Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.
Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.
Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.
Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.
Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.
Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#3
Dua minggu telah berlalu sejak malam berdarah di kantin dan dinginnya ruang isolasi yang mencekik.
Sore ini, atmosfer Ruang Kunjungan Utama terasa kelam dan dipenuhi bau disinfektan yang menyengat. Ruangan itu disekat oleh dinding tebal berpanel kaca transparan kedap suara, menciptakan jarak tak kasat mata antara dunia luar yang bebas dan dunia terkutuk di dalam sel.
Dua orang duduk berhadapan di balik kaca tebal tersebut, saling tatap dengan sepasang gagang telepon hitam sebagai satu-satunya sarana penyambung lidah.
Detektif Dorris Gate tersenyum tipis saat sosok La Bonna De Luca muncul dari balik pintu besi.
Hari ini, detektif itu datang lagi untuk mengunjungi La Bonna. Pria berjas rapi itu sama sekali tidak tampak terkejut melihat keadaan La Bonna yang babak belur. Wajah wanita itu kini dihiasi memar kebiruan di pipi, sudut bibir yang pecah memerah, dan mata kiri yang masih membengkak. Pemandangan itu berbanding terbalik dengan rupa cantik sempurna yang dimiliki La Bonna pada pertemuan terakhir mereka dua minggu lalu.
Dorris mengangkat gagang teleponnya. Saat La Bonna menempelkan gagang telepon di sisinya, suara bernada santai sang detektif terdengar dari balik pengeras suara.
"Aku mengunjungimu lagi karena aku punya firasat kalau kau akan menerima tawaranku. Apa firasatku benar?" tanya Dorris langsung pada intinya, tanpa basa-basi sedikit pun.
La Bonna berdecih pelan. Tatapan matanya penuh dengan kepahitan yang pekat. Dua minggu terakhir di ruang isolasi yang gelap dan sempit, ia tidak pernah bisa tidur nyenyak. Setiap detik yang berlalu di dalam kegelapan itu hanya diisi oleh suara denging di telinga dan ingatan akan luka-luka di tubuh ibunya.
"Apa pun tawaranmu itu akan aku terima, tapi dengan syarat," kata La Bonna dingin. Ia membusungkan dada, membalas tatapan tajam sang detektif. "Aku tidak mau melakukannya hari ini. Aku ingin kau sewakan kamar hotel paling nyaman untukku beristirahat malam ini. Besok baru kau boleh perintah aku sesukamu. Deal?"
Dorris mengamati wajah La Bonna sejenak. Sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan penuh kemenangan. Pria itu mengulurkan tangannya ke arah kaca tebal, menempelkan telapak tangannya seolah-olah sedang menembus rintangan besi dan kaca untuk menjabat tangan La Bonna.
"Deal!" ucap Dorris mantap sambil tersenyum lebar.
Ia lalu melanjutkan dengan nada mengejek yang halus, "Lagipula, kau tidak bisa melakukan apa yang kuperintahkan dengan tubuh penuh lebam seperti itu. Mengirimmu dalam keadaan cacat hanya akan merusak rencana."
Dorris menoleh ke arah sipir penjara yang berdiri tegap di samping pintu, menjaga La Bonna. "Kau bisa ikut dengan sipir itu. Dia akan membantumu mengemas barang-barangmu... dan juga barang-barang ibumu."
La Bonna patuh saja. Ia meletakkan gagang telepon dan berbalik melangkah mengikuti sipir penjara tersebut. Namun, baru dua detik berjalan, La Bonna mendadak menghentikan langkahnya. Ia berbalik lagi ke arah kaca, menyambar kembali gagang telepon hitam itu, dan menatap Dorris dengan mata menyipit.
"Ah, ada satu lagi yang ingin kuminta," kata La Bonna.
Dorris mengangkat alisnya, menempelkan kembali gagang telepon ke telinganya. "Katakan."
"Aku tidak mau satu mobil dengan ibuku. Kau bisa pulangkan dia ke rumah kakakku atau ke rumah adikku," ujar La Bonna tegas tanpa ada sedikit pun keraguan di suaranya. "Kau pasti tahu di mana alamat mereka, kan? Itu tidak sulit untukmu."
Dorris mengamati ketegangan di rahang La Bonna. Menyadari keputusan dingin wanita itu, sang detektif menganggukkan kepala memberikan persetujuan. Setelah mendapatkan kepastian itu, La Bonna memutus sambungan telepon untuk terakhir kalinya dan pergi meninggalkan ruang kunjungan bersama sipir penjara.
°°
Dua menit kemudian, setelah langkah kaki La Bonna benar-benar menghilang di balik lorong, pintu ruang kunjungan sisi tahanan kembali terbuka. Seorang wanita lain melangkah masuk untuk bertemu dengan Dorris.
Tahanan itu adalah tahanan nomor XX200.
Si mantan model berambut blonde yang dicepol acak-acakan—sosok yang selama ini selalu saja mengusik ketenangan dan memprovokasi La Bonna di dalam penjara—duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan La Bonna. Di bilik ini, sipir penjara yang mengawalnya membalikkan badan, berpura-pura buta dan tuli.
Dorris merogoh saku jasnya, mengeluarkan satu bungkus plastik klip kecil yang berisi beberapa butir pil ekstasi.
Tanpa memedulikan kaca pembatas, ia memanfaatkan celah kecil tempat lewat dokumen di bagian bawah. Dorris menyelipkan plastik kecil itu langsung ke telapak tangan tahanan nomor XX200.
"Ini bayaran untuk kerja kerasmu," bisik Dorris dari balik celah, suaranya pelan namun sarat akan manipulasi.
Kening wanita berambut blonde itu berkerut seketika saat melihat isi plastik di genggamannya. Ia memandang Dorris dengan raut wajah penuh kekecewaan dan ketidakpuasan.
"Sedikit sekali," cetus tahanan nomor XX200 itu dengan suara bersungut-sungut. "Ini tidak sebanding dengan kerja kerasku! Gadis De Luca itu hampir mematahkan leherku dan membuat wajahku memar!"
Dorris mencondongkan tubuhnya ke depan. Mata sang detektif memancarkan kilatan ancaman yang teramat dingin.
"Hei," bisik Dorris lagi, suaranya tajam menusuk. "Ini sudah cukup untuk membuatmu terbang selama seminggu penuh. Kalau kau ingin lebih, gunakan keahlianmu mengangkang untuk para sipir penjara di sini. Mungkin mereka akan membiarkanmu memakai hasil penyitaan... jika kau cukup hebat membuat mereka puas."
Sebelum tahanan nomor XX200 sempat membalas atau memaki, Dorris memberikan dorongan kasar pada lengan wanita itu melalui celah kaca, memintanya angkat kaki dari hadapannya.
Sipir penjara yang berjaga langsung menarik bahu sang mantan model dan menyeretnya keluar dari ruangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di area parkir luar Lembaga Pemasyarakatan Utama yang berdebu, suasana terasa mencekat.
La Bonna membuang wajahnya ke arah lain saat sang ibu berontak dan memaksa ingin bertemu dengannya. Wanita tua itu menolak keras saat diarahkan menuju kendaraan yang berbeda, matanya bergerak liar mencari keberadaan putri bungsunya.
"Aku ingin bertemu putriku! Apa yang kalian lakukan padanya?!" jerit sang ibu histeris, menepis tangan dua petugas yang memegang lengannya. "Apa yang kalian minta darinya sampai kalian memberikannya imbalan pembebasan kami?! Kalian itu siapa?! Apa kalian anak buah mendiang suamiku?!"
Mata sang ibu akhirnya menangkap sosok La Bonna yang sedang berjalan menuju sebuah sedan hitam mewah.
"Bonna! Jangan pergi, Sayang! Jangan pergi, Nak!" teriak sang ibu, suaranya parau dan pecah oleh air mata. "Jangan melakukan sesuatu yang akan kau sesali lagi, Nak! Bonna!!"
La Bonna memejamkan matanya rapat-rapat di samping mobil. Ia mengepalkan jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih, berusaha keras mengabaikan teriakan sang ibu yang memanggil namanya berulang kali.
Pintu mobil sedan dibuka dari dalam. Dorris Gate yang baru keluar dari gedung penjara melangkah santai dan masuk ke kabin belakang. La Bonna ikut masuk dan duduk di sebelah sang detektif. Pintu ditutup rapat, memotong sebagian besar suara jeritan di luar.
Dorris yang duduk di sebelah La Bonna tampak cukup menikmati drama ibu dan anak ini. Namun, ia menyadari bahwa waktu terus berjalan dan ia tidak punya banyak waktu luang. Ada hal-hal yang jauh lebih besar dan penting yang harus ia urus setelah ini.
"Jalan," perintah Dorris dingin pada sang supir.
Mesin sedan menderu pelan. Mobil melaju mulus meninggalkan pelataran lapas, bergerak menjauhi sang ibu yang masih berdiri pingsan-tidak-pingsan sembari meneriaki nama La Bonna di tengah kepulan debu jalanan.
Tiba-tiba, suara Dorris memecah kesunyian di dalam kabin mobil yang beraroma kulit mahal.
"Sayang sekali aku tidak bisa melihat drama ibu dan anak ini lebih lanjut," ucap Dorris sembari membetulkan lengan jasnya. Ia menatap La Bonna dari samping dengan senyum miring yang menyimpan misteri. "Kau seharusnya memberi salam perpisahan pada ibumu. Mungkin kau tidak bisa bertemu dengannya lagi setelah ini."
La Bonna membuka matanya pelan. Ia melirik sinis ke arah Dorris yang berada di sampingnya.
"Sudah kuduga kau akan menyuruhku melakukan hal yang mengancam nyawaku," kata La Bonna dengan nada suara yang teramat dingin. "Tugas apa yang harus aku lakukan nanti?"
Dorris hanya tersenyum tipis dan menyandarkan punggungnya ke jok. "Kau akan tahu nanti."
°°°
Mobil berhenti di depan sebuah hotel mewah berbintang lima di pusat kota. Sesuai dengan kesepakatan mereka, Dorris memberikan La Bonna waktu satu malam untuk memulihkan diri sebelum tugas berdarah itu dimulai.
Begitu melangkahkan kaki ke dalam suite hotel yang luas, hal pertama yang La Bonna lakukan adalah mengunci pintu rapat-rapat. Ia tidak menyentuh makanan mewah yang disajikan di meja, tidak pula menyentuh kasur empuk yang sudah Berbulan-bulan tak dirasakannya.
La Bonna berjalan lurus menuju kamar mandi berdinding marmer.
Di dalam kamar mandi yang terang benderang oleh lampu hangat, La Bonna berdiri di depan cermin besar. Ia melepas pakaian tahanan kusam yang melekat di tubuhnya, membiarkan kain kotor itu jatuh bertumpuk di lantai.
La Bonna menatap dirinya di cermin. Hal utama yang ingin dilakukannya setelah sampai di apartemen suite ini adalah memotong rambutnya yang panjang hingga mencapai pinggang itu.
Sebelum mengambil gunting stainless steel yang terletak di dekat wastafel, ia mengamati tubuh telanjangnya di depan cermin. Tubuh indahnya yang dulu mulus tanpa cela kini dipenuhi lebam keunguan dan memar kehitaman—bekas pengeroyokan brutal dua minggu lalu di kantin penjara.
Luka-luka itu memetakan penderitaan, rasa hina, dan dendam yang membara di bawah kulitnya.
Ia kemudian menyambar gunting tajam tersebut dan melanjutkan niatnya: menggunting rambutnya.
Sret! Sret!
Satu genggam demi satu genggam, ia memotong rambut hitamnya secara kasar.
Rumpun-rumpun rambut itu jatuh menumpuk berceceran di lantai kamar mandi marmer yang putih. Suara gunting yang mengatap rambut bergema konsisten di dalam ruangan yang sunyi. La Bonna memotongnya tanpa keraguan, seolah-olah sedang membuang seluruh masa lalu dan kelemahan yang pernah melekat pada dirinya.
Setelah guratan terakhir selesai, La Bonna meletakkan gunting itu kembali ke pinggir wastafel. Ia mengangkat wajahnya dan menatap pantulannya kembali di dalam cermin.
Rambutnya kini sudah sangat pendek sebahu. Potongan acak-acakan itu justru membingkai rahang tegas dan matanya yang tajam dengan sangat sempurna. Lebam di wajahnya dan rambut sebahunya membuat rupa La Bonna De Luca tampak berbahaya, liar, dan tak lagi mudah dihancurkan.
Ia membusungkan dada, menyapu bersih sisa-sisa air mata dari masa lalunya.
Besok, permainan nekat bersama Detektif Dorris Gate akan dimulai, dan La Bonna sudah siap menjadi pemain paling beracun di dalamnya.