NovelToon NovelToon
Dicampakkan Suami, Aku Jadi Pengusaha Sukses

Dicampakkan Suami, Aku Jadi Pengusaha Sukses

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Penyesalan Suami / Orang Disabilitas
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Kania mengira pernikahannya dengan Firman adalah takdir bahagia. Selama dua tahun, Firman menjadi suami sempurna sekaligus pahlawan yang menyelamatkan ekonomi keluarganya.

Meski hidup dengan disabilitas pada kaki kirinya akibat sebuah kecelakaan, Kania tak pernah menyerah menjalani hidup. Ia percaya, selama Firman tetap berada di sisinya, semua kekurangan itu bukanlah penghalang untuk meraih kebahagiaan.

Namun, saat perusahaan Firman bangkrut, badai besar menghantam rumah tangga mereka.

Pria yang pernah berjanji akan terus menggenggam tangannya mendadak berubah dingin. Lalu, seorang wanita dari masa lalu Firman datang menawarkan suntikan dana untuk menyelamatkan perusahaan dengan satu syarat, Firman harus membuang Kania dari hidupnya.

Demi mengembalikan kejayaan dan mempertahankan ambisinya, Firman tak ragu mengkhianati janji suci pernikahan mereka.

Terluka hebat, Kania memutuskan pergi meraih kebahagiaannnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 26 Talak Tiga

Mobil milik Abimanyu berhenti perlahan di depan sebuah rumah yang tampak sepi. Hujan yang sedari tadi mengguyur kota perlahan mulai mereda, menyisakan rintik-rintik kecil dan hawa dingin yang menusuk tulang.

Kania membuka pintu mobil dengan hati-hati. Ia menoleh ke arah bosnya yang masih duduk dengan postur kaku dan wajah datar di balik kemudi.

"Terima kasih banyak sudah repot-repot mengantar saya pulang, Pak Abi. Hati-hati di jalan ya, Pak. Tolong sampaikan salam saya untuk Abian dan juga—"

"Cukup!" potong Abimanyu cepat, memicingkan matanya dengan raut wajah jengkel yang tak ditutup-tutupi. "Kenapa kamu cerewet sekali sih, Kania? Telingaku bisa berdenging mendengarmu. Berisik, tahu?"

Kania langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia meringis kikuk, merasa serba salah. "Hehe, maafkan saya, Pak. Saya hanya berniat sopan."

"Ya sudah, aku pulang dulu. Semua pesanmu yang panjang lebar itu akan aku sampaikan pada Abian. Sekarang tutup pintunya," titah Abimanyu tanpa basa-basi, pandangannya sudah kembali lurus ke depan.

Setelah Kania menutup pintu mobil, Abimanyu langsung melajukan kendaraannya membelah jalanan malam yang basah, meninggalkan Kania yang berdiri sendirian menahan dingin di depan pagar rumahnya.

Kania menghela napas panjang, lalu berbalik dan mulai melangkah masuk. Namun, baru beberapa langkah, ia meringis tertahan.

"Aduh, kok lama-lama makin sakit ya," gumamnya lirih sambil memegangi lututnya. Kakinya yang sedari tadi dipaksa berdiri saat lembur di kantor dan kedinginan menembus gerimis kini terasa berdenyut nyeri yang teramat sangat. Dengan langkah tertatih, ia memaksakan diri membuka pintu utama rumah yang kebetulan tidak dikunci.

Harapannya malam ini hanya satu, mandi air hangat, merebahkan tubuhnya di kasur, dan mengistirahatkan kakinya yang malang. Namun, begitu pintu terbuka, langkah Kania terhenti seketika. Darahnya seolah berhenti mengalir. Rasa sakit di kakinya mendadak lenyap, digantikan oleh rasa sesak yang luar biasa menghantam dadanya.

Di ruang keluarga, tepat di atas sofa panjang kesayangannya, Firman sedang duduk santai. Dan yang membuat ulu hati Kania seakan ditusuk ribuan jarum adalah keberadaan Mawar, wanita berpenampilan menor yang pernah ia pergoki berselingkuh dengan suaminya di kafe waktu itu. Mawar sedang duduk santai di pangkuan Firman, menyilangkan kakinya yang terekspos dengan menggoda dan sedang menyuapkan potongan buah ke mulut Firman dengan senyuman dan tawa mesra.

Tawa renyah keduanya langsung terhenti begitu menyadari kehadiran Kania yang mematung di ambang pintu.

"Mas, kita belum bercerai. Kenapa kamu berani sekali membawa wanita ini ke rumah kita?!" tegur Kania dengan suara bergetar. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya, menahan amarah dan air mata yang berebut ingin keluar.

Mendengar suara Kania, Firman tersentak kaget. Wajahnya mendadak pias. Dengan gerakan panik layaknya pencuri yang tertangkap basah oleh warga, Firman buru-buru mendorong tubuh Mawar dari pangkuannya hingga wanita bergaun ketat itu nyaris terjengkang ke atas karpet.

"Mas! Pelan-pelan dong, sakit tahu!" protes Mawar kesal sambil membenarkan letak gaunnya.

Mawar kemudian menatap Kania dengan tatapan meremehkan dari atas sampai bawah, menyeringai penuh kemenangan. Ia lalu menyikut lengan Firman dengan kasar, memberikan isyarat ancaman lewat matanya. Mengingatkan pria pengecut itu tentang investasi miliaran dari keluarganya yang akan langsung ia cabut jika Firman tidak segera mengambil sikap tegas.

Firman menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mulai sebesar biji jagung menetes di pelipisnya. Ia menatap Kania yang berdiri mematung dengan mata berkaca-kaca menatapnya penuh luka.

Ambisinya untuk menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut mengalahkan segalanya, mengalahkan akal sehatnya, bahkan menelan habis sisa perasaannya pada sang istri.

Firman berdiri, menatap Kania dengan raut wajah yang berusaha ia buat sekeras mungkin. "Kalau begitu... malam ini juga, kamu aku talak tiga, Kania!"

Deg!

Kania membeku di tempat. Bumi tempatnya berpijak seolah runtuh menimpanya berton-ton beban. Napasnya tercekat di tenggorokan.

Talak tiga? Apakah ia tidak salah dengar? Kania menatap pria yang dulu saat akad berjanji akan melindunginya seumur hidup itu dengan tatapan nanar. Kesalahan apa yang ia lakukan selama ini?

Apakah begitu besar sampai-sampai Firman tega menjatuhkan talak tiga sekaligus, mencampakkannya seperti sampah yang tak berharga demi wanita ini?!

Hati Kania hancur tak bersisa, hancur lebur menjadi debu. Tapi, harga dirinya menolak untuk terlihat menyedihkan dan mengemis di depan dua manusia pengkhianat ini. Dengan susah payah, ia menelan bongkahan tangisnya. Ia mengangkat dagunya, menatap lurus dan tajam ke arah Firman dan Mawar.

"Baiklah, Mas. Aku terima talakmu," ucap Kania dengan nada sedingin es, mematikan seluruh perasaannya saat itu juga. "Dan selamat. Semoga kalian berdua segera menikah dan hidup bahagia di atas penderitaan orang lain."

Tanpa sudi membuang waktu satu detik pun untuk mendengarkan balasan mereka, Kania membalikkan badan dan melangkah tertatih menuju kamarnya. Ia tidak sudi menghirup udara di ruangan yang sama dengan manusia-manusia menjijikkan itu lebih lama lagi.

Sepeninggal Kania yang membanting pintu kamarnya, Firman kembali jatuh terduduk di sofa. Ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Jauh di lubuk hatinya yang paling dasar, ia masih sangat mencintai Kania. Kania adalah istri yang luar biasa baik, sabar, dan penurut.

Namun, apalah daya. Karena paksaan Mawar dan demi keegoisannya mempertahankan perusahaan, Firman rela menjual harga dirinya dan melakukan hal serendah ini.

Mawar tersenyum puas, merasa menang telak. Ia kembali duduk merapat dan mengelus rahang Firman dengan lembut. "Kamu nggak apa-apa kan, Mas?" tanyanya pura-pura peduli.

Firman hanya mengangguk kaku, menatap kosong ke arah pintu kamar Kania. Nasi sudah menjadi bubur. Ia tak punya jalan untuk mundur.

Tiba-tiba, dari arahdapur, Tuti berjalan keluar sambil tersenyum lebar dan bertepuk tangan riang. Wanita paruh baya itu rupanya sudah menonton seluruh kejadian drama tersebut sejak tadi dari balik pilar.

"Baguslah, Firman! Keputusan yang sangat tepat!" seru Tuti dengan wajah berseri-seri, suaranya sengaja dikeraskan agar Kania mendengarnya dari dalam kamar. "Sekarang kamu akan terlepas dari beban wanita cacat yang tak berguna itu! Setahun menikah tapi tidak bisa memberikan anak! Ibu sudah muak melihat wajah sok sucinya di rumah ini!"

Tuti kemudian beralih menatap Mawar dengan pandangan berbinar penuh puja-puji, mengusap lembut lengan calon menantu kaya rayanya itu.

"Semoga setelah menyingkirkan benalu itu, Mawar bisa segera memberikan Mama keturunan yang cerdas untuk penerus keluarga kita ya, Nak Mawar. Mama sudah tidak sabar menimang cucu," ucap Tuti memanas-manasi suasana.

Mawar tersenyum pongah, memeluk lengan Firman erat-erat. Hari ini adalah kemenangan terbesarnya. Ia berhasil mendepak istri sah Firman keluar dari rumah ini tanpa perlawanan yang berarti.

1
Itin
disini saya melihat seorang kakak yang menyayangi adiknya dan mau mendidiknya. walaupun dengan cara yang menyakitkan.
Itin
nikmatilah pilihanmu....
Deasy Suryandari
wuuiihh mantap
Dede Maesaroh
keren abiyu🥰
tinie
apakah mawar adik tiri🤔🤔
TPI dia bilang adik satu satunya

dari awal fillingku itu menggunakan firman pasti ingin merebut sesuatu dari sang Abang
hemm
Nice1808
bagus abi biar mawar gk sok lagi🤣🤣merebut suaminya kania dan skrg kania bersama kakaknya mawar🤣😂
Nice1808
hahhaha Firman distir oleh mawar mampuskan gara2 uang milyaran buat perusahaannya
Heni Setiyaningsih
/Rose/
Heni Setiyaningsih
dasar suami pecundang
Heni Setiyaningsih
semoga pita suara nya rusak bisr gak bisa teriak lg 🤣🤣🤣🤣
MamDeyh
Lanjuuut
Nice1808
biarkn firman dgn mawar kania, km dgn abngkya si boss abimanyu🤣🤭🤭
tinie
semangaat Kania
kamu pasti bisa bangkit kembali😭😭
MamDeyh
Lanjuuut lagi kak
Ma Em
Semoga Kania jadi sukses setelah diterima kerja , firman kamu pasti akan menyesal karena sdh membuang Kania istri yg baik dan berbakti meskipun selalu dihina dan direndahkan sama Bu Tuti sang mertua .
Nice1808
org tua sinting si tuti, ntar klo kania jd kaya kau ngemis2 krna mawar adiknya abimanyu bossnya kania🤭🤣
tinie
orang tua gila
kamu gak tau KLO mawar ingin menjadikan firman sebagai budak catur
yg harus kerja rodi
siap siap lembur stiap hari dan istri barumu akan menghabiskan uang perusahaan
dan Bu Tuti akan kehilangan jatah bulananmu
ahay
MamDeyh
Lagi kak...

Nah betul nih si 🌹 berduri adiknya si kulkas. Eng ing eng...
Dew666
Syukurlah langsung talak 3, kok aku malah hepi ya wkwk
Dede Maesaroh
amit"😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!