NovelToon NovelToon
Dendam Berdarah Sang Mafia

Dendam Berdarah Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Malam itu, Akila Georgina kehilangan segalanya.

Tunangan yang dicintainya ternyata berselingkuh dengan adik tirinya sendiri. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, Akila kembali dijadikan kambing hitam atas kecelakaan yang merenggut nyawa seorang wanita bernama Natalie Hartawan.

Dan putra wanita itu adalah William Hartawan—mafia kejam yang dikenal sebagai The Reaper.

William yakin Akila adalah penyebab kematian ibunya.

Maka ia menjadikan Akila istrinya. Bukan karena cinta, melainkan demi dendam.

"Mulai hari ini, kau adalah istriku. Dan hidupmu menjadi harga atas kematian ibuku."

Namun, semakin lama William mengenal Akila, semakin ia menyadari bahwa wanita yang ingin ia hancurkan ternyata hanyalah korban dari permainan orang lain.

Dendam perlahan berubah menjadi rasa memiliki.

Sementara Akila mulai dihadapkan pada satu pilihan: tetap membenci pria yang memaksanya masuk ke dalam pernikahan itu, atau mempercayai hati yang diam-diam mulai luluh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Flashback On.

Kiara menatap sosok Akila yang baru diadopsi oleh orang tuanya. Itu seperti hadiah untuknya.

Senyum Kiara terbit, tangannya terulur membuat Akila dengan ragu menyambutnya.

"Aku Kakakmu." Ucap Kiara membuat Akila menoleh pada Ben.

Padahal Ben sendiri yang mengatakan pada Akila bahwa Kiara punya umur yang sama dengan Akila. Tapi kenapa Kiara berkata seperti itu?

"Bukankah..."

Ben langsung memotong ucapan Akila.

"Akila, apapun yang Kiara katakan kau hanya boleh menurut. Jika dia ingin kau jadi Adiknya maka jadilah Adiknya." Ucap Ben membuat Akila diam lalu mengangguk kecil.

Kiara bersemangat menarik tangan Akila dengan sangat antusias.

"Mau aku tunjukan kamarku?" Tawar Kiara.

Akila lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya.

Senyum terukir di bibir Kiara.

"Ayo ikut denganku." Ajak Kiara.

Begitulah awal mereka berkenalan menjadi Kakak Adik.

Kiara semakin hari mendominasi Akila, setiap kali Kiara terluka maka Akila yang akan disalahkan namun setiap Akila mendapatkan hukuman dari Ben atau Mathilda maka ada Kiara yang selalu ada untuk melindungi Akila.

Hingga suatu hari Akila terjatuh di kolam renang.

Kiara menatap diam Akila yang terus berusaha menyelamatkan dirinya sendiri.

"Coba kau panggil aku Kakak, pasti aku akan menyelamatkanmu. Setidaknya memohon padaku agar aku menyelamatkanmu Akila. Kau membutuhkan aku." Ucap Kiara yang saat ini berdiri di ambang pintu menyaksikan Akila berusaha keras untuk bertahan.

Akila bisa melihat Kiara disana.

"Kak.." suara Akila terdengar usai wajahnya muncul singkat di permukaan air kolam renang itu.

Senyum itu muncul, Kiara tanpa ragu melompat ke kolam renang untuk menyelamatkan Akila.

Tubuh Akila ia tarik sampai ke atas.

Kiara membantu Akila mengeluarkan banyak air di perutnya.

"Kau membahayakan hidupmu, harusnya jika kau tak bisa berenang maka jangan pernah berada di dekat kolam renang. Apa aku perlu mengajarimu berenang?" Tanya Kiara.

Akila menatap wajah Kiara, ia mau menolak tapi Kiara menggenggam tangannya.

"Memohonlah bahwa kau butuh aku, kau tak akan bisa tanpa aku. Aku akan mengajarimu karena kau ingin aku mengajarimu. Benarkan?" Tanya Kiara.

Akila akhirnya mengangguk dengan pelan.

Tangan Kiara mengusap puncak kepala Akila.

"Kau memang Adik yang baik, aku tahu kalau kau hanya butuh aku. Sama sepertiku yang juga membutuhkanmu." Ucap Kiara.

Akila masih menatap wajah Kiara.

"Kak, bolehkah aku menjenguk keadaan Feby? Aku mau ke rumah sakit, tapi Mommy dan Daddy pasti..."

"Kau cemas pada Feby?" Tanya Kiara.

Akila mengangguk.

"Hmm, bagaimanapun aku dan Feby berteman sangat lama. Aku ingin dia cepat sehat, aku selalu cemas karena sakitnya. Kak aku mohon..."

"Iya, kita akan ke rumah sakit besok." Ucap Kiara terdengar begitu yakin.

Akila senang mendengar ucapan itu, hal itu membuat senyum Kiara terukir.

'Kenapa masih ada nama Feby yang keluar dari mulutmu, Akila? Kau itu satu kesatuan untukku. Kau hadiah dari orang tuaku untukku. Harusnya apapun itu yang jadi prioritasmu adalah aku. Hanya aku!' ucap Kiara membatin.

---

Malam itu Kiara ada di kamarnya, ia duduk diam menatap cermin sambil menggores tangannya dengan pisau sampai banyak darah mulai menetes di lantai. Bibirnya juga mulai pucat.

"Aku senang kau patuh Akila, tapi kenapa kau masih memikirkan orang lain. Aku kesal. Kau itu bagian dari ku, kau harus siap dengan apapun yang aku mau. Sekali patuh maka patuhlah." Ucap Kiara bermonolog.

Sikap itu tumbuh seiring berjalannya waktu, bagi Kiara apapun yang Akila lakukan harus sesuai dengan yang ia mau. Namun semakin Kiara baik, maka Akila seperti memanfaatkan kebaikannya. Begitulah Kiara berpikir.

Tubuh Kiara terjatuh ke lantai, ia tersenyum.

"Iya kita ke rumah sakit, dan kau akan ada bersamaku Akila." Gumam Kiara sebelum mata Kiara akhirnya terpejam.

Hingga akhirnya tujuan Kiara tercapai, ia ada di rumah sakit bersama Akila dan orang tuanya.

"Kau tidak becus! Bagaimana bisa kau tak tahu bahwa Kiara terluka? Kau harus selalu ada disisi Kiara!" Marah Mathilda menatap Akila yang saat ini menunduk.

Mathilda mendorong tubuh Akila dengan kasar.

"Kau memang tidak berguna! Kalau ini sampai terjadi lagi, aku akan meminta pihak rumah sakit menghentikan pengobatan untuk sahabatmu itu! Kau mengertikan Akila?!" Marah Mathilda.

Akila mengangguk cepat.

"Aku mengerti, tolong jangan menghentikan pengobatan untuk Feby. Aku janji akan menjaga Kak Kiara." Ucap Akila.

Mathilda menatap benci pada Akila sampai suara Kiara terdengar.

"Jangan salahkan Akila Mom, Akila tak salah." Ucap Kiara.

Mathilda mengusap lembut wajah Kiara.

"Kedepannya jangan lagi, kalau ada masalah cerita. Jangan melakukan hal seperti ini lagi, kau sudah minum obatmu kan? Jangan pernah berhenti mengkonsumsi obatmu ya, ingat kau sudah punya Adik sesuai maumu." Ucap Mathilda menenangkan putrinya itu.

Kiara mengangguk dengan bibir yang tersenyum.

Pada dasarnya Kiara memang punya sakit, lebih tepatnya sakit mental.

Ben dan Mathilda pergi, kini hanya ia dan Akila yang ada bersama dengan Kiara.

"Katanya mau menjenguk Feby, pergilah. Kakak sudah melakukannya untukmu." Ucap Kiara membuat Akila menoleh.

Akila menatap wajah Kiara dengan tatapan tak menyangka. Akila tak tahu lagi kenapa Kiara harus berlaku hal menakutkan seperti ini.

"Kak, jika kelak Kakak membantuku dengan cara melukai tubuh Kakak sendiri maka lebih baik aku pergi dari Kakak." Ucap Akila.

Kiara membuang mukanya dari Akila, ia tak suka mendengar ucapan Akila yang seperti itu.

"Padahal kau cukup katakan terima kasih saja, Akila." Ucap Kiara.

Akila mendekat lalu menggenggam tangan Kiara.

"Jangan lukai tubuh Kakak lagi." Ucap Akila.

Kali ini Kiara melihat wajah Akila kembali.

"Hm, terima kasih karena kau telah mendonorkan darah pada Kakak. Kakak suka saat darahmu menyatu dengan darah Kakak di tubuh ini." ucap Kiara membuat Akila diam saja.

Flashback Off.

Kiara tersenyum mengingat masa lalu itu, ia menatap Kevin yang saat ini merapikan meja di dekatnya. Semua kenangan bersama Akila itu tak akan Kiara lupakan.

"Apa kau masih mencintai Akila?" Tanya Kiara pada Kevin.

Kevin jadi menoleh ke arah Kiara.

"Sampai detik ini perasaanku tetap sama. Aku pikir keputusanku baik saat itu mengikuti mau orang tuamu, ternyata aku yang salah. Tidak seharusnya aku bersaksi palsu. Harusnya aku ada untuk Akila saat ia butuh seseorang untuk mendukungnya." Ucap Kevin.

Rahang Kiara mengeras.

"Aku harap kau tak mengambil Akila dari ku." Ucap Kiara.

Kevin muak mendengar ucapan yang sama itu berulang kali.

"Kau sakit, Kiara!" Ucap Kevin muak.

Usai mengatakan itu, Kevin pergi dari ruangan Kiara.

Sedangkan Kiara hanya tersenyum kecil.

---

Di sisi lain - Mansion William

Akila mulai frustasi melihat tingkah William.

"Aku tak butuh Dokter! Kau akan menyesal kalau memeriksa keadaan ku." Ucap Akila.

William menatap wajah Akila lalu detik setelahnya hembusan nafas kasar William terdengar.

"Aku lebih menyesal jika ternyata aku tak tahu soal kesehatanmu lebih dulu. Cepat ikut denganku. Kita ke rumah sakit." Ucap William.

Akila tetap menggeleng, bagaimana kalau Dokter nanti mengatakan bahwa Akila pernah melahirkan? Untuk saat ini Akila sungguh frustasi, pikirannya kacau karena William.

Akila berusaha berpikir tapi ia tak punya pilihan lain selain menurut.

Tangan Akila ditarik oleh William, namun setelahnya langkah Akila berhenti membuat William kembali menghela nafas.

"Jangan bertingkah, jangan membuatku kesal. Aku ini..."

"Rahimku sudah diangkat." Ucap Akila membuat William tak percaya.

"Kenapa kita tak periksa saja? Kau takut apa Akila? Takut mengandung benihku? Lupa kalau di masa lalu kita sering menghabiskan malam di atas ranjang?" Tanya William.

Tangan Akila terkepal, ia menatap benci pada wajah William.

"Karena itu aku membencimu William! Kau melampiaskan kemarahanmu terhadapku, sekarang ini aku sudah jujur bahwa di masa lalu aku juga korban dan terlebih..."

"Kau masih ingin membahas soal kecelakaan itu? Kalau begitu katakan padaku siapa yang mengemudi mobil itu?" Tanya William.

Sejenak Akila diam.

"Kau tak bisa mengatakannya?" Tanya William.

"Bisa. Aku bisa mengatakan, asalkan setelahnya kau mau membebaskanku." Ucap Akila.

William menyeringai kecil.

"Hmm, akan aku bebaskan kau." Jawab William santai.

"Bohong. Kau pasti berbohong." Ucap Akila muak.

William terkekeh kecil.

"Kalau kau sudah tahu bahwa aku berbohong untuk apa kau bertanya lagi? Sudah jelas aku tak akan melepaskanmu." Ucap William.

Akila mau menarik tangannya dari William tapi William malah menggenggam lebih kuat pergelangan tangan Akila.

"William, sepertinya ada yang salah dengan otakmu. Kenapa kau tak ingin melepaskanku? Aku bukan orang yang cocok untukmu karena aku membencimu! Itu faktanya." Ucap Akila dengan tegas.

William semakin meremehkan Akila.

"Persetan kau membenciku, karena sampai kapanpun aku akan tetap mempertahankanmu dan tak akan pernah melepaskanmu. Selamanya kau ada dalam lingkaran yang aku ciptakan." Ucap William.

"Sungguh tak waras ya! Kau tak punya akal William, lepaskan!" Ucap Akila berontak berusaha menarik tangannya dari William.

Akila terus berusaha sampai William berucap pelan.

"Wanita yang mengemudi mobil itu, Kiara Mason kan?" Ucapnya.

Akila berhenti berontak, matanya kembali pada wajah William.

Tampaklah kalau saat ini William tersenyum kecil.

"Tatapan milikmu sudah menjawabnya. Kenapa kau rela jadi tameng Adikmu? Apa dia berharga untukmu? Kau adalah orang paling bodoh yang pernah aku lihat Akila. Kau rela dibenci untuk menutupi kejahatan wanita itu. Tenang saja, aku akan berbaik hati membuat Kiara hancur secara perlahan." Ucap William.

Akila langsung menggeleng.

"Jangan lakukan itu." Ucap Akila.

"Kenapa aku tak boleh melakukan itu? Aku berhak balas dendam Akila, andai saja malam itu tak kecelakaan maka Mommy ku pasti masih hidup." Ucap William.

Akila terus menggeleng.

"Jangan! Jangan membalas dendam pada Kak Kiara. Malam itu aku yakin bahwa Mommy mu masih hidup, jelas sekali kalau bukan kecelakaan itu penyebab dari..."

"Diam Akila! Berhenti menutup kebusukan Adikmu, berhenti!" Bentak William membuat Akila terdiam.

Dengan kasar William menyentak tangan Akila lalu mendorong Akila hingga tubuh Akila bersentuhan dengan pintu kamar.

"Jangan pernah menasehatiku! Jangan mengacaukan isi otakku! Aku akan terus meyakini apa yang menurutku benar, jadi tutup mulutmu dan berhenti bicara omong kosong." Ucap William membentak.

Usai mengatakan hal itu, William menepis tubuh Akila ke samping. William pergi meninggalkan Akila seorang diri.

"Dia punya temperamen yang sangat buruk. Aku sungguh ingin bebas darinya, aku tak bisa tetap disini. Aku harus kabur." Begitulah Akila berpikir.

Tidak tahu akan berapa lama lagi William menahannya di Mansion yang besar itu kalau Akila tak berniat kabur. Ia harus percaya diri dan yakin kalau ia bisa bebas dari William.

---

Waktu terus berlalu hingga kini gelap menutupi langit malam.

Akila tak menyangka kalau pintu kamar itu ternyata sudah dikunci oleh William sejak pria itu pergi.

"Apa dia gila? Aku yakin kalau William memang gila!" Ucap Akila lelah sendiri.

Akila sudah berusaha membuka pintu itu, tapi usahanya sia-sia saja.

Akila berjalan ke arah balkon, seharian penuh ia merasa bosan bahkan saat ini saja Akila sudah mandi karena bosan terus di kamar itu diam.

Ponselnya saat ini tidak tahu menghilang kemana. Pelakunya sudah pasti William.

Akila menatap langit malam itu, haruskah ia turun dari balkon itu? Bukankah ia akan mati kalau terjatuh ke bawah sana.

"Akhh! Aku frustasi, aku benar-benar mau ke kota Y. Aku benci kota ini dan aku benci dengan William." Ucap Akila.

Akila menunduk melihat banyak orangnya William tengah berjaga.

"HEII!" Teriak Akila membuat beberapa dibawah sana mendongak menatap Akila, namun sedetik kemudian mereka menunduk tak berani berlama-lama melihat wajah Nyonya mereka.

"TOLONG PANGGILKAN WILLIAM UNTUKKU! KATAKAN PADA TUANMU YANG SIALAN ITU, BUKA PINTU KAMAR INI. JANGAN JADI PENGECUT DENGAN MENGURUNGKU BEGINI!" teriak Akila.

Tak ada satupun yang berani mengangkat wajahnya mendengar ucapan Akila.

"WILLIAM SIALAN!" Umpat Akila lagi.

Berteriak seperti itu membuat Akila merasa lega.

Senyum Akila terbit, kenapa mengumpat William membuat Akila senang? Haruskah ia lakukan lagi? Berteriak bebas seperti itu cukup melegakan bagi dada Akila yang sesak karena rindu pada Anak-anaknya.

Mata Akila menatap Reno di bawah sana.

"HEI! KATAKAN PADA TUANMU YANG BERNAMA WILLIAM, DIA ADALAH PRIA TERPAYAH DI DUNIA INI. DIA YANG TERBURUK!" Ucap Akila yang setelahnya tertawa kecil.

Reno mendongak kaget, ia pikir suara itu datangnya dari mana, ternyata Akila lah pelakunya.

Tawa Akila luntur saat William muncul setelah Reno sedikit menjauh.

'Dia memaki ku dengan bahagia, apa itu memang hobinya? Ck! Konyol sekali.' ucap William membatin menatap Akila yang berdiri hanya dengan kemeja putih miliknya.

Oh William lupa memasukan pakaian wanita ke kamar itu untuk Akila.

Sial, entah kenapa William merasa tak suka saat Akila berpakaian seperti itu sedangkan tubuhnya bisa dilihat oleh para bawahannya kala berdiri di balkon seperti saat itu.

"Ambil hukuman kalian yang sempat menatap Istriku. Termasuk kau juga Reno." Ucap William membuat Reno mengutuk dirinya, ia menyesal mendongakkan kepalanya.

William pergi dari sana dengan sedikit emosi.

---

[Bersambung...]

1
Adinda
coba diperhatikan lagi nama tokohnya biar gak salah
Alia Chans: oke kak 🙏🥲
total 1 replies
Adinda
valen bukannya aqila
Nayla Syberia
Sebenernya bagus sih,cuman entah knp si William tetep ga berubah yaa,kek iblis gitu berwujud manusia,mungkin para pengikutnya bakal sungkem kalik yaa.
Yaa sejauh ini sih bagus² aja ceritanya, semangat yaa buat kakak penulis nya
Alia Chans: Makasih buat saran nya
Btw kan sifat William mencerminkan judul novel nya ya kak🤭🤭
total 1 replies
mary dice
sangat rumit ckckck
Alia Chans: ..🤭🤭🤭
total 1 replies
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
Nelson Sihombing
Dah di curi, kasih makan pun tak
Haryati Atie
harus nya akila bisa ambil kepercayaan william dh dia percaya bru kabur akila.
Alia Chans: Ini lagi ngajari Akila hal sesimpel itu🤭
total 1 replies
Nelson Sihombing
suka karakter Akila
Haryati Atie
thourr tipo ya jdi vallen .
Alia Chans: Sorry atas ketidaknyamanan nya, soalnya seingatku Valen tadi😭😭
total 1 replies
Gita ayu Puspitasari
kok jadi Valen kak
Mia Camelia
suka nih sama sisi posesif nya wiliam ke akila🤭
lanjut thor😄
Alia Chans: siap kak🤭/Smile//Smile/
total 1 replies
nurulmarisa
seru banget ceritanya 😘
Alia Chans: Thank you kak🙏🏻
total 1 replies
penggemar_Uangkecil?!
crazy up kak
Alia Chans: Ditunggu ya 🤭/Slight//Slight/
total 1 replies
penggemar_Uangkecil?!
👍👍👍
🔵🌹 Widian🧕
nah ...jadi sial kan mengolok-olok kakak sendiri.
duhh...moga Akila bisa terselamatkan .
Alia Chans: emm gimana ya...🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!