NovelToon NovelToon
Penulis Terakhir Langit Yang Retak

Penulis Terakhir Langit Yang Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur
Popularitas:196
Nilai: 5
Nama Author: Tubagus Abidin

Di Kekaisaran Xuan-Mo, realitas adalah tinta, dan kekuasaan adalah keindahan goresan. Mereka yang bisa menulis hukum alam dengan kuas emas diperlakukan sebagai dewa, sementara mereka yang gagal hanyalah noda yang harus dihapus.
Ren Zexian lahir dengan kutukan "Mata Void"—ia tidak bisa melihat keindahan ilusi dunia, hanya kerangka rapuh di baliknya. Dianggap sampah oleh klan kaligrafer elit, ia bekerja sebagai penghapus buku terlarang, hidup dalam diam hingga suatu hari ia menemukan sebuah halaman kosong yang berdarah.
Saat "The Fade" mulai menelan desa asalnya, mengubah manusia menjadi hampa tanpa ingatan, Ren menyadari bahwa kekacauan ini bukanlah bencana alam, melainkan suntingan yang disengaja oleh Dewan Langit. Dengan kuas patah dan teknik terlarang yang memungkinkan ia "menghapus" keberadaan musuh, Ren memulai perjalanan berbahaya mendaki 9 Provinsi Mengambang.
Ia bukan pahlawan yang akan melukis dunia baru. Ia adalah editor yang akan memotong bagian-bagian busuk dari cerita ini,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tubagus Abidin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangga Akar dan Langit yang Lupa

Fajar di Hutan Provinsi Hutan tidak datang dengan sorotan matahari, melainkan dengan perubahan warna kabut. Dari abu-abu pekat menjadi ungu pucat, lalu memudar menjadi putih susu yang tembus pandang. Udara pagi itu dingin dan tajam, menusuk paru-paru seperti jarum es, membawa serta kesunyian yang hampir sakral.

Ren Zexian sudah bangun sebelum cahaya pertama menyentuh tanah. Matanya cekung, lingkaran hitam di bawahnya semakin dalam setelah malam tanpa tidur. Di tangannya, ia memegang biji kenari hitam berukir rune yang diberikan Elara. Biji itu terasa hangat, seolah-olah memiliki denyut nadi sendiri, menunggu untuk ditanam.

Lin masih tertidur pulas di sudut rongga akar, napasnya dangkal namun stabil. Wajahnya yang pucat tampak lebih tenang dalam tidur, bebas dari rasa sakit fisik yang menyiksanya selama berminggu-minggu. Ren menatap adiknya sebentar, hati yang kerasnya melunak sejenak. Ia tahu, setelah hari ini, segala sesuatu akan berubah. Tidak ada lagi jalan kembali ke kehidupan pemulung, tidak ada lagi pelarian sederhana. Hanya ada pendakian menuju ketidakpastian.

Dengan hati-hati, Ren merangkak keluar dari rongga akar. Tanah di luar lembap dan berlumut. Ia mencari spot terbuka kecil di dekat akar pohon raksasa tempat mereka bermalam. Dengan ujung kuas patahnya, ia menggali lubang kecil sedalam satu jempol.

Ia meletakkan biji kenari itu ke dalam lubang, lalu menutupinya dengan tanah.

"Tumbuhlah," bisik Ren, mengalirkan sisa Qi-nya yang tipis ke dalam tanah. Bukan perintah paksa, tapi permintaan halus.

Untuk sesaat, tidak terjadi apa-apa. Hening. Lalu, tanah bergetar.

Dari dalam lubang, sebuah tunas hijau neon muncul, tumbuh dengan kecepatan yang menakutkan. Dalam hitungan detik, tunas itu memanjang, menebal, dan bercabang-cabang. Akar-akar kayu berwarna perak metalik menembus tanah, saling menjalin membentuk struktur yang kokoh. Pohon itu tidak tumbuh ke atas secara acak; ia membentuk tangga spiral yang menjulang tinggi, membelah kanopi hutan, menuju puncak gunung yang tertutup kabut di kejauhan.

Ini bukan tanaman biasa. Ini adalah jembatan hidup, manifestasi dari janji Elara.

Ren membangunkan Lin. "Waktunya pergi, Adik."

Lin membuka matanya, masih setengah sadar. Saat melihat tangga akar raksasa yang menjulang ke langit, matanya melebar kagum. "Itu... indah sekali, Kak."

"Jangan terlalu lama memandang," kata Ren, membantu Lin berdiri. "Kita harus naik sebelum matahari sepenuhnya terbit. Rune pada biji itu hanya aktif sampai fajar sempurna."

Mereka mulai mendaki.

Tangga akar itu licin dan tidak rata. Setiap langkah membutuhkan keseimbangan dan kewaspadaan. Semakin tinggi mereka naik, semakin tipis udara menjadi. Kabut putih menyelimuti mereka, mengurangi visibilitas hingga hanya beberapa meter ke depan. Suara hutan di bawah—kicau burung, desau angin, gemerisik daun—semakin jauh, digantikan oleh keheningan absolut yang menekan gendang telinga.

Di ketinggian seratus meter, Ren merasa pusing. Kurangnya oksigen membuat kepalanya berdenyut. Luka-lukanya juga mulai protes; setiap tarikan napas memperparah rasa sakit di dada dan perutnya. Tapi ia tidak berhenti. Ia memegang tangan Lin erat-erat, menjadi penopang bagi gadis kecil itu yang juga kesulitan bernapas.

"Kakak..." napas Lin tersengal-sengal. "Aku merasa... ringan. Seperti aku melayang."

Ren menoleh. Wajah Lin bersinar samar, cincin perak di matanya berputar lambat. Energi anomali di dalam tubuhnya bereaksi terhadap ketinggian dan kemurnian udara di sini.

"Fokus pada napas," instruksi Ren. "Tarik perlahan. Buang perlahan. Jangan biarkan energimu bocor."

Mereka terus naik. Satu jam. Dua jam. Waktu kehilangan makna di dalam kabut. Yang ada hanyalah ritme langkah kaki dan suara napas mereka sendiri.

Tiba-tiba, tangga akar itu berhenti. Mereka telah mencapai sebuah dataran batu lebar di tengah lereng gunung. Di hadapan mereka, terdapat gerbang batu kuno yang runtuh sebagian, ditumbuhi lumut biru. Di balik gerbang itu, jalan setapak berkelok menuju puncak yang masih tersembunyi di balik awan tebal.

Tapi ada sesuatu yang aneh. Di depan gerbang, berdiri sesosok figur.

Bukan Penjaga Hutan. Bukan beast.

Seorang pria muda, mengenakan jubah putih bersih yang kontras dengan kotoran dan darah di pakaian Ren. Wajahnya tampan namun datar, tanpa ekspresi. Di tangannya, ia memegang sebuah kipas kertas putih.

Ren segera siaga, mendorong Lin ke belakang. "Siapa kau?"

Pria itu tersenyum tipis, senyuman yang tidak mencapai matanya yang dingin dan kosong. "Aku adalah Cermin," katanya, suaranya lembut namun bergema aneh, seolah-olah datang dari segala arah sekaligus. "Dan kalian terlambat."

Ren mengerutkan kening. "Terlambat untuk apa?"

"Untuk meninggalkan ego," jawab pria itu. Ia membuka kipasnya. Angin tiba-tiba berhembus kencang, menerbangkan kabut di sekitar mereka. "Kuil Sunyi tidak menerima mereka yang masih terikat pada identitas duniawi. Kau masih membawa nama 'Ren Zexian'. Kau masih membawa beban 'kakak'. Kau masih membawa rasa sakit 'korban'."

Pria itu melangkah maju. "Untuk masuk, kau harus menghapus semua itu. Menjadi kosong. Menjadi hampa."

Ren menegang. Ini adalah ujian terakhir Elara. Tapi rasanya berbeda. Ada ancaman terselubung dalam kata-kata pria itu.

"Aku tidak bisa menghapus siapa diriku," kata Ren tegas. "Identitasku adalah apa yang membuatku berjuang. Jika aku lupa siapa Lin bagiku, untuk apa aku menyelamatkan dia?"

Pria itu tertawa pendek. "Kau salah paham. Menghapus ego bukan berarti lupa cinta. Itu berarti melepaskan kepemilikan. Kau mencintai Lin karena kau merasa bertanggung jawab padanya. Karena kau merasa dialah satu-satunya hal yang memberi makna hidupmu. Itu adalah belenggu, Ren. Belenggu yang berat."

Ia menunjuk kipasnya ke arah Lin. "Lihat dia. Dia juga terbebani oleh peran sebagai 'adik yang harus diselamatkan'. Dia tidak bebas. Dia tidak utuh."

Lin menunduk, wajahnya sedih. Kata-kata pria itu menyentuh kebenaran yang pahit. Selama ini, ia memang merasa menjadi beban.

"Jika kau ingin masuk ke Kuil Sunyi," lanjut pria itu, "kau harus melewati Jembatan Nafas. Di sana, kau akan dihadapkan pada bayangan terdalammu. Jika kau masih terikat pada ego, jembatan itu akan runtuh, dan kau akan jatuh ke dalam kekosongan abadi."

Ren menatap gerbang batu di belakang pria itu. Di baliknya, ia bisa merasakan energi yang tenang, murni, dan penyembuh. Energi yang bisa menyembuhkan Lin sepenuhnya. Tapi harganya adalah dirinya sendiri?

"Aku tidak takut pada kekosongan," kata Ren pelan. "Aku sudah hidup di dalamnya seumur hidupku. Mata Void-ku adalah bukti bahwa aku akrab dengan ketiadaan."

Pria itu mengangkat alis, tertarik. "Oh? Maka mari kita lihat apakah kau benar-benar kosong, atau hanya pura-pura."

Ia mengibaskan kipasnya. Angin kencang mendorong Ren dan Lin ke arah gerbang batu. Mereka terhuyung, tapi tetap berdiri.

"Masuklah," kata pria itu. "Dan jangan melihat ke belakang."

Ren menggenggam tangan Lin. "Siap?"

Lin mengangguk, meski wajahnya pucat. "Bersama, Kak."

Mereka melangkah melewati gerbang batu.

Seketika, dunia berubah.

Kabut hilang. Langit menjadi biru cerah tanpa awan. Di hadapan mereka, terbentang jembatan kaca transparan yang melayang di atas lautan awan. Jembatan itu sempit, hanya selebar satu kaki. Di bawahnya, tidak ada dasar. Hanya kehampaan putih yang tak berujung.

Dan di ujung jembatan, terdapat pintu kayu sederhana. Pintu menuju Kuil Sunyi.

Ren melangkah pertama kali. Kaca di bawah kakinya berderit halus. Ia tidak melihat ke bawah. Ia fokus pada pintu di depan.

Langkah pertama. Aman.

Langkah kedua. Aman.

Tapi saat langkah ketiga, kaca di bawah kakinya retak.

Dari retakan itu, muncul suara-suara.

"Kau gagal melindungi Ibu."

"Kau lemah."

"Lin membencimu diam-diam."

"Kau hanya ingin merasa penting."

Suara-suara itu bukan berasal dari luar. Mereka berasal dari dalam kepala Ren. Ego-nya. Rasa bersalahnya. Ketakutannya.

Jembatan bergetar. Retakan menyebar.

Ren berhenti. Napasnya cepat. Ia hampir terjatuh.

"Kakak!" teriak Lin dari belakang.

Ren menutup matanya. Ia ingat kata-kata pria itu. Melepaskan kepemilikan.

Apakah ia menyelamatkan Lin karena cinta? Atau karena ia butuh Lin untuk membenarkan keberadaannya?

Pertanyaan itu menghantamnya seperti palu. Selama ini, ia mendefinisikan dirinya sebagai "pelindung Lin". Tanpa peran itu, siapa dia? Seorang pemulung? Seorang pembunuh? Seorang korban?

Ketakutan akan ketiadaan identitas itu lebih menakutkan daripada kematian.

Jembatan retak lebih parah. Kaki kanan Ren mulai terperosok ke dalam kekosongan.

"Aku..." gumam Ren, air mata mengalir di pipinya. "Aku takut."

Pengakuan itu jujur. Dan saat ia mengakuinya, sesuatu berubah.

Retakan di kaca berhenti menyebar.

Karena dengan mengakui ketakutannya, ia melepaskannya. Ia tidak lagi berusaha menjadi pahlawan yang sempurna. Ia menerima bahwa ia adalah manusia yang cacat, yang penuh keraguan. Dan dalam penerimaan itu, ada kedamaian.

Ren membuka matanya. Ia menatap Lin.

"Maafkan Kakak," kata Ren, suaranya tenang. "Kakak tidak sempurna. Kakak takut. Tapi Kakak mencintaimu. Bukan karena kewajiban. Tapi karena pilihan."

Lin tersenyum, air mata juga mengalir di pipinya. "Aku tahu, Kak. Aku juga mencintaimu. Bukan karena Kakak penyelamatku. Tapi karena Kakak adalah Kakak."

Ikatan kepemilikan itu putus. Digantikan oleh ikatan persamaan.

Jembatan kaca itu berhenti bergetar. Retakannya menyatu kembali, menjadi lebih kuat, lebih bening.

Ren menarik napas dalam. Ia melangkah lagi. Kali ini, langkahnya ringan. Bebas.

Mereka berjalan berdampingan di atas jembatan kaca, menuju pintu kayu di ujung sana. Langit di atas mereka biru tak terbatas, seolah-olah dunia baru saja lahir kembali.

Di belakang mereka, di gerbang batu, pria berjubah putih itu menutup kipasnya. Senyumnya kini tulus.

"Mereka lulus," gumamnya pada diri sendiri. "Akhirnya, ada yang mengerti."

Ren dan Lin mencapai pintu. Ren mendorongnya terbuka.

Cahaya emas menyilaukan menyambut mereka. Dan di dalamnya, terdengar suara lonceng angin yang lembut, memanggil jiwa-jiwa yang lelah untuk pulang.

Mereka melangkah masuk, meninggalkan dunia lama di belakang, dan memasuki ruang di mana waktu berhenti, dan penyembuhan sejati dimulai.

1
Anime aikō-kā
..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!