Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.
DING!
"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22 - Insinyur VS Arsitek
Faris berjalan ke arah tumpukan material proyek sambil mengamati sekeliling. Matanya berhenti pada beberapa batang besi hollow, papan multipleks, tali pengikat, beberapa karung semen yang masih tertutup rapat, serta sebuah forklift kecil yang biasa digunakan untuk memindahkan material.
Senyum tipis muncul di wajahnya. "Aku pinjam beberapa barang, boleh?" tanyanya kepada mandor proyek.
Mandor itu melirik Pak Bandi.
Pak Bandi mengangguk. "Berikan saja."
Tak lama kemudian, para pekerja membantu Faris membawa dua batang besi hollow dengan panjang yang sama, dua lembar papan, beberapa balok kayu, dan beberapa karung semen ke area kosong.
Vanessa memperhatikan semuanya sambil menyilangkan tangan. "Mau sulap?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Percobaan sederhana."
Beberapa pekerja mulai berkumpul. Bahkan operator alat berat ikut menghentikan pekerjaannya sejenak karena penasaran.
Faris meletakkan dua balok kayu sebagai penyangga. "Anggap dua balok ini adalah pilar jembatan."
Kemudian dia memasang batang besi hollow pertama dengan bentuk yang menyerupai lengkungan tinggi seperti rancangan Vanessa. Sementara batang kedua dia bentuk menjadi lengkungan yang lebih rendah dengan tambahan pengaku sederhana di beberapa titik.
Vanessa langsung mendecak. "Itu merusak keindahan."
Faris hanya tersenyum. "Belum selesai juga. Lihatlah dulu."
Ia lalu meletakkan papan multipleks di atas masing-masing rangka sehingga keduanya tampak seperti miniatur jembatan.
"Sekarang kita beri beban."
Karung semen pertama diletakkan di atas kedua model. Tidak terjadi apa-apa.
Karung kedua. Masih bertahan.
Karung ketiga. Batang besi pada model pertama mulai sedikit melendut.
Vanessa masih tampak santai. "Itu cuma miniatur."
"Betul." Faris mengangguk. "Tapi prinsip mekanikanya sama."
Karung keempat kembali diletakkan. Kali ini lengkungan tinggi mulai terlihat semakin melengkung ke bawah. Sebaliknya, model kedua hampir tidak berubah.
Beberapa pekerja mulai berbisik.
"Kok bisa ya?"
"Yang satunya tetap stabil."
Faris tidak menjelaskan terlebih dahulu. Ia meminta satu karung lagi.
"Lanjut."
Begitu karung kelima diletakkan, terdengar suara kecil.
Krek...
Batang hollow pertama mengalami deformasi cukup besar hingga papan di atasnya miring. Sementara model kedua masih berdiri kokoh.
Vanessa mengernyit. "Itu karena sambungannya berbeda."
Faris mengangguk. "Benar."
"Lalu?"
"Itulah yang ingin saya jelaskan."
Ia mengambil spidol lalu menggambar garis-garis gaya pada papan putih portabel yang ada di lokasi.
"Lengkungan tinggi memang indah dipandang."
Ia menggambar beberapa anak panah. "Tapi semakin tinggi lengkungannya tanpa penyesuaian struktur, gaya tekan akan menghasilkan gaya horizontal yang jauh lebih besar pada kedua ujung."
Para insinyur mulai mendekat.
Faris melanjutkan. "Akibatnya, pondasi harus bekerja jauh lebih keras menahan dorongan keluar."
Faris kembali menggambar. "Kalau pondasi diperbesar, biaya naik. Kalau pondasi tidak diperbesar..." Ia menunjuk model pertama yang melengkung. "...risikonya seperti ini."
Beberapa orang mengangguk pelan.
Faris kemudian menunjuk model kedua. "Kalau lengkungan sedikit diturunkan dan jalur distribusi beban diperbaiki..." Ia menggambar alur gaya. "...beban akan lebih merata. Tegangan pada titik kritis ikut turun. Material yang dibutuhkan juga lebih efisien."
Mandor proyek tanpa sadar bertepuk tangan pelan. "Masuk akal."
Insinyur senior yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara.
"Sebenarnya... inilah yang selama ini kami coba jelaskan. Tapi belum pernah sesederhana ini."
Faris tersenyum sopan. "Saya hanya mencoba menjelaskan menggunakan contoh."
Vanessa masih belum menyerah. "Itu cuma simulasi. Tidak bisa disamakan dengan jembatan asli."
Faris mengangguk lagi. "Karena itu mari kita lihat perhitungannya."
Ia meminta izin membuka laptop milik salah satu insinyur. Beberapa menit kemudian program analisis struktur terbuka.
Vanessa memperhatikan dengan tatapan tajam.
Faris mulai memasukkan parameter. Bentang, jenis baja, mutu beton, diameter kabel, kecepatan angin, dan beban kendaraan. Semua angka ia ketik tanpa melihat catatan.
Seorang insinyur muda mulai berbisik.
"Kok hafal?"
"Dia memang pernah lihat datanya?"
Pak Bandi sendiri mulai melongo. "Itu semua baru dikasih tadi pagi... Aku juga heran."
Tak sampai sepuluh menit, simulasi selesai. Grafik warna langsung muncul di layar. Zona merah memenuhi beberapa titik pada rancangan Vanessa. Sedangkan rancangan Faris hanya menunjukkan sedikit area kuning. Seluruh ruangan proyek langsung sunyi.
Insinyur senior mendekat hingga hampir menempel ke monitor.
"Tidak mungkin..." Ia segera membuka laptopnya sendiri. "Sebentar."
Pria itu memasukkan data yang sama. Beberapa menit berlalu. Hasilnya identik. Ia menatap Faris dengan mata membesar.
"Hasilnya sama..."
Orang-orang mulai saling pandang.
"Dia benar."
"Perhitungannya benar."
"Selisih tegangan hampir dua puluh persen."
"Efisiensi material juga meningkat."
Mandor bahkan menggeleng-gelengkan kepala.
"Anak muda ini hebat sekali."
Pak Bandi tertawa lebar. "Hahaha... aku bilang juga apa."
Namun Vanessa masih berdiri dengan kedua tangan terlipat. Ekspresinya tetap datar.
"Sudah selesai?"
Faris menoleh. "Sudah."
Vanessa berjalan mendekati layar. Ia memperhatikan hasil simulasi cukup lama. Tidak ada yang berbicara.
Semua menunggu reaksinya. Beberapa detik kemudian Vanessa berkata pelan.
"Perhitunganmu benar."
Beberapa pekerja tersenyum. Namun kalimat berikutnya membuat semua orang kembali menghela napas.
"Tapi desainmu jelek."
Semua orang hampir tersedak.
Pak Adi sampai memukul dahinya sendiri. "Ya ampun..."
Vanessa menunjuk layar. "Aku mengakui distribusi bebannya lebih baik. Tapi tampilannya membosankan. Jembatan itu akan kehilangan karakter."
Faris tersenyum kecil. "Saya tidak pernah bilang bentuknya harus seperti ini."
"Lho?"
"Saya hanya membuktikan bahwa konsep distribusi bebannya perlu diperbaiki."
Vanessa terdiam sesaat.
Faris melanjutkan. "Keindahan masih bisa dipertahankan. Asalkan struktur utamanya tidak dipaksa."
Vanessa mengerutkan kening. "Itu artinya?"
"Kita mencari desain yang cantik... Tetapi mengikuti prinsip struktur."
Vanessa langsung menjawab. "Tidak semudah itu."
"Saya tahu."
"Lalu kenapa bicara seolah gampang?"
"Karena memang ada jalannya."
Faris mengambil pensil. Dalam beberapa menit ia mulai membuat sketsa baru.
Lengkungan khas Vanessa masih dipertahankan. Namun proporsinya sedikit berubah. Beberapa kabel penyangga dipindahkan. Posisi balok melintang disesuaikan. Titik sambungan juga dibuat berbeda.bSetelah selesai, ia mendorong kertas itu ke depan Vanessa.
"Kalau menggunakan pendekatan seperti ini keindahannya tetap ada. Tapi jalur bebannya lebih baik."
Vanessa mengambil gambar itu. Ia memperhatikannya tanpa berkedip. Untuk pertama kalinya hari itu, wajahnya menunjukkan sedikit keterkejutan. Sketsa itu masih terlihat seperti desainnya. Namun memang terasa lebih seimbang. Ia menggigit bibir pelan.
Dalam hati, dia terpaksa mengakui bahwa ide itu bagus. Tetapi garga dirinya terlalu tinggi untuk mengakuinya.
Vanessa meletakkan gambar itu kembali. "Hm."
"Hm?"
Pak Bandi sampai melongo. "Cuma 'hm'?"
Vanessa menoleh dingin. "Ada masalah?"
"Nggak..."
Pak Adi langsung menutup mulutnya.
Vanessa kembali memandang Faris. "Kamu lumayan juga."
Faris tersenyum. "Terima kasih."
"Tapi jangan senang dulu. Kamu baru benar sekali."
Faris mengangguk santai. "Berarti saya harus terus belajar."
Jawaban itu justru membuat Vanessa sedikit kesal. Ia berharap Faris membalas dengan kesombongan sehingga dia punya alasan untuk membantah lagi. Namun pemuda itu tetap tenang.
Pak Bandi akhirnya tertawa pelan. "Baiklah. Kurasa rapat hari ini menghasilkan kemajuan."
Semua anggota tim ikut mengangguk. Suasana proyek yang selama berminggu-minggu penuh ketegangan akhirnya sedikit mencair.
Ketika semua mulai kembali bekerja, Faris diam-diam menghela napas lega. Dalam hati dia memanggil sistem.
"Sistem."
[Ya, Host.]
"Sepertinya aku menang."
[Tidak sepenuhnya.]
"Lho?"
[Target bernama Vanessa belum mengakui kekalahan.]
Faris melirik ke arah Vanessa. Gadis itu sedang menatap sketsa yang dibuatnya. Sesekali dia menghapus lalu menggambar ulang beberapa garis. Namun wajahnya masih memasang ekspresi dingin.
Faris tersenyum tipis. "Kalau begitu... perang ini baru dimulai."
[Analisis diterima.]
[Host berhasil memperoleh rasa hormat sebagian besar tim proyek.]
[Tetapi tingkat penerimaan Vanessa saat ini hanya 9%.]
Faris hampir tersedak. "Baru sembilan persen?"
[Benar.]
"Serendah itu?"
[Target memiliki tingkat keras kepala yang sangat tinggi.]
Faris mengusap dahinya. "Pantas saja."
Di kejauhan, Vanessa diam-diam kembali melirik Faris selama sesaat sebelum segera mengalihkan pandangannya.
"Dasar menyebalkan..." gumamnya pelan. "Tapi... kenapa dia bisa sehebat itu?"