NovelToon NovelToon
Istri Paruh Waktu

Istri Paruh Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: aurora23

Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 27 : CEO Mulai Kehilangan

Kantor pusat Mahendra Group, sebuah monumen kaca dan baja yang menjulang menembus awan di pusat ibu kota, biasanya adalah tempat di mana Arka merasa paling berkuasa. Di balik meja mahoni yang luas, ia adalah nakhoda bagi ribuan karyawan dan triliunan aset. Namun, tiga hari setelah kepergian Nadira, kantor itu berubah menjadi penjara bagi Arka.

Di dalam ruang rapat utama, suasana tegang menyelimuti para eksekutif senior. Laporan keuangan kuartal ketiga terhampar di meja, penuh dengan angka-angka profit yang seharusnya membuat Arka tersenyum puas. Namun, mata pria itu justru menatap kosong ke arah jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota di bawah.

"Tuan Arka? Bagaimana dengan usulan akuisisi perusahaan logistik tersebut?"

Suara wakil direktur menyadarkan Arka dari lamunannya. Arka tersentak, lalu membetulkan posisi dasinya yang terasa mencekik lehernya. Ia mencoba memfokuskan pikirannya, namun bayangan Nadira—saat wanita itu dengan tekun merapikan dasinya sebelum ia berangkat kerja—justru memenuhi pelupuk matanya.

"Tunda," jawab Arka singkat, suaranya terdengar dingin dan tidak terbantahkan.

"Tapi, Tuan, ini kesempatan langka untuk memperluas—"

"Saya bilang tunda!" bentak Arka.

Ruangan seketika hening. Arka menyadari nadanya terlalu tinggi. Ia menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. "Maaf. Rapat selesai. Saya butuh waktu untuk meninjau kembali proposal ini secara mendalam."

Ia bangkit dari kursinya dengan gerakan kasar, meninggalkan para eksekutif yang saling berpandangan kebingungan. Ia tidak peduli. Fokusnya hancur berkeping-keping. Pikirannya tidak lagi berada di angka-angka investasi, melainkan pada kemungkinan di mana Nadira berada. Apakah dia makan dengan teratur? Apakah dia kedinginan di tempat barunya? Apakah dia masih menangis setiap malam?

Arka berjalan cepat menuju ruangannya, namun langkahnya terhenti di depan sekretarisnya. "Batalkan semua janji temu saya selama tiga hari ke depan. Saya tidak ingin diganggu."

"Tapi Tuan, ada pertemuan makan siang dengan—"

"Batalkan!" Arka memotong dengan nada final, lalu membanting pintu ruangannya.

Di dalam sana, ia terduduk lesu di sofa. Keheningan kantor ini terasa berbeda dibandingkan keheningan di rumahnya. Di sini, ia merasa seperti kehilangan kompas. Setiap kali telepon berdering, jantungnya berdegup kencang, berharap itu adalah kabar dari orang yang ia tugaskan untuk mencari jejak Nadira. Namun, sejauh ini, hasilnya selalu sama: nihil. Nadira seolah hilang ditelan bumi.

Malam harinya, ritual kesedihan itu berulang. Arka melangkah masuk ke kediaman Mahendra. Langkah kakinya terasa berat, menggema di lorong marmer yang dingin. Kebiasaan lamanya mulai muncul tanpa diundang; matanya selalu mencari sosok wanita dengan pakaian sederhana yang biasanya menyambutnya di pintu atau sedang membaca buku di ruang tamu.

Namun, yang ada hanyalah kegelapan yang pekat.

Ia berjalan menuju ruang makan. Cahaya lampu kristal yang megah di sana kini terasa menyakitkan mata. Ia duduk di kursinya sendiri, lalu tanpa sadar melirik ke ujung meja—posisi yang selalu diambil Nadira, tempat di mana wanita itu sering menunduk mencoba menjadi transparan di antara cemoohan Ibu Sarah.

"Tidak ada siapa-siapa di sana," bisiknya pada diri sendiri, suaranya parau.

Pelayan rumah tangga datang menyajikan makan malam. Arka menatap piring di depannya. Aroma masakan itu sangat lezat, namun tidak ada selera makan sedikit pun. Arka teringat pada suatu malam, di mana Nadira dengan ragu-ragu mencoba memasak hidangan favoritnya. Ia ingat betapa acuh tak acuhnya ia saat itu, mengkritik rasa asin pada masakannya, sementara Nadira hanya tersenyum tipis dan meminta maaf berkali-kali.

Bodoh, maki Arka dalam hati. Kau benar-benar pria yang bodoh, Arka.

"Tuan muda, apakah ada yang kurang?" tanya pelayan dengan sopan.

Arka tidak menjawab. Ia hanya bangkit dari meja dan berjalan menuju ruang kerja Opa Wijaya. Ia butuh bicara, atau mungkin, ia butuh seseorang untuk menghancurkan ego yang selama ini menahannya.

Saat ia masuk, Opa Wijaya sedang duduk di kursi goyangnya, menatap api di perapian dengan pandangan menerawang. Kakek itu tidak menoleh saat Arka masuk, seolah sudah tahu siapa yang datang.

"Rumah ini terasa jauh lebih besar dari biasanya, bukan?" tanya Opa Wijaya tanpa memalingkan wajah.

Arka duduk di kursi di hadapan kakeknya. Ia tidak menjawab, hanya menundukkan kepala.

"Dulu, saat nenekmu pergi, aku merasa dunia berhenti berputar," lanjut Opa Wijaya. "Aku pikir uang bisa membeli segalanya, termasuk kebahagiaan. Aku salah besar. Dan kau, Arka, kau sedang mengulangi kesalahan yang sama."

Arka mengangkat wajahnya, matanya memerah. "Opa, aku sudah mencoba mencarinya. Aku sudah mengerahkan segalanya, tapi dia tidak mau ditemukan. Dia sengaja menghapus jejaknya."

Opa Wijaya memutar kursi goyangnya, menatap cucunya dengan tajam. Sorot matanya yang biasanya hangat kini penuh dengan teguran yang menghujam. "Karena dia takut, Arka! Dia takut harus kembali ke neraka yang sama. Dia takut lukanya akan dibuka kembali oleh ibumu, atau dikhianati oleh rasa curigamu yang tidak berdasar."

"Aku tidak bermaksud—"

"Dengarkan aku!" potong Opa Wijaya dengan suara yang menggema. "Kebahagiaan itu pemalu, Arka. Ia tidak akan menunggu orang yang terlalu sombong untuk mengakui perasaannya sendiri. Kau terlalu sibuk mempertahankan gengsi sebagai CEO, terlalu sibuk mempertahankan 'kontrak' konyol itu, hingga kau lupa bahwa di hadapanmu ada seorang wanita yang martabatnya jauh lebih tinggi daripada seluruh aset yang kau miliki."

Arka terdiam. Kata-kata kakeknya seperti palu godam yang memecahkan dinding beton di dadanya. "Apa yang harus aku lakukan, Opa? Aku merasa... aku merasa tidak bisa bernapas tanpa keberadaannya."

"Jika kau ingin dia kembali, kau harus menunjukkan padanya bahwa kau telah berubah," jawab Opa Wijaya melunak. "Bukan dengan uang, bukan dengan kekuasaan, dan bukan dengan kartu kredit tambahan. Tapi dengan kerendahan hati. Kau harus mampu berdiri di depannya dan berkata bahwa kau menyesal—tanpa alasan, tanpa pembelaan, dan tanpa ego."

"Tapi apakah dia akan memaafkan saya?"

Opa Wijaya tersenyum kecut. "Itu tergantung seberapa besar perjuanganmu untuk mendapatkannya kembali. Wanita sepertinya tidak butuh kemewahan, Arka. Dia butuh kepastian. Dan sejauh ini, kau belum memberikan itu."

Kata-kata Opa Wijaya terus terngiang-ngiang di kepala Arka sepanjang malam. Arka tidak bisa tidur. Ia mondar-mandir di kamarnya yang luas, menatap lemari yang kosong, menatap sprei yang masih menyimpan aroma samar sampo Nadira.

Ia menyadari satu hal krusial: selama ini, ia memandang pernikahan sebagai sebuah transaksi. Ia pikir, dengan memberikan Nadira fasilitas, tempat tinggal, dan keamanan dari dunia luar, ia sudah menjadi suami yang baik. Ia tidak pernah menyadari bahwa Nadira sebenarnya hidup dalam ketakutan yang konsisten—ketakutan akan dihakimi, ketakutan akan dianggap sebagai parasit, dan ketakutan akan kehilangan satu-satunya hal yang ia miliki: harga diri.

Arka membuka laci mejanya, mengambil ponselnya, dan menatap layar yang menunjukkan foto profil WhatsApp Nadira. Foto itu hanya gambar pemandangan senja yang sederhana. Tidak ada kemewahan, tidak ada foto mereka berdua. Arka mengetik sebuah pesan, menghapusnya, mengetik lagi, lalu menghapusnya kembali.

Apa yang harus aku katakan? Halo, maafkan aku karena telah menjadi suami yang tidak berguna?

Arka melempar ponselnya ke kasur dengan frustrasi. Ia merasa sangat tidak berdaya. Inilah ironi terbesar dalam hidupnya: seorang pria yang bisa memenangkan negosiasi miliaran rupiah dalam hitungan detik, kini tidak mampu menyusun satu kalimat sederhana untuk wanita yang dicintainya.

Tiba-tiba, ia teringat sebuah insiden kecil. Beberapa bulan lalu, Nadira sempat mengatakan kepadanya bahwa ia sangat menyukai toko buku tua di pinggiran kota, tempat di mana ayahnya dulu sering membawanya saat kecil. Arka segera meraih kunci mobilnya. Jika Nadira tidak ada di rumah, tidak di tempat kerja, tidak di rumah sakit, mungkin dia sedang mencari ketenangan di tempat-tempat yang penuh kenangan.

Ia melesat pergi di tengah malam, memacu mobilnya menembus jalanan kota yang lengang. Pikirannya hanya satu: Nadira.

Di sepanjang jalan, Arka merenung. Ia mulai memahami mengapa Nadira begitu tangguh. Hidupnya adalah rangkaian perjuangan tanpa henti. Sementara dirinya? Ia lahir dengan sendok perak di mulutnya. Ia tidak pernah merasakan lapar, tidak pernah merasakan dinginnya lantai kontrakan saat listrik diputus, dan tidak pernah merasakan perihnya dikhianati oleh orang yang dipercaya.

Perbedaan latar belakang inilah yang membuat mereka begitu jauh. Namun, justru perbedaan itulah yang kini membuat Arka jatuh cinta. Ia kagum pada keteguhan Nadira. Ia menghargai keberanian wanita itu untuk meninggalkan kemewahan demi menjaga kehormatan dirinya.

Sesampainya di toko buku tua tersebut, toko itu sudah tutup. Arka turun dari mobil, menatap papan nama yang sedikit miring. Ia tidak menemukan Nadira di sana, namun ia merasakan kedekatan yang aneh. Ia membayangkan Nadira kecil, mungkin sedang duduk di pojok toko, membaca buku dengan antusias sementara ayahnya tersenyum menatapnya.

Arka menyentuh kaca jendela toko itu. "Nadira," bisiknya lirih ke dalam kegelapan. "Di mana pun kau berada, aku akan mencarimu. Aku tidak akan berhenti."

Ia sadar, kehilangannya kali ini adalah teguran dari alam semesta. Jika ia tidak bisa berubah sekarang, maka ia akan kehilangan kesempatan seumur hidup. Ego dan kesombongannya telah merenggut hal paling berharga dalam hidupnya. Dan sekarang, ia harus membayarnya dengan kesabaran.

Arka kembali ke mobil, namun ia tidak langsung pulang. Ia berkeliling kota hingga fajar menyingsing. Setiap sudut jalan yang ia lewati memberinya perspektif baru tentang hidup Nadira yang keras. Ia melihat orang-orang yang berjualan di pinggir jalan, melihat ibu-ibu yang harus berjuang demi sesuap nasi. Semuanya mengingatkannya pada perjuangan yang pernah Nadira lalui, yang dulu Arka anggap sepele.

Saat matahari mulai terbit di ufuk timur, Arka berhenti di sebuah kedai kopi kecil. Ia duduk di sana, memandang orang-orang yang mulai beraktivitas. Ia bukan lagi Arka Mahendra yang disegani, ia hanyalah seorang pria yang sedang patah hati dan mencoba mencari jalan pulang.

Ia menyadari bahwa kehilangan Nadira adalah awal dari segalanya. Kehilangannya telah meruntuhkan dinding-dinding ego yang selama ini menutup hatinya. Kini, yang tersisa hanyalah kerinduan yang mendalam dan sebuah janji: bahwa ia akan belajar menjadi pria yang pantas bagi Nadira.

Ia tidak akan menyerah. Jika ia harus mencari di seluruh sudut negeri, jika ia harus melepaskan semua kekuasaannya demi mendapatkan Nadira kembali, maka ia akan melakukannya. Karena sekarang, Arka tahu pasti, bahwa tanpa Nadira, seluruh kekayaan Mahendra hanyalah tumpukan harta yang tidak bernyawa.

Arka mengeluarkan catatan kecil dari sakunya—catatan belanja yang tertinggal di paviliun—dan menatap tulisan tangan Nadira sekali lagi. Ia menyimpannya kembali ke saku dadanya, tepat di atas jantungnya. "Kita akan bertemu lagi, Nadira. Dan saat itu tiba, aku akan menjadi pria yang seharusnya kau miliki sejak awal."

Dengan tekad baru yang menyala, Arka menghidupkan mesin mobilnya. Ia tidak pulang ke rumah. Ia menuju kantor, bukan untuk bekerja, melainkan untuk mengatur strategi. Strategi untuk menemukan istrinya, melindungi martabatnya, dan memenangkan hatinya kembali dengan cara yang paling jujur.

Hari-hari yang kacau mungkin belum berakhir, namun Arka sudah menemukan arahnya. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arka Mahendra merasa lebih hidup daripada sebelumnya. Ia tidak lagi takut kehilangan. Ia sedang berjuang untuk memiliki—bukan secara fisik, melainkan secara jiwa.

Ia menoleh ke kursi penumpang di sebelahnya, kursi yang selalu kosong, dan tersenyum tipis. "Besok, aku akan mencarimu lagi. Dan besoknya lagi, sampai kau ditemukan."

Arka memacu mobilnya, meninggalkan bayang-bayang masa lalunya. Kini, masa depannya bukan lagi tentang Mahendra Group. Masa depannya adalah Nadira. Dan ia akan melakukan apa pun untuk memastikan bahwa masa depan itu menjadi kenyataan.

Kehilangan Nadira memang menyesakkan, namun penyesalan yang ia bawa kini menjadi bahan bakar bagi jiwanya. Arka Mahendra telah kehilangan segalanya—fokus, arah, dan keangkuhannya—namun dalam proses tersebut, ia justru menemukan dirinya yang sebenarnya. Seorang pria yang siap mencintai tanpa syarat, dan berkorban tanpa batas.

Di bawah langit Jakarta yang mulai terang, Arka melaju kencang, membawa sejuta penyesalan yang perlahan berubah menjadi harapan. Ia tahu, jalan di depannya masih panjang dan penuh duri, tapi ia tidak gentar. Karena ia tahu apa yang ia cari, dan ia tahu ke mana ia harus melangkah.

Arka menatap cermin spion, melihat wajahnya sendiri yang kini tampak lebih lelah namun lebih tenang. Ia siap. Ia siap untuk berproses, siap untuk memperbaiki, dan siap untuk menjadi suami yang sesungguhnya bagi Nadira. Dan jika itu berarti ia harus mulai dari nol, maka biarlah begitu. Karena Nadira layak mendapatkan yang terbaik—termasuk versi terbaik dari dirinya sendiri.

Hari ini, CEO itu mungkin kehilangan fokusnya dalam rapat, namun ia telah menemukan fokus hidupnya yang paling sejati. Dan itu, bagi Arka, adalah kemenangan yang jauh lebih besar daripada keuntungan triliunan rupiah mana pun.

Arka Mahendra, sang penguasa yang sombong, akhirnya telah belajar bahwa kebahagiaan sejati tidaklah ditemukan di puncak kesuksesan, melainkan di dalam ketulusan hati yang berani mengakui kekalahan demi mendapatkan cinta yang sesungguhnya. Dan ia tidak akan membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja. Ia akan mengejarnya, menangkapnya, dan menjaganya selamanya.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga hari, Arka tertidur di dalam mobilnya dengan senyum tipis di bibirnya. Sebuah mimpi tentang Nadira yang tersenyum kembali kepadanya, membuatnya merasa bahwa semua perjuangannya tidak akan sia-sia. Ia tahu, esok adalah hari baru, dan ia siap untuk menjalaninya dengan segenap hati.

Dunia mungkin menganggap Arka Mahendra sedang kacau balau, namun kenyataannya, ia sedang berada di titik paling sadar dalam hidupnya. Ia sedang belajar mencintai. Dan bagi seorang pria yang baru saja belajar arti sebenarnya dari kata 'kehilangan', itu adalah sebuah kemajuan yang luar biasa.

Arka menarik napas dalam-dalam, merasakan hembusan angin pagi yang segar. Ia siap. Ia siap untuk memperbaiki segalanya. Dan ia tidak akan berhenti sampai ia berhasil. Apapun risikonya. Apapun harganya. Karena Nadira bukan sekadar istri—ia adalah jiwa yang telah melengkapi hidupnya, dan Arka tidak akan membiarkan bagian jiwanya itu hilang begitu saja.

Ia akan mencari sampai ujung dunia. Ia akan berjuang sampai napas terakhir. Dan ia akan membuktikan, bahwa Arka Mahendra yang baru, adalah pria yang layak untuk mendampingi wanita setegar Nadira. Karena sekarang, ia mengerti: martabat tidak bisa dibeli, cinta tidak bisa dipaksa, dan satu-satunya cara untuk memilikinya adalah dengan memberikannya seluruh hati.

Dan Arka, dengan segenap penyesalan dan harapan, telah menyerahkan hatinya sepenuhnya pada pencarian ini. Pencarian untuk mendapatkan kembali Nadira, sang pemilik hatinya yang sebenarnya. Dan ia tahu, suatu saat nanti, pintu itu akan terbuka kembali. Bukan sebagai kontrak, tapi sebagai sebuah kebenaran. Kebenaran bahwa mereka memang ditakdirkan untuk bersama, tidak peduli seberapa berat badai yang harus mereka lalui.

Arka tersenyum dalam tidurnya, menanti fajar yang akan membawanya lebih dekat kepada istrinya. Dan saat matahari akhirnya terbit, ia terbangun dengan tekad yang bulat. Ia siap. Ia benar-benar siap. Perjuangan untuk mendapatkan kembali Nadira baru saja dimulai, dan Arka tidak akan membiarkan siapa pun atau apa pun menghalanginya. Tidak lagi. Tidak akan pernah lagi.

Ia menatap langit, memohon pada semesta untuk memberinya satu kesempatan lagi. Hanya satu kesempatan untuk menunjukkan bahwa ia telah berubah. Dan dengan janji itu, Arka kembali menjalankan mobilnya, menuju tempat di mana ia percaya Nadira mungkin berada. Pencarian ini adalah napasnya sekarang, dan ia tidak akan pernah berhenti bernapas sampai ia menemukannya kembali.

Kehilangan adalah guru terbaik, dan Arka adalah murid yang baru saja menyadari betapa mahalnya harga sebuah pelajaran. Namun, ia tidak menyesal. Ia justru bersyukur. Karena tanpa kehilangan ini, ia mungkin tidak akan pernah menyadari betapa berartinya Nadira dalam hidupnya. Dan sekarang, ia akan menggunakan setiap detik yang ia miliki untuk menebus semua kesalahan yang pernah ia perbuat.

Perjalanan itu panjang, namun Arka tidak keberatan. Ia akan melewati setiap jengkal kota, setiap sudut jalan, hingga ia menemukan Nadira. Dan saat ia menemukannya, ia akan berlutut—bukan sebagai CEO, tapi sebagai pria yang mencintai istrinya sepenuh hati. Karena itu adalah satu-satunya cara untuk memperbaiki segalanya. Dan Arka sudah siap dengan segala konsekuensinya. Ia siap untuk menang, dan ia siap untuk mencintai—sekali lagi, selamanya.

Ia memacu mobilnya lebih cepat, membelah hiruk pikuk kota. Hatinya tertuju pada satu tujuan: Nadira. Dan ia tahu, ia akan menemukannya. Hari ini, besok, atau kapan pun itu. Ia akan terus mencari. Karena baginya, Nadira adalah rumah. Dan ia sudah terlalu lama berada di luar rumahnya sendiri. Kini, saatnya ia kembali. Kembali kepada wanita yang telah mengajarkannya arti dari sebuah martabat, cinta, dan pengorbanan.

Arka Mahendra, sang CEO, telah belajar banyak. Dan pelajaran itu telah mengubahnya menjadi pria yang lebih baik. Pria yang akhirnya siap untuk mencintai dengan tulus. Dan perjalanan untuk membuktikan hal itu baru saja dimulai. Ia tidak akan berhenti, ia tidak akan menyerah, dan ia tidak akan pernah mundur. Karena ia tahu, di ujung pencarian ini, ia akan menemukan jawabannya: bahwa cinta, pada akhirnya, adalah tentang bagaimana kita bersedia untuk berjuang demi orang yang paling berarti dalam hidup kita. Dan Arka, dengan segenap jiwanya, telah memilih untuk berjuang. Demi Nadira. Demi cinta mereka. Demi masa depan yang lebih baik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!