Aku mencintai sahabat ku sendiri memang Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini apakah aku hanya bisa mempertahankan perasaan ini atau mungkin membuang perasaan ini jauh-jauh
Apakah ini perasaan salah atau Mungkin takdir Tuhan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tania22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 menceritakan tentang Masa kecil Raga
Bianca mengendap masuk ke ruang tepat Raga di rawat, meraih gagang pintu dan memutarnya sepelan mungkin supaya tidak menimbulkan suara. Barusan dia berbohong pada suster bahwa dia adalah adik Raga, supaya bisa diizinkan masuk Sebuah kantong plastik bening berisi beberapa batang es krim kesukaan Raga sudah dibelinya dalam perjalanan ke sini. Raga pasti kebosanan bukan main di kamarnya,
hanya ditemani satu unit televisi yang menyajikan siaran sinetron sepanjang malam Senja bilang dia akan pulang pukul delapan, jadi Bianca bermaksud menggantikannya untuk menemani Raga
Langkahnya terhenti. Dia melihat pemuda itu terbaring di atas tempat tidur dalam pakaian Rumah sakit berwarna biru muda, di Wajahnya sebuah ekspresi lembut yang sulit dijelaskan. Lalu, Bianca melihat Senja yang sedang terlelap, dan sayup-sayup mendengar kalimat yang dikatakan Raga. Dan, dia mengerti ia mengambil beberapa langkah mundur yang agak terburu-buru, lantas menabrak seseorang di depan pintu. Ketika menoleh, Bianca bertatapan langsung dengan Devan
Devan menyandang tas berisi pakaian dan handuk kotornya setelah dua jam penuh bermain futsal. Dia melangkah masuk ke dalam rumah sakit untuk menjenguk adik satu-satunya yang hari ini bermalam di sini.Kasihan, pasti suram banget hidupnya di sini, begitu putusnya, jadi ia pun membawakan beberapa jilid komik baru kesukaan Raga untuk santapan malam ini. Lumayan untuk melewati bosan.
Di lantai tiga, dia bertemu dengan seorang suster yang menghalangi jalannya. “Maaf, Dik, jam besuk sudah habis.”
“Saya kakaknya,” Devan berkata, menunjuk bawaannya Saya Cuma sebentar kok, hanya mau membawakan barang.”
Suster itu tampak ragu, tetapi luluh melihat senyum Devan yang memohon Ya sudah, tapi jangan lama-lama ya Barusan adik perempuannya juga datang berkunjung, mungkin sekarang masih ada di dalam.”
" Adiknya ? Dhanny tidak habis pikir, tapi dia diam saja dan segera berjalan ke kamar rawat Raga Baru saja ia ingin masuk, tapi pintu terbuka dan muncul salah satu teman
Raga—gadis bule itu—dengan ekspresi tidak keruan.
Devan mengingat namanya.
“Bianca ?
“ Bianca .” Dia mengangguk singkat, masih tampak terkejut.
“Ada apa? Raga ada di dalam, kan?” Sebelum Bianca mampu merangkai kata untuk menjawab, Devan menjulurkan kepala dan melihat adiknya, yang sedang menarik selimut miliknya sendiri untuk menghangatkan Senja yang sepertinya sedang pulas.
“Nggak mau masuk?”
Bianca menggeleng. “Aku mau pulang saja.”
Devan mengamati perubahan raut wajah Annalise, tiba-tiba saja mengerti apa yang membuat gadis ini berubah pikiran begitu saja. Digosok-gosokkannya kedua telapak tangan yang mulai dingin karena sejuknya malam.
“Kuantar pulang, ya?” Melihat Bianca mempertimbangkan ajakannya dengan ragu, senyum Devan mengembang. Aman kok, pasti selamat tiba di rumah. Tapi sebelummnya, temenin aku makan dulu sebentar.”
Bianca terdiam sejenak, lalu mengangguk dengan senyum kaku dan mengikutinya menuju 24-hour café di lantai bawah
“Percaya atau tidak, rumah sakit ini punya café dengan makanan yang enak banget, walaupun banyak orang bilang makanan rumah sakit nggak bisa dimakan sama sekali.”
Devan memilih runa casserole hangat dan secangkir espresso, lalu memilih sebuah meja di sudut yang agak jauh dari pintu keluar. Dilihatnya Annalise hanya memesan semangkuk sup krim asparagus dan segelas teh tawar hangat sehingga ia memotong sedikit makananannya dan meletakkannya di piring gadis itu.
" Kamu belum benar-benar mengenal yang namanya makanan enak kalo belum nyobain ini.”
Sekali lagi, Bianca mengulas senyum tipis, lalu menyesap minumannya. “Di New York ada sebuah kedai yang menjual kudapan seperti ini. They have the best burritos and casserols in town.”
Devan mengunyah makanannya tanpa suara. “Kamu kangen New York?”
Ekspresi Bianca melembut ketika menjawab. “ Kadang-kadang. City view di sana sangat indah, terutama Natal di daerah Rockefeller.”
“Kamu pernah memotretnya?”
Bianca mendongak, seakan terkejut ditanya demikian. “Pernah, beberapa kali.”.
Senyum Devan melebar. “Kapan-kapan boleh kulihat?”
Bianca memiringkan kepala, mengamati pemuda yang begitu ramah walaupun belum pernah benar-benar berkenalan. Kamu juga suka fotografi?”
“Ah, ya. Sebenarnya hanya belajar secara otodidak. Lebih tepatnya bisa dibilang hanya pengagum.”
“Pengagum pun harus ngerti fotografi untuk bisa benar-benar mengapresiasinya.”
“Betul, makanya aku kagum melihat hasil fotomu waktu pameran tempo hari. Foto-foto itu punya nyawa, terutama foto seorang anak kecil yang sedang tertawa di balik air matanya.”
Bianca menunduk, tidak menyangka Devan masih mengingat foto-fotonya yang dipajang untuk pensi bulan lalu. Raga juga bilang begitu... tentang foto-fotoku.”
“Kamu dan Senja adalah dua orang yang Penting buat adikku.” Ketika Bianca
memandangnya dengan bingung, Devan menjelaskan. “Sejak kecil, Raga benci sama yang namanya perempuan. Dia paling ogah deket-deket dengan perempuan, bahkan cenderung menyendiri dibanding bergaul dengan teman-teman seumurnya. Raga orangnya susah bergaul, nggak terbuka dan nggak gampang percaya sama orang. Karena sifatnya ini, orang-orang jadi males ngedeketin, karena mereka sulit ngerti dia. Waktu kecil, temen-temen sekelasnya nggak ada yang mau main sama Raga. Raga juga nggak pernah mau berbagi mainannya sama orang lain. Cuma Senja yang keukeuh ngajak dia main bareng, naik sepedalah, main bonekalah, sampai nangkep jangkrik di pinggir kali. Walau dicuekin Raga berkali-kali, Senja nggak nyerah atau pun marah
“Mungkin yang dibutuhkan Raga adalah orang-orang percaya sama dia. Sahabat seperti kamu dan Senja ”
Melihat Bianca termenung memikirkan perkataannya, Devan bangkit dan tersenyum pada Bianca. “Yuk, kita pulang.”
#I'm A Special Girl