Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.
Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 – Sang Pengendali Sihir Air
Cahaya mentari pagi menyelinap di sela-sela tirai tipis penginapan, membelah ruangan yang masih remang dengan garis-garis keemasan yang hangat. Kota Lumin di luar jendela sudah berdenyut hidup sejak fajar menyingsing: suara gerobak kayu yang berderit di atas jalan batu, teriakan pedagang yang menawarkan sayuran segar dan roti yang baru dipanggang, serta langkah kaki tergesa para petualang yang bergegas ke Guild untuk mengambil misi pertama mereka hari itu. Udara pagi yang segar membawa aroma tanah basah, bunga liar dari lereng bukit, dan wangi manis gula karamel dari kedai di sudut jalan—semuanya berpadu menjadi irama kehidupan yang tenang namun tak pernah berhenti bergerak.
Di dalam kamar sederhana di lantai dua itu, Haruto masih terlelap pulas. Napasnya teratur, satu tangannya terulur ke tepi tempat tidur, sementara kakinya tersangkut di ujung selimut tebal yang sedikit lusuh. Di atas bantal di sebelahnya, Pochi tidur meringkuk nyenyak: tubuh kenyalnya perlahan berubah bentuk, melebar menjadi lapisan empuk berwarna biru langit yang lembut seperti kapas, lalu menutupi separuh wajah Haruto seperti selimut kecil yang pas sekali ukurannya. Sesekali slime itu mendesah pelan, memancarkan getaran halus yang membuat ujung rambut Haruto sedikit bergerak, namun ia tak terbangun sedikit pun.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan di pintu terdengar tegas namun tidak keras, memecah keheningan ruangan.
"Haruto! Bangun, kita harus berangkat sekarang!" suara Daichi terdengar dari balik pintu, penuh ketegasan namun terselip nada sabar.
Tak ada jawaban. Hanya suara napas panjang Haruto dan desah halus Pochi yang terdengar.
Tok! Tok! Tok! Kali ini ketukan sedikit lebih cepat.
"Kalau kau tidak membuka pintu dalam hitungan ketiga, aku berangkat duluan ke tempat Mizuna. Kau tahu sendiri betapa sulitnya menemukan jalan menuju danau itu sendirian, kan?"
Masih sunyi senyap.
Daichi menghela napas panjang, terdengar jelas dari balik pintu. Ia memutar gagang pintu perlahan—kunci kamar itu ternyata tidak terpasang rapat, mungkin karena Haruto terlalu lelah setelah kejadian di Guild kemarin hingga lupa menguncinya dengan benar. Pintu berderit pelan saat terbuka, dan pemandangan di dalamnya membuat pria berambut abu-abu itu berhenti sejenak, lalu menggeleng sambil tersenyum tipis yang hangat.
Haruto tidur terlentang dengan mulut sedikit terbuka, tangan dan kakinya terhampar lebar seolah tak punya beban apa pun di dunia ini. Selimut yang tadi menutupi badannya sudah melorot sampai ke pinggang, sementara bantal yang seharusnya menopang kepalanya kini berubah wujud: Pochi telah menyatu sempurna dengan kain bantal itu, membuatnya terlihat jauh lebih empuk dan sedikit lebih tinggi dari biasanya. Sesekali slime itu memantul sangat pelan seolah sedang bermimpi indah.
"Dasar bocah yang tidak punya rasa khawatir sama sekali," gumam Daichi pelan, melangkah masuk tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Ia berhenti di samping tempat tidur, menatap pemandangan itu sejenak, lalu perlahan menarik selimut yang tersisa di pinggiran kasur.
"Bangun! Sudah siang!"
"Hah?!"
Suara itu begitu dekat hingga Haruto tersentak hebat. Badannya melonjak ke atas tanpa keseimbangan, lalu tergelincir dari tepi tempat tidur dan jatuh membentur lantai kayu keras.
Bruk!
"Aduh... pinggangku!" Haruto meringis keras, berguling ke samping sambil memegangi pinggangnya yang terasa perih. Pochi pun terlempar dari bantal, memantul di udara dua kali sebelum mendarat tepat di atas dahi Haruto.
"Pyoo!" teriaknya kaget, lalu meluncur turun ke lantai dan berdiri tegak dengan tubuh yang sedikit gemetar seolah marah karena tidurnya terganggu.
Haruto mengucek matanya yang masih berat dengan punggung tangan, rambutnya berantakan seolah baru saja ditiup badai kencang. "Pagi sekali sekali ini..." gumamnya masih belum sadar sepenuhnya.
Daichi melipat kedua tangannya di dada, menatapnya dengan tatapan yang setengah menegur setengah geli. "Sudah hampir pukul delapan pagi, Haruto. Bukan lagi pagi buta."
"Apa?!" Mata Haruto langsung terbuka lebar seketika. Ia melompat berdiri seolah ada pegas di kakinya, menatap jendela tempat cahaya matahari sudah masuk cukup tinggi. "Hampir terlambat... ah, tapi lupa," wajahnya tiba-tiba layu, "aku bahkan belum resmi jadi petualang, mana ada jam kerja atau jadwal ketat seperti itu."
Daichi tertawa lebar, suara beratnya bergema di ruangan kecil itu. "Tapi kalau kau terlambat bertemu Mizuna, itu jauh lebih buruk daripada terlambat mengambil misi. Cepat bersiap—cuci muka, pakai baju yang nyaman untuk berjalan jauh, dan jangan lupa bawa bekal air. Kita akan berjalan cukup lama hari ini."
"Siap!" seru Haruto, dan kali ini ia bergerak cepat tanpa menunda lagi. Pochi memantul mengikuti langkahnya ke sudut kamar, seolah ikut bersemangat meski sama sekali belum tahu ke mana mereka akan pergi.
Sekitar setengah jam kemudian, keduanya—ditambah satu slime biru kecil yang melompat-lompat di sela rumput—keluar dari gerbang timur Kota Lumin. Pintu gerbang kayu raksasa itu terbuka lebar, dijaga ketat oleh dua prajurit berbaju zirah besi yang mengangguk ramah saat melihat Daichi. Reputasi petualang berpengalaman itu sudah dikenal di seluruh kota, sehingga mereka tidak perlu melalui pemeriksaan panjang seperti pengunjung asing lainnya.
Jalan tanah yang mereka lalui awalnya cukup lebar dan padat dilalui pedagang yang membawa barang ke desa-desa di pinggiran. Namun semakin jauh mereka berjalan meninggalkan tembok kota, jalanan semakin menyempit dan berubah menjadi jalur setapak yang tertutup dedaunan kering. Pepohonan raksasa mulai berjejer rapat di kedua sisi: batang-batang pohon ek dan cemara yang begitu besar hingga butuh lima orang dewasa untuk melingkarinya, cabang-cabangnya yang saling menyilang membentuk kanopi hijau yang meneduhkan, menyaring sinar matahari hingga hanya bercak-bercak cahaya keemasan yang jatuh ke tanah. Udara menjadi lebih sejuk, beraroma getah pohon, lumut basah, dan suara gemerisik daun yang berbisik tertiup angin. Kadang terdengar kicau burung hutan yang tersembunyi di dahan tinggi, atau derit sayap serangga yang terbang melewati semak belukar.
Haruto berjalan di samping Daichi dengan langkah yang tak pernah bosan menatap sekeliling. Meski sudah beberapa hari berada di dunia ini, ia masih merasa setiap sudut hutan menyimpan keajaiban yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Pochi kadang berjalan di tanah, kadang melompat ke bahu Haruto untuk beristirahat, matanya yang bulat memandang segala hal dengan rasa ingin tahu yang sama besarnya dengan tuannya.
"Pak Daichi," panggil Haruto pelan saat mereka melewati aliran sungai kecil yang jernih.
"Hm?" Daichi menoleh sedikit tanpa menghentikan langkahnya, matanya tetap waspada memantau sekitar—kebiasaan yang tak pernah ditinggalkan petualang lama sekalipun di jalur yang dianggap aman.
"Guru yang akan kita temui, Nona Mizuna itu... seperti apa orangnya?" tanyanya ragu-ragu. "Apakah dia galak? Atau tipe yang banyak menuntut seperti guru olahraga di sekolahku dulu?"
Daichi tertawa pelan, matanya menyipit memandang pepohonan di kejauhan seolah mengingat masa lalu yang lama terkubur. "Orangnya cukup... unik, katakanlah begitu."
"Seunik Pochi?" Haruto menunjuk ke bahunya dengan dagu. Pochi mengeluarkan suara "Pyoo!" seolah protes dibanding-bandingkan.
"Jauh lebih unik," jawab Daichi mantap. "Dan jauh lebih misterius pula. Banyak hal tentang dirinya yang bahkan aku pun belum paham sepenuhnya, meski kita sudah berteman belasan tahun."
"Kalau begitu pasti menyenangkan," senyum Haruto melebar kembali, bayangan buruk tentang guru yang galak perlahan hilang.
Perjalanan berlanjut tanpa henti selama hampir dua jam penuh. Kadang mereka harus menyeberangi sungai yang airnya dingin menusuk tulang, kadang menanjak melewati bukit berbatu yang licin. Daichi berjalan tenang seolah berjalan di halaman rumahnya sendiri, sementara Haruto harus sedikit berusaha menjaga keseimbangan, namun ia tak sekalipun mengeluh. Ia tahu, setiap langkah ini membawanya semakin dekat pada jawaban yang ia cari: cara mengendalikan kekuatan sihir air yang ada di dalam dirinya.
Akhirnya, di balik deretan pohon cemara yang tinggi menjulang, pemandangan terbuka lebar di hadapan mereka.
Sebuah danau yang sangat luas terbentang tenang di sana. Airnya begitu bening hingga dasar danau yang berpasir putih dan dipenuhi kerikil halus terlihat dengan sangat jelas, bahkan ikan-ikan kecil yang berenang perlahan bisa dilihat dari tepi. Permukaan airnya diam seperti cermin raksasa, memantulkan langit biru tanpa awan dan bayangan pepohonan di sekelilingnya, sehingga sulit membedakan di mana langit berakhir dan di mana air dimulai. Angin sepoi-sepoi meniup permukaan air, menimbulkan riak halus yang memancarkan kilauan cahaya keemasan.
Tepat di tepi danau, di atas hamparan rumput hijau yang rapi, berdiri sebuah rumah kayu sederhana namun kokoh. Dindingnya terbuat dari kayu pinus yang berwarna kecokelatan, dengan atap jerami yang rapi dan beranda kecil yang menghadap lurus ke tengah danau. Tidak ada pagar yang mengelilinginya, hanya bunga-bunga liar berwarna biru dan putih yang tumbuh melingkar di sekeliling fondasi rumah, seolah menghormati tempat itu.
"Ini... asrama atau rumah tempat dia tinggal?" tanya Haruto berbisik, takut suaranya mengganggu ketenangan tempat itu.
Daichi mengangguk perlahan, matanya menatap rumah itu dengan pandangan hormat. "Ya. Dia memilih tinggal jauh dari keramaian kota karena sihir air membutuhkan ketenangan mutlak—ketenangan yang sulit didapat di tengah hiruk pikuk orang banyak."
Mereka melangkah mendekat perlahan, niat mengetuk pintu belum sempat terwujud ketika tiba-tiba sesuatu terjadi.
Byur!
Suara percikan air yang dahsyat memecah keheningan.
Permukaan danau yang tadi tenang tiba-tiba bergejolak hebat. Air naik ke atas dengan kekuatan yang tak terbayangkan, berputar dan menyatu dengan cepat seolah memiliki kesadaran sendiri. Dalam sekejap, di hadapan mereka berdiri seekor naga raksasa yang terbuat sepenuhnya dari air biru jernih: sisik-sisiknya berkilau seperti permata, sayapnya yang lebar terbentang menutupi sinar matahari, matanya adalah dua butir tetesan air yang bersinar tajam, dan mulutnya terbuka lebar seolah siap meraung membelah langit. Tubuhnya menjulang tinggi hingga setara dengan puncak pohon tertinggi, memancarkan aura kekuatan yang menekan dada siapa pun yang melihatnya.
Haruto membelalakkan mata lebar-lebar, napasnya tertahan di tenggorokan. Darah seolah membeku di pembuluhnya. "Naga...? Itu naga sungguhan?!" Ia spontan melangkah mundur dan bersembunyi di belakang punggung lebar Daichi, tangannya mencengkeram erat ujung jubah pria itu.
Pochi pun ikut gemetar, menyusup cepat ke belakang kaki Haruto dan mengintip dengan kepala yang menonjol sedikit saja. "Pyoo..." suaranya terdengar pelan dan takut.
Naga air itu melayang diam di udara selama beberapa detik, seolah menatap ketiga makhluk kecil di tepi danau dengan tatapan yang tak bisa dibaca. Lalu perlahan, tanpa peringatan, tubuh raksasanya meleleh.
Byur!
Dengan suara gemuruh yang pelan namun dalam, naga itu hancur menjadi ribuan tetesan air, lalu jatuh kembali ke danau dengan riak besar yang menyebar hingga ke tepian. Dalam sekejap, permukaan danau kembali tenang seperti tidak pernah terjadi apa-apa—kecuali getaran halus yang masih terasa di udara.
Haruto masih terpaku di tempat, matanya tak berkedip menatap permukaan air yang tenang itu. Jantungnya masih berpacu cepat di dalam dada. "Itu... apa tadi?" suaranya terdengar parau.
Daichi tersenyum tipis, namun matanya memancarkan kekaguman yang mendalam. "Bukan naga sungguhan. Itu hanya ilusi—atau lebih tepatnya, penciptaan bentuk murni dari sihir air. Hanya mereka yang benar-benar menguasai elemen air hingga ke akar paling dalam yang bisa melakukan hal seperti itu dengan secepat dan sekuat itu."
Belum sempat Haruto mencerna perkataan itu, pintu kayu rumah terbuka perlahan tanpa ada yang menyentuhnya.
Keluar seorang wanita muda yang membuat napas Haruto tertahan sejenak.
Ia memiliki rambut panjang yang jatuh bergelombang hingga pinggang, berwarna biru seperti permukaan danau di bawah langit cerah, dengan beberapa helai rambut yang melayang pelan meski tak ada angin yang bertiup. Matanya sebening air yang jernih, menyimpan kedalaman dan ketenangan yang tak bertepi, seolah bisa melihat langsung ke dalam isi hati seseorang. Kulitnya putih bersih, dan meski wajahnya terlihat masih muda, sorot matanya memancarkan kebijaksanaan yang jauh melampaui usianya. Ia mengenakan jubah panjang berwarna putih kebiruan yang terbuat dari kain ringan yang jatuh anggun di tubuhnya, diikat dengan sabuk perak yang dihiasi ukiran tetesan air. Di tangannya memegang tongkat kayu sederhana yang ujungnya dihiasi kristal biru bening yang berdenyut pelan.
Ia berhenti di beranda, menatap mereka tanpa terkejut sedikit pun. "Aku sudah tahu kalian datang sejak kalian melewati bukit berbatu tadi. Air di sini membisikkan setiap langkah orang yang mendekat."
Daichi maju selangkah, menundukkan kepala dengan penuh rasa hormat—sesuatu yang jarang sekali dilakukan pria itu kepada siapa pun. "Lama tidak bertemu, Nona Mizuna. Sehat selalu?"
Haruto segera mengikuti, membungkuk dalam-dalam dengan tangan yang sedikit gemetar karena gugup. "Salam kenal, Nona Mizuna. Nama saya Haruto Kazehara."
Mizuna menatapnya diam selama beberapa detik, tatapannya tajam namun tidak menyakitkan—seolah memeriksa setiap inci dirinya tanpa mengganggu. "Jadi... anak inilah pemilik elemen air yang diceritakan pengawas Guild kemarin," ucapnya pelan, suaranya lembut namun berwibawa seperti aliran air yang tenang namun tak terbendung.
Daichi mengangguk mantap. "Benar sekali. Namanya Haruto. Dia memiliki cadangan mana yang luar biasa besar, tapi belum tahu cara mengendalikannya sama sekali."
Mizuna melangkah turun dari beranda, berjalan di atas rumput basah tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Ia berhenti tepat di depan Haruto, lalu menunjuk telapak tangan pemuda itu. "Ulurkan tanganmu ke sini."
Haruto menurut dengan patuh, mengangkat tangannya yang terbuka. Ia merasakan detak jantungnya semakin cepat—entah kenapa, berada di dekat wanita ini membuatnya merasa telanjang, seolah semua rahasia di dalam dirinya terbuka lebar.
Mizuna meletakkan telapak tangannya di atas tangan Haruto. Kulitnya terasa dingin namun nyaman, seperti air pagi yang segar. Seketika itu juga, cahaya biru lembut memancar dari sela-sela jari mereka, menyelimuti kedua tangan itu. Haruto merasakan aliran hangat yang menyusup masuk ke dalam kulitnya, bergerak menyusuri urat nadi, hingga mencapai dadanya dan berputar di sana seolah mencari sesuatu.
Mata Mizuna sedikit membesar, alisnya terangkat tak percaya. "Cadangan mananya... sungguh tak masuk akal. Luas dan dalam seperti samudra yang tak bertepi. Belum pernah aku merasakan sesuatu seperti ini pada seseorang seusiamu..." Ia berhenti sejenak, lalu menghela napas pelan. "Tetapi..."
"Tetapi apa?" tanya Haruto canggung, menelan ludah.
"Tapi alirannya benar-benar berantakan," lanjut Mizuna dengan nada datar namun jujur. "Bahkan bisa dikatakan kacau balau. Mana di dalam tubuhmu bergerak ke segala arah tanpa aturan: kadang melonjak naik ke kepala tanpa alasan, kadang menghilang ke dalam kaki, kadang berputar liar di dada seolah mencari jalan keluar yang tak pernah ditemukannya. Kau sama sekali belum menyadari keberadaannya, bukan?"
Haruto tersenyum canggung, menggaruk tengkuk lehernya yang terasa panas. "Iya... benar sekali. Aku tidak merasakan apa-apa sampai kemarin saat diperiksa di Guild."
"Bahkan lebih buruk dari sekadar tidak merasakan," tambah Mizuna serius. "Kalau kau memaksakan diri mengeluarkan sihir besar hari ini tanpa mengetahui cara mengaturnya, mana itu akan meledak di dalam tubuhmu. Tulangmu bisa retak, urat nadimu bisa putus, atau kau bisa kehilangan kemampuan menyihir selamanya—bahkan nyawamu pun bisa melayang dalam sekejap."
Haruto menelan ludah lagi, bulu kuduknya meremang membayangkan bahaya yang selama ini tidak ia sadari sama sekali. "Sungguh... seram sekali ya ternyata."
Namun perlahan, senyum tipis kembali menghiasi bibir Mizuna. "Namun jangan khawatir. Kekacauan itu bukan cacat yang tak bisa diperbaiki. Justru aliran yang liar ini adalah tanda bahwa potensimu jauh melampaui penyihir air biasa. Kita hanya perlu melatihmu untuk mengenalinya dulu, lalu membimbingnya berjalan pada jalur yang benar."
Wajah Haruto langsung berseri-seri, matanya berbinar cerah. "Benarkah? Jadi saya bisa belajar menguasainya?"
"Tentu saja bisa," jawab Mizuna mantap. "Tapi ingat satu hal: latihan ini tidak akan mudah. Tidak ada jalan pintas untuk menguasai elemen air. Air tidak melawan kekuatan, ia mengikuti ketenangan dan kesabaran. Dan sifat seperti itu belum tentu kau miliki sekarang."
Daichi tertawa pelan di belakang mereka. "Sudah kubilang kan, Haruto? Aku tidak membawamu ke sini untuk main-main."
Haruto menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia menatap Mizuna dengan tatapan yang mantap dan teguh. "Saya siap melakukan apa saja, Nona. Tidak peduli seberapa berat atau seberapa lama waktu yang dibutuhkan."
Mizuna mengangguk puas, lalu menunjuk ke arah tepi danau yang berpasir putih. "Kalau begitu, kita mulai sekarang juga. Pelajaran pertamamu sangat sederhana, tapi justru paling sulit dilakukan oleh pemula."
Ia berjongkok di tepi air, menatap permukaannya yang tenang. "Duduklah bersila di sini. Tutup matamu. Dan rasakan mana di dalam tubuhmu."
Haruto ikut duduk di hadapannya, meniru posisi yang sering ia lihat di film atau buku tentang meditasi. "Hanya itu?"
"Bukan dengan melihat, bukan dengan membayangkan, dan bukan pula dengan berpikir keras," tegas Mizuna. "Rasakan. Seperti kau merasakan udara yang masuk ke paru-parumu, atau rasa lapar di perutmu. Tanpa kata-kata, tanpa pertanyaan."
Haruto mengangguk, memejamkan matanya rapat-rapat. Ia mencoba berkonsentrasi.
Satu menit berlalu. Ia mencoba membayangkan cahaya biru di dadanya.
Lima menit. Ia mencoba menyuruh dirinya diam.
Sepuluh menit. Pikirannya malah melayang ke hal lain: naga air tadi, roti yang dimakan pagi ini, Pochi yang lucu...
Lima belas menit berlalu begitu saja. Ia tidak merasakan hal apa pun selain kebosanan dan rasa kantuk yang mulai menyerang. Akhirnya ia membuka sebelah matanya, menatap Mizuna yang masih menunggu tenang.
"Nona Mizuna..." panggilnya pelan.
"Hm?"
"Kenapa... kenapa saya malah jadi mengantuk begini?"
Tok!
Tongkat kristal Mizuna menyentuh pelan kepala Haruto. Tidak sakit, tapi cukup untuk membuatnya tersentak sadar.
"Aduh!"
"Itu karena pikiranmu terlalu berisik," kata Mizuna sambil tersenyum geli. "Kau berteriak-teriak di dalam kepalamu sambil berharap bisa mendengar bisikan halus dari mana. Bagaimana mungkin kau bisa merasakannya?"
Haruto menggaruk kepalanya dengan canggung. "Hehe... maaf ya."
Di sebelahnya, Pochi ikut duduk bersila dengan posisi yang sama persis dengan Haruto. Tubuh bulatnya merapat ke tanah, tidak bergerak sedikit pun sejak tadi. Matanya yang bulat terpejam rapat, dan perlahan tubuhnya mulai memancarkan cahaya biru samar yang selaras dengan warna air danau. Getaran halus yang dipancarkannya begitu teratur dan tenang, seolah ia sudah menyatu dengan alam di sekitarnya.
Mizuna menatap slime kecil itu dengan pandangan kagum. "Menarik sekali. Temanmu ini justru jauh lebih cepat mengerti apa yang kukatakan daripada dirimu sendiri."
"Hah?!" Haruto menoleh cepat, menatap Pochi tak percaya. "Serius? Pochi bisa?"
"Monster slime biasanya tidak berpikir berlebihan seperti manusia," jelas Mizuna. "Mereka hanya hidup dan merasakan apa yang ada di sekitarnya tanpa beban pikiran. Lihatlah: dia sudah menyelaraskan aliran mananya dengan udara dan air di sini. Kendali mananya nyaris sempurna, bahkan jauh lebih rapi daripada penyihir senior yang pernah kujumpai."
Haruto mendesah panjang hingga bahunya merosot ke bawah. "Aduh... jangan-jangan nanti yang lulus duluan malah Pochi, bukan murid resminya."
Seolah benar-benar mengerti ucapan tuannya, Pochi membuka matanya, melompat lurus ke atas dan mendarat tepat di atas kepala Haruto. "Pyoo!" serunya riang, seolah mengejek sekaligus menyemangati.
Mizuna tertawa kecil, suara tawanya jernih seperti gemericik air sungai. "Kalau begitu mulai hari ini, kalian berdua berlatih bersama. Belajarlah dari temanmu itu, Haruto. Air tidak menyukai keributan. Ia menyukai kesunyian, kesabaran, dan kesetiaan yang tak tergoyahkan."
Haruto tersenyum lebar, lalu mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Ia kembali memejamkan mata, kali ini mencoba menenangkan hatinya sepenuhnya, mengikuti ketenangan yang dipancarkan Pochi. "Baik! Saya akan berusaha sekuat tenaga!"
Angin pagi berhembus pelan, menggerakkan permukaan danau dan rambut biru Mizuna. Di tepi danau yang damai itu, tanpa disadari siapa pun, latihan yang tampak begitu sederhana dan remeh ini adalah langkah pertama yang paling penting. Langkah yang akan membawa Haruto melintasi batas kemampuan manusia biasa, membawanya menguasai kekuatan sihir air yang telah lama dianggap hilang dari ingatan dunia—kekuatan yang kelak akan mengguncang benua dan mengubah takdirnya selamanya.