NovelToon NovelToon
Jodoh Dadakanku

Jodoh Dadakanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Romansa Fantasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Wulan Antya

Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.

Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.

Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2

   teng teng teng

    Begitu bel pulang sekolah berdering, anak-anak langsung berhamburan keluar kelas dan ingin cepat-cepat pulang kerumah. Hawa pun berjalan kearah gerbang dan menunggu angkutan umum dihalte depan sekolah. Siang ini begitu panas, membuat Hawa bercucuran keringat. Sesekali mengusap peluh yang menetes didahinya. Tak lama angkutan lewat tapi penuh dengan penumpang, sehingga Hawa tidak bisa ikut naik. Akhirnya Hawa menunggu lagi. Tapi lama sekali dan tidak ada angkutan lagi yang lewat.

    Tentu saja Hawa jadi panik. Karena sudah sore tapi dirinya belum sampai rumah, takut ibunya kepikiran. tiba" ada mobil berhenti didepan halte tempat Hawa menunggu angkutan. Mobil berwarna hitam mengkilat itu berhenti dengan pelan dan kaca mobil turun karena dibuka dari dalam.

"naik!" ucap Hasby datar melihat Hawa sekilas.

"eeh,,maaf kak, tidak usah,, saya bisa pulang sendiri .." Hawa menyahuti Hasby sambil menundukkan pandangannya. Tangannya memegang tali tas karena gugup. "mau nunggu sampai besok?" tanya Hasby datar tanpa melihat lawan bicaranya.

"maaf kak, takut fitnah,,lebih baik saya pulang sendiri,." gumamnya pelan. "Naik Hawa Maheswari!" Hasby berkata dengan dingin dan tegas.

Deg...

  Tanpa menunggu lagi, Hawa naik ke kursi belakang dengan pelan. Karena masih terkejut dengan ucapan Hasby tadi. Hatinya merasa terintimidasi dengan perkataan Ketua Osisnya itu. Setelah didalam mobil suasana jadi canggung sekali. Tidak ada yang berbicara. Hasby langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.

Ditengah kebingungannya, Hawa mencoba menarik nafas perlahan. Sudut matanya pun melirik Hasby sekilas. Tak lama mobil berhenti didepan gang rumah Hawa.

"Terimakasih kak atas tumpangannya.." Hawa berucap pelan, tangannya sudah mau membuka pintu tapi terinterupsi karena panggilan seseorang. "iya sama-sama" ucap Hasby datar.

Hawa pun langsung keluar dan berjalan menuju rumah kecil dan nyaman peninggalan Bapak. Ibu sedang sibuk didapur ketika Hawa mengucap salam. Melihat sang Ibu didapur Hawa menghampiri dan salim lalu memeluk Ibu. Setelah seharian belajar disekolah. Menguras tenaganya, tapi setelah melihat dan memeluk Ibu seperti tenaganya terisi kembali.

Terkadang pelukan bisa membuat seseorang menjadi nyaman, mengisi tangki cinta, mengisi energi yang telah terkuras seharian. bisa menjadi rumah yang tidak berbentuk bangunan.

Malam hari ini langit menampakkan keindahannya, begitu banyak bintang yang menghias langit. Hawa dan Ibu duduk diteras rumah sambil memandang langit. Mereka terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hawa melihat Ibu sekilas, tapi melihat Ibu seperti memikirkan sesuatu yang rumit membuat Hawa terdiam mengamati .Entah apa yang dipikirkannya, mungkin kalau sabar menunggu Ibu mau berbagi cerita dengannya.

Seperti biasa setiap pagi selalu ada teriakan Ibu yang membangunkan Hawa,, padahal Hawa sudah bangun dari subuh tadi. Tapi kembali bergelung dibawah selimutnya. Hari-hari berjalan seperti biasa tapi entah pagi ini terasa berbeda. Ibu yang biasanya bekerja tapi hari ini kata Ibu sedang libur. Padahal bukan hari biasanya Ibu libur. Apa ada sesuatu yang Hawa tidak tahu. Tapi melihat Ibu sehat-sehat saja membuatnya menepis pikiran yang tidak-tidak. Ibu tersenyum melihat anak gadisnya sudah sebesar ini, ada haru yang terselip dihatinya. Seandainya suaminya masih hidup, pasti bangga kepada putrinya itu.

"Hawa, nanti pulang sekolah langsung pulang y nak!" Ibu berucap pelan tapi masih bisa didengar Hawa. Hawa mengernyit "Iya Bu, nanti langsung pulang, kan tidak ada jam tambahan disekolah" ucap Hawa sambil mengulum senyum manisnya. Hawa pun berangkat sekolah. Ibu masuk kedalam rumah dan memulai memasak karena rencananya ada seorang teman lama yang akan datang berkunjung.

Sambil sesekali Ibu menghela nafas pelan. Apakah keputusannya ini sudah benar ato malah menyakiti anaknya. Karena selama ini dirinya tidak pernah memikirkan hal ini dengan kondisi seperti ini. Serba kekurangan, harus sering menghemat, karena harus membayar biaya sekolah Hawa. Tapi Ibu merasa gundah sekali. "apakah Hawa mau mengikuti keputusan yang sudah dibuatnya?" gumam dalam hati Ibu.

\*\*\*

Sepulangnya dari sekolah Hawa langsung disuruh mandi oleh Ibu. Hawa yang merasa gerah dan lengket badannya pun menuruti perintah Ibu. Setelah selesai Hawa memakai baju gamis rumahan yang nyaman dengan kerudung bergo simple. Hawa berniat membantu Ibu yang tengah sibuk didapur. Tapi Ibu tidak mengizinkan membantu. Hawa merasa bingung dan akhirnya hanya mengambil makanan dan memakannya dipekarangan belakang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!