Di Kekaisaran Xuan-Mo, realitas adalah tinta, dan kekuasaan adalah keindahan goresan. Mereka yang bisa menulis hukum alam dengan kuas emas diperlakukan sebagai dewa, sementara mereka yang gagal hanyalah noda yang harus dihapus.
Ren Zexian lahir dengan kutukan "Mata Void"—ia tidak bisa melihat keindahan ilusi dunia, hanya kerangka rapuh di baliknya. Dianggap sampah oleh klan kaligrafer elit, ia bekerja sebagai penghapus buku terlarang, hidup dalam diam hingga suatu hari ia menemukan sebuah halaman kosong yang berdarah.
Saat "The Fade" mulai menelan desa asalnya, mengubah manusia menjadi hampa tanpa ingatan, Ren menyadari bahwa kekacauan ini bukanlah bencana alam, melainkan suntingan yang disengaja oleh Dewan Langit. Dengan kuas patah dan teknik terlarang yang memungkinkan ia "menghapus" keberadaan musuh, Ren memulai perjalanan berbahaya mendaki 9 Provinsi Mengambang.
Ia bukan pahlawan yang akan melukis dunia baru. Ia adalah editor yang akan memotong bagian-bagian busuk dari cerita ini,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tubagus Abidin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan di Langit Biru
Tiga hari berikutnya berlalu dalam kabut kepenatan yang mencekik. Bagi Ren Zexian, waktu bukan lagi aliran sungai yang tenang, melainkan deretan detik yang dihitung dengan detak jantungnya yang semakin cepat. Ia menjalani rutinitas ganda yang melelahkan: siang hari sebagai murid rendahan yang dihina dan diperas, malam hari sebagai hantu yang menyusupi lorong-lorong terlarang bersama Su Yan.
Pelatihan mereka tidak terjadi di arena terbuka, melainkan di atap-atap tinggi kompleks asrama, di mana angin kencang menerpa wajah dan suara langkah kaki mereka tertelan oleh gemuruh badai yang selalu mengintai Provinsi Abbu. Su Yan adalah guru yang keras namun efisien. Ia tidak mengajarkan Ren teknik kaligrafi standar. Sebaliknya, ia mengajarkan Ren bagaimana menyembunyikan "keanehan"-nya.
"Kau menulis seperti orang yang ingin menghancurkan kertas," tegur Su Yan suatu malam, saat mereka duduk bersila di atas genteng licin karena hujan. "Itu mencurigakan. Tulislah seolah-olah kau sedang membelai kain sutra. Biarkan kekuatanmu tersembunyi di balik kelembutan."
Ren mencoba. Ia mengangkat kuas patahnya, menggoreskan karakter "Angin" di udara. Alih-alih ledakan energi kasar seperti sebelumnya, ia membiarkan Qi-nya mengalir tipis, hampir tak terasa. Goresan itu tampak lemah, rapuh. Tapi di dalamnya, terdapat struktur padat dari Mata Void yang siap meledak jika diperlukan.
"Bagus," kata Su Yan, mengangguk puas. "Sekarang, kau terlihat seperti murid biasa yang berbakat rata-rata. Tidak terlalu menonjol, tidak terlalu lemah. Sempurna untuk menjadi tak terlihat."
Namun, di balik pelatihan itu, ketegangan antara mereka semakin menipis. Ren mulai melihat sisi lain dari Su Yan. Di balik topeng dingin putri klan politik itu, ada seorang gadis yang kesepian, yang merasa terjebak dalam takdir yang tidak ia pilih. Mereka berbagi cerita singkat di antara sesi latihan—tentang Lin yang semakin sering lupa nama sendiri, tentang ayah Su Yan yang hanya melihatnya sebagai alat perjanjian damai. Ikatan aneh terbentuk di antara dua "kesalahan" dunia ini.
Hari keempat tiba. Hari pertemuan dengan Master Wei.
Ren menyelinap keluar dari asrama setelah jam malam, menghindari patroli Long Wei yang kini semakin curiga terhadap aktivitas malamnya. Ia menuju Reruntuhan Kuil Tinta, tempat yang kini terasa seperti satu-satunya sanctuary baginya.
Master Wei sudah menunggu di altar yang hancur, duduk bersila dengan mata tertutup. Angin malam menerbangkan rambut putihnya, memberinya aura seperti roh kuno yang terjaga.
"Kau terlambat tiga menit," kata Wei tanpa membuka mata.
"Aku harus mengelabui penjaga baru di gerbang barat," jawab Ren, berlutut di hadapan gurunya. "Mereka menggunakan anjing tinta pelacak."
Wei membuka matanya. Tatapannya tajam, menyelidik. "Kau bertemu seseorang. Auramu berbeda. Ada jejak Qi lain yang menempel padamu. Halus, tapi tercium."
Ren menelan ludah. Ia tidak bisa berbohong pada Wei. "Aku bertemu Su Yan. Putri Klan Su."
Hening sejenak. Lalu, Wei tertawa pendek, suara yang kering. "Klan Su. Musuh bebuyutan Klan Naga. Kau bermain api, anak muda."
"Mereka memiliki informasi tentang The Fade," kata Ren cepat. "Dan tentang adikku. Lin adalah korban eksperimen Klan Naga, Guru. Mereka menyuntikkan Tinta Inti ke tubuhnya."
Wajah Wei berubah. Senyumnya lenyap, digantikan oleh ekspresi serius yang gelap. Ia bangkit perlahan, jubah abu-abunya berkibar meski angin tidak berhembus.
"Eksperimen Tinta Inti..." gumam Wei, suaranya berat. "Aku menduganya. Dewan Langit telah kehilangan akal sehat mereka. Mereka mencoba menciptakan wadah manusia yang bisa menahan beban realitas tanpa retak. Tapi hasilnya... cacat. Seperti adikmu. Dan seperti kau."
Wei melangkah mendekati Ren, memegang bahunya dengan kuat. "Dengar baik-baik, Ren. Jika kau masuk ke Arsip Rahasia Klan Naga, kau tidak hanya mencari obat. Kau mencari daftar nama. Dan jika namamu atau nama adikmu ada di sana, itu berarti hidupmu adalah milik mereka. Mereka akan datang mengambil 'properti' mereka kembali."
"Aku tahu risikonya," kata Ren tegas.
"Baik," kata Wei. "Maka malam ini, kita akan melatih teknik terakhir sebelum kau masuk ke sarang naga. Teknik ini disebut 'Jembatan Hampa'."
Wei menunjuk ke celah besar di dinding kuil yang runtuh. "Lompatlah ke seberang. Jaraknya lima meter. Tidak ada pijakan."
Ren menatap celah itu. Lima meter mungkin mudah bagi praktisi tingkat tinggi yang bisa terbang atau melompat jauh. Tapi bagi Ren di Ranah Pemula, itu mustahil tanpa bantuan Qi eksternal yang stabil. Dan ia tidak punya itu.
"Aku tidak bisa," kata Ren jujur.
"Bukan dengan kakimu," koreksi Wei. "Dengan pikiranmu. Mata Void-mu melihat struktur realitas. Realitas itu rapuh. Ada 'jembatan' tak terlihat yang menghubungkan dua titik jika kau tahu cara melihatnya. Jangan lompat ke udara. Lompatlah ke celah di antara udara."
Ren menutup matanya. Ia membiarkan Mata Void-nya aktif. Dunia menjadi hitam putih. Ia melihat celah di dinding seberang. Ia melihat udara di antaranya. Dan di sana, di tengah kehampaan, ia melihat garis-garis halus yang bergetar—sisa-sisa struktur lama dari kuil yang pernah utuh. Jejak memori realitas.
Ia membayangkan kakinya menginjak garis-garis itu. Bukan sebagai benda padat, tapi sebagai konsep keberadaan.
Ren membuka matanya. Ia tidak berlari. Ia berjalan santai ke tepi tebing kecil di dalam kuil. Lalu, ia melangkah ke depan, ke ruang kosong.
Kakinya tidak jatuh.
Ada sensasi aneh, seperti menginjak kaca tipis yang lentur. Udara di bawah kakinya memadat sesaat, mendukung berat tubuhnya. Ia melangkah sekali lagi. Dan lagi. Dengan tiga langkah ringan di atas kekosongan, ia mendarat di sisi seberang celah.
Ia menoleh ke belakang, terbelalak. Ia baru saja berjalan di udara.
"Itu bukan terbang," kata Wei dari sisi lain, yang kini sudah berada di sampingnya entah bagaimana. "Itu adalah manipulasi persepsi realitas. Kau menipu dunia agar berpikir kau masih di tanah. Itu sangat boros Qi mental, dan hanya bertahan beberapa detik. Tapi cukup untuk lolos dari jebakan atau mencapai tempat tinggi."
Ren tersenyum tipis, rasa lelah yang mendalam menyerbu kepalanya. Tapi hatinya ringan. Ia memiliki alat baru. Alat untuk masuk ke tempat yang seharusnya tidak bisa dimasuki.
"Gunakan ini dengan bijak," pesan Wei. "Setiap kali kau menggunakannya, kau mengikis kewarasanmu sedikit. Jangan sampai kau lupa mana yang nyata dan mana yang ilusi."
Malam pertemuan dengan Su Yan tiba. Menara Lonceng Klan Naga menjulang tinggi di tengah kompleks, sebuah struktur batu hitam dengan puncak emas yang memantulkan cahaya bulan pucat. Angin di ketinggian itu begitu kencang hingga bisa merobek pakaian biasa.
Ren tiba tepat waktu. Su Yan sudah menunggu di tepi pagar besi, jubah birunya berkibar liar. Wajahnya pucat, matanya waspada.
"Kau berhasil," kata Su Yan saat Ren mendarat di sampingnya menggunakan teknik Jembatan Hampa yang masih belum sempurna, membuatnya terhuyung sedikit.
"Hampir," jawab Ren, menarik napas untuk menenangkan pusingnya. "Apakah rencananya sudah siap?"
Su Yan mengangguk, mengeluarkan sebuah peta kecil dari lipatan bajunya. Peta itu dibuat dari kulit transparan, menunjukkan layout Paviliun Utama.
"Arsip Rahasia ada di lantai bawah tanah ketiga," jelas Su Yan, jarinya menelusuri jalur merah. "Masuk utamanya dijaga oleh dua Elder Penjaga. Tapi ada saluran ventilasi tua di sisi timur bangunan. Saluran itu mengarah langsung ke ruang penyimpanan dokumen lama. Dari sana, kita bisa menyusup ke ruang utama."
"Saluran ventilasi?" tanya Ren, alisnya terangkat. "Itu terlalu sempit untuk manusia dewasa."
"Untuk manusia biasa, ya," kata Su Yan, tersenyum tipis. "Tapi kau bisa mengecilkan kehadiranmu dengan teknik Hening yang kuajarkan. Dan aku akan mengalihkan perhatian penjaga dengan menciptakan gangguan di sayap barat."
Ren mempelajari peta itu. Jalurnya berbahaya. Satu kesalahan, dan mereka akan terperangkap di bawah tanah tanpa jalan keluar.
"Kapan?" tanya Ren.
"Malam besok," jawab Su Yan. "Saat Festival Bulan Tinta. Semua Elder dan murid tingkat tinggi akan berkumpul di aula utama untuk perayaan. Penjagaan akan longgar di area administratif karena semua fokus pada pesta."
Festival Bulan Tinta. Perayaan terbesar Klan Naga, di mana mereka memamerkan kekayaan dan kekuatan mereka sambil minum anggur dari cawan giok. Ironi yang pahit. Sementara mereka berpesta, adik-adik Ren di Lembah Abbu perlahan-lahan terhapus dari ingatan.
"Aku akan siap," kata Ren.
Su Yan menatapnya dalam-dalam. "Ren, jika ketahuan... jangan katakan namaku. Katakan kau bertindak sendiri."
"Dan kau?" tanya Ren.
"Aku akan menyangkalnya," kata Su Yan dingin, meski matanya berkedip ragu. "Itu satu-satunya cara kita berdua selamat."
Ren mengangguk. Ia mengerti. Dalam permainan kekuasaan, pengorbanan adalah bahasa universal.
Mereka berpisah di kegelapan malam, masing-masing kembali ke dunia mereka yang terpisah. Ren turun dari menara, hatinya berat namun tekadnya baja. Besok malam, ia akan menginjakkan kaki di tempat paling terlarang di Klan Naga. Ia akan mencari nama Lin. Ia akan mencari kebenaran.
Dan jika dunia menolak memberikannya, ia akan mengambilnya paksa, goresan demi goresan, hingga langit itu sendiri robek.
Di kamarnya, Ren membersihkan kuas patahnya dengan hati-hati. Ia menatap pantulan dirinya di genangan air kotor di lantai. Mata hampanya menatap balik, penuh dengan determinasi yang menakutkan.
"Besok," bisiknya pada bayangannya sendiri. "Besok, kita mulai menulis ulang nasib kita."