NovelToon NovelToon
Malam Pertama Dengan CEO

Malam Pertama Dengan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikah Kontrak
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Kayla hancur saat tunangannya, Damar, ketahuan selingkuh dan menghina dirinya sebagai wanita “mandul”. Dikhianati keluarga sendiri, ia kabur dalam keadaan terluka hingga tanpa sadar menghabiskan malam dengan seorang pria asing di hotel. Tanpa ia ketahui, pria itu adalah Adrian, CEO dingin dan berkuasa yang kemudian menjadi atasan barunya di hotel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23

Adrian membawa mobilnya dengan kecepatan pelan. Malam itu jalanan tidak terlalu ramai. Tak butuh waktu lama, ia akhirnya sampai di rumah mewah miliknya. Pintu pagar tinggi terbuka otomatis saat mobilnya mendekat. Adrian langsung melanjutkan laju mobil hingga ke teras rumah.

Di sana, Maharani sudah mondar-mandir dengan gelisah. Ia menunggu Adrian pulang sejak tadi. Wajahnya terlihat cemas dan penuh pertanyaan.

“Rian, kenapa kamu baru pulang?” tanya Maharani khawatir. Ia lalu menatap Adrian yang baru saja turun dari mobil sambil membopong Kayla. “Dan kenapa itu Kayla? Apa dia pingsan?”

Adrian menatap neneknya sebentar. “Kayla tidur, Nek. Aku bawa dia ke kamar dulu,” jawabnya singkat.

Ia kemudian berjalan masuk tanpa banyak bicara, membawa Kayla ke kamar. Maharani mengikuti dari belakang dengan langkah cepat namun tetap hati-hati.

Di dalam kamar, Adrian meletakkan Kayla dengan pelan di atas tempat tidur. Ia memastikan posisi gadis itu nyaman. Lalu ia melepas sepatunya dan menyelimutinya dengan hati-hati. Kayla tampak lelah sekali, bahkan tidurnya begitu nyenyak.

Setelah itu, Adrian meredupkan lampu kamar agar suasananya lebih tenang. Ia kemudian keluar dan menutup pintu perlahan.

Di ruang tengah, Maharani sudah duduk di sofa. Begitu Adrian duduk di sebelahnya, pertanyaan langsung keluar lagi.

“Kenapa kamu pulang larut sekali?” tanya Maharani.

Adrian menarik napas, lalu mulai menceritakan semuanya. Ia menjelaskan tentang kepergiannya ke pasar malam, lalu kejadian Kayla yang diusir dari asrama hotel.

Maharani mendengarkan dengan serius. Sesekali ia menghela napas pelan.

“Nenek, sebenarnya keluarga Permana itu punya berapa putri angkat sih?” tanya Adrian tiba-tiba.

Maharani terdiam sejenak. “Itulah, dari tadi si Rahmi itu telepon terus. Katanya mau membicarakan perjodohan kamu. Tapi nenek sudah menolak. Nenek bilang kamu sudah punya istri. Tapi mereka tetap ingin bertemu,” jelasnya.

Adrian langsung menatap serius. “Aku hanya mengakui Lena Permana sebagai calon istriku. Sampai sekarang dia belum ditemukan oleh keluarga Permana. Aku tidak mau yang lain selain Lena Permana,” ucapnya tegas.

Maharani mengangguk pelan, lalu bertanya lagi. “Tadi kamu bilang ada dua putri angkat keluarga Permana, ada apa memang?”

“Di hotel ada karyawan bernama Rani Permana. Dia sering mengganggu Kayla, Nek. Aku mau pecat dia, tapi kita masih punya hutang budi pada keluarga Permana,” keluh Adrian.

Maharani mengernyit. “Kamu itu punya hutang pada Lina Permana, bukan pada seluruh keluarga Permana. Kalau Kayla diperlakukan buruk, ya pecat saja,” ucapnya tegas.

Adrian terdiam sebentar. “Baiklah, aku masih mempertimbangkan kejadian masa lalu. Aku beri dia kesempatan dulu. Tapi kalau dia terus berulah, aku akan ambil tindakan. Lagipula keluarga Permana masih punya saham sepuluh persen, jadi aku masih menghargai mereka,” jawab Adrian dengan tatapan kosong.

Setelah beberapa saat, Maharani kembali bertanya, “Rian, kalau nanti Lena kembali, bagaimana sikap kamu?”

Adrian menghela napas pelan. “Aku sudah menikah dan akan punya anak kembar. Tentu saja aku akan bersama Kayla, Nek. Kalau Lena ditemukan, mungkin akan aku anggap sebagai adik angkat saja.”

Maharani tersenyum kecil. “Bagus kalau begitu.”

Ia menatap cucunya dengan bangga. “Kayla sudah banyak menderita. Kamu jangan menambah penderitaannya. Kamu harus menyayanginya.”

“Ya, Nek,” jawab Adrian. “Aku pasti akan menjaganya dengan baik.”

Adrian lalu berdiri. “Nek, sudah malam. Aku mau istirahat dulu.”

,,,

...

Sementara itu di rumah Saraswati, mereka sudah pusing tujuh keliling.

“Si Kayla itu kurang ajar sekali. Kemarin dia membuat kita babak belur, dan sekarang dia masih juga tidak mengirim uang,” kata Arif dengan nada kesal.

“Iya, Bu. Coba telepon si Kayla itu. Ini ada aplikasi judi online, orang-orang pada menang di situs baru itu,” tambah Arif lagi dengan nada tergesa-gesa, matanya tampak penuh ambisi.

Saraswati mengangguk pelan, tapi wajahnya tetap dipenuhi kekesalan. Uang yang biasa mereka ambil dari Kayla belum juga datang, membuat suasana rumah itu semakin panas.

“Kalian ini sampai kapan akan mengganggu Kayla terus? Kasihan dia,” kata Lukman, suami Saraswati, dengan suara lemah dari kursi rodanya.

“Kasihan?” Saraswati menoleh tajam. “Kita sudah memberi dia makan dari kecil, mengambil sebagian dari penghasilan kamu. Sudah sewajarnya dia balas budi. Lihatlah kamu, sudah empat tahun ini hanya duduk di kursi roda, benar-benar tidak berguna,” ucapnya dingin tanpa rasa iba.

“Memberi makan apanya?” balas Lukman pelan namun penuh luka. “Dari umur enam tahun kalian memaksa dia mengemis. Umur sepuluh tahun kalian memaksa dia berjualan sambil sekolah. Setelah besar kalian masih terus memeras tenaganya, bahkan mengambil sebagian besar gajinya.”

“Diamlah! Ayah tak berguna. Mending tidur saja,” ucap Arif dengan nada tinggi.

“Ya, kamu tidur saja,” tambah Saraswati sambil mendorong kursi roda Lukman dengan kasar menuju kamar.

Lukman hanya bisa diam. Pintu kamar tertutup, menyisakan kesunyian yang menekan dadanya. Ia menatap jendela yang gelap, pikirannya jauh melayang.

“Kalau tahu begini, lebih baik aku titipkan kamu ke panti asuhan saja dulu, tidak usah aku bawa ke rumah ini,” gumam Lukman lirih, suaranya bergetar.

Ingatan itu kembali datang seperti gelombang. Dulu ia hanyalah tukang ojek yang hidup pas-pasan. Suatu malam hujan deras, ia mendengar suara tangisan anak kecil dari dekat tong sampah. Ketika ia mendekat, ia menemukan seorang anak perempuan berusia sekitar lima tahun, tubuhnya penuh luka dan kotor.

Karena kasihan, Lukman membawa anak itu pulang. Ia merawatnya dengan sisa tenaga dan penghasilannya yang tidak seberapa. Anak itu ia beri nama Kayla, dan sejak saat itu ia menganggapnya sebagai anak sendiri.

“Kayla… maafkan ayah, Kayla,” ucap Lukman sambil mengepalkan tangan keriputnya, matanya berkaca-kaca.

Waktu terus berlalu. Pagi pun datang membawa cahaya yang masuk dari celah jendela kamar mewah itu.

Kayla terbangun dengan kaget. Ia menatap sekeliling, bingung karena sudah berada di kamar yang sangat berbeda dari biasanya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, lalu melihat jam dinding.

“Jam delapan pagi…” gumamnya pelan.

Dengan cepat Kayla bangkit dari tempat tidur. Ia segera mandi, berdandan tipis, lalu memakai seragam hotelnya dengan tergesa-gesa. Rambutnya disisir rapi, namun wajahnya tetap menyimpan kecemasan.

“Ke mana Rian?” gumamnya sambil mengoleskan lipstik dengan terburu-buru.

Setelah merasa cukup rapi, Kayla segera turun ke bawah.

“Kayla mau ke mana kok buru-buru?” tanya Maharani dari ruang tengah dengan nada heran.

Kayla berhenti sebentar, lalu cepat mencium tangan Maharani.

“Maaf, Nenek. Aku sudah terlambat kerja. Aku pergi dulu ya,” ucapnya cepat.

Ia hampir setengah berlari keluar rumah.

“Kayla, hati-hati!” teriak Maharani dengan nada cemas.

Kayla sudah tidak sempat menjawab. Dengan menggunakan ojek online, ia menuju tempat kerjanya. Jalanan pagi cukup padat, membuatnya semakin gelisah.

Pukul sembilan pagi, ia akhirnya sampai di hotel. Ia langsung masuk dan duduk di meja kerjanya. Anehnya, tidak ada satu pun rekan kerja yang menegurnya atau memarahinya.

“Astaga… ini pasti karena Rian. Dia pasti sudah mengatur semuanya,” gumam Kayla pelan, penuh tanda tanya.

Saat ia masih tenggelam dalam pikirannya, seorang karyawan hotel datang dengan wajah panik.

“Bu Kayla, ada customer yang sangat sulit ditangani. Dia ingin dilayani oleh Anda. Dia ada di lantai tiga,” kata karyawan itu tergesa-gesa.

“Siapa pelanggannya?” tanya Kayla, langsung waspada.

1
Ariany Sudjana
Linda juga sama, apa ga ada niat untuk mencari kebenaran dulu? malah mau saja percaya dengan omongan pelacur murahan
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Lina, dan mau saja dibodohi sama perempuan sampah seperti Rina... katanya orang kaya, tapi bodohnya kebangetan
Ariany Sudjana
berarti Kayla anak kandungnya Linda yang hilang itu ya? semoga Adrian bisa menemukan siapa orang tua kandungnya Kayla, dan membungkam mulut si pelacur murahan Rina, juga Lina itu
Ariany Sudjana
kenapa bab 28 dan 29 isinya sama?
Adi Sudiro
wanita 2 menjijik kan apak mereka anak kandung..?
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan yang ga tahu diri kalian itu, Rina, Mila, sama saja, sama-sama pelacur dan kalian harusnya dibunuh saja, karena sudah mengusir istri bos. mampus kalian🤣🤣😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!