NovelToon NovelToon
Siasat Cantik Istri Bercadar

Siasat Cantik Istri Bercadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Fatimah mengira pernikahan paksa dengan Rayhan Khalif adalah akhir dari impiannya.

Namun, saat ia mulai mencintai sang suami yang selalu memanjakannya, sebuah rahasia kelam terbongkar: Rayhan Khalif telah dijebak dan menikah siri dengan wanita dari masa lalunya.

​Alih-alih mengamuk, Fatimah menghadapi pengkhianatan ini dengan cara yang elegan.

Menggunakan strategi psikologis dan ketenangan yang mematikan, sang istri bercadar siap merebut kembali kebahagiaannya. Air mata berbalut iman, siasat paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengetuk Pintu Hati Fatimah

Sore harinya, setelah rangkaian pengajian hari pertama selesai dan para tetangga kembali ke rumah masing-masing, suasana di dalam rumah peninggalan Ayah mendadak terasa begitu sunyi.

Ibu dan Fadia sudah tertidur di kamar karena kelelahan emosional yang teramat sangat, sementara Faisal sedang pergi ke masjid desa untuk bersiap menyambut waktu Magrib.

Fatimah duduk sendirian di amben kayu yang terletak di teras belakang rumah, tempat yang biasanya digunakan Ayah untuk merajut jala atau sekadar memandangi tanaman cabai di pekarangan.

Ia baru saja melepaskan cadar hitamnya, membiarkan angin sore yang sejuk menerpa wajah polosnya yang masih menyisakan rona pucat.

Kedua matanya menatap kosong ke arah pohon mangga di sudut halaman, tenggelam dalam lamunan panjang tentang garis takdirnya yang berubah total hanya dalam hitungan hari.

Langkah kaki yang teratur mengejutkan Fatimah dari lamunannya. Rayhan berjalan mendekat dengan dua cangkir teh manis hangat di tangannya.

Pria itu sudah menanggalkan kemeja formalnya, menyisakan kaus polos kelabu yang santai namun tetap memancarkan garis tubuhnya yang tegap.

"Boleh Mas duduk di sini, Ima?"

Tanya Rayhan lembut, meminta izin dengan sikap penuh penghormatan.

Fatimah buru-buru menggeser posisi duduknya ke ujung amben, memberikan ruang yang cukup.

"Silahkan, Mas Rayhan. Silakan."

Rayhan meletakkan secangkir teh di dekat Fatimah, lalu mengambil posisi duduk di ujung yang lain.

Jarak di antara mereka sengaja dijaga agar istri kecilnya tidak merasa terkekang.

Pria tiga puluh delapan tahun itu menyesap tehnya perlahan, ikut memandangi pekarangan belakang yang asri sebelum akhirnya membalikkan tubuh menghadap Fatimah.

"Ima."

Panggil Rayhan, suaranya yang berat mengalir pelan, seolah sedang mengetuk sebuah pintu kayu yang rapuh dengan sangat hati-hati.

"Mas tahu, sampai detik ini, Mas mungkin masih terasa seperti orang asing yang tiba-tiba masuk dan merebut seluruh duniamu."

" Mas tahu pernikahan ini bukan sesuatu yang kamu impikan."

Fatimah tersentak kecil. Ia menundukkan kepalanya, menatap tautan jemarinya sendiri di atas pangkuan nya.

"Mas Rayhan... Fatimah tidak pernah berpikiran seperti itu. Fatimah sudah rida dengan takdir ini."

"Rida karena kewajiban dan rida karena hati itu dua hal yang berbeda, Ima."

Potong Rayhan dengan senyuman tipis yang teramat teduh.

Tatapan matanya yang matang seolah mampu membaca setiap riak gejolak batin yang disembunyikan Fatimah di balik ketenangannya selama ini.

Rayhan mengembuskan napas perlahan, meletakkan cangkirnya kembali.

"Mas tidak menuntutmu untuk langsung mencintai Mas hari ini atau esok hari."

"Cinta itu urusan Allah, Mas hanya bisa berikhtiar. Tapi, Mas ingin kamu tahu satu hal... Mas"

"menikahi Ima bukan karena sekadar memenuhi wasiat terakhir almarhum Ayah."

Mendengar pengakuan itu, Fatimah mendongak. Sepasang mata jernihnya menatap langsung ke dalam manik mata Rayhan, mencari kebenaran di sana.

"Lalu... karena apa, Mas?"

Bisik Fatimah ragu.

"Karena Mas melihat ada ketulusan dan kesalehan yang nyata di dalam dirimu, Ima."

"Jauh sebelum Ayahmu jatuh sakit dan menawarkan perjodohan dengan dirimu."

"Mas pernah melihatmu membimbing anak-anak mengaji di teras masjid pesantren setahun lalu, Mas sudah berdoa kepada Allah."

"Jika memang takdir membawa kita bersama, Mas ingin menjadi lelaki yang melindungimu."

"Dan, Allah menjawab doa ku, ayahmu menawarkan dan memperkenalkan dirimu padaku"

Tutur Rayhan dengan nada yang teramat jujur, tanpa ada kepalsuan sedikit pun.

"Aku ingin bertanya satu hal mas," jeda Fatimah

"apa itu"

"kata Ayah kalian sudah kenal lama, sejak kapan Mas Rayhan mengenal Ayah"

Rayhan menatap mata Fatimah dan tersenyum, "aku dan Ayah mu sudah saling mengenal dua tahun lalu, ayahmu setiap selesai sholat selalu mengajak ku berbincang mengenai masalah keuangan dan usahanya yang sedang menurun."

Fatimah mendengar itu merasa sedih, karena selama ini ayahnya selalu bersikap baik-baik saja di hadapan anak-anaknya.

Rayhan berbalik melihat wajah Fatimah yang kembali memasang wajah sedih.

"Apa kau tahu...," Rayhan melanjutkan cerita nya.

"Waktu itu aku sempat menolak tawaran Ayahmu, untuk menjodohkan kita."

"Tapi saat Ayahmu menunjukkan fotomu walau memakai cadar sekalipun, aku lansung mengenali dirimu."

"Saat itu aku tersenyum dan merasa bersyukur, Allah mengabulkan do'a ku dan memberiku jalan untuk mempersunting dirimu sebagai istriku"

Jantung Fatimah seketika berdegup kencang. Rona merah mendadak menjalar di kedua pipinya yang polos.

Ia tidak pernah menyangka bahwa pertemuan mereka telah digariskan dan didoakan sejak lama oleh pria di hadapannya ini.

Kata-kata Rayhan yang tulus dan tidak menuntut itu perlahan-lahan merembes masuk, mengikis sisa-sisa dinding pertahanan yang selama ini dibangun Fatimah di dalam hatinya.

Pria pengusaha yang berwatak dingin di dunia luar itu, kini sedang menggunakan kelembutan imannya untuk mengetuk pintu hati Fatimah dengan penuh kesabaran.

setapak demi setapak, membiarkan waktu yang akan menjawab segalanya karena Allah.

1
Enz99
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!