Udah dari beberapa hari yang lalu."
"Kontraksi awal memang begitu, nanti sakitnya jadi makin lebih sering lagi."
"Iya kata Dokter Andien juga kayak gitu makin sering sakitnya justru makin bagus katanya."
"Ibu buatin jahe peras ya? Bagus buat kamu yang mau lahiran."
"Iya Bu."
"Ibu kedapur dulu." Ucap Bu Ani sambil memegang perut Alina, "tidak lama lagi, udah kencang gini perutmu neng. Biasanya pas bayinya mau gerak juga terasa sakit ." Ucap Bu Ani dan langsung keluar kamar.
Saat kesakitan seperti ini Alina langsung teringat Revan, memikirkan apa yang akan dilakukan Revan jika mengetahui kalau perutnya sudah mulai terasa sakit. Tidak ia pungkiri saat ini dia sangat membutuhkan perhatian Revan, apalagi disaat sakitnya terasa. Terbesit keinginan untuk menelfon Revan dan mengabarinya kalau ia sudah mengalami kontraksi saat ini.
"Neng kok nangis?" Ucap bi Imah yang lansung masuk kamar dan disusul oleh Santi.
"Sakit bi."
"Yang sabar ya neng emang gini kalau mau lahiran sakitnya itu luar biasa."
"huuuffftt.. Iya bi." Alina menarik nafas ketika sakitnya muncul lagi.
"Santi kamu sudah telfon Pak Rio?" Tanya bi Imah.
"Sudah. Katanya sekarang lagi dijalan."
"Loh kenapa telfon kak Rio sih bi?"
"Buat jaga-jaga kalau neng Alina mau dibawah kerumah sakit."
"Oohh, ibu mana bi Imah?"
"Didapur neng lagi buat ramuan jahe buat neng Alina."
"Ooh, bi Imah tahu darimana Alina sakit perut?"
"Bibi lihat Ibu Ani tergesa-gesa mau bikin ramuan jahe, langsung deh bibi tebak neng Alina pasti udah mulai sakit perut."
"Ooh, bi tolong ambilkan HP Alin ditempat tidur."
"Nih neng." Ucap Santi sigap.
"Makasih ya mba Santi cantik." Ucap Alina tersenyum memaksa karena masih kesakitan.
"Iya neng Alina cantik."
Sambil memegang telfon dan mencari nomor kontak yang mau dihubungi, Alina berjalan perlahan ke balkon kamarnya. Dipikirannya masih terus teringat pada Revan ingin sekali ia menelfon dan berkeluh kesah atau jika boleh ingin memaki Revan.
"Telfon kak Kamilah aja."
tuuut...tuut..tut.. (tersambung)
"Hallo.."
"Hallo kak."
"Hei kok nangis sih, Lin? Baru juga telfon diangkat."
"Perut Alin sakit kak, bikin Alina tersiksa."
"Cup.. Cup.. Cup.. Jangan ngomong gitu, kalau sakit itu artinya si kembar nggak lama lagi ketemu mamanya kan?" Ucap Kamilah menghibur.
"Iya kak tapi sakit banget" ucap Alina, "ini semua gara-gara Revan si muka tembok plus kecoak busuk itu, aku jadi kesakitan gini."
"Sayang jangan ngomong gitu oke?" Ucap Kamilah, "nanti si kembar denger terus mereka jadi sedih karena merasa nggak diterima sama mamanya kan kasihan."
"Iya kak, " ucap Alina tiba-tiba menyesal. "Si kecoak busuk itu pasti lagi bersenang-senang disaat Alina kesakitan gini."
Alina tidak menyadari bahwa panggilannya juga sudah disambungkan Kamilah pada Revan. Kamilah tahu saat ini Alina membutuhkan dukungan dari Revan, oleh sebab itu ia nekat menyambungkan panggilan mereka.
"Kak bisa berangkat sekarang nggak?" Ucap Alina, "Alin takut lahiran nanti nggak ditemani kak Kamilah."
"Kan ada Ibu Lin." Ucap Kamilah
"Pengen ada kakak juga Alin nggak mau ditemani cuma sama ibu aja." Ucap Alina manja dan masih menangis.
"Maaf ya Lin aku belum bisa sekarang. Tunggu seminggu lagi ya." bujuk Kamilah.
"Iya kak Alina tunggu."
"huufftt sakit banget." Ucap Alina sambil menarik nafas.
"Sakit?"
"Iya kak. Kata kak Andien kalau sudah keluar lendir dan darah sakitnya akan semakin sering, huuufftt..."
"Sejak kapan keluarnya Lin?"
"Tadi pagi kak." Ucap Alina, "ya sudah Alina tutup ya."
Sementara diseberang telfon Revan yang sudah sangat khawatir dan ingin berbicara akhirnya batal karena telfonnya sudah terputus.
Alina kembali kekamar disana sudah ada ibu Ani yang menunggunya selesai menelfon. Kemudian menyodorkan ramuan jahe kepada Alina yang selalu berjalan mondar-mandir didepan mereka karena menahan sakit sambil meringis dan sesekali menangis.
"Eeekkhhh.. Bu iiihhh nggak enak." Ucap Alina.
"Hahahahha.." Tawa Santi membahana.
"Pedes Bu. Minta air, air minumnya."
"Jangan air, nih madu." Ucap bi Imah
"Gini amat ya kalau mau lahiran siksanya dikasi dobel."
"Emang gitu neng. Ini demi kelancaran persalinanmu nanti." Ucap Bu Ani.
"Iya Bu."
"Neng kalau bisa jangan banyak ngeluh nggak baik, kalau sakitnya muncul lagi neng bisa nangis atau bawa ngomong si dedek biar dia cepat keluar."
"Iya Bu, ini pertama kalinya buat Alin banyak yang Alin nggak ketahui."
"Wajar neng, kalau lagi hamil banyak pamalinya neng. Percaya nggak percaya tapi tetap di ikuti." Ucap Ibu Ani.
Saat ini kontraksinya semakin intens. Alina terus saja berjalan mondar-mandir di kamar bahkan sedikit melompat-lompat. Sakitnya luar biasa terkadang ia menangis jika sakitnya sudah berada di bagian perut.
"Gimana neng masih sakit?"
"Udah nggak sakit banget bi, berkurang. Tapi sakitnya kadang hilang kadang muncul lagi."
"Emang gitu neng, mumpung sakitnya berkurang neng Alina bawa istirahat aja tiduran atau apa biar ada tenaga nanti kalau ngeden." Ucap bi Imah.
"Iya bi."
"Yang sabar ya neng." Ucap Santi
"Makasih ya mbak Santi," ucap Alina tersenyum. "Bi, kok sakitnya beda ya sama sakit-sakit yang lain, kalau ini punggung rasanya seperti di tembak pake karet yang gede banget perih gimana gitu."
"Iya neng emang gitu sakitnya susah buat diungkapkan pakai kata-kata." Ucap bi Imah.
.
.
.
^bersambung_^
Makasih buat readers atas dukungan kalian.
Jangan lupa vote like sama komentarnya ya tetap dukung author yang punya banyak kekurangan ini.
I LOVE U BERTUBI TUBI READERSKU 😍😍😍😘😘😘😘
Di episode selanjutnya mungkin akan sedikit membosankan. Tetapi apapun komentar kalian para readers akan saya terima dengan lapang dada. Terimakasih semua selamat membaca 😁😁😁
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu