NovelToon NovelToon
Rahasia Perjodohan Anak SMA

Rahasia Perjodohan Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

"Apa kita berdua dijodohkan!" Celia dan Alfian sama-sama terpeki kaget ketika orang tua mereka merencanakan Perjodohan di masa muda mereka.
"Benar sekali," sahut Darius.
"Ini tidak masuk akal. Pa, kami berdua masih sekolah dan bahkan kami tidak akrab," sahut Alfian.
"Tenanglah Alfian, justru perjodohan ini akan membuat kalian akrab dan belajar untuk menuju hidup di masa depan," aahhh Darius.

Alfian dan Celia benar-benar tidak menyangka bahwa mereka akan dijodohkan, mereka sudah mencoba untuk protes, tetapi para orang tua itu menginginkan hubungan mereka diikat dalam ikatan pertunangan.
Alfian dan Celia saling bertukar cincin sebagai ikatan diantara mereka berdua jika ada hubungan spesial yang tidak akan terpisahkan oleh apapun.

Raut wajah Alfian dan Celia terlihat murung, tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan orang-orang dewasa.
Celia terpaksa melakukannya agar memiliki akses lebih luas untuk bisa sekolah di luar negeri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20 Merasa Tertinggal

Celia akhirnya keluar dari ruangan wali kelasnya dengan wajahnya tampak begitu lesu, Celia harus berpapasan dengan Alfian yang ingin memasuki ruangan tersebut.

"Ngapain lo di sini, ngikutin gue?" tanya Celia.

"Nggak usah kepedean, emang ini ruangan lo harus pamitan dulu," sahut Alfian dengan cuek.

"Bukan, tetapi aneh aja tiba-tiba lo sudah ada di sini," jawab Celia.

"Keberadaan gue di sini sama sekali nggak ada urusannya sama lo, gue mau setoran," tegas Alfian kemudian langsung pergi begitu saja.

"Setoran apaan," ucap Celia dengan dahi mengkerut melihat dari pintu kaca itu bagaimana Alfian tampak serius berbicara dengan wali kelas mereka.

"Entah apa yang mau disetorkan, sok sibuk," ucap Celia dengan kesal dan kemudian meninggalkan tempat itu.

****

Celia tampak begitu lesu, tidak ada semangat apalagi dia juga tidak memiliki teman di sekolah itu, mungkin ada tetapi hanya sekedar menyapa dan tidak memiliki teman ngobrol.

Tangannya menggenggam tali tasnya lebih erat. Ada perasaan asing yang perlahan memenuhi dadanya. Celia masih saja memikirkan persaingan di kelasnya yang begitu ketat.

Alfian dan teman-temannya yang selalu diremehkan dan dianggap tidak pintar dalam akademik dan ternyata mereka adalah penguasa di kelas tersebut. Bukan karena ia tidak bahagia melihat keberhasilan orang-orang di kelasnya, tetapi karena ia merasa berjalan lebih lambat dibandingkan mereka.

Tiba-tiba matanya tertuju pada kolam renang besar milik sekolah. Air yang berkilauan di bawah sinar matahari memantulkan semangat para siswa yang sedang berlatih.

Beberapa siswa tampak berenang dengan penuh percaya diri, mengikuti arahan para pelatih yang berdiri di tepi kolam. Suara peluit terdengar, disusul sorakan kecil ketika salah satu dari mereka berhasil menyelesaikan latihan dengan baik.

"God job Yogi!" Pandangan mata Celia melihat cara pelatih yang saat ini menepuk kedua bahu Yogi yang baru saja mendarat.

"Kamu keren, saya harap kamu tetap pertahankan ini dan kita akan memenangkan di tingkat kejuaraan," ucap pelatih tersebut memberi semangat membuat Yogi menganggukkan kepala.

"Oke anak-anak kita lanjut latihan!" pelatih tersebut kembali membunyikan peluitnya untuk mengarahkan semua orang-orang yang berurusan.

Celia menghela nafas dan kemudian meninggalkan tempat tersebut.

Ketika melewati ruang latihan tari, suara musik modern membuat langkah Celia kembali terhenti.

Dari balik pintu kaca, ia melihat para penari bergerak dengan penuh percaya diri. Gerakan mereka selaras mengikuti irama, wajah mereka menunjukkan kebahagiaan karena melakukan sesuatu yang mereka cintai.

Mata Celia tiba-tiba saja fokus pada salah satu wanita yang tak lain adalah Kania tampak tubuhnya begitu lentik dengan sedikit keringat membasahi wajahnya, bergerak dengan alunan musik yang begitu cepat.

Sepertinya Kania sudah terlatih dan biasa berada dalam situasi itu, pada saat musik berhenti beberapa dari mereka tertawa setelah berhasil menyelesaikan koreografi yang sulit. Ada rasa bangga di mata mereka.

Sementara Celia hanya terus memperhatikan, hanya memandang dalam diam.

Untuk sesaat, ia bertanya dalam hati apakah dirinya juga akan pernah memiliki sesuatu yang membuat orang lain melihatnya dengan bangga.

Entahlah apa yang saat ini ada di dalam Celia, seolah-olah orang-orang yang memiliki dan mendapat kesempatan sekolah di tempat itu bukan hanya mengandalkan uang orang tua mereka tetapi benar-benar mereka memanfaatkan fasilitas yang ada.

Tidak jauh dari tempat latihan dance yang dilakukan Kania bersama teman-temannya, mata Celia tertuju pada ruangan yang begitu sepi dilapisi dengan kaca dan terlihat seorang wanita tampak tari balet dengan lentur tubuhnya yang benar-benar sudah terlatih.

Wanita yang terlihat keren itu ternyata adalah Valery. Valery benar-benar sempurna dalam tarian baletnya. Lagi-lagi terlihat kesedihan di matanya, sepertinya banyak sekali yang tidak dia ketahui.

Celia kembali meninggalkan tempat itu dengan kenyataan yang baru, Celia keluar dari area sekolah, lapangan yang luas dengan rumput menghijau, terlihat beberapa anak-anak berada di sinar matahari yang begitu terik.

"Tepat!" suara lantang itu mengejutkannya.

Ternyata beberapa busur anak panah serentak pada sasarannya. Lagi dan lagi yang menjadi perhatian Celia tertuju kepada Diego yang menjadi bagian dari orang-orang yang berlatih bermain panah itu.

Celia memperhatikan bagaimana pria gendut yang selalu membicarakan makan itu tampak semangat, gerakan tangannya seperti profesional.

"Kamu keren Diego, sudah pasti kita akan memenangkan turnamen nanti!" salah satu pelatih memberikan semangat kepadanya.

Langkah Celia kembali bergerak menuju lapangan basket. Suara bola yang memantul terdengar semakin jelas. Di sana banyak perias sedang berlatih dengan penuh semangat.

Mereka berlari mengejar bola, saling memberikan umpan, dan tertawa ketika melakukan kesalahan kecil.

Mereka jika pada akhirnya memutuskan untuk bertanding, sorak-sorak dari murid yang memberikan semangat. Celia melihat sosok Alfian yang berada di sana dan berkali-kali memasukkan bola tersebut ke dalam ring basket.

Sorakan yang diterima Alfian benar-benar menggema di lapangan basket itu. Celia memperhatikan bagaimana mereka begitu mudah menemukan tempat mereka.

"Jadi mereka semua benar-benar keren? Apa aku salah masuk SMA ini? Bahkan mereka memiliki hobi masing-masing, bukan hanya pintar dalam bidang akademik, tetapi juga dalam bidang ekstrakurikuler," ucap Celia.

Saat ini perasaannya benar-benar gundah, merasa tertinggal dan seolah-olah malu dan tidak pantas berada di sekolah itu, saingannya bukan hanya di dalam kelasnya, bukan hanya tentang mata pelajaran tetapi juga dalam hal lain.

"Kamu Celia bukan?" tiba-tiba saja salah satu murid menyapa dirinya.

"Iya," sahut Celia.

"Kenalkan, aku Cynthia, dari jurusan akuntansi kelas 2 A akutansi," ucap wanita itu tampak begitu ramah.

"Celia," Celia menyambut uluran tangan itu dengan tersenyum dibalik kesedihannya.

"Hmmm, aku beberapa kali memperhatikan kamu makan sendirian di kantin, aku duga-duga kamu pasti murid baru," ucap Cynthia membuat Celia menganggukkan kepala.

"Tetapi aku senang bisa berteman dengan kamu dan meski kita tidak satu kelas semoga saja kita bisa menjadi teman yang baik," ucap Cynthia.

"Terima, kamu sudah mau menjadi temanku," sahut Celia dengan tersenyum.

"Ya sudah Celia, kalau begitu aku mau pulang dulu, semoga besok kita masih bisa bertemu!" ucap Chintya berpamitan membuat Celia menganggukkan kepala.

Chintya tidak mengatakan apapun lagi dan kemudian langsung pergi. Celia menghela nafas, karena merasa jenuh dan tidak tahu harus melakukan apa membuatnya memilih duduk di anak tangga dan melihat ke arah lapangan basket.

Tiba-tiba saja matanya sudah tidak melihat Alfian di sana. Celia mengerutkan dahi terlihat mencari-cari.

"Cari gue!" Celia dikagetkan dengan suara tersebut membuatmu menoleh dan Alfian sudah berdiri di sampingnya sembari minum.

"Kepedean," sahut Celia dengan kesal membuat Alfian duduk di sampingnya dan Celia semakin mengerutkan dahi.

"Keringatan, bau tahu," kesal Celia mencoba untuk menghindar.

"Ngapain lo disini? tumben banget keliling sekolah, bukannya biasanya datang ke sekolah dan langsung pulang begitu saja?" tanya Alfian.

"Lo ngikuti gue," tebak Celia.

"Apa menurut lo gue nggak punya kerjaan sampai harus mengikuti lo?" tanya Alfian.

"Terus dari mana tahu kalau gue baru saja mengelilingi sekolah?" tanya Celia.

"Kelihatan dari ciri-ciri wajah lo," jawab Alfian.

Celia semakin tidak mengerti dipenuhi dengan kebingungan

Alfian memang selalu suka-sukanya saat berbicara dengan Celia yang membuat Celia semakin kesal.

Bersambung.......

...Jangan lupa untuk mampir pada novel terbaru saya Noda Pernikahan Di Balik Cadar...

...Tidak lupa juga saya mendapat kesempatan untuk kembali membuat novel baru, Besar harapan saya kepada para pembaca untuk setia pada novel saya, membaca dari bab awal sampai bab akhir, tidak melewatkan satu bab dan terus memberi dukungan like, koment, vote dan subscribe....

...Besar harapan saya Novel baru ini juga akan dicintai oleh para pembaca dan bisa laris,...

...Saya ucapkan terima kasih sekali lagi kepada para pembaca atas dukungan selama ini, salam cinta dari saya Author...

...Sama dengan Nayla...

1
Alex
cie...
Japa Yipo
yang kelihatan sempurna blm tentu benar menurut orang yang jalanin🙃 ya memandang sesuatu Jang hanya satu cara saja
Emi Sudiarni
mantap kak
Emi Sudiarni
bgus, kak snang bca klw membuat novel. tentang. sma atau khidupan di kampus
Enz99
bagus
Oma Gavin
ortu egois yg ada valery gila
Herman Lim
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!